يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Mereka memanggil mereka, “Bukankah kami dahulu bersama kalian?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, dan kalian menunggu-nunggu, dan meragukan, dan angan-angan memperdaya kalian hingga datang ketetapan Allah; dan si penipu memperdaya kalian tentang Allah.”

Terjemahan bertahap (7 jeda)

  1. يُنَادُونَهُمْyunaaduunahummereka memanggil mereka
  2. أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْa-lam nakun ma'akumbukankah kami dahulu bersama kalian
  3. قَالُوا بَلَىٰqaaluu balaamereka menjawab, benar
  4. وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْwa-laakinnakum fatantum anfusakumtetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri
  5. وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْwa-tarabbashtum wa-rtabtumdan kalian menunggu-nunggu dan meragukan
  6. وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِwa-gharratkumu l-amaaniyyu hattaa jaa'a amru llaahidan angan-angan memperdaya kalian hingga datang ketetapan Allah
  7. وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُwa-gharrakum bi-llaahi l-gharuurudan si penipu memperdaya kalian tentang Allah

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. يُنَادُونَهُمْyunaaduunahummereka menyeru mereka
  2. أَلَمْa-lamtidakkah
  3. نَكُنْnakunkami adalah
  4. مَعَكُمْma'akumbersama kalian
  5. قَالُواqaaluumereka berkata
  6. بَلَىٰbalaaya
  7. وَلَٰكِنَّكُمْwa-laakinnakumtetapi kalian
  8. فَتَنْتُمْfatantumkalian menyiksa
  9. أَنْفُسَكُمْanfusakumdiri kalian
  10. وَتَرَبَّصْتُمْwa-tarabbashtumdan kalian menunggu
  11. وَارْتَبْتُمْwa-rtabtumdan kalian ragu
  12. وَغَرَّتْكُمُwa-gharratkumudan menipu kalian
  13. الْأَمَانِيُّl-amaaniyyuangan-angan
  14. حَتَّىٰhattaasampai
  15. جَاءَjaa'adatang
  16. أَمْرُamruurusan
  17. اللَّهِllaahiAllah
  18. وَغَرَّكُمْwa-gharrakumdan menipu kalian
  19. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  20. الْغَرُورُl-gharuurupenipu

Inti bacaan

Dialog jujur tentang penyebab kegagalan: 'kalian mencelakakan diri kalian sendiri, dan menunggu-nunggu, dan meragukan, dan angan-angan memperdaya kalian', diagnosis empat tahap kemunduran spiritual (penundaan, keraguan, angan kosong), peta peringatan bagi siapa pun yang mengenali pola pikir serupa dalam dirinya sebelum terlambat.

Penjelasan pilihan kata

Pertanyaan yang diucapkan di ayat ini pernah diucapkan sebelumnya, di dunia. Rangkaian (أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ, alam nakun ma'akum) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:141 dan 57:14. Di 4:141 ia diucapkan ketika kemenangan datang, sebagai cara menuntut bagian dari hasil; di sini ia diucapkan sesudah tembok dipasang, sebagai cara menuntut bagian dari cahaya. Kalimat yang sama, dengan maksud yang sama, di dua tempat yang dipisahkan oleh kematian.

Ayat ini memuat dua kata yang tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata (تَرَبَّصْتُمْ, tarabbashtum), "kalian menunggu-nunggu", muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata (الْأَمَانِيُّ, al-amaaniyyu), "angan-angan", juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan juga di ayat ini.

Kata yang pertama tidak berarti sabar. Ia berarti menunggu sambil mengamati ke mana keadaan akan condong, yaitu menunda keputusan sampai jelas pihak mana yang akan menang. Terjemahan kami "menunggu-nunggu" dengan pengulangan berusaha membawa sifat berlarut itu, sebab "menunggu" saja terdengar seperti kesabaran yang terpuji.

Sebutan bagi si pemperdaya, (الْغَرُورُ, al-ghaaruuru), muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 31:33, 35:5, dan 57:14. Dua yang pertama berupa peringatan sebelum kejadian, dengan kalimat larangan yang hampir sama bunyinya: jangan sampai ia memperdaya kalian tentang Allah. Yang di sini berupa laporan sesudah kejadian: ia telah memperdaya kalian. Dua kali diperingatkan, sekali dilaporkan sudah terjadi. Terjemahan kami "si penipu" memakai kata yang sama dengan akar kata kerja "memperdaya" yang muncul dua kali di ayat ini juga, supaya hubungan antara pelakunya dan perbuatannya tetap terlihat.

Beberapa tambahan dalam kurung kami hapus dari ayat ini: "(orang-orang munafik)", "(dengan kemunafikan)", "(ajaran Islam)", "(Setan)", dan "(sehingga kamu lalai)". Yang terakhir paling perlu dicatat. Menamai si penipu di dalam kurung membuat pembaca berhenti pada satu tersangka tertentu, padahal teksnya memakai sebutan yang tidak menyebut siapa pun secara khusus, dan sebutan yang sama dipakai di dua ayat peringatan tadi tanpa nama pula.

Ayat ini juga memuat dua kutipan berurutan, bukan bersarang: pertanyaan mereka, lalu jawaban yang mereka terima, masing-masing dibuka dan ditutup di dalam ayat ini sendiri.

Kata kerja pertama di daftar itu, yang kami terjemahkan "mencelakakan diri kalian", berasal dari akar yang juga dipakai untuk ujian dan untuk fitnah. Terjemahan lain kerap memilih "menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan" dengan menambahkan kata benda yang tidak ada di teksnya. Kami memilih kata kerja yang berdiri sendiri, sebab yang tertulis memang tidak menyebutkan ke dalam apa mereka jatuh; yang disebutkan hanya bahwa perbuatan itu mereka kerjakan atas diri mereka sendiri.

Tafsiran

Ayat ini mengutip dialog antara orang munafik dan orang beriman: pengakuan bahwa angan-angan kosong dan tipu daya telah menyesatkan mereka. Yang perlu diperhatikan lebih dahulu adalah bentuk jawabannya, yang dimulai dengan membenarkan.

Pertanyaan mereka tidak dibantah. Memang benar mereka dahulu bersama. Yang dipersoalkan bukan kebersamaannya, melainkan apa yang terjadi di dalamnya. Susunan semacam itu menutup pembelaan yang paling sering dipakai orang, yaitu menunjuk kehadiran sebagai bukti keberpihakan. Hadir di tempat yang sama selama bertahun-tahun ternyata bukan jawaban atas pertanyaan tentang siapa diri kita, dan ayat ini mengakui kehadiran itu justru untuk menunjukkan bahwa ia tidak menjawab apa-apa.

Empat hal lalu disebut berurutan, dan urutannya masuk akal sebagai satu rangkaian. Yang pertama mencelakakan diri sendiri, lalu menunggu sambil mengamati ke mana keadaan akan condong, lalu ragu, lalu diperdaya angan-angan. Kata untuk yang kedua tidak berarti sabar; ia berarti menunda keputusan sampai jelas pihak mana yang akan menang. Penundaan seperti itu terasa cerdik pada saat dilakukan, dan baru terlihat sebagai kerusakan setelah waktunya habis.

Rangkaian tersebut menerangkan bagaimana orang bisa sampai ke keadaan yang digambarkan di ayat sebelumnya tanpa pernah memutuskan apa pun. Tidak ada satu pun langkah di daftar itu yang berupa penolakan terbuka. Semuanya berupa penundaan, keraguan, dan harapan yang tidak berdasar, dan ketiganya bisa berjalan bertahun-tahun sambil tetap terlihat sebagai orang yang bersama.

Kalimat penutupnya menyebut satu pihak lagi yang ikut berperan. Tetapi susunannya patut diperhatikan: pihak itu disebut paling akhir, sesudah empat perbuatan yang seluruhnya dilakukan sendiri. Tipu daya dari luar tidak dijadikan sebab pertama, melainkan tambahan di ujung.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam jawabannya dimulai dengan membenarkan: benar. Pertanyaannya tak dibantah. Yang dipersoalkan bukan kebersamaannya, melainkan apa yang terjadi di dalamnya.
  • Empat hal disebut berurutan: mencelakakan diri, menunggu-nunggu, meragukan, dan diperdaya angan-angan. Berurutan. Yang satu mengantar ke yang berikutnya.
  • Allah merekam mereka memanggil dari kejauhan. Sudah terpisah. Kebersamaan yang dahulu dipakai sebagai alasan diucapkan saat jarak sudah terbentang.
  • Pertanyaan yang mereka ucapkan di sini pernah diucapkan sebelumnya, di dunia, dengan kata yang persis sama. Di sana ia keluar ketika kemenangan datang, sebagai cara menuntut bagian dari hasil; di sini ia keluar sesudah tembok dipasang, sebagai cara menuntut bagian dari cahaya. Satu kalimat, dua tempat, dipisahkan oleh kematian, dan maksudnya tidak berubah sedikit pun. Yang menakutkan dari pengulangan itu bukan kalimatnya, melainkan bahwa kebiasaan bicara seseorang ternyata ikut menyeberang. Orang yang seumur hidup memakai kehadirannya sebagai alat menuntut bagian akan mengucapkan kalimat yang sama di hari itu, sebab itulah satu-satunya kalimat yang pernah ia latih. Apa kalimat yang paling sering saya pakai untuk menuntut bagian yang saya rasa berhak saya terima?
  • Kata kedua di daftar itu tidak dipakai lagi di ayat mana pun dengan bentuk yang persis sama, dan artinya bukan sabar. Ia berarti menunggu sambil mengamati ke mana keadaan akan condong, yaitu menunda keputusan sampai jelas pihak mana yang akan menang. Dari luar, sikap itu sulit dibedakan dari kehati-hatian yang terpuji. Orangnya tidak menolak apa pun, tidak membantah apa pun, dan bisa menjelaskan dirinya sebagai orang yang tidak mau tergesa-gesa. Bahkan di dalam kepalanya sendiri, penundaan itu terasa cerdik, dan tiap tahun yang lewat memberi bukti tambahan bahwa ia benar tidak buru-buru. Kerusakannya baru kelihatan ketika waktunya habis, dan pada saat itu tidak ada yang tersisa untuk diputuskan. Menunggu yang terlalu lama bukan sikap netral; ia sudah menjadi keputusan yang diambil tanpa pernah diucapkan.
  • Kalimat penutup ayat ini menyebut pihak lain yang ikut berperan memperdaya mereka, dan sebutan itu muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 31:33, 35:5, dan 57:14: dua kali sebagai peringatan sebelum kejadian, sekali di sini sebagai laporan sesudahnya. Yang perlu diperhatikan adalah letaknya. Allah menaruhnya paling akhir, sesudah empat perbuatan yang seluruhnya dilakukan sendiri oleh orangnya. Urutan itu menolak susunan yang biasa kita pakai untuk menerangkan kegagalan diri, yaitu menaruh godaan dari luar sebagai sebab pertama lalu menempatkan diri sebagai korban keadaan. Di sini yang dari luar hanya menemukan pintu yang sudah dibuka dari dalam. Ia disebut, jadi perannya diakui, tetapi ia tidak diberi kedudukan sebagai penyebab utama, dan itu meninggalkan tanggung jawab pada tempat semula.