لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia berkuasa atas segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِlahu mulku s-samaawaati wa-l-ardhimilik-Nyalah kerajaan langit dan bumi
  2. يُحْيِي وَيُمِيتُyuhyii wa-yumiituDia menghidupkan dan mematikan
  3. وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌwa-huwa 'alaa kulli syay'in qadiirunDia berkuasa atas segala sesuatu

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. لَهُlahubaginya
  2. مُلْكُmulkukerajaan
  3. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  4. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  5. يُحْيِيyuhyiimenghidupkan
  6. وَيُمِيتُwa-yumiitudan mematikan
  7. وَهُوَwa-huwadan Dia
  8. عَلَىٰ'alaaatas
  9. كُلِّkullisegala
  10. شَيْءٍsyay'insesuatu
  11. قَدِيرٌqadiirunberkuasa

Inti bacaan

Kepemilikan dan kendali mutlak: 'milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dia berkuasa atas segala sesuatu', rangkaian pernyataan kedaulatan yang menyeluruh, dasar bagi penerimaan bahwa kendali manusia atas hidupnya sendiri jauh lebih terbatas daripada yang sering diasumsikan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menderetkan tiga pernyataan tanpa kata sambung yang menerangkan hubungan di antaranya: kepemilikan, lalu perbuatan, lalu kuasa. Kalimat pertamanya akan muncul lagi persis sama tiga ayat kemudian, di 57:5, dan pengulangan itu bukan kebetulan susunan.

Rangkaian (لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, lahu mulku s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:107, 5:40, 7:158, 9:116, 25:2, 39:44, 43:85, 57:2, 57:5, dan 85:9. Sepuluh kemunculan itu tersebar hanya di sembilan surah, sebab surah inilah satu-satunya yang memuatnya dua kali.

Rangkaian (يُحْيِي وَيُمِيتُ, yuhyii wa-yumiitu) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:258, 3:156, 7:158, 9:116, 10:56, 23:80, 40:68, 44:8, dan 57:2, dan pada sembilan kemunculan itu ia selalu berbentuk orang ketiga, menunjuk Allah. Dua ayat, 7:158 dan 9:116, memuat kedua rangkaian tadi sekaligus: kepemilikan dan penghidupan-pematian dalam satu tarikan napas, persis seperti di sini.

Kata (مُلْكُ, mulku) kami terjemahkan "kerajaan", bukan "kekuasaan". Bedanya bukan soal rasa bahasa. "Kekuasaan" menunjuk kemampuan mengatur, sedangkan yang tertulis di sini menunjuk apa yang dipunyai, yaitu wilayahnya, bukan wewenangnya. Susunan kalimatnya pun dibalik dari urutan biasa: yang disebut lebih dahulu bukan pemiliknya, melainkan kata "milik-Nya", sehingga tekanan jatuh pada kepemilikan itu sendiri sebelum pembaca sempat bertanya siapa pemiliknya.

Dua verba di tengah ayat berbentuk sekarang, menyatakan pekerjaan yang sedang berlangsung, bukan yang selesai sekali jadi. Menghidupkan dan mematikan bukan dua peristiwa di ujung sejarah, melainkan dua hal yang berjalan pada detik kalimat ini dibaca. Terjemahan "Dia menghidupkan dan mematikan" sengaja tidak diberi keterangan waktu, supaya sifat berlangsungnya tidak terkunci ke satu masa tertentu.

Penutupnya, (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, 'alaa kulli syay'in qadiirun), muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:20, 2:106, 2:148, 2:284, dan 57:2. Untuk akar ini proyek memakai pembedaan tetap supaya tiga bentuk yang berlainan di bahasa aslinya tidak runtuh jadi satu kata: bentuk (قَدِيرٌ, qadiirun) diterjemahkan "berkuasa", bentuk qaadir diterjemahkan "kuasa", dan bentuk muqtadir diterjemahkan "berkuasa penuh".

Ketiga pernyataan tadi berbaris dari yang paling luas ke yang paling dekat, lalu kembali meluas. Yang pertama menyebut wilayah: langit dan bumi. Yang kedua menyebut apa yang terjadi pada yang bernyawa di dalamnya, termasuk pembacanya. Yang ketiga menutup dengan cakupan tanpa syarat, "segala sesuatu", yang menampung dua sebelumnya sekaligus.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas kerajaan langit dan bumi, hidup dan mati. Tiga pernyataannya berdiri berdampingan tanpa penghubung, dan justru ketiadaan penghubung itu yang membuatnya terasa seperti daftar yang tidak perlu dibela: bukan argumen yang disusun untuk meyakinkan, melainkan keterangan yang disampaikan begitu saja.

Urutannya patut diperhatikan. Yang disebut lebih dahulu adalah memiliki, bukan mengerjakan. Dalam pengalaman manusia, dua hal itu sering terpisah: orang mengurus apa yang bukan miliknya, dan memiliki apa yang tidak pernah ia urus. Penyewa merawat rumah yang bukan namanya; pemilik tanah tidak tahu apa yang tumbuh di atasnya. Di ayat ini keduanya berada pada pihak yang sama, dan itu menutup celah yang biasa dipakai untuk mengelak, yaitu anggapan bahwa yang mengatur hidup kita mungkin bukan yang paling berhak atasnya.

Menghidupkan dan mematikan disebut sebagai sepasang, bukan sebagai dua kabar terpisah. Manusia cenderung menerima yang pertama sebagai anugerah dan menolak yang kedua sebagai gangguan, padahal keduanya keluar dari tangan yang sama. Kelahiran dan kematian bukan hadiah dan hukuman, melainkan dua ujung dari satu pengaturan yang utuh.

Kalimat penutupnya melebarkan lagi cakupannya sampai tak bersisa. Sesudah wilayah disebut dan nasib makhluk disebut, yang tinggal hanyalah semua hal lain yang belum sempat dinamai, dan itulah yang dirangkum "segala sesuatu". Bagi pembaca, ini berarti tidak ada bagian hidupnya yang berada di luar daftar.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menderetkan tiga hal tanpa jeda. Memiliki. Menghidupkan dan mematikan. Berkuasa.
  • Kepemilikan disebut lebih dahulu daripada perbuatan. Punya dulu. Baru mengerjakan.
  • Kalimat penutupnya menyebut kuasa atas segala sesuatu. Allah menutup lingkarannya. Yang mengurusnya juga yang memilikinya.
  • Dalam hidup sehari-hari, memiliki dan mengurus kerap jatuh ke tangan yang berbeda. Penyewa merawat rumah yang bukan atas namanya. Pemilik tanah tidak tahu apa yang tumbuh di atasnya. Karyawan menjaga mesin yang tak pernah jadi haknya. Perpisahan itu melahirkan banyak keluhan yang kita kenal: yang merawat merasa tak berhak, yang berhak merasa tak perlu merawat. Ayat ini menaruh keduanya pada pihak yang sama. Allah disebut memiliki seluruh alam, lalu pada napas yang sama disebut menghidupkan dan mematikan isinya. Tidak ada jarak antara hak dan kerja di sana. Bagi pembacanya, ini menutup satu pintu pengelakan yang kerap dipakai diam-diam: anggapan bahwa yang mengatur hidup kita barangkali bukan pihak yang paling berhak atasnya. Kalau pemilik dan pengurusnya satu, maka keluhan tentang aturan yang tidak adil kehilangan tumpuannya yang paling umum, sebab tidak ada pihak ketiga yang bisa disalahkan di antara keduanya. Yang tersisa hanya kepercayaan atau penolakan, dan dua-duanya harus diambil terbuka.
  • Menghidupkan dan mematikan disebut berpasangan, bukan sebagai dua kabar yang terpisah. Kita biasanya memisahkannya dengan tegas: yang pertama disambut, yang kedua ditolak sekuat tenaga. Kelahiran dirayakan, kematian dianggap gangguan yang datang mengacaukan rencana. Padahal keduanya keluar dari tangan yang sama, disebut dalam satu kalimat pendek tanpa jeda, tanpa nada yang berubah di tengahnya. Orang yang menerima hidup sebagai pemberian tetapi menolak mati sebagai bagian dari pemberian yang sama sedang mengambil separuh dan menuntut separuhnya dibatalkan. Apakah masuk akal bersyukur atas pintu masuk sambil menganggap pintu keluarnya sebuah kesalahan? Orang yang sudah menerima keduanya sebagai satu paket biasanya lebih tenang menghadapi kabar duka, bukan karena ia tidak sedih, melainkan karena ia tidak sekaligus merasa dicurangi. Sedihnya utuh, tetapi tidak ditambah rasa marah kepada pihak yang memberinya hidup.
  • Kalimat terakhir tidak menyebut sesuatu yang baru; ia hanya melebarkan yang sudah disebut sampai tak bersisa. Sesudah wilayah dinamai dan nasib makhluk dinamai, yang tertinggal adalah semua perkara lain yang belum sempat masuk daftar, dan Allah merangkumnya dengan "segala sesuatu". Bagi pembacanya, ini berarti tidak ada sudut kesehariannya yang berdiri di luar cakupan itu, bukan hanya perkara besar seperti umur dan rezeki, tetapi juga urusan kecil yang biasanya kita anggap sepenuhnya urusan pribadi. Kalimat semacam ini bisa terasa menekan, dan bisa juga terasa melegakan, tergantung apakah pembacanya sedang ingin bersembunyi atau sedang ingin ditemukan. Dan karena kalimatnya tidak memberi daftar pengecualian, tidak ada gunanya menyusun daftar itu sendiri. Yang lebih berguna adalah memeriksa bagian mana dari hidup kita yang selama ini diam-diam kita perlakukan sebagai wilayah tertutup, lalu bertanya sejak kapan ia jadi begitu.