Ayat 57:22
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan tidak pada diri kalian, melainkan telah dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya; sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِmaa ashaaba min mushiibatin fii l-ardhitidak ada musibah yang menimpa di bumi
- وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْwa-laa fii anfusikumdan tidak pada diri kalian
- إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَاillaa fii kitaabin min qabli an nabra'ahaamelainkan telah dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya
- إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌinna dzaalika 'alaa llaahi yasiirunsesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah
Terjemahan per kata (21 kata)
- مَاmaatidaklah
- أَصَابَashaabamenimpa
- مِنْmindari
- مُصِيبَةٍmushiibatinmusibah
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- فِيfiidi
- أَنْفُسِكُمْanfusikumdiri kalian sendiri
- إِلَّاillaakecuali
- فِيfiipada
- كِتَابٍkitaabinkitab
- مِنْmindari
- قَبْلِqablisebelum
- أَنْanbahwa
- نَبْرَأَهَاnabra'ahaaKami menciptakannya
- إِنَّinnasesungguhnya
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- يَسِيرٌyasiirunmudah
Inti bacaan
Prinsip ketetapan yang menenangkan: 'tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian, melainkan telah (tertulis) dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya', keyakinan bahwa setiap kesulitan sudah berada dalam kerangka yang lebih besar dan bermakna, dasar bagi ketenangan menghadapi musibah tanpa jatuh dalam keputusasaan yang tak berujung.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pembuka ayat ini punya satu kembaran. Rangkaian (مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ, maa ashaaba min mushiibatin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:22 dan 64:11. Kata untuk musibah dan kata kerja yang mendahuluinya berasal dari akar yang sama, sehingga kalimatnya secara harfiah berbunyi "tidak menimpa sesuatu yang menimpa". Susunan berulang seperti itu di bahasa aslinya berfungsi sebagai penegas cakupan, dan terjemahan kami menyampaikannya dengan "tidak ada musibah yang menimpa", tanpa mencoba menirukan pengulangan akarnya yang di bahasa Indonesia hanya akan terbaca janggal.
Kata kerja yang menyebut penciptaannya, (نَبْرَأَهَا, nabra'ahaa), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti membuat sesuatu menjadi ada dengan terpisah dan jelas bentuknya, berbeda dari kata umum untuk mencipta. Kami terjemahkan "mewujudkannya", bukan "menciptakannya", supaya perbedaan itu tetap terasa: yang dibicarakan bukan penciptaan alam, melainkan pemunculan satu peristiwa tertentu ke dalam kenyataan.
Dua tempat disebut dan hanya dua: di bumi, dan pada diri kalian. Yang pertama menampung segala yang terjadi di luar, mulai dari gagal panen sampai kehilangan harta; yang kedua menampung segala yang terjadi di dalam, mulai dari sakit sampai kematian orang terdekat. Tidak ada jenis musibah yang berada di luar salah satu dari keduanya, dan pembagian dua itu memang disusun supaya tidak menyisakan celah.
Yang disebut sebagai tempat pencatatannya hanya "suatu kitab", tanpa kata sandang dan tanpa nama. Terjemahan kami mempertahankan bentuk itu dan tidak menambahkan nama tertentu di dalam kurung seperti yang lazim dipakai terjemahan lain. Teks aslinya memilih menyebutnya dengan cara yang paling tidak menentukan, dan menamainya akan memberi pembaca gambaran yang tidak dijamin oleh ayatnya sendiri. Tambahan "(tertulis)" juga kami hapus, sebab kata "dalam suatu kitab" sudah lengkap tanpa kata kerja tambahan.
Penutupnya, (عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ, 'alaa llaahi yasiirun), muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:70, 29:19, 35:11, 57:22, dan 64:7. Kata terakhirnya kami terjemahkan "mudah", dan pilihan itu penting justru karena terdengar terlalu ringan untuk perkara sebesar ini. Teks aslinya memang memakai kata yang ringan, dan menggantinya dengan kata yang lebih megah akan membalik maksudnya.
Kata tunjuk pada kalimat penutup adalah kata tunjuk jauh, dan terjemahan "yang demikian itu" memang yang benar untuknya. Kata tunjuk dekat akan menariknya ke arah pembaca, padahal yang ditunjuk justru seluruh susunan yang baru saja disebutkan, dan susunan itu berdiri di kejauhan sebagai satu keseluruhan yang sudah selesai.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa setiap musibah telah tercatat sebelum terjadi, sebagai bagian dari ketetapan Allah yang mudah bagi-Nya. Kalimatnya berbentuk pengecualian: tidak ada satu pun, kecuali yang sudah tercatat. Bentuk itu tidak menyisakan ruang untuk perkecualian yang lolos.
Yang perlu diperhatikan adalah urutan waktunya. Pencatatannya disebut terjadi sebelum perwujudannya, bukan sesudah. Artinya peristiwa yang menimpa seseorang bukan tanggapan yang disusun mendadak atas keadaan, melainkan sesuatu yang sudah berada di dalam susunan sejak sebelum ia muncul. Bagi orang yang sedang ditimpa, perbedaan ini menyangkut satu hal yang sangat menentukan: apakah yang terjadi padanya sebuah kekacauan yang lolos dari pengawasan, atau bagian dari sesuatu yang memang sudah disusun.
Kata kerja untuk memunculkannya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Akarnya berarti membuat sesuatu menjadi ada dengan bentuk yang terpisah dan jelas, bukan mencipta secara umum. Pilihan kata itu menempatkan tiap musibah sebagai sesuatu yang punya bentuknya sendiri, bukan sebagai akibat sampingan dari peristiwa lain yang lebih besar.
Cakupannya dibagi dua dan hanya dua: yang di bumi dan yang pada diri. Pembagian tersebut disusun supaya tidak menyisakan celah, dan bagi pembaca ia berfungsi sebagai daftar yang menutup. Tidak ada jenis kehilangan yang bisa diajukan sebagai pengecualian, termasuk yang paling pribadi dan paling tidak diketahui siapa pun.
Kalimat penutupnya memakai kata yang paling ringan yang tersedia. Mencatat setiap musibah setiap orang sebelum semuanya terjadi disebut mudah. Kata itu bukan hanya menerangkan kemampuan; ia juga menghapus satu gambaran yang mudah menyelinap, yaitu bahwa pengaturan sebesar ini pasti menyita perhatian sehingga urusan kecil terlewat di sela-selanya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tak ada musibah melainkan telah dalam suatu kitab sebelum Dia mewujudkannya. Tercatat lebih dahulu. Yang menimpa bukan kejadian yang mendadak bagi Yang mengizinkannya.
- Dua tempat disebut: di bumi dan pada diri kalian. Yang di luar dan yang di dalam. Tak ada jenis musibah yang berada di luar salah satunya.
- Penutupnya menyebut hal itu mudah bagi-Nya. Bukan berat. Mencatat setiap musibah setiap orang sebelum terjadi disebut dengan kata yang paling ringan.
- Urutan waktu di ayat ini yang menentukan seluruh isinya. Pencatatannya disebut terjadi sebelum perwujudannya, bukan sesudah. Bedanya menyangkut satu hal yang sangat menentukan bagi orang yang sedang ditimpa sesuatu: apakah yang menimpanya adalah kekacauan yang lolos dari pengawasan, atau bagian dari susunan yang memang sudah ada sebelum ia muncul. Pertanyaan itu biasanya tidak diucapkan, tetapi ia yang bekerja di bawah hampir semua keluhan. Orang yang merasa hidupnya sedang berantakan sebenarnya sedang menduga bahwa tidak ada yang memegang kendalinya. Allah tidak menjawab dengan menerangkan mengapa peristiwanya terjadi; Ia hanya menyebutkan bahwa peristiwa itu sudah tercatat sebelum ada. Jawaban semacam itu tidak mengurangi sakitnya, tetapi ia mengubah jenis sakitnya.
- Dua tempat disebut dan hanya dua: di bumi, dan pada diri kalian. Yang pertama menampung segala yang terjadi di luar, mulai dari gagal panen sampai kehilangan harta dan pekerjaan. Yang kedua menampung segala yang terjadi di dalam, mulai dari sakit sampai kematian orang terdekat. Pembagian itu disusun supaya tidak menyisakan celah, dan bagi pembacanya ia bekerja sebagai daftar yang menutup. Tidak ada jenis kehilangan yang bisa diajukan sebagai perkecualian, termasuk yang paling pribadi dan yang tidak diketahui siapa pun. Justru bagian itu yang biasanya terasa paling sendirian. Orang yang kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun mudah menyimpulkan bahwa perkaranya terlalu kecil untuk masuk hitungan mana pun. Ayat ini menyebut kedua wilayah itu dengan bobot yang sama.
- Kalimat penutupnya memakai kata yang paling ringan yang tersedia: mudah. Mencatat setiap musibah setiap orang, sebelum satu pun terjadi, disebut Allah dengan kata itu. Pilihan tersebut bukan hanya menerangkan kemampuan. Ia menghapus satu gambaran yang mudah menyelinap ke dalam kepala orang yang sedang susah, yaitu bahwa pengaturan sebesar alam semesta pasti menyita perhatian sedemikian rupa sehingga urusan sekecil dirinya terlewat di sela-selanya. Gambaran itu terdengar rendah hati, bahkan sopan, tetapi isinya adalah keraguan. Kata "mudah" menutupnya tanpa membantah apa pun. Kalau seluruhnya memang mudah, maka tidak ada antrean, tidak ada yang terdesak keluar oleh perkara yang lebih besar, dan tidak ada alasan untuk merasa terlalu kecil. Sudah berapa lama saya diam-diam menganggap perkara saya terlalu remeh untuk disebut?
Ayat 57:23
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Agar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْli-kaylaa ta'saw 'alaa maa faatakumagar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian
- وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْwa-laa tafrahuu bi-maa aataakumdan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian
- وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍwa-llaahu laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurinAllah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri
Terjemahan per kata (15 kata)
- لِكَيْلَاli-kaylaaagar tidak
- تَأْسَوْاta'sawkalian bersedih
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- فَاتَكُمْfaatakumluput dari kalian
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَفْرَحُواtafrahuukalian bergembira
- بِمَاbi-maaterhadap apa yang
- آتَاكُمْaataakummemberi kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- لَاlaatidak
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- كُلَّkullasetiap
- مُخْتَالٍmukhtaalinyang sombong
- فَخُورٍfakhuurinyang membanggakan diri
Inti bacaan
Keseimbangan emosional sebagai tujuan: 'agar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian', panduan psikologis eksplisit untuk menghindari kedua ekstrem (keputusasaan berlebihan dan euforia berlebihan), stabilitas emosional yang berasal dari kesadaran bahwa hidup adalah rangkaian ketetapan yang lebih besar dari kendali pribadi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini bukan kalimat baru. Ia anak kalimat tujuan yang menyambung langsung ke 57:22, sehingga seluruh keterangan tentang musibah yang sudah tercatat di ayat sebelumnya berfungsi sebagai sebab, dan ayat ini menyebutkan akibat yang diinginkan. Karena itu tambahan "(Yang demikian itu Kami tetapkan)" yang lazim dipasang di depannya kami hapus: frasa itu tidak tertulis di teks Arab, dan memasangnya memutus sambungan yang justru menjadi isi ayatnya.
Rangkaian pembukanya, لِكَيْلَا تَأْسَوْا, muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata kerjanya berarti bersedih atau menyesal atas sesuatu yang sudah lewat, bukan sedih secara umum. Kami terjemahkan "bersedih", dan bukan "berputus asa", sebab yang dibicarakan bukan hilangnya harapan ke depan melainkan menoleh terus ke belakang.
Dua hal yang dilarang berpasangan dan berlawanan arah: bersedih atas yang luput, dan terlalu gembira atas yang diberikan. Kata kerja yang kedua di bahasa aslinya memang membawa kadar yang berlebihan, bukan sekadar gembira, dan terjemahan kami menambahkan "terlalu" untuk membawanya. Tanpa kata itu, kalimatnya akan terbaca sebagai larangan bergembira, dan itu bukan yang tertulis.
Penutupnya, (مُخْتَالٍ فَخُورٍ, mukhtaalin fakhuurin), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 31:18 dan 57:23. Pasangan yang sama hadir juga di 4:36 dengan akhiran i'rab yang berbeda, sehingga jumlahnya bergantung pada apakah yang dihitung bentuknya atau katanya. Kata pertamanya berasal dari akar yang juga dipakai untuk kuda yang berjalan dengan langkah megah, sehingga gambarannya adalah cara berjalan, bukan isi kepala. Kata keduanya menyangkut apa yang diucapkan.
Kata kerja untuk cinta di penutup ayat kami terjemahkan "tidak mencintai", bukan "tidak menyukai". Terjemahan lain kerap melunakkan bentuk negatifnya, dan pelunakan itu kami bongkar: kata yang sama dipakai untuk bentuk positif maupun negatifnya di teks asli, dan menerjemahkannya berbeda hanya karena kalimatnya negatif akan menyembunyikan ketegasan yang memang ada di sana.
Susunan ayat ini menempatkan dua sifat di penutup sebagai lanjutan dari dua larangan di awal. Yang dilarang di awal berupa gerak perasaan yang berlangsung sesaat; yang disebut di penutup berupa watak yang sudah menetap. Sambungan di antara keduanya tidak diterangkan, tetapi letaknya berdampingan sudah menyatakannya.
Satu catatan tentang kata kerja yang dipakai untuk pemberian. Yang tertulis bukan "yang kalian peroleh", melainkan (آتَاكُمْ, aataakum), "yang diberikan-Nya kepada kalian", dengan pelaku yang disebut terang. Perbedaannya menentukan seluruh nada kalimat: apa yang datang bukan hasil yang direbut, melainkan barang yang diserahkan, dan gembira berlebihan atas barang yang diserahkan orang lain memang terdengar lain daripada gembira atas hasil kerja sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan hikmah pencatatan takdir: agar manusia tidak larut dalam kesedihan atau kesombongan berlebihan. Yang menarik, keterangan sebesar ayat sebelumnya ternyata dipakai untuk tujuan yang sangat praktis, yaitu mengatur dua guncangan perasaan sehari-hari.
Dua guncangan itu disebut sekaligus, dan arahnya berlawanan. Yang pertama sedih atas yang luput; yang kedua terlalu gembira atas yang datang. Kebanyakan nasihat hanya mengurus yang pertama, sebab yang pertama terasa sebagai masalah dan yang kedua terasa sebagai hadiah. Ayat ini memperlakukan keduanya sebagai satu jenis persoalan yang sama, yaitu membiarkan keadaan luar menentukan keadaan dalam.
Yang dilarang pada bagian kedua bukan gembira, melainkan kadarnya. Kata kerjanya di bahasa aslinya memang membawa arti berlebihan. Ukurannya bukan ada atau tidaknya perasaan itu, melainkan seberapa besar ia dibiarkan menentukan sikap dan cara memandang diri sendiri.
Penutup ayat memberi tahu mengapa kadar itu penting. Dua sifat disebut di sana, dan dua-duanya adalah buah dari gembira yang dibiarkan tumbuh terlalu jauh: cara berjalan yang berubah, dan kalimat yang berubah. Kata pertamanya berasal dari akar yang juga dipakai untuk kuda dengan langkah megah, jadi yang disorot bukan isi kepala melainkan gerak tubuh yang bisa dilihat orang lain. Kata keduanya menyangkut apa yang keluar dari mulut.
Susunan itu menghubungkan perasaan sesaat dengan watak yang menetap. Tidak ada orang yang memilih menjadi sombong; yang ada adalah orang yang berkali-kali membiarkan kegembiraannya menentukan cara ia berdiri, sampai cara berdiri itu tidak lagi terasa sebagai pilihan. Ayat ini memotongnya di titik paling awal, ketika ia masih berupa perasaan yang bisa ditakar.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tujuannya agar kalian tidak bersedih atas yang luput dan tidak terlalu gembira atas yang diberikan. Dua arah. Yang diurus bukan kesedihannya saja, melainkan juga kegembiraannya.
- Allah tidak melarang gembira, melainkan terlalu gembira. Ukurannya kadar. Yang jadi soal bukan perasaannya, melainkan seberapa besar ia dibiarkan menentukan.
- Allah menutup dengan menyebut Dia tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Kedua sifat itu buah dari terlalu gembira. Ayat ini menghubungkan perasaan sesaat dengan watak yang menetap.
- Ayat sebelumnya berbicara tentang segala musibah yang sudah tercatat sebelum diwujudkan, sebuah keterangan yang cakupannya seluas seluruh sejarah. Ayat ini menyambungnya langsung sebagai anak kalimat tujuan, dan tujuan yang disebutkan ternyata sangat praktis: supaya kalian tidak terlalu sedih dan tidak terlalu gembira. Jarak antara keduanya patut diperhatikan. Keterangan sebesar itu tidak dipakai untuk menyelesaikan perdebatan tentang kehendak dan kebebasan, dan tidak pula untuk menjawab pertanyaan siapa yang bertanggung jawab atas apa. Allah memakainya untuk mengurus dua guncangan perasaan yang dialami orang setiap minggu. Susunan seperti ini memberi petunjuk tentang untuk apa keterangan semacam itu diberikan: bukan supaya kita punya jawaban, melainkan supaya kita bisa berdiri.
- Dua guncangan disebut sekaligus, dan arahnya berlawanan: sedih atas yang luput, dan terlalu gembira atas yang datang. Kebanyakan nasihat hanya mengurus yang pertama, sebab kesedihan terasa sebagai masalah yang perlu diobati sedangkan kegembiraan terasa sebagai hadiah yang tidak perlu diapa-apakan. Ayat ini memperlakukan keduanya sebagai satu jenis persoalan yang sama, yaitu membiarkan keadaan di luar menentukan keadaan di dalam. Orang yang naik turun mengikuti kabar baik dan kabar buruk sebenarnya sedang menyerahkan kemudinya, dan arah penyerahan itu sama saja apakah ia sedang naik atau sedang turun. Yang dilarang pun bukan gembiranya, melainkan kadarnya. Ukurannya bukan ada atau tidaknya perasaan itu, melainkan seberapa besar ia dibiarkan mengubah cara kita memandang diri sendiri.
- Dua sifat disebut di penutup ayat, dan dua-duanya adalah buah dari gembira yang dibiarkan tumbuh terlalu jauh. Yang pertama menyangkut cara berjalan, dari akar kata yang juga dipakai untuk kuda dengan langkah megah, jadi yang disorot gerak tubuh yang dilihat orang lain. Yang kedua menyangkut apa yang keluar dari mulut. Keduanya hal yang tampak, bukan isi kepala. Susunan itu menghubungkan perasaan sesaat dengan watak yang sudah menetap, dan hubungan tersebut layak dipikirkan pelan. Tidak ada orang yang suatu pagi memutuskan menjadi sombong. Yang ada adalah orang yang berkali-kali membiarkan kegembiraannya menentukan cara ia berdiri dan cara ia berbicara, sampai keduanya tidak lagi terasa sebagai pilihan. Allah memotongnya di titik paling awal, ketika ia masih berupa perasaan yang bisa ditakar. Pertanyaan yang pantas diajukan bukan apakah saya sombong, melainkan kabar baik apa yang terakhir kali mengubah cara saya berbicara kepada orang?