فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌ وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ مَأْوَاكُمُ النَّارُ ۖ هِيَ مَوْلَاكُمْ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Maka, pada hari ini tidak diambil tebusan dari kalian dan tidak dari orang-orang yang kufur; tempat tinggal kalian adalah api; ia pelindung kalian; dan seburuk-buruk tempat kembali.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- فَالْيَوْمَ لَا يُؤْخَذُ مِنْكُمْ فِدْيَةٌfa-l-yawma laa yu'khadzu minkum fidyatunmaka, pada hari ini tidak diambil tebusan dari kalian
- وَلَا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُواwa-laa mina lladziina kafaruudan tidak dari orang-orang yang kufur
- مَأْوَاكُمُ النَّارُma'waakumu n-naarutempat tinggal kalian adalah api
- هِيَ مَوْلَاكُمْhiya mawlaakumia pelindung kalian
- وَبِئْسَ الْمَصِيرُwa-bi'sa l-mashiirudan seburuk-buruk tempat kembali
Terjemahan per kata (15 kata)
- فَالْيَوْمَfa-l-yawmamaka pada hari ini
- لَاlaatidak
- يُؤْخَذُyu'khadzudiambil
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- فِدْيَةٌfidyatuntebusan
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- مِنَminadari
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- مَأْوَاكُمُma'waakumutempat tinggal kalian
- النَّارُn-naaruapi
- هِيَhiyaia
- مَوْلَاكُمْmawlaakumpelindung kalian
- وَبِئْسَwa-bi'sadan seburuk-buruk
- الْمَصِيرُl-mashiirutempat kembali
Inti bacaan
Ketiadaan jalan pintas di hari akhir: 'tidak diambil tebusan dari kalian dan tidak pula dari orang-orang yang kufur', penegasan bahwa tidak ada mekanisme substitusi finansial atau perantara yang bisa membeli jalan keluar, tanggung jawab murni personal tanpa pengecualian.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فِدْيَةٌ, fidyatun), "tebusan", muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:184, 2:196, dan 57:15. Tiga kemunculan itu tersebar hanya di dua surah. Yang menarik adalah kedudukannya: pada dua kemunculan pertama tebusan itu diterima dan bahkan diatur caranya, sekali untuk orang yang tidak sanggup berpuasa dan sekali untuk orang yang terhalang dalam perjalanan haji. Di ayat ini, kata yang sama muncul untuk dinyatakan tidak diambil. Aturan yang di dunia membuka jalan keluar disebut lagi di sini justru untuk mengumumkan bahwa jalan itu ditutup.
Kata (مَوْلَاكُمْ, maulaakum), "pelindung kalian", muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:150, 8:40, 22:78, 57:15, dan 66:2. Pada empat kemunculan yang lain, yang disebut sebagai pelindung adalah Allah. Hanya di ayat ini kata tersebut dipakai untuk hal lain, yaitu api. Perbedaan itu bukan kebetulan pemakaian kata; ia satu-satunya tempat rangkaian tersebut dibalik, dan pembalikan itulah isinya.
Kami menerjemahkannya "pelindung" apa adanya, tanpa memperhalus atau memberi tanda bahwa maksudnya berlawanan. Kata aslinya memang kata yang sama, dan ketajamannya justru terletak pada kenyataan bahwa ia tidak diganti. Menambahkan keterangan seperti "(seolah-olah)" akan menjinakkan kalimat yang memang dirancang untuk tidak jinak.
Penutupnya, (وَبِئْسَ الْمَصِيرُ, wa-bi'sa l-mashiiru), muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:126, 3:162, 8:16, 9:73, 22:72, 57:15, 64:10, 66:9, dan 67:6, dan di semua tempat itu ia berdiri sebagai penutup kalimat. Kata terakhirnya berasal dari akar yang berarti berujung atau berkesudahan, sehingga ia menunjuk tempat yang dicapai di akhir perjalanan, bukan sekadar tempat tinggal.
Ayat ini juga menyamakan dua kelompok yang sepanjang surah dibedakan. Tebusan disebut tidak diambil dari kalian, lalu ditambahkan: dan tidak pula dari orang-orang yang kufur. Tambahan "(pula)" yang lazim dipakai terjemahan lain kami hapus, sebab bentuk penambahan itu sudah ada pada huruf sambungnya sendiri di teks asli, dan kalimatnya tidak perlu dibantu untuk terbaca sebagai penyamaan.
Kata (النَّارُ, an-naaru) kami terjemahkan "api", bukan "neraka". Alasannya sama dengan yang berlaku di seluruh proyek: kata aslinya adalah kata sehari-hari untuk api, dan kata "neraka" dalam bahasa Indonesia sudah menjadi nama tempat yang membawa gambarannya sendiri. Menerjemahkannya "api" menjaga kata itu tetap konkret, sebagaimana konkretnya di teks asli.
Kalimat ayat ini juga disusun sebagai rangkaian pendek yang beruntun tanpa penghubung: tebusan tidak diambil, tempat tinggal kalian api, ia pelindung kalian, dan seburuk-buruk tempat kembali. Empat potongan, masing-masing berdiri sendiri. Terjemahan kami mempertahankan potongan-potongan itu dengan tanda titik koma dan tidak merangkainya menjadi satu kalimat panjang yang mengalir, sebab keterputusan tersebut adalah bagian dari nadanya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kepada orang munafik bahwa tidak ada penebusan pada hari itu: nasib mereka sama dengan orang kafir. Penyamaan tersebut adalah pukulan yang sesungguhnya, sebab seluruh cara hidup yang digambarkan di ayat-ayat sebelumnya justru dibangun untuk menghindarinya.
Orang yang menempuh jalan itu tidak pernah memilih pihak. Ia berdiri di dekat satu kelompok tanpa memutuskan hubungan dengan kelompok lain, menyimpan kemungkinan pada dua arah sekaligus, dan membayar ongkos ketidakjelasan itu bertahun-tahun. Yang ia beli dengan ongkos tersebut adalah jaminan tidak akan dihitung bersama pihak yang kalah. Kalimat pertama ayat ini menghapus jaminan itu dalam satu tarikan, dan menaruh keduanya di kalimat yang sama.
Kata yang dipakai untuk tebusan bukan kata asing di dalam Al-Qur'an. Ia dipakai dua kali di tempat lain, dan di dua tempat itu tebusan justru diterima serta diatur caranya, sebagai kelonggaran bagi orang yang tidak sanggup menjalankan sesuatu. Menyebutnya lagi di sini, untuk dinyatakan tidak diambil, membuat penutupan pintunya terdengar lebih keras. Yang ditutup bukan pintu yang tidak pernah ada, melainkan pintu yang selama ini memang terbuka.
Bagian yang paling tajam adalah kata untuk pelindung. Kata itu dipakai lima kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:150, 8:40, 22:78, 57:15, dan 66:2, dan pada empat kemunculan selain di sini yang disebut sebagai pelindung adalah Allah. Hanya di sini ia dipakai untuk api. Kalimatnya tidak berkata mereka kehilangan pelindung; ia berkata mereka punya, dan menyebutkan apa.
Penutup ayat memakai kata yang berarti tempat berujungnya perjalanan. Kata itu cocok dengan seluruh rangkaian ayat sejak 57:12: cahaya yang berlari, tembok yang dipasang, permintaan yang ditolak, dialog yang gagal, lalu satu kalimat pendek yang menyebut di mana semuanya berhenti.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyamakan nasib munafik dengan kafir. Yang dulu berbeda tampilannya. Di sana sama.
- Apinya disebut pelindung. Kata itu biasanya menenangkan. Di sini membalik.
- Tebusan disebut Allah tidak diterima. Bukan kurang jumlahnya. Tidak dibuka pintunya.
- Orang yang menempuh jalan yang digambarkan di ayat-ayat sebelumnya tidak pernah memilih pihak. Ia berdiri dekat satu kelompok tanpa memutus hubungan dengan kelompok lain, menyimpan kemungkinan di dua arah, dan membayar ongkos ketidakjelasan itu bertahun-tahun: hubungan yang harus terus dijaga di dua sisi, kalimat yang harus selalu dipilih hati-hati, kelegaan memihak yang tidak pernah ia rasakan. Yang ia beli dengan semua itu adalah satu jaminan, yaitu tidak akan dihitung bersama pihak yang kalah. Allah menghapus jaminan tersebut dalam satu kalimat pendek, dengan menaruh dua kelompok itu berdampingan. Seluruh kerja hati-hati seumur hidup ternyata membeli sesuatu yang tidak berlaku di tempat pembayarannya. Yang paling mahal dari harga itu bukan uangnya, melainkan bertahun-tahun hidup tanpa pernah sempat menjadi diri sendiri di depan siapa pun.
- Kata untuk tebusan yang dipakai di sini bukan kata asing. Ia muncul dua kali di tempat lain, dan di dua tempat itu tebusan justru diterima dan diatur caranya, sebagai kelonggaran bagi orang yang tidak sanggup menjalankan sesuatu. Jadi yang ditutup di ayat ini bukan pintu yang tidak pernah ada, melainkan pintu yang selama ini memang terbuka dan sering dipakai. Itu yang membuat kalimatnya terdengar lebih keras daripada penolakan biasa. Kita hidup dengan asumsi bahwa hampir semua hal punya jalan penyelesaian kalau kita bersedia membayar cukup: denda, ganti rugi, kompensasi, penebusan. Asumsi tersebut bukan hanya soal uang; ia cara kita memandang seluruh kesalahan. Ayat ini menyebut satu tempat di mana cara pandang tadi tidak berlaku sama sekali. Dan cara pandang itu terbawa diam-diam ke dalam hubungan kita dengan orang, sampai maaf pun kita perlakukan sebagai sesuatu yang bisa dibeli dengan pemberian yang cukup besar.
- Kata yang dipakai untuk api di ayat ini adalah kata yang di empat tempat lain dipakai untuk Allah, yaitu pelindung kalian. Hanya di sini ia dipakai untuk hal lain. Kalimatnya tidak berkata mereka kehilangan pelindung; ia berkata mereka punya, lalu menyebutkan apa. Susunan itu jauh lebih menusuk daripada pernyataan bahwa mereka ditinggalkan sendirian. Manusia memang selalu berada di bawah sesuatu; tidak ada orang yang benar-benar berdiri tanpa perlindungan apa pun. Yang menentukan bukan apakah kita punya tempat berlindung, melainkan apa yang kita jadikan tempat itu selama bertahun-tahun tanpa pernah menyebutnya dengan nama tersebut. Kepada apa sebenarnya saya berlindung ketika saya sedang takut dan tidak sempat berpikir? Jawaban jujurnya jarang berupa nama yang kita sebut di depan orang lain.