وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۙ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Dan mengapa kalian tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kalian untuk beriman kepada Tuhan kalian, dan Dia telah mengambil perjanjian kalian, jika kalian orang-orang beriman?

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَمَا لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِwa-maa lakum laa tu'minuuna bi-llaahidan mengapa kalian tidak beriman kepada Allah
  2. وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْwa-r-rasuulu yad'uukum li-tu'minuu bi-rabbikumpadahal Rasul menyeru kalian untuk beriman kepada Tuhan kalian
  3. وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْwa-qad akhadza miitsaaqakumdan Dia telah mengambil perjanjian kalian
  4. إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَin kuntum mu'miniinajika kalian orang-orang beriman

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. وَمَاwa-maadan mengapa
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. لَاlaatidak
  4. تُؤْمِنُونَtu'minuunakalian beriman
  5. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  6. وَالرَّسُولُwa-r-rasuuludan Rasul
  7. يَدْعُوكُمْyad'uukummenyeru kalian
  8. لِتُؤْمِنُواli-tu'minuuagar kalian beriman
  9. بِرَبِّكُمْbi-rabbikumkepada Tuhan kalian
  10. وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
  11. أَخَذَakhadzamengambil
  12. مِيثَاقَكُمْmiitsaaqakumperjanjian kalian
  13. إِنْinjika
  14. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  15. مُؤْمِنِينَmu'miniinaorang-orang beriman

Inti bacaan

Tantangan logis terhadap keraguan: 'mengapa kalian tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kalian. dan Dia telah mengambil perjanjian kalian?', pertanyaan yang menyoroti inkonsistensi antara pengakuan awal (perjanjian) dan keraguan yang muncul kemudian, dorongan untuk introspeksi jujur atas konsistensi keyakinan diri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan bentuk pertanyaan yang tidak menuntut jawaban lisan. Rangkaian (وَمَا لَكُمْ لَا, wa-maa lakum laa), harfiahnya "dan apa yang ada pada kalian sehingga tidak", muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:75 dan 57:8. Di 4:75 ia menagih orang yang tidak mau berperang membela yang tertindas; di sini ia menagih orang yang tidak mau percaya. Dua-duanya berupa teguran yang menuntut alasan, bukan perintah yang menuntut kepatuhan.

Bentuk pembuka yang lebih pendek, (وَمَا لَكُمْ, wa-maa lakum), muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:107, 4:75, 6:119, 9:116, 11:113, 29:22, 29:25, 42:31, 42:47, 45:34, 57:8, dan 57:10. Dua belas kemunculan itu tersebar hanya di sembilan surah, karena tiga surah memuatnya masing-masing dua kali, dan surah ini salah satunya. Yang menarik, dua kemunculannya di sini berdiri hanya berjarak satu ayat: yang di sini menagih kepercayaan, yang di 57:10 menagih pemberian. Susunan berpasangan itu menjadikan kedua tagihan tersebut satu tarikan yang sama.

Kata (مِيثَاقَكُمْ, miitsaaqakum), "perjanjian kalian", muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:63, 2:84, 2:93, dan 57:8. Empat kemunculan itu hanya berada di dua surah, sebab tiga di antaranya berkumpul di Surah Al-Baqarah. Kata kerjanya kami terjemahkan "mengambil", bukan "membuat" atau "mengikat", mengikuti kata aslinya yang memang berarti mengambil. Perbedaannya tidak sepele: perjanjian yang diambil menempatkan satu pihak sebagai yang menuntut dan pihak lain sebagai yang memberi, bukan dua pihak yang duduk setara lalu bersepakat.

Ayat ini menyebut dua kata yang berbeda untuk pihak yang sama. Di awal kalimat tertulis nama Allah, lalu di tengah tertulis (بِرَبِّكُمْ, bi-rabbikum), "kepada Tuhan kalian". Nama yang pertama berdiri sendiri tanpa kaitan kepada siapa pun; yang kedua justru menyebut kaitannya dengan pendengarnya. Terjemahan kami menjaga dua kata itu tetap berbeda, sebab perpindahan dari nama yang berdiri sendiri ke sebutan yang mengandung hubungan adalah bagian dari cara ayat ini membujuk.

Penutupnya, "jika kalian orang-orang beriman", terbaca ganjil kalau dianggap syarat biasa, sebab yang ditegur justru orang yang belum beriman. Dalam bahasa aslinya, kalimat penutup semacam ini bekerja sebagai pemancing: ia meletakkan sebutan yang diakui pendengarnya, lalu membiarkan pendengar itu sendiri yang merasa tidak cocok dengannya.

Satu catatan tentang kata kerja di bagian tengah. Ia berarti menyeru atau memanggil kepada sesuatu, dan kami terjemahkan "menyeru", bukan "mengajak". Mengajak terdengar seperti tawaran yang boleh ditolak tanpa akibat, sedangkan yang tertulis di sini berdiri berdampingan dengan janji yang sudah pernah diambil, dan itu memberinya bobot tagihan.

Tafsiran

Ayat ini menegur keengganan mereka beriman, padahal seruan dan perjanjian telah jelas disampaikan. Yang perlu diperhatikan adalah bentuk tegurannya, yang berupa pertanyaan.

Pertanyaan menempatkan lawan bicara pada kedudukan yang berbeda dari perintah. Perintah menuntut tindakan dan bisa dipenuhi tanpa perlu mengerti. Pertanyaan menuntut alasan, dan alasan hanya bisa disusun oleh orang yang memeriksa dirinya sendiri lebih dahulu. Dengan bertanya, ayat ini memaksa pendengarnya masuk ke dalam perkaranya, bukan sekadar tunduk atau menolak dari luar.

Isi tegurannya sendiri bukan ajakan dari nol. Dua hal disebut sudah tersedia: ada yang menyeru, dan ada perjanjian yang pernah diambil. Artinya orang yang ditegur bukan orang yang belum pernah mendengar apa-apa, melainkan orang yang sudah pernah mengiyakan lalu berhenti di tengah. Jarak antara pernah mengiyakan dan sedang menjalankan itulah yang sedang ditagih.

Susunan seperti ini mengenai keadaan yang sangat umum. Kebanyakan orang tidak menolak secara terbuka; mereka mengaku setuju, lalu tidak melanjutkan apa-apa. Penolakan terbuka setidaknya jujur dan bisa dijawab. Persetujuan yang berhenti di mulut lebih sulit disentuh, sebab pemiliknya merasa sudah beres dan tidak melihat ada perkara yang tersisa.

Penutup ayat menaruh sebutan "orang-orang beriman" di ujung kalimat. Sebutan itu justru yang diakui oleh pendengarnya sendiri. Dengan meletakkannya di sana, ayat ini tidak perlu menuduh siapa pun; ia hanya menyandingkan pengakuan dengan keadaan, lalu membiarkan yang bersangkutan melihat sendiri apakah keduanya cocok.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menagih janji yang sudah pernah diberikan. Bukan mengajak dari awal. Mengingatkan yang sudah diikat.
  • Dua hal disebut sudah lengkap: seruannya ada, perjanjiannya ada. Tinggal jawabannya. Itu yang belum.
  • Pertanyaan dibuka dengan mengapa, bukan dengan perintah. Allah memberi ruang untuk menjawab. Yang ditagih alasannya.
  • Teguran di ayat ini berbentuk pertanyaan, dan bentuk itu bukan pilihan gaya. Perintah bisa dipenuhi tanpa perlu mengerti apa-apa; orang tinggal menurut, dan urusannya selesai di permukaan. Pertanyaan tidak bisa diselesaikan begitu. Ia menuntut alasan, dan alasan hanya bisa disusun oleh orang yang lebih dulu memeriksa dirinya sendiri. Dengan bertanya, Allah memaksa pendengarnya masuk ke dalam perkara itu, bukan berdiri di luarnya sambil menurut atau menolak. Cara ini juga memberi kehormatan yang tidak diberikan oleh perintah: yang ditanya diperlakukan sebagai pihak yang punya pertimbangan, bukan sebagai benda yang tinggal digerakkan. Dan kehormatan itu punya harga. Orang yang diberi kesempatan menjawab kehilangan pembelaan bahwa ia hanya sedang disuruh-suruh. Sesudah ditanya, diam pun berubah arti: ia bukan lagi ketiadaan perkara, melainkan satu bentuk jawaban yang dipilih.
  • Yang ditegur di sini bukan orang yang belum pernah mendengar apa-apa. Dua hal disebut sudah tersedia: ada yang menyeru, dan ada janji yang pernah diambil. Jadi orangnya sudah pernah mengiyakan, lalu berhenti di tengah. Keadaan itu sangat umum dan jauh lebih sulit disentuh daripada penolakan terbuka. Orang yang menolak dengan terang setidaknya jujur, dan pendiriannya bisa dijawab. Orang yang mengaku setuju lalu tidak melanjutkan apa pun merasa perkaranya sudah beres; tidak ada yang ia rasa perlu dibela, karena menurutnya tidak ada yang sedang dituduhkan. Jarak antara pernah mengiyakan dan sedang menjalankan itulah yang ditagih ayat ini, dan jarak semacam itu biasanya tidak terasa oleh pemiliknya sampai ada yang menyebutnya. Yang paling tenang biasanya bukan yang paling beres, melainkan yang paling lama tidak diperiksa.
  • Kalimatnya ditutup dengan "jika kalian orang-orang beriman", dan itu terbaca ganjil kalau dianggap syarat biasa, sebab yang sedang ditegur justru kepercayaan yang belum berjalan. Letaknya di ujung kalimat membuatnya bekerja lain. Sebutan itu adalah sebutan yang diakui sendiri oleh pendengarnya; tak ada yang perlu dipaksakan dari luar. Allah tidak menuduh siapa pun berdusta di ayat ini. Ia hanya menaruh pengakuan orang di sebelah keadaan orang itu, lalu berhenti. Yang bersangkutan sendiri yang melihat apakah keduanya cocok. Cara semacam ini jauh lebih sulit dielakkan daripada tuduhan, karena tidak ada penuduh yang bisa dibantah. Apa nama yang saya pakai untuk diri saya, dan apakah keseharian saya sanggup menanggung nama itu? Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban di depan siapa pun, dan justru karena itu ia sulit ditunda terus-menerus.