يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۚ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dia berilmu akan segala isi hati.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِyuuliju l-layla fii n-nahaariDia memasukkan malam ke dalam siang
- وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِwa-yuuliju n-nahaara fii l-laylidan memasukkan siang ke dalam malam
- وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِwa-huwa 'aliimun bi-dzaati sh-shuduuriDia berilmu akan segala isi hati
Terjemahan per kata (12 kata)
- يُولِجُyuulijumemasukkan
- اللَّيْلَl-laylamalam
- فِيfiike dalam
- النَّهَارِn-nahaarisiang
- وَيُولِجُwa-yuulijudan Dia memasukkan
- النَّهَارَn-nahaarasiang
- فِيfiike dalam
- اللَّيْلِl-laylimalam
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
- بِذَاتِbi-dzaatipada isi
- الصُّدُورِsh-shuduuridada
Inti bacaan
Siklus alam sebagai pengingat kendali: 'Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam', fenomena harian yang begitu biasa hingga jarang direnungkan, padahal menunjukkan keteraturan yang konsisten dan terkendali di luar campur tangan manusia.
Penjelasan pilihan kata
Verba yang dipakai di ayat ini, (يُولِجُ, yuuliju), muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:61, 31:29, 35:13, dan 57:6. Pada keempat kemunculan itu ia selalu berpasangan dengan dirinya sendiri: disebut dua kali berturut-turut, sekali untuk arah yang satu dan sekali untuk arah sebaliknya. Tidak ada tempat di dalam Al-Qur'an yang memakainya hanya sekali dalam satu ayat.
Kata itu berarti memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu yang lain, seperti benang yang diselipkan melalui lubang jarum. Kami terjemahkan "memasukkan", bukan "mengganti" atau "menukar". Bedanya menentukan gambar yang muncul di kepala pembaca. "Mengganti" memberi kesan dua benda yang bertukar tempat sekaligus, seperti penjaga yang digantikan penjaga lain pada jam tertentu. Yang tertulis di sini bukan itu. Ia menggambarkan satu hal yang disusupkan sedikit demi sedikit ke dalam hal lain, sehingga batas antara keduanya tidak pernah berupa garis yang tegas.
Ini cocok dengan apa yang memang terjadi. Malam tidak pernah datang seperti lampu yang dipadamkan; ia merembes ke dalam sore, dan pagi merembes ke dalam gelap. Orang yang mencoba menunjuk detik persisnya akan selalu gagal, sebab detik itu memang tidak ada. Pilihan kata di ayat ini menjaga sifat merembes tersebut, dan terjemahan yang memakai "mengganti" akan menghapusnya.
Penutup ayat berpindah ke tempat yang sama sekali lain. Rangkaian (عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ, 'aliimun bi-dzaati sh-shuduuri) muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:119, 3:154, 5:7, 8:43, 11:5, 31:23, 35:38, 39:7, 42:24, 57:6, 64:4, dan 67:13. Dua belas kemunculan itu tersebar hanya di sebelas surah, sebab Surah Ali Imran memuatnya dua kali. Harfiahnya "berilmu akan yang punya dada", yaitu isi yang tersimpan di dalam (الصُّدُورِ, ash-shuduuri). Kami terjemahkan "segala isi hati", memakai "hati" karena dalam bahasa Indonesia itulah tempat yang lazim untuk niat dan perasaan, sedangkan "dada" akan terbaca sebagai anggota tubuh.
Kata sifat di depannya kami terjemahkan "berilmu", satu kata yang sama untuk Allah maupun manusia, sebab teks aslinya memang memakai kata yang sama untuk keduanya; ketika kata itu berobjek, seperti di sini, ia diterjemahkan "berilmu akan". Bentuk tanpa takrif tidak kami beri tambahan "Maha", sesuai aturan yang berlaku di seluruh proyek.
Satu hal lagi patut dicatat tentang urutannya. Yang disebut lebih dahulu adalah malam yang dimasukkan ke dalam siang, baru sesudahnya siang yang dimasukkan ke dalam malam. Kata (النَّهَارِ, an-nahaari) yang berarti siang berdiri di dua kedudukan yang berbeda pada dua bagian kalimat itu, sekali sebagai wadah dan sekali sebagai isi. Urutan tersebut sama pada keempat ayat yang memakai verba ini, tanpa satu pun yang membaliknya. Terjemahan kami mengikuti urutan aslinya dan tidak menukarnya demi kelancaran bunyi, sebab urutan yang tetap di empat tempat lebih pantas dianggap pilihan daripada kebetulan.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan tanda kebesaran lain: pergantian malam dan siang, disertai pengetahuan Allah atas isi hati manusia. Dua bagiannya kelihatan tidak nyambung, dan justru di situlah letak kekuatannya.
Bagian pertama berbicara tentang sesuatu yang paling besar dan paling terbuka. Peredaran gelap dan terang berlangsung di atas kepala semua orang, tidak bisa disembunyikan, dan tidak seorang pun bisa mengaku tidak menyaksikannya. Ia juga sesuatu yang paling sering diabaikan justru karena terlalu sering terjadi. Barang yang datang tiap hari berhenti dianggap sebagai peristiwa.
Bagian kedua berbicara tentang sesuatu yang paling kecil dan paling tertutup. Isi hati adalah satu-satunya wilayah yang benar-benar bisa dirahasiakan seseorang dari seluruh dunia. Orang bisa berbohong tentang perbuatannya dan tertangkap, tetapi tak ada alat yang bisa membuka niatnya kalau ia sendiri tidak mengaku.
Menyandingkan keduanya dalam satu ayat pendek menghasilkan satu kesimpulan yang tidak perlu diucapkan: yang mengurus perkara sebesar itu tidak sedang sibuk sampai luput pada perkara sekecil ini. Bagi pembaca, ini menutup satu penghiburan diam-diam yang sering dipakai. Orang mudah membayangkan bahwa urusan yang mahaluas membuat urusan pribadinya tenggelam dan tak terhitung. Ayat ini meletakkan kedua perkara itu bersebelahan, dan tidak memberi tanda bahwa yang satu lebih menyita perhatian daripada yang lain.
Ada juga kaitan yang lebih halus. Bagian pertama menerangkan sesuatu yang berubah sedikit demi sedikit sampai tak terlihat perpindahannya. Isi hati bekerja dengan cara yang sama: tak ada orang yang berubah niat dalam satu detak. Yang bergeser pelan-pelan itulah yang paling sulit disadari oleh pemiliknya sendiri, dan itulah yang disebut diketahui di kalimat terakhir.
Renungan dan Hikmah
- Dua arah pergantian disebut Allah, bukan satu. Malam ke siang. Siang ke malam.
- Kata memasukkan dipakai, bukan kata mengganti. Bukan tukar tempat. Diselipkan sedikit demi sedikit.
- Kalimat penutupnya melompat ke isi hati. Allah menyandingkan yang paling luas dengan yang paling tersembunyi. Peredaran langit, lalu bisikan dada.
- Peredaran gelap dan terang berlangsung di atas kepala semua orang setiap dua puluh empat jam, dan justru karena itu ia paling jarang diperhatikan. Sesuatu yang terjadi terus-menerus berhenti dianggap sebagai peristiwa; ia turun pangkat menjadi latar. Kita akan berkerumun menonton gerhana yang datang sekali dalam belasan tahun, lalu melewatkan senja yang datang tiap hari tanpa satu pun pandangan. Allah justru memilih yang tiap hari itu sebagai bukti, bukan yang langka. Pilihan tersebut menegur cara kita menilai: kita menyangka yang besar pasti yang jarang, padahal yang paling besar biasanya yang paling tetap. Sesuatu yang tidak pernah gagal sekali pun selama ribuan tahun sebenarnya lebih menakjubkan daripada sesuatu yang kebetulan terjadi satu kali, dan kita membalik urutan itu hampir setiap hari. Dan yang tetap itu tidak menuntut perhatian; ia hanya hadir, lalu dilewati.
- Kata yang dipakai berarti menyusupkan, bukan menukar. Gelap tidak datang seperti lampu yang dipadamkan; ia merembes ke dalam sore, dan pagi merembes balik ke dalam gelap. Siapa pun yang mencoba menunjuk detik persis pergantiannya akan gagal, sebab detik itu memang tidak pernah ada. Cara kerja seperti itu ternyata juga cara kerja perubahan di dalam diri seseorang. Tidak ada orang yang berubah baik atau berubah rusak dalam satu detak. Yang terjadi selalu berupa rembesan: satu kebiasaan kecil masuk, satu batas digeser sedikit, satu alasan diterima yang dulu ditolak. Karena tak ada garis yang bisa ditunjuk, orangnya sendiri jarang sadar sedang di sebelah mana ia berdiri sekarang. Apa yang sudah merembes masuk ke dalam diri saya tahun ini tanpa pernah saya izinkan secara terang-terangan?
- Dua bagian ayat ini seolah tidak berhubungan. Yang pertama menyangkut perkara paling besar dan paling terbuka, yang kedua menyangkut perkara paling kecil dan paling tertutup. Justru penyandingan itu yang jadi isinya. Orang gampang menghibur diri dengan pikiran bahwa urusan sebesar peredaran langit tentu membuat urusannya sendiri tenggelam dan tidak terhitung; ada rasa aman yang aneh dalam merasa terlalu kecil untuk diperhatikan. Allah menaruh kedua perkara itu bersebelahan dalam satu kalimat pendek, tanpa memberi tanda bahwa yang satu lebih menyita perhatian daripada yang lain. Isi hati adalah satu-satunya wilayah yang benar-benar bisa dirahasiakan seseorang dari seluruh dunia. Kalimat penutup ini mengatakan wilayah itu tidak sekosong yang dikira pemiliknya. Yang paling rapi kita sembunyikan justru yang paling terang di sana.