اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kalian serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan, seperti perumpamaan hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian mengering dan engkau melihatnya menguning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌi'lamuu annamaa l-hayaatu d-dunyaa la'ibun wa-lahwun wa-ziinatunketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan
- وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِwa-tafaakhurun baynakum wa-takaatsurun fii l-amwaali wa-l-awlaadidan saling bermegah-megahan di antara kalian serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan
- كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُka-matsali ghaytsin a'jaba l-kuffaara nabaatuhuseperti perumpamaan hujan yang tanamannya mengagumkan para petani
- ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًاtsumma yahiiju fa-taraahu mushfarran tsumma yakuunu huthaamankemudian mengering dan engkau melihatnya menguning, kemudian menjadi hancur
- وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌwa-fii l-aakhirati 'adzaabun syadiidun wa-maghfiratun mina llaahi wa-ridhwaanundan di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan
- وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِwa-maa l-hayaatu d-dunyaa illaa mataa'u l-ghuruuridan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya
Terjemahan per kata (39 kata)
- اعْلَمُواi'lamuuketahuilah kalian
- أَنَّمَاannamaabahwa hanyalah
- الْحَيَاةُl-hayaatukehidupan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- لَعِبٌla'ibunpermainan
- وَلَهْوٌwa-lahwundan senda gurau
- وَزِينَةٌwa-ziinatundan perhiasan
- وَتَفَاخُرٌwa-tafaakhurundan saling membanggakan
- بَيْنَكُمْbaynakumdi antara kalian
- وَتَكَاثُرٌwa-takaatsurundan berbangga memperbanyak
- فِيfiidalam
- الْأَمْوَالِl-amwaaliharta
- وَالْأَوْلَادِwa-l-awlaadidan anak-anak
- كَمَثَلِka-matsaliseperti perumpamaan
- غَيْثٍghaytsinhujan
- أَعْجَبَa'jabamengagumkan
- الْكُفَّارَl-kuffaaraorang-orang kufar
- نَبَاتُهُnabaatuhutumbuhannya
- ثُمَّtsummakemudian
- يَهِيجُyahiijumengering
- فَتَرَاهُfa-taraahumaka engkau melihatnya
- مُصْفَرًّاmushfarranmenguning
- ثُمَّtsummakemudian
- يَكُونُyakuunuadalah
- حُطَامًاhuthaamanhancur
- وَفِيwa-fiidan pada
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- عَذَابٌ'adzaabunazab
- شَدِيدٌsyadiidunyang keras
- وَمَغْفِرَةٌwa-maghfiratundan ampunan
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- وَرِضْوَانٌwa-ridhwaanundan keridaan
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- الْحَيَاةُl-hayaatukehidupan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- إِلَّاillaakecuali
- مَتَاعُmataa'ukesenangan
- الْغُرُورِl-ghuruuritipuan
Inti bacaan
Diagnosis tajam hakikat kehidupan dunia: 'kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan. berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan', diikuti perumpamaan tanaman yang mengagumkan lalu mengering dan hancur. Konkretnya: pengenalan pola godaan duniawi (status, kekayaan, keturunan) sebagai fase yang berlalu cepat, dorongan mengalokasikan energi utama pada hal yang bertahan (amal, ampunan) daripada yang fana meski tampak menawan sesaat.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memakai lima kata berderet untuk menyifati kehidupan dunia, lalu satu perumpamaan, lalu satu kesimpulan. Dua di antara kata-katanya tidak dipakai di ayat lain dalam bentuk yang persis sama: kata (وَتَكَاثُرٌ, wa-takaatsurun), "dan berlomba-lomba dalam banyaknya", dan kata (غَيْثٍ, ghaytsin), "hujan", yang dipakai untuk hujan dalam perumpamaannya. Untuk yang pertama, bentuk bertakrifnya menjadi nama Surah 102; untuk yang kedua, bentuk bertakrifnya dipakai di 31:34 dan 42:28.
Dua kata pertama di deretan itu, (لَعِبٌ وَلَهْوٌ, la'ibun wa-lahwun), muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:32, 47:36, dan 57:20. Di dua tempat yang lain, deretannya berhenti di dua kata itu saja. Hanya di sini ia diteruskan sampai lima, dan tiga tambahannya justru yang paling dekat dengan kehidupan orang dewasa: perhiasan, saling bermegah-megahan, dan berlomba menumpuk harta serta keturunan.
Kata (الْكُفَّارَ, al-kuffaara) di dalam perumpamaan kami terjemahkan "para petani", mengikuti makna leksikal akarnya yang juga berarti menutupi, yaitu menutupi benih dengan tanah. Bacaan itu sah secara bahasa dan lebih cocok dengan isi kalimatnya: yang terpesona pada tanaman yang tumbuh subur memang orang yang menanamnya, bukan orang yang kebetulan lewat.
Tiga kata yang menggambarkan layunya tanaman semuanya berbagi tempat dengan satu ayat yang sama. Kata (يَهِيجُ, yahiiju), "mengering", muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 39:21 dan 57:20. Kata (مُصْفَرًّا, mushfarran), "menguning", muncul 3 kali, yaitu di 30:51, 39:21, dan 57:20. Kata (حُطَامًا, huthaaman), "hancur", muncul 3 kali pula, yaitu di 39:21, 56:65, dan 57:20. Ketiga daftar itu bertemu di 39:21, yang memakai urutan yang sama persis dari mengering ke menguning lalu hancur.
Kesimpulannya, (مَتَاعُ الْغُرُورِ, mataa'u l-ghuruuri), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:185 dan 57:20. Kata keduanya berasal dari akar yang sama dengan sebutan si penipu di 57:14, hanya berbeda bentuk: yang di sana pelakunya, yang di sini perbuatannya. Jadi surah ini menyebut pemperdayanya lebih dahulu, baru enam ayat kemudian menyebut alat yang ia pakai.
Tambahan "(Perumpamaannya adalah)" kami rapikan: kata "perumpamaan" sesungguhnya sudah tertulis eksplisit dalam kata (كَمَثَلِ, ka-matsali) yang berarti "seperti perumpamaan", sehingga bagian itu digabungkan langsung ke kalimatnya tanpa tanda kurung. Tambahan "(bagi orang-orang yang lengah)" pada penutup ayat kami hapus, sebab tidak tertulis di teks Arab dan membatasi kesimpulan yang di aslinya berlaku tanpa syarat.
Bagian yang menyebut akhirat disusun dengan urutan yang patut diperhatikan: azab yang keras disebut lebih dahulu, baru ampunan dan keridaan. Kata untuk ampunan di sini tanpa kata sandang, sehingga kami terjemahkan "ampunan" saja tanpa penegasan. Akar katanya berarti menutupi, dan di dalam proyek ini ia sengaja dibedakan dari akar kata untuk kasih sayang: menutupi dan memberi adalah dua tindakan yang berbeda, bukan dua cara mengatakan hal yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menutup penjelasan tentang hakikat dunia: kesenangan sementara yang berakhir kering dan hancur, kontras dengan azab dan ampunan kekal di akhirat. Susunannya berjalan dari daftar, ke gambar, lalu ke kesimpulan, dan tiap bagian mengerjakan tugas yang berbeda.
Daftarnya berisi lima kata yang naik dari yang paling ringan ke yang paling melekat. Dua yang pertama, permainan dan kelengahan, dipakai juga di dua ayat lain, dan di sana daftarnya berhenti sampai di situ. Hanya di sini ia diteruskan, dan tiga tambahannya justru yang tidak terasa main-main sama sekali bagi orang dewasa: perhiasan, saling bermegah-megahan, dan berlomba menumpuk harta serta keturunan. Tak seorang pun menyebut ketiga hal itu permainan ketika sedang menjalaninya.
Gambarnya kemudian memberi apa yang tidak bisa diberikan daftar, yaitu waktu. Daftar menyebutkan sifat; gambar menunjukkan urutan. Tanaman yang mengagumkan itu tidak dikatakan buruk. Ia memang bagus, dan kekagumannya wajar. Yang ditambahkan hanyalah tiga tahap berikutnya, yang di dunia nyata terpisah oleh berbulan-bulan sehingga jarang terlihat sebagai satu rangkaian.
Yang terpesona dalam gambar itu disebut sebagai orang yang menanam, bukan orang yang lewat. Pilihan tersebut tepat: orang yang paling terpesona pada sesuatu memang selalu yang paling banyak mengeluarkan tenaga untuknya. Dan orang itulah yang nanti berdiri di depan tanaman yang menguning.
Kesimpulannya memakai kata yang akarnya sama dengan sebutan si pemperdaya di 57:14. Yang di sana disebut sebagai pelaku, di sini disebut sebagai barang yang ia pakai. Susunan itu menutup satu pembelaan yang mudah dipakai. Orang bisa berkata ia tidak pernah tertipu oleh siapa pun, sebab ia tidak merasa ada yang datang membujuknya. Ayat ini menjawab bahwa alatnya bukan bujukan, melainkan kesenangan yang memang benar-benar menyenangkan selama ia berlangsung.
Renungan dan Hikmah
- Dalam perumpamaan itu, yang terpesona bukan orang lewat melainkan para petani, yaitu yang menanam dan merawatnya sendiri. Orang yang paling terpesona pada sesuatu memang biasanya yang paling banyak mengeluarkan tenaga untuknya. Dan merekalah yang nanti berdiri di depan tanaman yang menguning itu.
- Kalimatnya berbunyi 'engkau melihatnya menguning'. Pembaca tidak ditempatkan sebagai pemilik tanaman, melainkan sebagai yang menyaksikan layunya. Allah memindahkan kita ke kursi penonton untuk hal yang sehari-hari kita duduki sebagai pemain, dan dari kursi itu urutannya kelihatan seluruhnya sekaligus.
- Permainan, kelengahan, perhiasan, bermegah-megahan, berlomba menumpuk. Kelimanya terdengar ringan kalau dibaca berderet, padahal tak satu pun terasa ringan bagi orang yang sedang menjalaninya. Justru itu maksudnya: Allah menyebut dari kejauhan apa yang dari dekat selalu terasa sebagai perkara paling penting hari itu.
- Dua kata pertama di daftar ini, permainan dan kelengahan, dipakai juga di 6:32 dan 47:36, dan di kedua tempat itu daftarnya berhenti sampai di situ. Hanya di sini ia diteruskan sampai lima. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang ditambahkan: perhiasan, saling bermegah-megahan, dan berlomba menumpuk harta serta keturunan. Tiga tambahan itu justru yang tidak terasa main-main sama sekali bagi orang dewasa. Permainan dan kelengahan gampang diakui sebagai hal yang sepele, sebab kita memang menganggapnya begitu. Tetapi tak seorang pun menyebut karier, rumah, atau anaknya sebagai permainan ketika sedang menjalaninya. Allah menaruh kelimanya dalam satu deret yang sama, tanpa jeda dan tanpa membedakan yang ringan dari yang berat, dan letak yang setara itulah pukulannya.
- Sesudah daftar, ayat ini tidak menambahkan nasihat, melainkan sebuah gambar. Perbedaannya menentukan cara ia bekerja. Daftar hanya bisa menyebutkan sifat; gambar menunjukkan urutan waktu. Tanaman dalam perumpamaan itu tidak dikatakan buruk sedikit pun. Ia memang bagus, kekagumannya wajar, dan orang yang mengaguminya tidak sedang keliru menilai. Yang ditambahkan hanyalah tiga tahap berikutnya: mengering, menguning, hancur. Ketiga kata itu berbagi tempat dengan satu ayat lain yang memakai urutan yang sama persis. Di dunia nyata ketiga tahap itu terpisah oleh berbulan-bulan, dan justru jarak waktu itulah yang membuatnya jarang terlihat sebagai satu rangkaian. Ayat ini merapatkannya menjadi satu kalimat, dan dari jarak sedekat itu seluruh urutannya kelihatan sekaligus.
- Kesimpulan ayat ini memakai kata yang akarnya sama dengan sebutan si pemperdaya di 57:14. Yang di sana disebut sebagai pelakunya, di sini disebut sebagai barang yang ia pakai. Susunan tersebut menutup satu pembelaan yang mudah dipegang orang. Kita gampang merasa tidak pernah tertipu, sebab tidak ada yang datang membujuk, tidak ada rayuan yang bisa ditunjuk, dan tidak ada satu keputusan pun yang terasa diambil di bawah tekanan. Ayat ini menjawab bahwa alatnya memang bukan bujukan. Alatnya adalah kesenangan yang benar-benar menyenangkan selama ia berlangsung, dan tak ada yang perlu dipalsukan di dalamnya. Tipuannya bukan pada barangnya, melainkan pada anggapan bahwa ia akan bertahan. Apa yang sedang saya perlakukan seolah-olah tidak akan berubah?