وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Mengapa kalian tidak menginfakkan di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama di antara kalian orang yang menginfakkan dan berperang sebelum penaklukan. Mereka itu lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan dan berperang setelah itu. Dan kepada masing-masing, Allah menjanjikan yang terbaik. Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan.
Terjemahan bertahap (7 jeda)
- وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِwa-maa lakum allaa tunfiquu fii sabiili llaahimengapa kalian tidak menginfakkan di jalan Allah
- وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-li-llaahi miiraatsu s-samaawaati wa-l-ardhipadahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi
- لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَlaa yastawii minkum man anfaqa min qabli l-fathi wa-qaatalatidak sama di antara kalian orang yang menginfakkan dan berperang sebelum penaklukan
- أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةًulaa'ika a'zhamu darajatanmereka itu lebih tinggi derajatnya
- مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُواmina lladziina anfaquu min ba'du wa-qaataluudaripada orang-orang yang menginfakkan dan berperang setelah itu
- وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰwa-kullan wa'ada llaahu l-husnaadan kepada masing-masing, Allah menjanjikan yang terbaik
- وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌwa-llaahu bi-maa ta'maluuna khabiirunAllah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan
Terjemahan per kata (37 kata)
- وَمَاwa-maadan mengapa
- لَكُمْlakumkalian
- أَلَّاallaatidak
- تُنْفِقُواtunfiquukalian nafkahkan
- فِيfiidi
- سَبِيلِsabiilijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- وَلِلَّهِwa-li-llaahidan milik Allah
- مِيرَاثُmiiraatsuwarisan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- لَاlaatidak
- يَسْتَوِيyastawiisama
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- مَنْmanorang yang
- أَنْفَقَanfaqamenginfakkan
- مِنْmindari
- قَبْلِqablisebelum
- الْفَتْحِl-fathikemenangan
- وَقَاتَلَwa-qaataladan berperang
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- أَعْظَمُa'zhamulebih besar
- دَرَجَةًdarajatanderajat
- مِنَminadari
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- أَنْفَقُواanfaquumereka menafkahkan
- مِنْmindari
- بَعْدُba'dusetelah itu
- وَقَاتَلُواwa-qaataluudan mereka berperang
- وَكُلًّاwa-kullandan masing-masing
- وَعَدَwa'adamenjanjikan
- اللَّهُllaahuAllah
- الْحُسْنَىٰl-husnaayang terbaik
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- بِمَاbi-maapada apa yang
- تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
- خَبِيرٌkhabiirunmengetahui
Inti bacaan
Gradasi nilai berdasarkan konteks pengorbanan: 'tidak sama orang yang menginfakkan hartanya. sebelum penaklukan dan berperang. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan hartanya dan berperang setelah itu', pengakuan bahwa pengorbanan pada momen sulit dan tidak pasti bernilai lebih tinggi daripada kontribusi setelah situasi sudah aman, meski keduanya tetap dijanjikan kebaikan, prinsip yang menghargai keberanian mengambil risiko di awal perjuangan.
Penjelasan pilihan kata
Alasan yang diberikan ayat ini untuk berbagi tidak lazim, dan alasan yang sama hanya dipakai di satu tempat lain. Rangkaian (مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, miiraatsu s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:180 dan 57:10. Kedua ayat itu berbicara tentang perkara yang sama, yaitu menahan apa yang ada di tangan, dan kedua-duanya ditutup dengan kalimat yang sama pula tentang pengetahuan atas perbuatan. Dua kali dipakai, dua kali dalam bantahan terhadap kikir, dan dua kali dengan penutup yang serupa.
Kata (مِيرَاثُ, miiraatsu) kami terjemahkan "pusaka", yaitu apa yang ditinggalkan dan berpindah tangan. Yang menarik dari alasan ini, ia tidak berkata harta itu tidak berharga. Ia berkata harta itu sudah tercatat akan berpindah, dan yang menerima perpindahannya sudah disebutkan namanya di dalam kalimat yang sama.
Bagian tengah ayat memakai rangkaian (لَا يَسْتَوِي, laa yastawii), yang muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:95, 5:100, 57:10, dan 59:20. Rangkaian itu selalu membuka perbandingan antara dua pihak yang perbuatannya mirip tetapi nilainya tidak sama.
Penutup perbandingan di sini punya kembaran yang tepat. Rangkaian (وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ, wa'ada llaahu l-husnaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:95 dan 57:10. Dua-duanya berdiri persis sesudah sebuah perbandingan yang menyatakan dua pihak tidak sama, dan dua-duanya menjanjikan yang terbaik kepada kedua pihak itu sekaligus. Jadi pola yang dipakai di ayat ini bukan pola sekali pakai: membedakan derajat, lalu menolak menyingkirkan yang berderajat lebih rendah.
Perbandingan derajatnya memakai rangkaian (أَعْظَمُ دَرَجَةً, a'zhamu darajatan), yang muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:20 dan 57:10. Kata (الْفَتْحِ, al-fathi) sendiri muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:52, 32:29, dan 57:10, dan keterangan waktu (قَبْلِ الْفَتْحِ, qabli l-fathi) muncul 1 kali, yaitu di ayat ini. Teks tidak menyebutkan peristiwa mana yang dimaksud, dan terjemahan kami tidak menambahkan namanya di dalam kurung; identifikasi kota atau tanggal ditanggung oleh keterangan pembaca, bukan oleh teksnya.
Beberapa tambahan dalam kurung yang lazim dipakai terjemahan lain kami hapus dari ayat ini: "(harta kalian)", "(hartanya)", dan "(balasan)". Kata kerja berbagi di sini berdiri sendiri tanpa objek berulang, dan kata "yang terbaik" sudah menjadi objek janji tanpa perlu kata "balasan" yang berdiri terpisah. Kata penutupnya kami terjemahkan "waskita", dipakai secara tetap di 45 ayat dan hanya untuk Allah, dibedakan dari "berilmu" yang dipakai untuk kata lain. Kata tunjuk yang dipakai untuk kelompok pertama adalah kata tunjuk jauh, dan terjemahan "mereka itu" memang yang benar untuknya; kata tunjuk dekat akan menggeser kelompok tersebut seolah berdiri di dekat pembaca, padahal teksnya menaruh mereka di kejauhan sebagai pihak yang sudah selesai bergerak.
Tafsiran
Ayat ini membedakan derajat antara mereka yang berinfak dan berjuang sejak awal dengan yang menyusul kemudian, meski keduanya dijanjikan kebaikan. Sebelum sampai ke perbandingan itu, ia lebih dahulu memberikan alasan yang tidak biasa untuk melepaskan apa yang ada di tangan.
Alasan yang lazim dipakai orang adalah bahwa memberi itu baik, atau bahwa yang menerima sedang membutuhkan. Ayat ini memakai alasan lain: semua ini toh akan berpindah, dan yang menerima perpindahannya sudah disebutkan. Argumen semacam itu tidak mengetuk rasa kasihan, melainkan rasa masuk akal. Ia berkata bahwa menahan sesuatu yang sudah tercatat akan lepas adalah usaha yang sejak awal sia-sia, dan bahwa memberi cuma mendahului apa yang bagaimanapun terjadi.
Perbandingan di bagian tengah menyentuh perkara yang jarang dibicarakan terbuka. Dua kelompok melakukan hal yang persis sama, dengan biaya yang mungkin sama besar. Yang membedakan hanya waktunya: satu bergerak ketika hasilnya belum kelihatan, satu lagi bergerak sesudah keadaan terang. Ayat ini menyatakan keduanya tidak sederajat, dan tidak berusaha melunakkannya.
Penilaian seperti itu terasa keras, sampai kita perhatikan apa yang menyusul. Sesudah menyatakan tidak sama, ayat ini tetap menjanjikan yang terbaik kepada kedua kelompok. Membedakan tingkat ternyata tidak harus berarti menyingkirkan yang di bawah. Pola yang sama dipakai di 4:95 dengan susunan yang hampir sama persis, dan pengulangan itu menunjukkan bahwa cara menilai seperti ini memang disengaja.
Bagi pembaca, gabungan dua hal itulah yang paling sulit ditiru. Manusia biasanya memilih salah satu: menyamaratakan semua orang demi kerukunan sehingga tidak ada yang merasa dinilai, atau menilai dengan tegas lalu memperlakukan yang di bawah seolah tidak berjasa sama sekali. Ayat ini melakukan keduanya dalam satu tarikan, dan menutup dengan kalimat yang mengingatkan siapa yang sebenarnya memegang perhitungannya.
Renungan dan Hikmah
- Alasan yang diberikan tak biasa: 'milik Allah semua pusaka langit dan bumi'. Yang kita tahan sebenarnya sudah tercatat akan berpindah. Menginfakkan karena itu bukan melepaskan milik sendiri, melainkan mendahului perpindahan yang bagaimanapun akan terjadi.
- Kedua kelompok sama-sama berinfak dan berperang; yang membedakan cuma sebelum atau sesudah penaklukan. Perbuatannya identik, waktunya tidak. Yang dinilai Allah lebih tinggi adalah langkah yang diambil ketika hasilnya masih belum kelihatan.
- Sesudah membedakan derajat, ayat ini tetap menjanjikan yang terbaik kepada kedua kelompok. Perbedaan tingkat tidak dijadikan alasan meniadakan yang datang belakangan. Menilai lebih tinggi dan tetap menghargai ternyata bisa berjalan bersama, dan itu jarang ditiru manusia ketika membanding-bandingkan jasa.
- Ayat ini tidak mengetuk rasa kasihan. Alasan yang diberikannya untuk melepaskan apa yang di tangan adalah bahwa semuanya toh akan berpindah, dan penerima perpindahannya sudah disebutkan namanya di kalimat yang sama. Argumen seperti itu bekerja pada bagian lain di dalam diri seseorang. Rasa kasihan bisa habis, bisa lelah, dan bisa dikalahkan alasan bahwa kita sendiri sedang susah. Kesadaran bahwa yang kita genggam sudah tercatat akan lepas tidak bisa dilawan dengan cara itu, sebab ia bukan perasaan melainkan kenyataan yang tinggal menunggu jadwalnya. Alasan yang sama hanya dipakai di satu tempat lain, dan di sana pun ia berdiri sebagai bantahan terhadap orang yang menahan. Menahan sesuatu yang pasti lepas adalah pekerjaan yang kalah sejak hari pertama.
- Dua kelompok di ayat ini melakukan hal yang persis sama dan mungkin membayar harga yang sama besar. Yang membedakan cuma kapan. Satu bergerak ketika hasilnya belum kelihatan sama sekali, satu lagi bergerak sesudah keadaan menjadi terang. Allah menyatakan keduanya tidak sederajat, dan tidak berusaha melunakkan kalimat itu. Penilaian tersebut menyentuh perkara yang jarang diakui terbuka: sebagian besar dari kita menunggu sampai aman, lalu menceritakan langkah kita seolah diambil pada saat genting. Ukuran yang dipakai di sini bukan hasil dan bukan besarnya pengeluaran, melainkan seberapa gelap keadaan ketika kaki pertama diangkat. Di titik mana saya sedang menunggu sesuatu jelas dulu sebelum bersedia bergerak?
- Sesudah menyatakan dua kelompok tidak sederajat, ayat ini tetap menjanjikan yang terbaik kepada dua-duanya. Gabungan itu jarang sekali ditiru manusia. Kita biasanya memilih salah satu jalan. Jalan pertama menyamaratakan semua demi kerukunan, sehingga tak ada yang merasa dinilai dan tak ada pula yang terdorong maju; segalanya disebut sama baik meski jelas tidak. Jalan kedua menilai dengan tegas lalu memperlakukan yang berada di bawah seolah tidak berjasa sama sekali, sehingga penilaian berubah menjadi penyingkiran. Allah mengerjakan keduanya dalam satu tarikan: perbedaannya disebut terang-terangan, dan yang di bawah tetap dijanjikan yang terbaik. Pola ini dipakai juga di 4:95 dengan susunan yang hampir sama, jadi ia memang cara menilai yang disengaja, bukan kelembutan yang kebetulan muncul di ujung kalimat.