هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Sang Awal dan Sang Akhir, Sang Tampak dan Sang Tersembunyi. Dia berilmu akan segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُhuwa l-awwalu wa-l-aakhiruDialah Sang Awal dan Sang Akhir
- وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُwa-zh-zhaahiru wa-l-baathinuSang Tampak dan Sang Tersembunyi
- وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌwa-huwa bi-kulli syay'in 'aliimunDia berilmu akan segala sesuatu
Terjemahan per kata (9 kata)
- هُوَhuwaDialah
- الْأَوَّلُl-awwaluYang Awal
- وَالْآخِرُwa-l-aakhirudan Yang Akhir
- وَالظَّاهِرُwa-zh-zhaahirudan Yang Zahir
- وَالْبَاطِنُwa-l-baathinudan Yang Batin
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- بِكُلِّbi-kullipada segala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
Inti bacaan
Cakupan eksistensial yang komprehensif: 'Dialah Yang Maha Awal, Maha Akhir, Maha Zahir, dan Maha Batin', empat dimensi yang saling melengkapi (waktu dan ruang, tampak dan tersembunyi), penegasan bahwa tidak ada aspek realitas yang berada di luar jangkauan-Nya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut empat sebutan berturut-turut, dan keempatnya bertakrif dalam teks aslinya. Keempatnya tersusun sebagai dua pasang yang berlawanan: yang pertama pasangan waktu, yang kedua pasangan ruang. Pasangan pertama, (الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ, al-awwalu wa-l-aakhiru), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Pasangan kedua, (الظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ, azh-zhaahiru wa-l-baathinu), juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan juga di ayat ini. Tidak ada ayat lain yang menaruh empat sebutan ini berdampingan.
Untuk pasangan pertama, KBBI mencatat "awal" berarti mula-mula sekali atau permulaan, dan "akhir" berarti kesudahan atau penghabisan. Kami terjemahkan Sang Awal dan Sang Akhir, mengikuti aturan proyek bahwa bentuk bertakrif diberi gelar "Sang", bukan awalan "Maha" yang selama ini jadi kebiasaan terjemahan lain tetapi tidak membedakan bentuk takrif dari bentuk lepasnya.
Pasangan kedua lebih sulit dipindahkan. Kata kedua di dalamnya berakar pada kata yang berarti "perut", sehingga jangkarnya konkret: bagian dalam, yang tertutup oleh bagian luar. Lawannya berarti yang tampak di permukaan. Kami terjemahkan Sang Tampak dan Sang Tersembunyi. Kata "nyata" sengaja tidak dipakai untuk sebutan yang pertama, sebab dalam proyek ini "nyata" sudah menjadi milik sebutan lain, dan memakainya di dua tempat akan menghapus perbedaan yang ada di bahasa aslinya.
Pasangan tampak-tersembunyi bukan hanya sebutan bagi Allah. Ia dipakai juga untuk hal lain, dan dua-duanya masih di dekat sini. Di 6:120 ia menyifati dosa: (ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ, zhaahira l-itsmi wa-baathinahu), yang kami terjemahkan "dosa yang tampak dan yang tersembunyi". Di 57:13, masih di dalam surah ini, ia menyifati sebuah dinding pemisah yang bagian dalamnya berisi rahmat sedangkan bagian luarnya berisi azab. Jadi pasangan yang di sini menerangkan Allah, sepuluh ayat kemudian menerangkan tembok. Kata yang sama, dua kedudukan yang jauh berbeda, dan terjemahan kami menjaganya tetap satu kata supaya kaitan itu tidak putus.
Penutup ayat, (بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ, bi-kulli syay'in 'aliimun), muncul 16 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:29, 2:231, 24:35, 29:62, dan 57:3. Enam belas kemunculan itu tersebar di tiga belas surah. Kata terakhirnya kami terjemahkan "berilmu", satu kata yang sama baik ketika menyifati Allah maupun ketika menyifati manusia, sebab teks aslinya memang memakai satu kata untuk keduanya; ketika berobjek, ia diterjemahkan "berilmu akan X", seperti di sini, bukan "mengetahui" yang dipakai untuk lema yang berbeda.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan keberadaan Allah yang meliputi segala dimensi waktu dan wujud: awal tanpa permulaan, akhir tanpa penghabisan, nyata sekaligus tersembunyi. Yang membuatnya tidak biasa bukan keempat sebutannya satu per satu, melainkan cara keempatnya dipasangkan.
Sebutan biasanya menguatkan satu sama lain. Yang kuat disandingkan dengan yang perkasa, yang pengasih dengan yang penyayang. Di sini justru sebaliknya: tiap pasangan berisi dua hal yang saling meniadakan kalau dikenakan pada makhluk. Tidak ada yang bisa menjadi awal sekaligus akhir dari satu kejadian yang sama, dan tidak ada yang bisa tampak sekaligus tersembunyi pada saat yang sama. Manusia harus memilih, dan pilihan itu menentukan batasnya. Ayat ini menolak memilih.
Pasangan pertama menutup garis waktu dari dua ujung. Segala yang kita kenal punya titik mulai dan titik berhenti, dan kita terbiasa mengukur diri di antara keduanya. Yang disebut di sini berdiri sebelum ujung yang satu dan sesudah ujung yang lain, sehingga tidak ada tempat berpijak untuk mengukurnya.
Pasangan kedua menutup jarak. Yang tersembunyi biasanya berarti jauh, dan yang tampak biasanya berarti dekat. Keduanya disebut sekaligus, dan itu menjelaskan pengalaman yang sering membingungkan orang beriman: merasa Allah begitu dekat sampai tak perlu dicari, dan pada waktu lain merasa Dia begitu jauh sampai tak bisa dijangkau. Ayat ini tidak menganggap salah satu dari dua perasaan itu keliru.
Penutupnya menyebut pengetahuan, bukan kekuasaan. Sesudah empat sebutan tentang keberadaan, yang dipilih untuk menutup adalah bahwa Dia berilmu akan segala sesuatu. Meliputi saja belum tentu berarti memperhatikan; ruang meliputi isinya tanpa mengenalnya. Kalimat terakhir ini menutup kemungkinan itu.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut empat sifat yang berpasangan dua-dua. Awal dan akhir. Tampak dan tersembunyi.
- Pasangannya justru berlawanan, bukan saling menguatkan. Yang lain biasanya memilih satu. Keduanya dipegang sekaligus.
- Kalimat penutupnya menyebut Ia berilmu akan segala sesuatu. Allah menaruh pengetahuan sesudah keberadaan. Yang meliputi juga mengetahui.
- Sebutan biasanya dipasangkan untuk saling menguatkan: yang kuat dengan yang perkasa, yang pengasih dengan yang penyayang. Empat sebutan di ayat ini justru dipasangkan untuk saling meniadakan. Tidak ada makhluk yang bisa menjadi awal sekaligus akhir dari satu kejadian yang sama. Tidak ada yang bisa tampak sekaligus tersembunyi pada saat yang sama. Kita selalu harus memilih salah satu, dan pilihan itulah yang menandai batas kita: yang datang lebih dulu berarti pergi lebih dulu, yang terlihat berarti bisa diukur. Allah menyebut diri-Nya dengan pasangan yang tidak bisa dipilih salah satunya. Bagi pembacanya ini bukan teka-teki yang menunggu dipecahkan, melainkan cara paling jujur untuk mengatakan bahwa ukuran yang biasa kita pakai memang tidak dirancang untuk hal ini. Kalau alat ukurnya saja tidak cukup, apa yang sebenarnya kita kira sedang kita ukur selama ini? Alat ukur yang dipakai untuk benda tidak akan pernah cukup untuk yang bukan benda, dan mengakui hal itu lebih jujur daripada memaksakan perbandingan yang sejak awal tidak setara.
- Banyak orang beriman mengalami dua hal yang tampak bertentangan. Ada masa ketika Allah terasa begitu dekat sampai tak perlu dicari, dan ada masa ketika Dia terasa begitu jauh sampai doa pun terasa seperti bicara ke dinding. Kebanyakan orang menyimpulkan salah satu dari dua rasa itu palsu, lalu menyalahkan diri sendiri atas yang kedua. Ayat ini menyebut Sang Tampak dan Sang Tersembunyi berurutan, tanpa menandai satu pun sebagai keadaan yang keliru. Artinya kedua pengalaman itu tidak perlu dipertentangkan. Yang berubah bukan kedudukan-Nya, melainkan sisi mana yang sedang kita hadapi. Orang yang mengerti ini berhenti memperlakukan masa kering sebagai bukti ia telah ditinggalkan. Ia juga berhenti menuntut agar rasa dekat itu hadir terus-menerus sebagai syarat sahnya iman, sebab yang menentukan bukan suasana hatinya, melainkan siapa yang sedang dihadapinya.
- Empat sebutan pertama berbicara tentang keberadaan: sejauh mana Dia ada, dari kapan sampai kapan, di sisi mana saja. Kalimat penutupnya beralih ke hal lain, yaitu pengetahuan. Peralihan itu penting. Sesuatu bisa meliputi tanpa mengenal: udara meliputi kita sepanjang hari tanpa tahu apa pun tentang kita, dan ruangan menampung isinya tanpa peduli. Kalau ayat ini berhenti di empat sebutan tadi, Allah bisa dibayangkan sebagai kehadiran yang luas tetapi acuh: hadir di mana-mana, tidak tertarik pada siapa-siapa. Kalimat terakhir menutup pembacaan itu. Yang meliputi juga berilmu akan segala sesuatu, dan di titik itulah kehadiran berubah jadi perhatian. Perbedaan antara keduanya terasa persis ketika seseorang sedang susah dan tidak ada siapa pun yang tahu: hadir saja tidak menolong, tetapi diperhatikan mengubah seluruh malamnya.