وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ ۖ وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang sangat benar, dan para saksi di sisi Tuhan mereka; bagi mereka pahala mereka dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kufur dan mendustakan tanda-tanda Kami, mereka itulah penghuni neraka yang menyala-nyala.

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِwa-lladziina aamanuu bi-llaahi wa-rusulihidan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya
  2. أُولَٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَulaa'ika humu sh-shiddiiquunamereka itulah orang-orang yang sangat benar
  3. وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْwa-sy-syuhadaa'u 'inda rabbihimdan para saksi di sisi Tuhan mereka
  4. لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْlahum ajruhum wa-nuuruhumbagi mereka pahala mereka dan cahaya mereka
  5. وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَاwa-lladziina kafaruu wa-kadzdzabuu bi-aayaatinaadan orang-orang yang kufur dan mendustakan tanda-tanda Kami
  6. أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِulaa'ika ash-haabu l-jahiimimereka itulah penghuni neraka yang menyala-nyala

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. آمَنُواaamanuuberiman
  3. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  4. وَرُسُلِهِwa-rusulihidan para rasul-Nya
  5. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  6. هُمُhumumerekalah
  7. الصِّدِّيقُونَsh-shiddiiquunaorang-orang yang membenarkan
  8. وَالشُّهَدَاءُwa-sy-syuhadaa'udan para saksi
  9. عِنْدَ'indadi sisi
  10. رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
  11. لَهُمْlahumbagi mereka
  12. أَجْرُهُمْajruhumpahala mereka
  13. وَنُورُهُمْwa-nuuruhumdan cahaya mereka
  14. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  15. كَفَرُواkafaruukufur
  16. وَكَذَّبُواwa-kadzdzabuudan mendustakan
  17. بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
  18. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  19. أَصْحَابُash-haabupenghuni
  20. الْجَحِيمِl-jahiimineraka yang menyala-nyala

Inti bacaan

Klasifikasi status spiritual tertinggi: 'orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya mereka itulah as-siddiiquun dan syuhadaa' di sisi Tuhan mereka', pengakuan bahwa iman yang konsisten dan tulus dapat mengangkat status seseorang ke tingkat kejujuran-teguh dan kesaksian mulia, kategori yang dicapai melalui konsistensi bukan klaim sepihak.

Penjelasan pilihan kata

Sebutan yang diberikan di ayat ini tidak dipakai di ayat lain mana pun. Kata (الصِّدِّيقُونَ, ash-shiddiiquuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ia bentuk penguat dari kata yang berarti benar, sehingga bukan sekadar orang yang jujur melainkan orang yang kebenarannya sudah menjadi sifatnya. Kami terjemahkan "orang-orang yang sangat benar", bukan memakai kata serapannya, supaya pembaca tidak menerima sebutan itu sebagai gelar yang sudah punya makna sendiri di luar teks.

Akar katanya sama dengan akar kata untuk sedekah yang dipakai di ayat sebelumnya. Dua ayat yang berurutan memakai satu akar untuk dua hal yang di telinga kita terpisah jauh, yaitu memberi dan berkata benar, dan urutannya berjalan dari perbuatan ke sebutan.

Yang paling perlu dicatat adalah siapa yang mendapat sebutan itu. Syarat yang disebutkan di awal ayat hanya beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, tanpa tambahan syarat lain. Sebutan yang di tempat lain dipakai untuk orang-orang tertentu di sini diberikan kepada siapa saja yang memenuhi syarat sederhana tersebut.

Kata untuk rasul di ayat ini berbentuk jamak, bukan tunggal, dan terjemahan kami mengikuti bentuk itu. Perbedaannya bukan sepele: yang disyaratkan bukan percaya kepada satu utusan, melainkan kepada seluruh rangkaiannya, sehingga syarat tersebut mencakup juga mereka yang datang lebih dahulu.

Yang diperoleh disebut dengan kata ganti kepemilikan: pahala mereka dan cahaya mereka, bukan pahala dan cahaya begitu saja. Kata untuk cahaya di sini mengaitkan ayat ini kembali ke 57:12, tempat cahaya orang-orang beriman digambarkan berlari mendahului mereka. Jadi apa yang di sana tampak sebagai pemandangan, di sini disebut sebagai milik.

Kelompok yang berlawanan ditutup dengan (أَصْحَابُ الْجَحِيمِ, ashhaabu l-jahiimi), yang muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:10, 5:86, 9:113, 22:51, dan 57:19. Lima kemunculan itu tersebar hanya di empat surah, sebab Surah Al-Maidah memuatnya dua kali. Kata pertamanya berasal dari akar yang berarti penghuni atau pendamping, dan kata keduanya dari akar yang berarti api yang menyala besar, sehingga kami terjemahkan "penghuni neraka yang menyala-nyala".

Sebutan kedua di ayat ini, (وَالشُّهَدَاءُ, wa-sy-syuhadaa'u), berasal dari akar yang berarti menyaksikan, dan kami terjemahkan "para saksi", bukan memakai kata serapannya yang dalam bahasa Indonesia sudah menyempit menjadi orang yang gugur di medan perang. Akar katanya memang mencakup kedua hal itu, tetapi menyempitkannya di terjemahan akan menutup bacaan yang lebih luas, padahal ayat ini tidak menyebut peperangan sama sekali. Keterangan "di sisi Tuhan mereka" yang menyusul juga lebih cocok dengan kedudukan sebagai saksi daripada dengan cara kematian tertentu.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kedudukan tertinggi bagi orang-orang beriman: digolongkan bersama orang-orang yang sangat teguh dalam kebenaran dan para saksi di sisi Allah, kontras dengan nasib orang-orang yang kufur dan mendustakan. Yang membuatnya mengejutkan adalah betapa sederhana syaratnya.

Sebutan yang diberikan tidak dipakai di ayat lain mana pun. Ia bentuk penguat dari kata yang berarti benar, dan biasanya orang membayangkan sebutan setinggi itu tercadang bagi segelintir orang dengan riwayat yang luar biasa. Di ayat ini yang disyaratkan hanya beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, tanpa tambahan apa pun. Pintunya dibuka jauh lebih lebar daripada yang biasanya diandaikan orang.

Akar katanya sama dengan akar kata untuk sedekah di ayat sebelumnya, dan urutan kedua ayat itu berjalan dari perbuatan menuju sebutan. Yang di 57:18 disebut sebagai orang yang menyerahkan hartanya, di 57:19 disebut sebagai orang yang benar. Susunan tersebut menunjukkan bahwa sebutan itu bukan pengakuan yang diberikan atas dasar pernyataan diri, melainkan atas dasar apa yang sudah keluar dari tangan.

Yang diperoleh disebut dengan kata ganti kepemilikan: pahala mereka dan cahaya mereka. Bukan pahala yang akan diberikan, melainkan pahala mereka. Bentuk itu memperlakukan balasan tersebut sebagai barang yang sudah tercatat atas nama, bukan sebagai janji yang masih menunggu keputusan. Kata untuk cahaya mengaitkan ayat ini kembali ke pemandangan di 57:12, dan kaitan tersebut menjawab pertanyaan yang tersisa dari sana, yaitu dari mana cahaya itu datang.

Kalimat terakhirnya memasang kelompok yang berlawanan tanpa perantara. Sesudah menyebut sebutan yang paling tinggi, ayat ini langsung menyebut penghuni api. Tidak ada golongan tengah yang disediakan di antara keduanya, dan ketiadaan ruang tengah itulah yang membuat surah ini sebelumnya berbicara panjang tentang orang-orang yang mencoba berdiri di antaranya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut mereka orang-orang yang sangat benar dan para saksi. Dua kedudukan sekaligus. Yang diberikan bukan pahala saja, melainkan sebutan.
  • Yang mereka peroleh disebut pahala mereka dan cahaya mereka. Dengan kata ganti kepemilikan. Sudah menjadi milik, bukan sekadar dijanjikan.
  • Allah menyebut syaratnya beriman kepada-Nya dan rasul-rasul-Nya. Bentuk jamak. Bukan satu rasul saja yang disebut.
  • Sebutan yang diberikan di ayat ini tidak dipakai di ayat lain mana pun, dan ia bentuk penguat dari kata yang berarti benar. Orang biasanya membayangkan sebutan setinggi itu tercadang bagi segelintir orang dengan riwayat luar biasa, nama-nama yang sudah dikenal, atau kedudukan yang tidak mungkin dicapai orang biasa. Yang disyaratkan Allah di sini hanya beriman kepada-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya, tanpa tambahan apa pun. Pintunya dibuka jauh lebih lebar daripada yang diandaikan kebanyakan orang. Ada dua cara menanggapi kelebaran itu. Yang pertama menganggapnya murah, lalu berhenti berusaha karena merasa sudah masuk. Yang kedua menganggapnya kepercayaan yang diberikan lebih dulu, lalu merasa berutang untuk pantas menerimanya. Yang membedakan kedua tanggapan itu biasanya bukan pengetahuan, melainkan apa yang orangnya kerjakan pada minggu berikutnya.
  • Ayat sebelumnya menyebut orang-orang yang menyerahkan hartanya; ayat ini menyebut mereka sebagai orang-orang yang benar. Dua kata itu tumbuh dari satu akar yang sama di teks aslinya, dan urutannya berjalan dari perbuatan menuju sebutan, bukan sebaliknya. Susunan tersebut menutup satu jalan yang biasa ditempuh orang. Kita terbiasa memulai dari sebutan: menyatakan diri sebagai orang yang jujur, orang yang peduli, orang yang berpihak, lalu berharap perbuatannya menyusul nanti kalau keadaan memungkinkan. Allah memakai urutan yang berlawanan. Sebutan itu diberikan sesudah ada barang yang benar-benar keluar dari tangan, sebab barang yang keluar tidak bisa dipalsukan dengan kalimat. Nama apa yang saya berikan kepada diri saya, dan apa yang sudah keluar dari tangan saya untuk menopangnya?
  • Sesudah menyebut sebutan yang paling tinggi, ayat ini langsung menyebut kelompok yang berlawanan tanpa perantara. Tidak ada golongan ketiga yang disediakan di antara keduanya, tidak ada tempat untuk orang yang belum memutuskan, dan tidak ada keterangan tentang mereka yang berdiri di dekat pagar. Ketiadaan ruang tengah itu menjelaskan mengapa surah ini sebelumnya berbicara begitu panjang tentang orang-orang yang mencoba berdiri di antaranya, lengkap dengan cahaya yang tidak bisa dipinjam dan tembok yang dipasang. Bagi pembaca yang masih hidup, susunan ini terasa keras karena hampir semua orang merasa dirinya berada di suatu tempat di tengah. Yang perlu diingat, ruang tengah itu memang ada sekarang; yang tidak ada adalah tempatnya nanti.