الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ ۗ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain kikir. Siapa yang berpaling, sesungguhnya Allah, Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِalladziina yabkhaluuna wa-ya'muruuna n-naasa bi-l-bukhliorang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain kikir
- وَمَنْ يَتَوَلَّwa-man yatawalladan siapa yang berpaling
- فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُfa-inna llaaha huwa l-ghaniyyu l-hamiidumaka, sesungguhnya Allah, Dialah Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji
Terjemahan per kata (12 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- يَبْخَلُونَyabkhaluunamereka kikir
- وَيَأْمُرُونَwa-ya'muruunadan mereka menyuruh
- النَّاسَn-naasamanusia
- بِالْبُخْلِbi-l-bukhlidengan kekikiran
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَتَوَلَّyatawallaberpaling
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- هُوَhuwaDia
- الْغَنِيُّl-ghaniyyuMahakaya
- الْحَمِيدُl-hamiiduMaha Terpuji
Inti bacaan
Kritik terhadap kekikiran sistemik: 'orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain (berbuat) kikir', pengenalan bahwa kekikiran bisa menjadi pola yang disebarluaskan secara aktif, bukan sekadar sikap pasif individu, peringatan untuk tidak menormalisasi atau mempromosikan sikap pelit kepada orang lain.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini bukan kalimat berdiri sendiri. Ia keterangan lanjutan yang menerangkan dua sifat di penutup 57:23, sehingga orang yang dimaksud di sini adalah orang yang sombong lagi membanggakan diri di ayat sebelumnya. Karena itu tambahan "(Mereka itu adalah)" yang lazim dipasang di depannya kami hapus, bersama tambahan "(berbuat)" dan "(dari perintah Allah)", sebab ketiganya tidak tertulis eksplisit di teks Arab dan yang pertama memutus sambungan antar-ayat yang justru menjadi isinya.
Perbuatan yang disebut ada dua tingkat, dan tingkat keduanya memakai kata (بِالْبُخْلِ, bi-l-bukhli), "kepada kekikiran", yang muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:37 dan 57:24. Kedua ayat itu memakai rumusan yang hampir sama: orang yang kikir lalu menyuruh orang lain kikir. Perbedaannya ada di kelanjutannya. Di 4:37 kelanjutannya menyebut mereka juga menyembunyikan karunia yang diberikan kepada mereka; di sini kelanjutannya berpindah kepada Allah, bahwa siapa pun yang berpaling tidak mengurangi apa pun dari-Nya.
Kekikiran yang disuruhkan kepada orang lain disebut terpisah dari kekikiran sendiri. Pemisahan itu bukan pengulangan. Yang pertama sikap yang berhenti pada diri; yang kedua sikap yang disebarkan sehingga menjadi kebiasaan bersama, dan yang kedua tidak bisa dikerjakan tanpa menyusun alasan yang terdengar masuk akal.
Penutupnya, (الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ, al-ghaniyyu l-hamiidu), muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:64, 31:26, 35:15, 57:24, dan 60:6. Bentuk bertakrif sesudah kata ganti "Dia" kami terjemahkan dengan gelar "Sang X", konsisten dengan aturan yang berlaku di seluruh proyek.
Kata kedua di pasangan itu kami terjemahkan "Sang Terpuji". Untuk akar ini proyek memakai pembedaan tetap: bentuk tanpa takrif diterjemahkan "terpuji", bentuk bertakrif diterjemahkan "Sang Terpuji", dan seluruh wilayah kata "terpuji" dicadangkan untuk akar ini saja. Kata "mulia" tidak dipakai di sini sebab ia sudah tercadang untuk dua akar lain.
Susunan penutup ayat ini patut diperhatikan. Yang disebut bukan bahwa Allah tidak membutuhkan pemberian mereka saja, melainkan dua hal sekaligus: tidak memerlukan, dan tetap layak dipuji. Sifat yang kedua menjawab sesuatu yang tidak ditanyakan tetapi mudah muncul, yaitu bahwa pihak yang tidak memerlukan apa-apa biasanya juga tidak punya alasan untuk dipuji.
Kata kerja "berpaling" di tengah ayat berbentuk umum dan tidak menyebut dari apa orangnya berpaling. Terjemahan kami membiarkannya begitu dan tidak menambahkan "(dari perintah Allah)" di dalam kurung. Ketidakjelasan itu bukan kekurangan: kalimatnya berlaku bagi siapa pun yang berpaling dari apa pun yang baru saja dibicarakan, dan menamainya justru mempersempit apa yang sengaja dibiarkan luas.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kekikiran tidak mengurangi kekayaan Allah sedikit pun: Dia berkecukupan mutlak dan pantas dipuji. Sebelum sampai ke sana, ia lebih dahulu menyebut dua tingkat kekikiran yang perlu dibedakan.
Tingkat pertama berhenti pada diri sendiri. Orangnya menahan apa yang ada di tangannya, dan kerugiannya terbatas pada apa yang tidak keluar. Tingkat kedua menyuruh orang lain berbuat sama, dan itu pekerjaan yang berbeda jenisnya. Menyuruh menuntut penyusunan alasan: bahwa memberi itu tidak bijaksana, bahwa yang menerima tidak pantas, bahwa keadaan sedang tidak memungkinkan. Alasan-alasan tersebut lalu beredar, dan di titik itu kekikiran berhenti menjadi sifat pribadi dan menjadi cara berpikir bersama.
Rumusan yang sama dipakai di 4:37, dan perbandingan keduanya menunjukkan sesuatu. Di sana kelanjutannya menyebut bahwa mereka juga menyembunyikan karunia yang diberikan kepada mereka. Di sini kelanjutannya berpindah arah sepenuhnya, dari orangnya kepada Allah.
Perpindahan itu yang paling perlu diperhatikan. Sesudah menyebut perbuatan yang begitu merusak, ayat ini tidak menyebutkan ancaman, melainkan menyebutkan bahwa yang berpaling tidak mengurangi apa pun. Susunan tersebut memindahkan seluruh akibatnya kembali kepada pelakunya. Tidak ada pihak yang dirugikan di seberang sana, dan justru itu yang membuat perbuatannya sia-sia dari awal.
Dua nama yang dipakai di penutup berdiri berpasangan dan tidak bisa dipisahkan. Yang pertama berarti tidak memerlukan apa pun; yang kedua berarti tetap layak dipuji. Menyebut yang pertama saja akan melahirkan gambaran tentang pihak yang berkecukupan tetapi tidak punya alasan untuk disyukuri. Perintah memberi di surah ini, dengan begitu, datang dari pihak yang sama sekali tidak memerlukan pemberian, dan seluruh manfaatnya berbalik kepada yang memberi.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut orang yang kikir dan menyuruh orang lain kikir. Dua tingkat. Yang kedua menyebarkan yang pertama, dan karena itu disebut terpisah.
- Allah menyebut siapa yang berpaling, sesungguhnya Dia Sang Berkecukupan. Yang berpaling tidak mengurangi apa pun. Yang rugi hanya pihak yang berpaling.
- Dua nama yang Allah pakai: Sang Berkecukupan lagi Sang Terpuji. Tidak memerlukan dan tetap layak dipuji. Perintah memberi datang dari Yang sama sekali tidak memerlukan pemberian.
- Kekikiran yang disuruhkan kepada orang lain disebut terpisah dari kekikiran sendiri, dan pemisahan itu bukan pengulangan. Menahan apa yang ada di tangan adalah sikap yang berhenti pada diri; kerugiannya terbatas pada apa yang tidak keluar. Menyuruh orang lain berbuat sama adalah pekerjaan yang berbeda jenisnya, sebab menyuruh menuntut penyusunan alasan. Orangnya harus menerangkan mengapa memberi itu tidak bijaksana, mengapa yang menerima tidak pantas menerima, mengapa keadaan sedang tidak memungkinkan. Alasan-alasan itu lalu beredar, dipinjam orang lain, dan diulang sampai terdengar seperti kearifan. Di titik itu kekikiran berhenti menjadi sifat pribadi dan berubah menjadi cara berpikir bersama, yang bahkan orang murah hati pun mulai merasa perlu membela diri terhadapnya. Rumusan yang sama dipakai di 4:37, jadi pola ini bukan pengamatan sekali lewat.
- Sesudah menyebut perbuatan yang begitu merusak, ayat ini tidak menyusulkan ancaman. Yang disebut justru bahwa siapa pun yang berpaling tidak mengurangi apa pun dari Allah. Susunan itu memindahkan seluruh akibatnya kembali kepada pelakunya sendiri. Kebanyakan pembangkangan manusia diam-diam membayangkan ada pihak di seberang yang dirugikan, dan bayangan tersebut memberi rasa berdaya, bahkan rasa menang. Ayat ini mencabutnya. Tidak ada yang berkurang di sana, tidak ada yang perlu dibela, dan tidak ada yang kehilangan apa pun kecuali orang yang berpaling itu sendiri. Perbuatannya sia-sia sejak awal, bukan karena dilarang, melainkan karena tidak mengenai apa pun. Yang tersisa hanyalah kerugian yang seluruhnya ditanggung sendiri, dan kerugian semacam itu paling sulit disadari sebab tidak ada lawan yang mengeluh.
- Dua nama di penutup ayat berdiri berpasangan dan tidak bisa dipisahkan. Yang pertama berarti tidak memerlukan apa pun; yang kedua berarti tetap layak dipuji. Menyebut yang pertama saja akan melahirkan gambaran tentang pihak yang berkecukupan tetapi jauh, yang tidak memerlukan kita dan karena itu juga tidak punya alasan untuk disyukuri. Gambaran seperti itu sebenarnya melegakan, sebab ia membebaskan orang dari hubungan apa pun. Nama kedua menutupnya. Dan dari sinilah seluruh perintah memberi di surah ini memperoleh bentuknya yang sebenarnya: ia datang dari pihak yang sama sekali tidak memerlukan pemberian, sehingga tidak ada satu pun bagian dari perintah itu yang menguntungkan pihak yang memerintahkan. Seluruh manfaatnya berbalik kepada yang memberi, dan itu jarang terjadi pada perintah mana pun yang kita terima dari sesama manusia. Kalau sebuah perintah sama sekali tidak menguntungkan yang memerintahkan, apa lagi alasan yang tersisa untuk mencurigainya?