أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran, dan agar mereka tidak seperti orang-orang yang diberi Kitab sebelumnya, lalu masa berkepanjangan atas mereka sehingga hati mereka mengeras? Dan banyak di antara mereka fasik.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُواa-lam yani li-lladziina aamanuubelumkah tiba waktunya bagi orang-orang beriman
- أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّan takhsya'a quluubuhum li-dzikri llaahi wa-maa nazala mina l-haqqiagar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran
- وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُwa-laa yakuunuu ka-lladziina uutuu l-kitaaba min qabludan agar mereka tidak seperti orang-orang yang diberi Kitab sebelumnya
- فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْfa-thaala 'alayhimu l-amadu fa-qasat quluubuhumlalu, masa berkepanjangan atas mereka sehingga hati mereka mengeras
- وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَwa-katsiirun minhum faasiquunadan banyak di antara mereka fasik
Terjemahan per kata (28 kata)
- أَلَمْa-lamtidakkah
- يَأْنِyanibelumkah tiba
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- أَنْanagar
- تَخْشَعَtakhsya'atunduk
- قُلُوبُهُمْquluubuhumhati mereka
- لِذِكْرِli-dzikriuntuk mengingat
- اللَّهِllaahiAllah
- وَمَاwa-maadan apa yang
- نَزَلَnazalaturun
- مِنَminadari
- الْحَقِّl-haqqihak
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَكُونُواyakuunuumereka adalah
- كَالَّذِينَka-lladziinaseperti orang-orang yang
- أُوتُواuutuudiberi
- الْكِتَابَl-kitaabaKitab
- مِنْmindari
- قَبْلُqablusebelumnya
- فَطَالَfa-thaalamaka menjadi panjang
- عَلَيْهِمُ'alayhimuatas mereka
- الْأَمَدُl-amadumasa
- فَقَسَتْfa-qasatmaka mengeras
- قُلُوبُهُمْquluubuhumhati mereka
- وَكَثِيرٌwa-katsiirundan banyak
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- فَاسِقُونَfaasiquunaorang-orang fasik
Inti bacaan
Peringatan terhadap kemerosotan spiritual bertahap: 'belumkah tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar hati mereka khusyuk. dan agar mereka tidak seperti orang-orang yang diberi Kitab sebelumnya, lalu masa berkepanjangan atas mereka sehingga hati mereka mengeras?', peringatan eksplisit terhadap bahaya kenyamanan rutinitas keagamaan yang lambat laun mengeras tanpa disadari, dorongan untuk secara aktif menjaga kesegaran spiritual, bukan mengandalkan status keimanan masa lalu.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan pertanyaan yang tidak dipakai di tempat lain mana pun. Rangkaian (أَلَمْ يَأْنِ, alam ya'ni), "belumkah tiba waktunya", muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata kerjanya berasal dari akar yang berarti sampainya waktu sesuatu, seperti matangnya buah atau mendidihnya air. Yang ditanyakan bukan apakah mereka mau, melainkan apakah waktunya belum juga tiba.
Kata untuk rentang waktu yang disebut sebagai sebabnya, (الْأَمَدُ, al-amadu), juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan juga di ayat ini. Ia berarti jangka atau tenggat, bukan sekadar waktu yang berlalu. Terjemahan kami "masa berkepanjangan" berusaha membawa sifat panjang yang melewati batas itu, bukan sekadar lamanya.
Yang paling perlu dicatat dari ayat ini adalah kepada siapa ia ditujukan dan apa yang disebut sebagai sebab. Teguran ini diarahkan kepada orang-orang yang beriman, bukan kepada yang menolak. Dan sebab mengerasnya hati yang disebut bukan dosa, bukan pembangkangan, melainkan masa yang berkepanjangan. Dua hal itu bersama-sama membuat ayat ini berbicara tentang bahaya yang tidak punya bentuk perbuatan sama sekali.
Akibatnya disebut dengan rangkaian (قَسَتْ قُلُوبُهُمْ, qasat quluubuhum), "hati mereka mengeras", yang muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:43 dan 57:16. Perbandingan kedua tempat itu menarik. Di 6:43 hati mengeras ketika azab datang dan mereka tidak merendahkan diri; di sini hati mengeras karena tidak terjadi apa-apa selama waktu yang panjang. Satu akibat, dua jalan yang berlawanan: yang satu lewat guncangan, yang lain lewat ketenangan.
Kata kerja untuk keadaan hati yang diinginkan berasal dari akar yang berarti merendah dan melembut, dan kami terjemahkan "khusyuk", memakai kata serapan yang sudah masuk ke dalam bahasa Indonesia dari akar yang sama. Lawannya di kalimat berikutnya, mengeras, memakai gambaran batu. Jadi dua keadaan hati di ayat ini digambarkan dengan bahasa benda: yang satu melembut, yang lain membatu, dan terjemahan kami menjaga kedua gambaran itu tetap terlihat.
Bentuk kalimatnya adalah pertanyaan, bukan perintah, sama seperti pembuka 57:8 dan 57:10 yang juga menagih alasan alih-alih menuntut kepatuhan. Tiga kali di dalam surah ini teguran datang sebagai pertanyaan, dan tiga-tiganya ditujukan kepada pihak yang sudah berada di dalam.
Kalimat penutupnya, "dan banyak di antara mereka fasik", berdiri terpisah dari pertanyaan di depannya dan tidak ikut ditanyakan. Terjemahan kami memisahkannya dengan titik dan tidak menyambungnya ke dalam kalimat tanya, sebab dalam teks aslinya ia memang keterangan yang berdiri sendiri, bukan bagian dari yang sedang dipertanyakan. Kata terakhirnya kami terjemahkan "fasik", kata serapan yang sudah dipakai dalam bahasa Indonesia, dan bukan diperluas menjadi penjelasan panjang di dalam kurung.
Tafsiran
Ayat ini menegur orang-orang beriman agar hati mereka tidak mengeras seperti umat Kitab terdahulu akibat berlalunya waktu. Dua hal di dalamnya patut diperhatikan sebelum yang lain: kepada siapa teguran ini diarahkan, dan apa yang disebut sebagai penyebabnya.
Yang ditegur adalah orang-orang yang beriman. Bukan yang menolak, bukan yang memusuhi, melainkan pihaknya sendiri. Teguran yang diarahkan ke dalam selalu lebih sulit diterima daripada teguran kepada orang lain, sebab tidak ada pihak ketiga yang bisa dipakai sebagai pembanding yang melegakan.
Penyebabnya lebih tidak biasa lagi. Yang disebut bukan dosa dan bukan pembangkangan, melainkan masa yang berkepanjangan. Artinya kerusakan yang dibicarakan ayat ini tidak punya bentuk perbuatan. Tidak ada satu hari pun yang bisa ditunjuk sebagai hari orangnya berbelok, dan tidak ada perbuatan yang bisa disesali secara khusus. Yang terjadi hanya waktu yang lewat tanpa apa-apa, dan hati yang lama-lama tidak lagi bergetar oleh hal yang dahulu menggetarkannya.
Perbandingannya diambil dari umat yang menerima Kitab lebih dahulu. Perbandingan itu tidak dipakai untuk merendahkan mereka, melainkan untuk menunjukkan bahwa keadaan seperti itu bukan sifat bawaan satu kelompok. Ia yang akan terjadi pada siapa pun yang cukup lama memegang sesuatu tanpa memperbaruinya, dan yang sedang ditegur di sini justru kelompok yang baru saja mulai.
Bentuknya pun bukan perintah, melainkan pertanyaan. "Belumkah tiba waktunya" tidak menyuruh orang berubah; ia menanyakan mengapa perubahan itu masih ditunda. Pertanyaan semacam itu tidak bisa dijawab dengan janji, sebab yang ditanyakan justru mengapa janji-janji sebelumnya belum juga dijalankan. Kalimat penutup ayat menyebutkan akhir dari jalan tersebut kalau ia diteruskan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menegur orang-orang beriman, bukan yang menolak. Kepada pihaknya sendiri. Teguran yang paling keras diarahkan ke dalam.
- Sebab mengerasnya hati disebut masa yang berkepanjangan. Bukan dosa. Yang merusak waktu yang berlalu tanpa apa-apa.
- Allah membukanya dengan pertanyaan: belumkah tiba waktunya. Bukan perintah. Yang ditanyakan mengapa masih ditunda.
- Yang disebut sebagai sebab mengerasnya hati bukan dosa, melainkan masa yang berkepanjangan. Kata untuk rentang waktu itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Artinya kerusakan yang dibicarakan di sini tidak punya bentuk perbuatan sama sekali. Tidak ada satu hari pun yang bisa ditunjuk sebagai hari orangnya berbelok, tidak ada kalimat yang telanjur diucapkan, tidak ada yang bisa disesali secara khusus lalu diperbaiki. Yang terjadi hanya waktu yang lewat, dan hati yang lama-lama berhenti bergetar oleh hal yang dahulu membuatnya menangis. Kerusakan semacam ini jauh lebih sulit dikenali daripada dosa, sebab dosa setidaknya meninggalkan tanggal. Orang yang mencari kesalahannya di daftar perbuatan tidak akan menemukan apa-apa di sini, dan ketiadaan temuan itu justru ia jadikan bukti bahwa keadaannya baik-baik saja. Dan Allah menegur justru kelompok yang merasa paling aman dari teguran semacam ini.
- Rangkaian "hati mereka mengeras" muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di 6:43 dan di ayat ini, dan dua jalan menuju ke sana ternyata berlawanan arah. Di 6:43 hati mengeras ketika azab datang dan orangnya tetap tidak mau merendahkan diri; guncangan yang seharusnya melembutkan justru membuatnya membatu. Di sini hati mengeras justru karena tidak terjadi apa-apa selama waktu yang panjang. Jadi hati bisa membatu oleh hantaman dan bisa membatu oleh ketenangan, dan yang kedua lebih berbahaya karena tidak terasa sebagai apa-apa. Orang yang sedang ditimpa kesulitan setidaknya tahu ia sedang diuji dan waspada; orang yang hidupnya lapang bertahun-tahun tidak punya penanda apa pun untuk waspada. Mana di antara dua keadaan itu yang sedang saya jalani sekarang, dan sudah berapa lama?
- Kalimat pembukanya berbentuk pertanyaan, dan pertanyaan itu tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata kerjanya berasal dari akar yang berarti sampainya waktu sesuatu, seperti matangnya buah yang tidak bisa dipercepat dan tidak boleh dibiarkan lewat. Allah tidak menyuruh mereka berubah di ayat ini; Ia menanyakan mengapa perubahan itu masih ditunda. Bedanya penting. Perintah bisa dijawab dengan janji akan dikerjakan nanti, dan janji semacam itu bisa diulang bertahun-tahun tanpa terasa sebagai penolakan. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab begitu, sebab yang ditanyakan justru mengapa janji-janji sebelumnya belum juga dijalankan. Ia menutup satu-satunya pintu yang biasa dipakai orang untuk keluar dari teguran tanpa harus berubah apa pun. Yang tersisa cuma dua: mulai sekarang, atau mengaku sedang tidak berniat mulai.