هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian, Dia bersemayam di atas Arasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Allah melihat apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍhuwa lladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha fii sittati ayyaaminDialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa
  2. ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِtsumma stawaa 'alaa l-'arsyikemudian, Dia bersemayam di atas Arasy
  3. يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَاya'lamu maa yaliju fii l-ardhi wa-maa yakhruju minhaaDia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya
  4. وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَاwa-maa yanzilu mina s-samaa'i wa-maa ya'ruju fiihaaserta apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana
  5. وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْwa-huwa ma'akum ayna maa kuntumDia bersama kalian di mana saja kalian berada
  6. وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌwa-llaahu bi-maa ta'maluuna bashiirunAllah melihat apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (36 kata)

  1. هُوَhuwaDialah
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
  6. فِيfiidalam
  7. سِتَّةِsittatienam
  8. أَيَّامٍayyaaminhari
  9. ثُمَّtsummakemudian
  10. اسْتَوَىٰstawaaDia menuju
  11. عَلَى'alaaatas
  12. الْعَرْشِl-'arsyiArasy
  13. يَعْلَمُya'lamumengetahui
  14. مَاmaaapa yang
  15. يَلِجُyalijumasuk
  16. فِيfiike dalam
  17. الْأَرْضِl-ardhibumi
  18. وَمَاwa-maadan apa yang
  19. يَخْرُجُyakhrujukeluar
  20. مِنْهَاminhaadarinya
  21. وَمَاwa-maadan apa yang
  22. يَنْزِلُyanziluturun
  23. مِنَminadari
  24. السَّمَاءِs-samaa'ilangit
  25. وَمَاwa-maadan apa yang
  26. يَعْرُجُya'rujunaik
  27. فِيهَاfiihaapadanya
  28. وَهُوَwa-huwadan Dia
  29. مَعَكُمْma'akumbersama kalian
  30. أَيْنَaynadi mana
  31. مَاmaaapa yang
  32. كُنْتُمْkuntumkalian berada
  33. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  34. بِمَاbi-maapada apa yang
  35. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
  36. بَصِيرٌbashiirunmelihat

Inti bacaan

Kehadiran yang menyertai di mana pun: 'Dia bersama kalian di mana saja kalian berada', pernyataan langsung tentang kedekatan ilahi yang tidak bergantung lokasi, dasar bagi kesadaran bahwa tidak ada momen atau tempat yang benar-benar terpisah dari pengawasan dan kehadiran-Nya, dorongan untuk konsisten dalam perilaku baik di tempat sepi maupun ramai.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini yang terpanjang di antara lima pembuka surah, dan isinya bergerak dari yang paling jauh ke yang paling dekat: penciptaan, singgasana, empat arah pengetahuan, lalu kebersamaan dengan pembacanya sendiri.

Keterangan (فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ, fii sittati ayyaamin) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:54, 10:3, 11:7, 25:59, 32:4, 50:38, dan 57:4. Kata terakhirnya kami terjemahkan "masa", bukan "hari". Alasannya ada di dalam teks itu sendiri: satuan hari mengandaikan matahari dan perputaran bumi, sedangkan yang sedang dibicarakan justru pembuatan langit dan bumi itu. Terjemahan "hari" akan memasang jam ke dalam kalimat yang berbicara tentang saat jam itu belum ada.

Rangkaian (اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ, istawaa 'alaa l-'arsyi) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:54, 10:3, 13:2, 25:59, 32:4, dan 57:4. Lima ayat memuat kedua keterangan tadi bersama-sama; 11:7 dan 50:38 menyebut enam masa tanpa menyusulkannya, sedangkan 13:2 menyusulkannya tanpa menyebut enam masa. Kata "bersemayam" kami pertahankan sebagai terjemahan yang menahan diri: ia menerangkan kedudukan, bukan cara duduk, dan teks aslinya memang tidak menerangkan lebih jauh dari itu.

Bagian tengah ayat ini punya kembaran yang hampir utuh. Rangkaian (يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ, ya'lamu maa yaliju fi l-ardhi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 34:2 dan 57:4, dan penutup daftar arahnya, (وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا, wa-maa ya'ruju fiihaa), juga muncul 2 kali, di dua ayat yang sama. Empat arahnya identik: yang masuk ke bumi, yang keluar darinya, yang turun dari langit, yang naik ke sana. Yang berbeda adalah penutupnya. Di 34:2 kalimat itu ditutup dengan sifat pengasih dan pengampun; di sini ia ditutup dengan penglihatan atas perbuatan. Daftar pengetahuan yang sama, dua kesimpulan yang berlainan arah.

Sesudah empat arah itu, ayat ini menambahkan sesuatu yang tidak ada di 34:2. Rangkaian (وَهُوَ مَعَكُمْ, wa-huwa ma'akum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk orang ketiganya, (وَهُوَ مَعَهُمْ, wa-huwa ma'ahum), juga muncul 1 kali, yaitu di 4:108. Di sana rangkaian itu dipakai untuk orang yang bersembunyi dari manusia sambil menyusun ucapan di malam hari. Rangkaian yang di 4:108 mengintai, di sini menemani. Keterangan tempatnya, (أَيْنَ مَا كُنْتُمْ, ayna maa kuntum), dipakai 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:37, 26:92, 40:73, dan 57:4.

Kata ganti jamak orang kedua kami terjemahkan "kalian", bukan "kamu", mengikuti kelas morfologi teks aslinya yang di sini murni jamak. Penutupnya, (بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ, bi-maa ta'maluuna bashiirun), muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:110, 3:156, 41:40, 57:4, dan 64:2.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan pengetahuan dan pengawasan Allah yang meliputi segala arah: bumi, langit, dan kehadiran-Nya bersama manusia di mana pun. Yang menarik bukan luasnya, melainkan urutannya.

Kalimatnya dimulai dari jarak yang paling jauh yang bisa dibayangkan: pembuatan langit dan bumi, lalu singgasana. Di titik itu pembaca ditempatkan sangat kecil, menatap ke atas. Kemudian daftar arah menyempit: apa yang masuk ke bumi, apa yang keluar, apa yang turun, apa yang naik. Ruangnya masih besar, tetapi sudah bisa dibayangkan. Baru sesudah itu kalimatnya menukik ke tempat pembacanya berdiri, dan kata gantinya berubah dari "Dia" menjadi "kalian".

Perubahan itu yang membuat ayat ini tidak berhenti sebagai keterangan tentang kebesaran. Ketinggian dan kedekatan biasanya dianggap berlawanan: makin tinggi kedudukan seseorang, makin sulit ia dijangkau. Ayat ini menaruh keduanya berturut-turut tanpa penjelasan, seolah tak ada yang perlu didamaikan. Yang bersemayam di atas Arasy adalah juga yang menyertai di sini.

Kalimat penutupnya menentukan bagaimana seluruh ayat dibaca. Kebersamaan bisa berarti perlindungan, bisa juga berarti pengawasan, dan ayat ini tidak memilih salah satunya. Ia menutup dengan penglihatan atas apa yang dikerjakan, sesuatu yang menenangkan orang yang bekerja baik dalam sepi tanpa ada yang tahu, dan sekaligus menutup ruang bagi orang yang mengandalkan sepi untuk berbuat lain.

Daftar empat arahnya juga bukan hiasan. Ia menyebut dua gerakan ke dalam dan dua gerakan ke luar, ke bawah dan ke atas, sehingga tidak ada rute yang tersisa. Benih yang tenggelam di tanah, tunas yang menembus permukaan, hujan yang jatuh, doa yang naik: semuanya masuk ke dalam empat kata kerja itu tanpa ada satu pun yang perlu ditambahkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut kebersamaan sesudah menyebut ketinggian. Bersemayam di Arasy. Lalu bersama kalian di mana saja.
  • Dua arah disebut dalam satu ayat: jauh dan dekat. Yang di atas Arasy. Yang menyertai di sini.
  • Pengetahuan-Nya dirinci sampai empat arah. Allah menyebut yang masuk, yang keluar, yang turun, dan yang naik. Tak ada celah yang tidak disebut.
  • Ayat ini dimulai dengan "Dia" dan diakhiri dengan "kalian". Perubahan kata ganti itu terjadi persis di tengah, dan di situlah seluruh nadanya bergeser. Bagian awalnya berbicara tentang sesuatu yang jauh: pembuatan langit dan bumi, singgasana, arah-arah yang tak terjangkau tangan siapa pun. Pembaca berdiri sebagai penonton di hadapan keterangan yang sangat besar dan sangat tidak menyangkut dirinya. Lalu kalimatnya berbalik dan menyebut dia langsung. Allah tidak menutup ayat ini dengan kesimpulan tentang alam semesta, melainkan dengan kalimat yang menunjuk orang yang sedang membacanya, di tempat ia duduk sekarang. Keterangan yang tadinya bisa dikagumi dari jauh berubah menjadi urusan pribadi hanya dengan satu kata. Dan sekali kata itu jatuh, ia tidak bisa ditarik kembali menjadi bacaan yang aman dari kejauhan.
  • Kalimat "Dia bersama kalian di mana saja kalian berada" bisa dibaca dua arah, dan ayat ini sengaja tidak memilih satu. Bagi orang yang sedang sendirian menanggung sesuatu, kalimat itu berarti ia tidak benar-benar sendirian. Bagi orang yang memanfaatkan sepi untuk melakukan apa yang tidak berani ia lakukan di depan orang, kalimat yang sama berarti sepi itu tidak pernah ada. Rangkaian yang sama dalam bentuk orang ketiga muncul di 4:108, dan di sana ia memang dipakai untuk orang yang menyusun rencana di malam hari sambil merasa tak ada yang tahu. Jadi kalimat ini menghibur dan mengintai sekaligus, tergantung siapa yang membacanya. Jadi pertanyaannya bukan apa arti kalimat itu, melainkan mana di antara dua rasa itu yang lebih dulu muncul di dada kita saat membacanya? Yang lebih jujur biasanya rasa yang pertama, karena ia datang sebelum sempat diatur.
  • Pengetahuan-Nya tidak disebut secara umum, melainkan dirinci menjadi empat gerakan: yang masuk ke dalam bumi, yang keluar darinya, yang turun dari langit, yang naik ke sana. Dua gerakan ke dalam dan dua ke luar, dua ke bawah dan dua ke atas. Susunan itu tidak menyisakan rute. Benih yang tenggelam di tanah dan tak terlihat siapa pun, tunas yang menembus permukaan berbulan kemudian, hujan yang jatuh, doa yang naik: semuanya sudah tercakup tanpa perlu ditambah satu kata pun. Yang perlu diperhatikan, dua di antara empat gerakan itu terjadi di tempat yang tidak bisa dilihat mata: apa yang masuk ke dalam tanah dan apa yang naik meninggalkan pandangan. Justru bagian yang tak terlihat itulah yang disebut lebih dahulu. Urutannya menandai bahwa yang tersembunyi bukan pengecualian, melainkan justru yang lebih dulu terhitung.