سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Berlombalah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan taman yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang telah disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Pemilik karunia yang agung.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْsaabiquu ilaa maghfiratin min rabbikumberlombalah menuju ampunan dari Tuhan kalian
- وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِwa-jannatin 'ardhuhaa ka-'ardhi s-samaa'i wa-l-ardhidan taman yang lebarnya selebar langit dan bumi
- أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِu'iddat li-lladziina aamanuu bi-llaahi wa-rusulihiyang telah disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya
- ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُdzaalika fadhlu llaahi yu'tiihi man yasyaa'uitulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki
- وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِwa-llaahu dzuu l-fadhli l-'azhiimidan Allah Pemilik karunia yang agung
Terjemahan per kata (25 kata)
- سَابِقُواsaabiquuberlombalah kalian
- إِلَىٰilaakepada
- مَغْفِرَةٍmaghfiratinampunan
- مِنْmindari
- رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
- وَجَنَّةٍwa-jannatindan taman
- عَرْضُهَا'ardhuhaaluasnya
- كَعَرْضِka-'ardhiseluas
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- أُعِدَّتْu'iddatdisediakan
- لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- وَرُسُلِهِwa-rusulihidan para rasul-Nya
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- فَضْلُfadhlukarunia
- اللَّهِllaahiAllah
- يُؤْتِيهِyu'tiihiDia memberikannya
- مَنْmanorang yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- ذُوdzuupemilik
- الْفَضْلِl-fadhlikarunia
- الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung
Inti bacaan
Ajakan aktif berlomba dalam kebaikan: 'berlombalah menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi', penggunaan bahasa kompetisi yang positif, mengubah semangat bersaing (yang sering diarahkan pada hal duniawi di 57:20) menjadi energi produktif menuju tujuan spiritual.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memakai bahasa perlombaan untuk sesuatu yang sebenarnya bukan rebutan.
Kata perintahnya “berlombalah” (سَابِقُوا, saabiquu). Gambaran serupa dipakai di tempat lain dengan kata yang lebih ringan, yaitu bersegeralah (3:133). Yang menarik pada pilihan kata di sini, perlombaan biasanya berarti kemenangan seorang adalah kekalahan yang lain. Pada yang dituju ayat ini, yang di depan sama sekali tidak mengurangi bagian yang di belakang. Bentuk perlombaannya dipinjam, tetapi kerugiannya tidak ikut dipinjam.
Ukurannya diberikan dengan pembanding, “lebarnya selebar langit dan bumi” (كَعَرْضِ السَّمَاءِ, ka-'ardhi s-samaa'i). Rumusan ini hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Gambaran yang sebangun memang ada di tempat lain, tetapi dengan susunan kata yang berbeda (3:133), sehingga keduanya berdampingan sebagai dua cara menyebut satu keluasan yang sama.
Kata “telah disediakan” (أُعِدَّتْ, u'iddat) di sini sama persis dengan kata yang dipakai untuk api di tempat lain. Bentuk itu muncul empat kali di dalam Al-Qur'an, dan pembagiannya rapi: dua kali untuk api (2:24, 3:131), dua kali untuk taman (3:133, 57:21). Keduanya disebut sudah siap, bukan menunggu dibangun.
Yang disebut lebih dahulu tetap ampunan, baru sesudahnya tamannya. Urutan itu sama dengan urutan di ayat sebandingnya. Yang menghapus disebut sebelum yang diberikan.
Dua rangkaian di ayat ini tak terulang. Yang pertama kata perintahnya, “berlombalah” (سَابِقُوا, saabiquu). Yang kedua ukuran tamannya, “selebar langit dan bumi” (كَعَرْضِ السَّمَاءِ, ka-'ardhi s-samaa'i). Keduanya hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini.
Kata perintahnya lebih kuat daripada kata yang dipakai di ayat sebandingnya. Di 3:133 yang dipakai bersegeralah; di sini berlombalah. Keduanya menyatakan kecepatan, tetapi yang kedua menambahkan unsur perbandingan dengan orang lain. Perbedaan itu penting justru karena apa yang dituju tidak berkurang oleh siapa pun yang mendahului.
Penutupnya menyebut karunia yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Letak kalimat itu tepat sesudah perintah berlomba menghasilkan ketegangan yang tidak didamaikan. Di satu sisi, orang disuruh berlari; di sisi lain, yang dituju disebut pemberian, bukan upah. Kedua hal itu tidak dipertentangkan dan tidak dijelaskan hubungannya.
Kata “telah disediakan” (أُعِدَّتْ, u'iddat) di sini sama persis dengan kata yang dipakai untuk api di tempat lain. Bentuk itu muncul empat kali di dalam Al-Qur'an, dan pembagiannya rapi: dua kali untuk api (2:24, 3:131), dua kali untuk taman (3:133, 57:21). Keempatnya memakai bentuk yang menyatakan pekerjaan sudah selesai, sehingga kedua tempat kembali disebut sudah siap sekarang.
Tafsiran
Ayat ini menyerukan perlombaan menuju ampunan dan taman yang seluas langit dan bumi, sebagai karunia yang dianugerahkan Allah sesuai kehendak-Nya. Dua bagian terakhirnya menyimpan ketegangan yang tidak didamaikan, dan justru itu yang menghidupkan ayat ini.
Di satu sisi ada perintah berlomba, yang mengandaikan usaha dan kecepatan. Di sisi lain ada pernyataan bahwa yang dituju adalah karunia yang diberikan menurut kehendak-Nya, yang mengandaikan pemberian dan bukan upah. Kedua hal itu diletakkan dalam satu ayat tanpa kata yang menjelaskan hubungannya. Pembacanya tidak diberi rumus untuk mendamaikan keduanya.
Kata yang dipakai untuk perlombaan itu sendiri menarik justru karena ia meminjam bentuk yang tidak sepenuhnya cocok. Perlombaan biasanya berarti kemenangan seorang adalah kekalahan yang lain, sebab yang diperebutkan terbatas. Pada yang dituju ayat ini, yang di depan tidak mengurangi bagian yang di belakang sama sekali. Bentuknya dipinjam, kerugiannya tidak.
Urutan dua hal yang dituju juga tetap dan tidak dibalik di ayat sebandingnya (3:133), yaitu ampunan lebih dahulu, baru taman. Kalau dibaca sebagai satu jalan, urutan itu masuk akal. Dan kata yang dipakai untuk penyediaannya sama dengan kata yang dipakai untuk api di dua tempat lain (2:24, 3:131), sehingga kedua tempat kembali disebut dengan bentuk yang sama-sama menyatakan pekerjaan yang sudah selesai. Yang membedakan bukan kesiapan pintunya, melainkan ke arah mana seseorang sedang berlari.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai bahasa lomba untuk hal yang bukan rebutan. Berlombalah. Yang di depan tidak mengurangi jatah yang di belakang. Perlombaan biasa punya jumlah pemenang yang terbatas, dan justru keterbatasan itu yang membuat orang bergegas. Di sini keterbatasan itu tidak ada, sehingga dorongan untuk bergegas harus datang dari tempat lain, yaitu dari nilai yang dikejar dan bukan dari kekhawatiran kehabisan.
- Ukurannya diberikan: seluas langit dan bumi. Bukan disebut luas saja. Ada pembandingnya. Ukuran yang diberikan itu ukuran yang tidak bisa dibayangkan siapa pun secara utuh, dan tampaknya memang begitu maksudnya. Yang hendak disampaikan bukan angka yang bisa dihitung, melainkan bahwa perhitungan kita sendiri sudah kehabisan alat sebelum sampai ke tepinya.
- Ampunan disebut lebih dahulu daripada tamannya. Allah menaruh yang menghapus di depan. Bersih dahulu, baru masuk. Urutan itu juga menerangkan mengapa orang yang merasa terlalu banyak salah tidak dikecualikan dari ajakan ini. Kalau yang pertama disebut ampunan, maka pintu masuknya justru dibuka lewat bagian yang membuat orang merasa tidak pantas.
- Allah memakai kata berlomba untuk sesuatu yang jatah orang lain tidak berkurang karenanya. Kalau tidak ada yang kalah di sana, apa sebenarnya yang membuat kita bergerak lambat menuju sesuatu yang tak seorang pun merebutnya dari kita? Yang membuat kita lambat biasanya bukan beratnya perjalanan, melainkan tidak adanya orang lain yang sedang mengejar di belakang. Itu keterangan yang tidak enak tentang apa yang sebenarnya menggerakkan kita selama ini. Kalau dorongan kita selalu memerlukan pesaing, maka yang kita kejar sebetulnya bukan tujuannya melainkan kedudukan kita terhadap orang lain, dan ayat ini menutup jalan itu sejak kalimat pertamanya. Yang tersisa cuma satu alasan untuk bergegas, yaitu bahwa yang dituju memang layak dituju.
- Kata عَرْضُهَا muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 3:133 dan 57:21, dan dua-duanya memakai ukuran yang sama, yaitu seluas langit dan bumi. Yang berbeda dua hal. Perintah di 3:133 berarti bersegera, sedangkan di sini سَابِقُوا yang berarti berlomba, dan bentuk itu hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran. Penerimanya pun berbeda: di 3:133 orang yang bertakwa, di sini orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Satu sasaran, dua jalan masuk, dan dua sebutan bagi yang dituju.
- Sesudah menyuruh berlomba, Allah menutup dengan menyebut semua itu karunia-Nya yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dua hal itu terdengar bertabrakan. Kalau ia karunia, mengapa harus diperlombakan; kalau harus diperlombakan, mengapa disebut karunia. Ketegangan itu memang dibiarkan berdiri. Yang dijaga di satu sisi kesungguhan orangnya, dan di sisi lain anggapan bahwa hasilnya bisa ditagih sebagai upah. Orang yang menyadari keduanya berlari sekuat tenaga sambil tahu bahwa larinya sendiri bukan harga yang setimpal.