لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Agar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْli-kaylaa ta'saw 'alaa maa faatakumagar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian
- وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْwa-laa tafrahuu bi-maa aataakumdan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian
- وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍwa-llaahu laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurinAllah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri
Terjemahan per kata (15 kata)
- لِكَيْلَاli-kaylaaagar tidak
- تَأْسَوْاta'sawkalian bersedih
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- فَاتَكُمْfaatakumluput dari kalian
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَفْرَحُواtafrahuukalian bergembira
- بِمَاbi-maaterhadap apa yang
- آتَاكُمْaataakummemberi kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- لَاlaatidak
- يُحِبُّyuhibbumencintai
- كُلَّkullasetiap
- مُخْتَالٍmukhtaalinyang sombong
- فَخُورٍfakhuurinyang membanggakan diri
Inti bacaan
Keseimbangan emosional sebagai tujuan: 'agar kalian tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian', panduan psikologis eksplisit untuk menghindari kedua ekstrem (keputusasaan berlebihan dan euforia berlebihan), stabilitas emosional yang berasal dari kesadaran bahwa hidup adalah rangkaian ketetapan yang lebih besar dari kendali pribadi.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini bukan kalimat baru. Ia anak kalimat tujuan yang menyambung langsung ke 57:22, sehingga seluruh keterangan tentang musibah yang sudah tercatat di ayat sebelumnya berfungsi sebagai sebab, dan ayat ini menyebutkan akibat yang diinginkan. Karena itu tambahan "(Yang demikian itu Kami tetapkan)" yang lazim dipasang di depannya kami hapus: frasa itu tidak tertulis di teks Arab, dan memasangnya memutus sambungan yang justru menjadi isi ayatnya.
Rangkaian pembukanya, لِكَيْلَا تَأْسَوْا, muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata kerjanya berarti bersedih atau menyesal atas sesuatu yang sudah lewat, bukan sedih secara umum. Kami terjemahkan "bersedih", dan bukan "berputus asa", sebab yang dibicarakan bukan hilangnya harapan ke depan melainkan menoleh terus ke belakang.
Dua hal yang dilarang berpasangan dan berlawanan arah: bersedih atas yang luput, dan terlalu gembira atas yang diberikan. Kata kerja yang kedua di bahasa aslinya memang membawa kadar yang berlebihan, bukan sekadar gembira, dan terjemahan kami menambahkan "terlalu" untuk membawanya. Tanpa kata itu, kalimatnya akan terbaca sebagai larangan bergembira, dan itu bukan yang tertulis.
Penutupnya, (مُخْتَالٍ فَخُورٍ, mukhtaalin fakhuurin), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 31:18 dan 57:23. Pasangan yang sama hadir juga di 4:36 dengan akhiran i'rab yang berbeda, sehingga jumlahnya bergantung pada apakah yang dihitung bentuknya atau katanya. Kata pertamanya berasal dari akar yang juga dipakai untuk kuda yang berjalan dengan langkah megah, sehingga gambarannya adalah cara berjalan, bukan isi kepala. Kata keduanya menyangkut apa yang diucapkan.
Kata kerja untuk cinta di penutup ayat kami terjemahkan "tidak mencintai", bukan "tidak menyukai". Terjemahan lain kerap melunakkan bentuk negatifnya, dan pelunakan itu kami bongkar: kata yang sama dipakai untuk bentuk positif maupun negatifnya di teks asli, dan menerjemahkannya berbeda hanya karena kalimatnya negatif akan menyembunyikan ketegasan yang memang ada di sana.
Susunan ayat ini menempatkan dua sifat di penutup sebagai lanjutan dari dua larangan di awal. Yang dilarang di awal berupa gerak perasaan yang berlangsung sesaat; yang disebut di penutup berupa watak yang sudah menetap. Sambungan di antara keduanya tidak diterangkan, tetapi letaknya berdampingan sudah menyatakannya.
Satu catatan tentang kata kerja yang dipakai untuk pemberian. Yang tertulis bukan "yang kalian peroleh", melainkan (آتَاكُمْ, aataakum), "yang diberikan-Nya kepada kalian", dengan pelaku yang disebut terang. Perbedaannya menentukan seluruh nada kalimat: apa yang datang bukan hasil yang direbut, melainkan barang yang diserahkan, dan gembira berlebihan atas barang yang diserahkan orang lain memang terdengar lain daripada gembira atas hasil kerja sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan hikmah pencatatan takdir: agar manusia tidak larut dalam kesedihan atau kesombongan berlebihan. Yang menarik, keterangan sebesar ayat sebelumnya ternyata dipakai untuk tujuan yang sangat praktis, yaitu mengatur dua guncangan perasaan sehari-hari.
Dua guncangan itu disebut sekaligus, dan arahnya berlawanan. Yang pertama sedih atas yang luput; yang kedua terlalu gembira atas yang datang. Kebanyakan nasihat hanya mengurus yang pertama, sebab yang pertama terasa sebagai masalah dan yang kedua terasa sebagai hadiah. Ayat ini memperlakukan keduanya sebagai satu jenis persoalan yang sama, yaitu membiarkan keadaan luar menentukan keadaan dalam.
Yang dilarang pada bagian kedua bukan gembira, melainkan kadarnya. Kata kerjanya di bahasa aslinya memang membawa arti berlebihan. Ukurannya bukan ada atau tidaknya perasaan itu, melainkan seberapa besar ia dibiarkan menentukan sikap dan cara memandang diri sendiri.
Penutup ayat memberi tahu mengapa kadar itu penting. Dua sifat disebut di sana, dan dua-duanya adalah buah dari gembira yang dibiarkan tumbuh terlalu jauh: cara berjalan yang berubah, dan kalimat yang berubah. Kata pertamanya berasal dari akar yang juga dipakai untuk kuda dengan langkah megah, jadi yang disorot bukan isi kepala melainkan gerak tubuh yang bisa dilihat orang lain. Kata keduanya menyangkut apa yang keluar dari mulut.
Susunan itu menghubungkan perasaan sesaat dengan watak yang menetap. Tidak ada orang yang memilih menjadi sombong; yang ada adalah orang yang berkali-kali membiarkan kegembiraannya menentukan cara ia berdiri, sampai cara berdiri itu tidak lagi terasa sebagai pilihan. Ayat ini memotongnya di titik paling awal, ketika ia masih berupa perasaan yang bisa ditakar.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tujuannya agar kalian tidak bersedih atas yang luput dan tidak terlalu gembira atas yang diberikan. Dua arah. Yang diurus bukan kesedihannya saja, melainkan juga kegembiraannya.
- Allah tidak melarang gembira, melainkan terlalu gembira. Ukurannya kadar. Yang jadi soal bukan perasaannya, melainkan seberapa besar ia dibiarkan menentukan.
- Allah menutup dengan menyebut Dia tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Kedua sifat itu buah dari terlalu gembira. Ayat ini menghubungkan perasaan sesaat dengan watak yang menetap.
- Ayat sebelumnya berbicara tentang segala musibah yang sudah tercatat sebelum diwujudkan, sebuah keterangan yang cakupannya seluas seluruh sejarah. Ayat ini menyambungnya langsung sebagai anak kalimat tujuan, dan tujuan yang disebutkan ternyata sangat praktis: supaya kalian tidak terlalu sedih dan tidak terlalu gembira. Jarak antara keduanya patut diperhatikan. Keterangan sebesar itu tidak dipakai untuk menyelesaikan perdebatan tentang kehendak dan kebebasan, dan tidak pula untuk menjawab pertanyaan siapa yang bertanggung jawab atas apa. Allah memakainya untuk mengurus dua guncangan perasaan yang dialami orang setiap minggu. Susunan seperti ini memberi petunjuk tentang untuk apa keterangan semacam itu diberikan: bukan supaya kita punya jawaban, melainkan supaya kita bisa berdiri.
- Dua guncangan disebut sekaligus, dan arahnya berlawanan: sedih atas yang luput, dan terlalu gembira atas yang datang. Kebanyakan nasihat hanya mengurus yang pertama, sebab kesedihan terasa sebagai masalah yang perlu diobati sedangkan kegembiraan terasa sebagai hadiah yang tidak perlu diapa-apakan. Ayat ini memperlakukan keduanya sebagai satu jenis persoalan yang sama, yaitu membiarkan keadaan di luar menentukan keadaan di dalam. Orang yang naik turun mengikuti kabar baik dan kabar buruk sebenarnya sedang menyerahkan kemudinya, dan arah penyerahan itu sama saja apakah ia sedang naik atau sedang turun. Yang dilarang pun bukan gembiranya, melainkan kadarnya. Ukurannya bukan ada atau tidaknya perasaan itu, melainkan seberapa besar ia dibiarkan mengubah cara kita memandang diri sendiri.
- Dua sifat disebut di penutup ayat, dan dua-duanya adalah buah dari gembira yang dibiarkan tumbuh terlalu jauh. Yang pertama menyangkut cara berjalan, dari akar kata yang juga dipakai untuk kuda dengan langkah megah, jadi yang disorot gerak tubuh yang dilihat orang lain. Yang kedua menyangkut apa yang keluar dari mulut. Keduanya hal yang tampak, bukan isi kepala. Susunan itu menghubungkan perasaan sesaat dengan watak yang sudah menetap, dan hubungan tersebut layak dipikirkan pelan. Tidak ada orang yang suatu pagi memutuskan menjadi sombong. Yang ada adalah orang yang berkali-kali membiarkan kegembiraannya menentukan cara ia berdiri dan cara ia berbicara, sampai keduanya tidak lagi terasa sebagai pilihan. Allah memotongnya di titik paling awal, ketika ia masih berupa perasaan yang bisa ditakar. Pertanyaan yang pantas diajukan bukan apakah saya sombong, melainkan kabar baik apa yang terakhir kali mengubah cara saya berbicara kepada orang?