مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan tidak pada diri kalian, melainkan telah dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya; sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِmaa ashaaba min mushiibatin fii l-ardhitidak ada musibah yang menimpa di bumi
  2. وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْwa-laa fii anfusikumdan tidak pada diri kalian
  3. إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَاillaa fii kitaabin min qabli an nabra'ahaamelainkan telah dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya
  4. إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌinna dzaalika 'alaa llaahi yasiirunsesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. أَصَابَashaabamenimpa
  3. مِنْmindari
  4. مُصِيبَةٍmushiibatinmusibah
  5. فِيfiidi
  6. الْأَرْضِl-ardhibumi
  7. وَلَاwa-laadan tidak pula
  8. فِيfiidi
  9. أَنْفُسِكُمْanfusikumdiri kalian sendiri
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. فِيfiipada
  12. كِتَابٍkitaabinkitab
  13. مِنْmindari
  14. قَبْلِqablisebelum
  15. أَنْanbahwa
  16. نَبْرَأَهَاnabra'ahaaKami menciptakannya
  17. إِنَّinnasesungguhnya
  18. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  19. عَلَى'alaaatas
  20. اللَّهِllaahiAllah
  21. يَسِيرٌyasiirunmudah

Inti bacaan

Prinsip ketetapan yang menenangkan: 'tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian, melainkan telah (tertulis) dalam suatu kitab sebelum Kami mewujudkannya', keyakinan bahwa setiap kesulitan sudah berada dalam kerangka yang lebih besar dan bermakna, dasar bagi ketenangan menghadapi musibah tanpa jatuh dalam keputusasaan yang tak berujung.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat pembuka ayat ini punya satu kembaran. Rangkaian (مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ, maa ashaaba min mushiibatin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:22 dan 64:11. Kata untuk musibah dan kata kerja yang mendahuluinya berasal dari akar yang sama, sehingga kalimatnya secara harfiah berbunyi "tidak menimpa sesuatu yang menimpa". Susunan berulang seperti itu di bahasa aslinya berfungsi sebagai penegas cakupan, dan terjemahan kami menyampaikannya dengan "tidak ada musibah yang menimpa", tanpa mencoba menirukan pengulangan akarnya yang di bahasa Indonesia hanya akan terbaca janggal.

Kata kerja yang menyebut penciptaannya, (نَبْرَأَهَا, nabra'ahaa), muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berarti membuat sesuatu menjadi ada dengan terpisah dan jelas bentuknya, berbeda dari kata umum untuk mencipta. Kami terjemahkan "mewujudkannya", bukan "menciptakannya", supaya perbedaan itu tetap terasa: yang dibicarakan bukan penciptaan alam, melainkan pemunculan satu peristiwa tertentu ke dalam kenyataan.

Dua tempat disebut dan hanya dua: di bumi, dan pada diri kalian. Yang pertama menampung segala yang terjadi di luar, mulai dari gagal panen sampai kehilangan harta; yang kedua menampung segala yang terjadi di dalam, mulai dari sakit sampai kematian orang terdekat. Tidak ada jenis musibah yang berada di luar salah satu dari keduanya, dan pembagian dua itu memang disusun supaya tidak menyisakan celah.

Yang disebut sebagai tempat pencatatannya hanya "suatu kitab", tanpa kata sandang dan tanpa nama. Terjemahan kami mempertahankan bentuk itu dan tidak menambahkan nama tertentu di dalam kurung seperti yang lazim dipakai terjemahan lain. Teks aslinya memilih menyebutnya dengan cara yang paling tidak menentukan, dan menamainya akan memberi pembaca gambaran yang tidak dijamin oleh ayatnya sendiri. Tambahan "(tertulis)" juga kami hapus, sebab kata "dalam suatu kitab" sudah lengkap tanpa kata kerja tambahan.

Penutupnya, (عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ, 'alaa llaahi yasiirun), muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:70, 29:19, 35:11, 57:22, dan 64:7. Kata terakhirnya kami terjemahkan "mudah", dan pilihan itu penting justru karena terdengar terlalu ringan untuk perkara sebesar ini. Teks aslinya memang memakai kata yang ringan, dan menggantinya dengan kata yang lebih megah akan membalik maksudnya.

Kata tunjuk pada kalimat penutup adalah kata tunjuk jauh, dan terjemahan "yang demikian itu" memang yang benar untuknya. Kata tunjuk dekat akan menariknya ke arah pembaca, padahal yang ditunjuk justru seluruh susunan yang baru saja disebutkan, dan susunan itu berdiri di kejauhan sebagai satu keseluruhan yang sudah selesai.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa setiap musibah telah tercatat sebelum terjadi, sebagai bagian dari ketetapan Allah yang mudah bagi-Nya. Kalimatnya berbentuk pengecualian: tidak ada satu pun, kecuali yang sudah tercatat. Bentuk itu tidak menyisakan ruang untuk perkecualian yang lolos.

Yang perlu diperhatikan adalah urutan waktunya. Pencatatannya disebut terjadi sebelum perwujudannya, bukan sesudah. Artinya peristiwa yang menimpa seseorang bukan tanggapan yang disusun mendadak atas keadaan, melainkan sesuatu yang sudah berada di dalam susunan sejak sebelum ia muncul. Bagi orang yang sedang ditimpa, perbedaan ini menyangkut satu hal yang sangat menentukan: apakah yang terjadi padanya sebuah kekacauan yang lolos dari pengawasan, atau bagian dari sesuatu yang memang sudah disusun.

Kata kerja untuk memunculkannya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Akarnya berarti membuat sesuatu menjadi ada dengan bentuk yang terpisah dan jelas, bukan mencipta secara umum. Pilihan kata itu menempatkan tiap musibah sebagai sesuatu yang punya bentuknya sendiri, bukan sebagai akibat sampingan dari peristiwa lain yang lebih besar.

Cakupannya dibagi dua dan hanya dua: yang di bumi dan yang pada diri. Pembagian tersebut disusun supaya tidak menyisakan celah, dan bagi pembaca ia berfungsi sebagai daftar yang menutup. Tidak ada jenis kehilangan yang bisa diajukan sebagai pengecualian, termasuk yang paling pribadi dan paling tidak diketahui siapa pun.

Kalimat penutupnya memakai kata yang paling ringan yang tersedia. Mencatat setiap musibah setiap orang sebelum semuanya terjadi disebut mudah. Kata itu bukan hanya menerangkan kemampuan; ia juga menghapus satu gambaran yang mudah menyelinap, yaitu bahwa pengaturan sebesar ini pasti menyita perhatian sehingga urusan kecil terlewat di sela-selanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tak ada musibah melainkan telah dalam suatu kitab sebelum Dia mewujudkannya. Tercatat lebih dahulu. Yang menimpa bukan kejadian yang mendadak bagi Yang mengizinkannya.
  • Dua tempat disebut: di bumi dan pada diri kalian. Yang di luar dan yang di dalam. Tak ada jenis musibah yang berada di luar salah satunya.
  • Penutupnya menyebut hal itu mudah bagi-Nya. Bukan berat. Mencatat setiap musibah setiap orang sebelum terjadi disebut dengan kata yang paling ringan.
  • Urutan waktu di ayat ini yang menentukan seluruh isinya. Pencatatannya disebut terjadi sebelum perwujudannya, bukan sesudah. Bedanya menyangkut satu hal yang sangat menentukan bagi orang yang sedang ditimpa sesuatu: apakah yang menimpanya adalah kekacauan yang lolos dari pengawasan, atau bagian dari susunan yang memang sudah ada sebelum ia muncul. Pertanyaan itu biasanya tidak diucapkan, tetapi ia yang bekerja di bawah hampir semua keluhan. Orang yang merasa hidupnya sedang berantakan sebenarnya sedang menduga bahwa tidak ada yang memegang kendalinya. Allah tidak menjawab dengan menerangkan mengapa peristiwanya terjadi; Ia hanya menyebutkan bahwa peristiwa itu sudah tercatat sebelum ada. Jawaban semacam itu tidak mengurangi sakitnya, tetapi ia mengubah jenis sakitnya.
  • Dua tempat disebut dan hanya dua: di bumi, dan pada diri kalian. Yang pertama menampung segala yang terjadi di luar, mulai dari gagal panen sampai kehilangan harta dan pekerjaan. Yang kedua menampung segala yang terjadi di dalam, mulai dari sakit sampai kematian orang terdekat. Pembagian itu disusun supaya tidak menyisakan celah, dan bagi pembacanya ia bekerja sebagai daftar yang menutup. Tidak ada jenis kehilangan yang bisa diajukan sebagai perkecualian, termasuk yang paling pribadi dan yang tidak diketahui siapa pun. Justru bagian itu yang biasanya terasa paling sendirian. Orang yang kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun mudah menyimpulkan bahwa perkaranya terlalu kecil untuk masuk hitungan mana pun. Ayat ini menyebut kedua wilayah itu dengan bobot yang sama.
  • Kalimat penutupnya memakai kata yang paling ringan yang tersedia: mudah. Mencatat setiap musibah setiap orang, sebelum satu pun terjadi, disebut Allah dengan kata itu. Pilihan tersebut bukan hanya menerangkan kemampuan. Ia menghapus satu gambaran yang mudah menyelinap ke dalam kepala orang yang sedang susah, yaitu bahwa pengaturan sebesar alam semesta pasti menyita perhatian sedemikian rupa sehingga urusan sekecil dirinya terlewat di sela-selanya. Gambaran itu terdengar rendah hati, bahkan sopan, tetapi isinya adalah keraguan. Kata "mudah" menutupnya tanpa membantah apa pun. Kalau seluruhnya memang mudah, maka tidak ada antrean, tidak ada yang terdesak keluar oleh perkara yang lebih besar, dan tidak ada alasan untuk merasa terlalu kecil. Sudah berapa lama saya diam-diam menganggap perkara saya terlalu remeh untuk disebut?