يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ
Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami, agar kami mengambil sebagian dari cahaya kalian.” Dikatakan, “Kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya.” Maka, dipasang di antara mereka tembok yang mempunyai pintu; bagian dalamnya ada rahmat dan bagian luarnya dari arahnya ada azab.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُواyawma yaquulu l-munaafiquuna wa-l-munaafiqaatu li-lladziina aamanuupada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman
- انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْunzhuruunaa naqtabis min nuurikumtunggulah kami, agar kami mengambil sebagian dari cahaya kalian
- قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًاqiila rji'uu waraa'akum fa-ltamisuu nuurandikatakan, kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya
- فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌfa-dhuriba baynahum bi-suurin lahu baabunmaka, dipasang di antara mereka tembok yang mempunyai pintu
- بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُbaathinuhu fiihi r-rahmatu wa-zhaahiruhu min qibalihi l-'adzaabubagian dalamnya ada rahmat dan bagian luarnya dari arahnya ada azab
Terjemahan per kata (27 kata)
- يَوْمَyawmahari
- يَقُولُyaquuluberkata
- الْمُنَافِقُونَl-munaafiquunaorang-orang munafik
- وَالْمُنَافِقَاتُwa-l-munaafiqaatudan perempuan-perempuan munafik
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- انْظُرُونَاunzhuruunaatunggulah kami
- نَقْتَبِسْnaqtabiskami mengambil
- مِنْmindari
- نُورِكُمْnuurikumcahaya kalian
- قِيلَqiiladikatakan
- ارْجِعُواrji'uukembalilah kalian
- وَرَاءَكُمْwaraa'akumdi belakang kalian
- فَالْتَمِسُواfa-ltamisuumaka carilah kalian
- نُورًاnuurancahaya
- فَضُرِبَfa-dhuribamaka diadakan
- بَيْنَهُمْbaynahumdi antara mereka
- بِسُورٍbi-suurindengan dinding
- لَهُlahubaginya
- بَابٌbaabunpintu
- بَاطِنُهُbaathinuhubagian dalamnya
- فِيهِfiihidi dalamnya
- الرَّحْمَةُr-rahmaturahmat
- وَظَاهِرُهُwa-zhaahiruhudan luarnya
- مِنْmindari
- قِبَلِهِqibalihiarahnya
- الْعَذَابُl-'adzaabuazab
Inti bacaan
Perumpamaan dramatis pemisahan akhir: orang munafik berkata 'tunggulah kami, kami ingin mengambil cahayamu', dijawab dengan pemisahan dinding berpintu, 'di sebelah dalamnya ada rahmat dan di luarnya ada azab'. Konkretnya: cahaya spiritual (amal dan iman) tidak bisa dipinjam atau dibagikan di saat-saat terakhir, setiap orang harus membangun kesiapannya sendiri secara bertahap, bukan berharap menumpang pada kebaikan orang lain di menit-menit kritis.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat tiga kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata (نَقْتَبِسْ, naqtabis), "kami mengambil sebagian", muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata (بِسُورٍ, bi-suurin), "dengan tembok", juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan juga di ayat ini. Kata (بَاطِنُهُ, baathinuhu), "bagian dalamnya", muncul 1 kali pula di seluruh Al-Qur'an, dan tempatnya sama. Tiga kata sekali pakai berkumpul dalam satu ayat, dan ketiganya memikul bagian yang berbeda dari pemandangan yang sama.
Kata yang pertama tidak berarti meminta cahaya, melainkan mengambil nyala dari nyala yang sudah ada, seperti orang menyalakan obor dari obor orang lain. Karena itu terjemahan kami berbunyi "mengambil sebagian dari cahaya kalian", bukan "meminta cahaya". Perbedaannya menentukan seberapa masuk akal permintaan itu terdengar: menyalakan obor dari obor orang lain memang tidak mengurangi apa pun pada obor yang pertama, dan justru karena itulah permintaan mereka terdengar sederhana.
Pasangan dalam dan luar yang menutup ayat ini adalah pasangan yang sama yang dipakai sebagai sebutan bagi Allah di 57:3, sepuluh ayat sebelumnya. Di sana pasangan itu menerangkan siapa Dia; di sini ia menerangkan sebuah tembok, yang bagian dalamnya berisi rahmat dan bagian luarnya berisi azab. Pasangan yang sama juga menyifati dosa di 6:120, yang kami terjemahkan "dosa yang tampak dan yang tersembunyi". Satu pasangan kata, tiga kedudukan yang sama sekali berbeda, dan terjemahan kami menjaganya tetap memakai kata yang sama supaya kaitan itu bisa dilihat pembaca.
Tambahan "(itu juga)" tidak dipakai pada keterangan waktu pembukanya, sebab kata aslinya hanya membuka anak kalimat waktu lanjutan dan tidak memuat kata tunjuk apa pun. Ayat ini memuat dua kutipan berurutan, bukan bersarang. Yang pertama permintaan orang munafik, yang kedua jawaban yang diterima. Kutipan kedua dibuka dengan kata kerja pasif yang berarti "dikatakan", tanpa menyebut siapa yang mengatakan. Terjemahan kami mempertahankan ketiadaan penutur itu dan tidak menambahkan "(kepada mereka)" di dalam kurung. Pola dialog berurutan semacam ini dipakai juga di 45:32, 46:17, dan 48:11.
Kelompoknya kembali disebut dua-duanya, laki-laki dan perempuan, sama seperti di ayat sebelumnya untuk kelompok yang berlawanan. Dua ayat berturut-turut memakai pembelahan yang sama untuk dua kelompok yang berlawanan, dan keseimbangan itu jelas disengaja.
Kata untuk tembok yang dipakai di sini bukan kata yang biasa dipakai untuk dinding rumah. Ia menunjuk tembok pembatas yang mengelilingi sesuatu, seperti tembok kota, dan bentuk itulah yang membuat gambaran ayat ini utuh: yang dipasang bukan sekadar penghalang di antara dua orang, melainkan batas yang memisahkan dua wilayah. Terjemahan kami memakai "tembok", bukan "dinding", untuk menjaga perbedaan tersebut. Tambahan "(pemisah)" yang lazim diselipkan terjemahan lain kami hapus, sebab kata aslinya sudah memuat sifat memisahkan itu di dalam dirinya, dan menambahkannya hanya mengulang apa yang sudah ada.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan pemisahan tegas antara orang beriman dan munafik pada Hari Kiamat: tembok dengan sisi rahmat dan sisi azab. Yang membuatnya terasa berat bukan hukumannya, melainkan bentuk permintaan yang ditolak.
Kata yang mereka pakai berarti mengambil nyala dari nyala yang sudah menyala, seperti orang menyalakan obor dari obor tetangganya. Perbuatan semacam itu di dunia tidak merugikan siapa pun; obor yang pertama tidak berkurang sedikit pun karenanya. Justru itu yang membuat permintaan mereka terdengar wajar, bahkan sopan. Mereka tidak meminta ditukar tempat dan tidak meminta seluruhnya, hanya sedikit dari yang tidak akan berkurang.
Penolakannya karena itu tidak bisa dibaca sebagai kekikiran. Yang menjadi soal bukan kesediaan orang yang punya, melainkan sifat barangnya. Cahaya di ayat sebelumnya digambarkan berlari mendahului pemiliknya masing-masing, melekat pada orangnya, bukan pada ruangnya. Barang yang melekat seperti itu memang tidak bisa dipindahkan, sebagaimana kesehatan orang lain tidak bisa dipinjam oleh yang sakit meski yang sehat bersedia.
Jawaban yang mereka terima menyuruh kembali ke belakang untuk mencari cahaya. Kalimat itu menunjukkan arah yang benar sekaligus arah yang mustahil, dan di situlah beratnya. Cahaya itu memang dikumpulkan di tempat yang mereka tinggalkan, yaitu hidup yang sudah lewat. Petunjuk yang tepat pada saat tidak bisa lagi ditempuh terasa lebih pahit daripada penolakan mentah.
Yang dipasang di antara mereka bukan jurang, melainkan tembok yang punya pintu. Pintu berarti pernah ada jalan tembus, dan tembok berarti sekarang tidak. Gambaran itu menyimpan keduanya sekaligus. Dan pintu tersebut punya dua sisi dengan isi yang berlawanan, memakai pasangan kata yang sepuluh ayat sebelumnya dipakai untuk menyebut Allah sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Di hadapan Allah, permintaan mereka terdengar sederhana: 'agar kami mengambil sebagian dari cahaya kalian'. Bukan meminta semuanya, cuma sedikit. Dan sedikit pun tidak bisa. Ada hal yang tak bisa dipindahkan bukan karena pelitnya pemilik, melainkan karena sifatnya memang tidak berpindah.
- Jawaban yang mereka terima 'kembalilah ke belakang kalian, lalu carilah cahaya'. Mereka disuruh kembali ke tempat cahaya itu sebenarnya dikumpulkan, yaitu hidup yang sudah lewat. Yang membuat kalimat itu berat bukan penolakannya, melainkan bahwa arah yang ditunjukkan memang benar dan tidak bisa ditempuh lagi.
- Yang dipasang bukan jurang, melainkan tembok berpintu. Pintu berarti pernah ada jalan, dan tembok berarti sekarang tidak. Allah memilih gambaran yang menyimpan keduanya sekaligus, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada dinding yang tak pernah punya bukaan sama sekali.
- Kata yang mereka pakai tidak berarti meminta cahaya, melainkan mengambil nyala dari nyala yang sudah ada, seperti orang menyalakan obornya dari obor tetangga. Di dunia, perbuatan itu tidak merugikan siapa pun. Obor yang pertama tidak berkurang seujung pun, dan menolaknya justru akan dianggap kikir yang aneh. Justru itulah yang membuat permintaan mereka terdengar sopan dan masuk akal, dan justru itu pula yang membuat penolakannya berat dibaca. Yang menjadi soal bukan kesediaan pihak yang punya, melainkan sifat barangnya. Ada hal yang tidak bisa dipindahkan meski pemiliknya bersedia sepenuh hati, sebagaimana orang sehat tidak bisa meminjamkan kesehatannya kepada yang sakit di sebelahnya. Kata sekali pakai ini muncul hanya di ayat ini, dan seluruh isinya bertumpu pada satu perbedaan itu.
- Jawaban yang mereka terima menyuruh kembali ke belakang, lalu mencari cahaya di sana. Kalimat itu menunjukkan arah yang sepenuhnya benar. Cahaya memang dikumpulkan di tempat itu, di hidup yang sudah mereka lewati, sedikit demi sedikit tanpa terasa. Yang membuatnya menyakitkan bukan penolakannya, melainkan ketepatannya. Penolakan mentah masih menyisakan ruang untuk merasa diperlakukan tidak adil, dan rasa itu punya daya hibur tersendiri. Petunjuk yang tepat pada saat ia tidak bisa lagi ditempuh tidak menyisakan apa-apa untuk digenggam. Bagi pembaca yang masih hidup, kalimat tersebut sedang menunjuk ke arah yang sama, dan bedanya cuma satu: arah itu masih terbuka sekarang. Apa yang sedang saya kumpulkan hari ini di tempat yang besok disebut belakang?
- Tembok yang dipasang di antara mereka disifati dengan pasangan kata dalam dan luar, dan pasangan itu adalah pasangan yang sepuluh ayat sebelumnya dipakai untuk menyebut Allah sendiri sebagai Sang Tampak dan Sang Tersembunyi. Kata yang sama juga menyifati dosa di tempat lain. Satu pasangan kata dipakai di tiga kedudukan yang jauh berbeda, dan itu bukan permainan bunyi. Ia menandai bahwa yang tampak dan yang tersembunyi adalah dua sisi yang selalu ada pada apa pun, termasuk pada diri orang yang membaca. Yang perlu diperhatikan pada tembok ini, sisi dalamnya berisi rahmat dan sisi luarnya berisi azab. Rahmat itu tidak hilang dan tidak berkurang; ia hanya berada di sisi yang lain, dan orang yang berdiri di luar tetap tahu ia ada di sana.