إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, laki-laki dan perempuan, dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan bagi mereka, dan bagi mereka pahala yang mulia.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِinna l-mushshaddiqiina wa-l-mushshaddiqaatisesungguhnya orang-orang yang bersedekah, laki-laki dan perempuan
- وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًاwa-aqradhuu llaaha qardhan hasanandan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik
- يُضَاعَفُ لَهُمْyudhaa'afu lahumakan dilipatgandakan bagi mereka
- وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌwa-lahum ajrun kariimundan bagi mereka pahala yang mulia
Terjemahan per kata (12 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الْمُصَّدِّقِينَl-mushshaddiqiinaorang-orang yang bersedekah
- وَالْمُصَّدِّقَاتِwa-l-mushshaddiqaatidan perempuan-perempuan yang bersedekah
- وَأَقْرَضُواwa-aqradhuudan mereka meminjamkan
- اللَّهَllaahaAllah
- قَرْضًاqardhanpinjaman
- حَسَنًاhasananyang baik
- يُضَاعَفُyudhaa'afudilipatgandakan
- لَهُمْlahumbagi mereka
- وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
- أَجْرٌajrunupah
- كَرِيمٌkariimunyang mulia
Inti bacaan
Penegasan kedua tentang sedekah: 'orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan. akan dilipatgandakan (balasannya)', kesetaraan eksplisit antara laki-laki dan perempuan dalam kesempatan dan ganjaran kebaikan, penekanan bahwa nilai kedermawanan tidak dibatasi gender.
Penjelasan pilihan kata
Kata pembuka ayat ini tidak dipakai di ayat lain mana pun. Rangkaian (الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ, al-mushshaddiqiina wa-l-mushshaddiqaati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuknya adalah kata pelaku dari kata kerja yang berarti bersedekah, dengan huruf yang berasimilasi sehingga huruf shad-nya terbaca rangkap.
Akar katanya patut diperhatikan, sebab ia akar yang sama dengan kata untuk kebenaran dan kejujuran. Dari akar itu lahir kata untuk sedekah dan juga kata untuk orang yang sangat benar, dan kedua kata tersebut dipasang di dua ayat yang berurutan: yang di sini menyebut orang-orang yang bersedekah, yang di 57:19 menyebut (الصِّدِّيقُونَ, ash-shiddiiquuna), orang-orang yang sangat benar. Terjemahan Indonesia tidak bisa menampakkan kaitan itu, sebab "sedekah" dan "benar" adalah dua kata yang tidak berhubungan di telinga kita, padahal di teks aslinya keduanya tumbuh dari satu akar.
Laki-laki dan perempuan disebut terpisah, masing-masing dengan bentuk katanya sendiri. Ini kali ketiga hal itu terjadi di dalam surah ini: di 57:12 untuk orang-orang beriman, di 57:13 untuk orang-orang munafik, dan di sini untuk orang-orang yang bersedekah. Tiga kali berturut-turut dalam satu surah, dua kali untuk kelompok yang berlawanan dan sekali untuk perbuatan, membuat pembelahan tersebut sulit dianggap kebetulan susunan kalimat.
Sesudah itu ayat ini mengulang seluruh rangkaian yang sudah dipakai di 57:11. Rangkaian (قَرْضًا حَسَنًا, qardhan hasanan) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:245, 5:12, 57:11, 57:18, 64:17, dan 73:20, dan surah inilah satu-satunya yang memuatnya dua kali. Penutupnya, (أَجْرٌ كَرِيمٌ, ajrun kariimun), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua-duanya berada di dalam surah ini, yaitu di 57:11 dan 57:18.
Yang berbeda dari 57:11 hanyalah bentuk kalimatnya. Di sana ia pertanyaan yang mencari orang; di sini ia pernyataan tentang orang yang sudah ditemukan. Kata kerja untuk melipatgandakan pun berubah bentuk menjadi pasif, sehingga yang disorot bukan lagi siapa yang melipatgandakan, melainkan bahwa hal itu terjadi.
Tambahan "(balasannya)", "(diberikan)", dan istilah populer terlarang tidak kami pakai, sebab tidak tertulis eksplisit di teks Arab, konsisten dengan pola yang sudah dipakai di 57:11.
Satu catatan tentang kata untuk balasan di penutup ayat. Kata sifatnya kami terjemahkan "mulia", mengikuti daftar ukuran yang dipakai proyek ini secara tetap: besar, agung, tinggi, luhur, mulia, dan digdaya masing-masing tercadang untuk satu kata Arab tertentu, sehingga enam kata yang berbeda di teks asli tidak runtuh menjadi satu kata di terjemahan. Bentuk bertakrif dari kata yang sama diterjemahkan "Sang Mulia" ketika ia menjadi sebutan, seperti di 82:6 dan 44:49, sedangkan di sini ia menyifati benda, bukan menyebut nama.
Tafsiran
Ayat ini mengulang seruan infak sebagai pinjaman kepada Allah, kini menegaskan berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Pengulangan itu sendiri patut diperhatikan, sebab yang diulang bukan sekadar gagasannya, melainkan hampir seluruh kalimatnya.
Tujuh ayat yang lalu, hal yang sama disampaikan sebagai pertanyaan: siapakah yang mau. Di sini ia disampaikan sebagai pernyataan tentang orang yang sudah menjawab. Perubahan bentuk tersebut mengubah kedudukan pembaca. Yang pertama mengundang; yang kedua memberi tahu apa yang terjadi pada orang yang menerima undangan itu. Di antara keduanya berdiri tujuh ayat tentang cahaya, tembok, dan tebusan yang tidak diterima, sehingga undangan yang tadinya terdengar sebagai ajakan berderma kini terbaca sebagai satu-satunya jalan yang masih terbuka.
Kata untuk orang-orang yang bersedekah tidak dipakai di ayat lain mana pun. Akarnya sama dengan akar kata untuk kejujuran, dan ayat berikutnya memakai kata dari akar yang sama untuk menyebut orang-orang yang sangat benar. Dua ayat berurutan memakai satu akar untuk dua hal yang di telinga kita terpisah jauh, yaitu memberi dan berkata benar. Kaitan itu bukan permainan bunyi: memberikan sesuatu yang nyata adalah cara paling sulit dibantah untuk membuktikan bahwa yang dikatakan seseorang memang ia percayai.
Laki-laki dan perempuan disebut terpisah, dan ini kali ketiga di dalam surah yang sama. Pengulangan itu menutup satu kebiasaan membaca yang mudah menyelinap, yaitu menganggap perintah yang memakai bentuk umum sebenarnya ditujukan kepada sebagian orang saja. Di surah ini bentuk umumnya sengaja dibelah, dan dibelah untuk kelompok yang baik maupun yang buruk.
Balasannya tetap dua lapis seperti di 57:11: dilipatgandakan, lalu ditambah balasan yang mulia. Yang berubah hanya kata kerjanya menjadi pasif, sehingga yang disorot bukan lagi siapa yang mengerjakan, melainkan bahwa hal itu memang terjadi.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut laki-laki dan perempuan secara terpisah. Dua-duanya. Kesempatan itu ditulis, bukan disimpulkan.
- Yang mereka kerjakan disebut meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. Kata pinjaman. Yang diberikan disebut sebagai utang yang akan dibayar.
- Allah menyebut dua: dilipatgandakan, dan pahala yang mulia. Dua-duanya. Utangnya dibayar lebih, lalu ditambah lagi.
- Kata yang dipakai untuk orang-orang yang bersedekah di ayat ini tidak muncul di ayat lain mana pun, dan akarnya sama dengan akar kata untuk kejujuran. Dari akar itu lahir kata untuk sedekah dan kata untuk orang yang sangat benar, dan Allah memasang keduanya di dua ayat yang berurutan. Bahasa Indonesia tidak bisa menampakkan kaitan tersebut, sebab "sedekah" dan "benar" terdengar sebagai dua urusan yang berbeda di telinga kita. Di teks aslinya keduanya satu keluarga, dan itu masuk akal kalau dipikir pelan. Berkata benar bisa dilatih; siapa pun bisa menyusun kalimat yang meyakinkan tentang apa yang ia percayai. Menyerahkan barang yang nyata tidak bisa dipalsukan dengan cara itu. Memberi adalah bentuk kejujuran yang tidak bisa dibantah, sebab ia meninggalkan lubang yang bisa dihitung di tempat yang tadinya terisi.
- Tujuh ayat yang lalu, hal yang sama disampaikan sebagai pertanyaan: siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah. Di sini ia disampaikan sebagai pernyataan tentang orang yang sudah menjawab. Perubahan bentuk itu mengubah kedudukan pembaca. Yang pertama mengundang dan membiarkan orang menimbang; yang kedua memberitahukan apa yang terjadi pada mereka yang sudah menerima undangan. Dan di antara keduanya berdiri tujuh ayat tentang cahaya yang berlari, tembok yang dipasang, permintaan yang ditolak, dan tebusan yang tidak diambil. Susunan tersebut membuat undangan yang sama terbaca berbeda pada kali kedua. Pada bacaan pertama ia terdengar sebagai ajakan berderma; sesudah membaca apa yang terjadi kepada mereka yang menunda, ia terbaca sebagai satu-satunya pintu yang masih terbuka.
- Laki-laki dan perempuan disebut terpisah dengan bentuk kata masing-masing, dan ini kali ketiga di dalam surah yang sama. Sebelumnya untuk orang-orang beriman, lalu untuk orang-orang munafik, kini untuk orang-orang yang bersedekah. Bahasa aslinya sebenarnya punya bentuk umum yang mencakup keduanya, dan bentuk itulah yang dipakai di sebagian besar ayat lain. Di sini bentuk umumnya sengaja dibelah, dan dibelah untuk kelompok yang baik maupun yang buruk. Pengulangan sebanyak itu menutup satu kebiasaan membaca yang mudah menyelinap, yaitu menganggap perintah yang memakai bentuk umum sebenarnya ditujukan kepada sebagian orang saja lalu menyimpulkan sisanya sebagai tambahan. Di sini tidak ada yang perlu disimpulkan, sebab keduanya sudah ditulis. Apa lagi yang selama ini saya simpulkan sendiri padahal teksnya sudah menyebutkan?