وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ ۖ فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan Kitab; maka, di antara mereka ada yang mendapat petunjuk, dan banyak di antara mereka fasik.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَwa-la-qad arsalnaa nuuhan wa-ibraahiimadan sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim
  2. وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَwa-ja'alnaa fii dzurriyyatihimaa n-nubuwwata wa-l-kitaabadan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan Kitab
  3. فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍfa-minhum muhtadinmaka, di antara mereka ada yang mendapat petunjuk
  4. وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَwa-katsiirun minhum faasiquunadan banyak di antara mereka fasik

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  3. نُوحًاnuuhanNuh
  4. وَإِبْرَاهِيمَwa-ibraahiimadan Ibrahim
  5. وَجَعَلْنَاwa-ja'alnaadan Kami menjadikan
  6. فِيfiipada
  7. ذُرِّيَّتِهِمَاdzurriyyatihimaaketurunan keduanya
  8. النُّبُوَّةَn-nubuwwatakenabian
  9. وَالْكِتَابَwa-l-kitaabadan Kitab
  10. فَمِنْهُمْfa-minhummaka di antara mereka
  11. مُهْتَدٍmuhtadinorang yang mendapat petunjuk
  12. وَكَثِيرٌwa-katsiirundan banyak
  13. مِنْهُمْminhumdari mereka
  14. فَاسِقُونَfaasiquunaorang-orang fasik

Inti bacaan

Pola pewarisan kenabian dengan hasil beragam: 'Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan Kitab; maka di antara mereka ada yang mendapat petunjuk, dan banyak di antara mereka yang fasik', pengakuan jujur bahwa warisan spiritual bukan jaminan otomatis, setiap generasi tetap harus membuat pilihan sendiri terlepas dari garis keturunan mulia.

Penjelasan pilihan kata

Dua nama disebut berdampingan di ayat ini, dan pasangan itu tidak muncul di ayat lain mana pun. Rangkaian (نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ, nuuhan wa-ibraahiima) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Keduanya dipilih sebagai dua titik pangkal: yang pertama sesudah kehancuran besar, yang kedua sebagai awal garis keturunan yang panjang.

Yang diwariskan disebut dengan rangkaian (النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ, an-nubuwwata wa-l-kitaaba), "kenabian dan Kitab", yang muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 29:27 dan 57:26. Di 29:27 rangkaian itu dipakai untuk keturunan Ibrahim seorang; di sini ia dipakai untuk keturunan keduanya sekaligus, dengan kata ganti yang menunjuk dua orang.

Bahasa Arab punya bentuk khusus untuk dua, terpisah dari bentuk tunggal dan bentuk jamak, dan kata untuk keturunan di ayat ini memakai bentuk tersebut. Bahasa Indonesia tidak punya padanannya, sehingga terjemahan kami memakai "keturunan keduanya" dengan kata bantu, dan perbedaan itu hanya bisa disebutkan seperti di sini.

Kalimat penutupnya adalah rumusan yang menjadi ciri surah ini. Rangkaian (وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ, wa-katsiirun minhum faasiquuna) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:16, 57:26, dan 57:27. Tiga kemunculan itu seluruhnya berada di dalam surah ini, dan tidak ada satu pun di surah lain. Yang pertama dipakai untuk umat yang menerima Kitab lebih dahulu, yang kedua untuk keturunan dua nabi, dan yang ketiga untuk pengikut Isa. Tiga kelompok yang berbeda, satu kalimat penilaian yang sama.

Kata (مُهْتَدٍ, muhtadin) untuk pihak yang lain kami terjemahkan "yang mendapat petunjuk", dalam bentuk yang menerima, bukan "yang menemukan jalan". Bentuk kata di teks aslinya memang menempatkan orangnya sebagai pihak yang menerima petunjuk itu, bukan sebagai pihak yang mengusahakannya sendiri.

Perbandingan jumlahnya patut dicatat. Untuk pihak yang mendapat petunjuk, ayat ini tidak memakai kata apa pun yang menunjuk banyak; ia hanya berkata "di antara mereka ada". Kata "banyak" dicadangkan untuk pihak yang sebaliknya. Terjemahan kami mempertahankan ketimpangan itu apa adanya dan tidak menyeimbangkannya.

Kata kerja pembukanya, "Kami telah mengutus", memakai kata ganti jamak yang menunjuk keagungan, sama seperti pembuka ayat sebelumnya. Dua ayat berturut-turut dibuka dengan kata kerja dan bentuk yang sama, dan kesejajaran itu menyambungkan keduanya: yang di 57:25 menyebut pengiriman para rasul beserta alatnya, yang di sini menyebut dua nama tertentu beserta apa yang diwariskan kepada keturunannya. Terjemahan kami menjaga kesejajaran tersebut dengan memakai susunan kalimat yang sama untuk keduanya.

Tambahan "(wahyu)" yang lazim dipasang pada kata "Kitab" di ayat ini kami hapus, sebab kata itu berdiri sendiri di teks aslinya dan sudah dipakai berulang kali di dalam surah ini dengan bentuk yang sama, termasuk di ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa kenabian dan kitab diturunkan melalui garis keturunan Nuh dan Ibrahim, meski tidak semua keturunan mereka mendapat petunjuk. Yang membuat ayat ini terasa berat adalah perbandingan di kalimat terakhirnya.

Yang diwariskan disebut dua hal: kenabian dan Kitab. Keduanya jabatan dan barang, bukan keadaan batin. Yang tidak disebut sebagai warisan adalah keimanan itu sendiri. Pembedaan tersebut halus tetapi menentukan: sebuah keluarga bisa mewarisi kedudukan, nama, dan bahkan naskah, tanpa satu pun dari itu menjamin bahwa yang mewarisinya percaya.

Perbandingannya lalu disebut tanpa dilunakkan. Untuk pihak yang mendapat petunjuk, ayat ini hanya berkata "di antara mereka ada". Untuk pihak yang sebaliknya, ia memakai kata "banyak". Ketimpangan itu disengaja, dan yang sedang dibicarakan adalah keturunan dua orang yang paling terhormat. Kalau garis keturunan seperti itu pun menghasilkan perbandingan semacam ini, maka tidak ada garis keturunan mana pun yang bisa dipakai sebagai jaminan.

Kalimat penutup ayat ini adalah rumusan yang dipakai tiga kali di dalam surah ini dan tidak dipakai di surah mana pun yang lain. Yang pertama untuk umat yang menerima Kitab lebih dahulu, yang kedua di sini untuk keturunan dua nabi, dan yang ketiga untuk pengikut Isa. Tiga kelompok yang berbeda zaman dan berbeda keadaan, dinilai dengan satu kalimat yang sama persis.

Pengulangan itu mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dikerjakan oleh satu kalimat sendirian. Ia mengubah penilaian yang tadinya terbaca sebagai keterangan tentang satu kelompok tertentu menjadi pola yang berulang. Dan karena polanya berulang pada setiap kelompok yang disebut, pembaca yang sampai di kalimat ketiga tidak lagi bisa membacanya sebagai keterangan tentang orang lain.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut hasilnya beragam, bukan seragam. Sebagian mendapat petunjuk. Banyak yang tidak.
  • Yang diwariskan kenabian, bukan keimanan. Jabatannya turun. Imannya tidak otomatis.
  • Kata banyak dipakai Allah untuk yang fasik, bukan untuk yang lurus. Perbandingannya jujur. Warisan tidak menjamin apa-apa.
  • Yang disebut diwariskan ada dua: kenabian dan Kitab. Keduanya jabatan dan barang, dan Allah tidak menyebutkan keimanan sebagai bagian dari warisan itu. Pembedaan tersebut halus tetapi menentukan. Sebuah keluarga bisa mewarisi kedudukan, nama besar, kebiasaan ibadah, bahkan naskahnya, tanpa satu pun dari itu menjamin bahwa yang mewarisinya percaya. Barang bisa berpindah tangan; keyakinan tidak bisa. Ini menjelaskan sesuatu yang sering membingungkan orang ketika melihat anak dari rumah yang taat tumbuh jauh, atau sebaliknya. Warisan memberi kemudahan, bukan capaian. Yang diterima seorang anak dari orang tuanya adalah jarak yang lebih pendek ke titik mulai, dan itu saja. Perjalanannya masih harus ia tempuh dengan kakinya masing-masing, dan jarak yang pendek justru sering menyebabkan orang merasa tidak perlu berjalan. Dan Allah menyebut warisan itu dengan dua kata yang dua-duanya bisa dipegang tangan.
  • Perbandingan di kalimat terakhir disebut tanpa dilunakkan. Untuk pihak yang mendapat petunjuk, ayat ini hanya berkata "di antara mereka ada", tanpa kata apa pun yang menunjuk jumlah. Untuk pihak yang sebaliknya, ia memakai kata "banyak". Ketimpangan itu disengaja, dan yang sedang dibicarakan bukan kelompok sembarangan melainkan anak cucu dua orang yang paling terhormat. Kalau asal seperti itu pun menghasilkan perbandingan semacam ini, tidak ada asal-usul mana pun yang bisa dipakai sebagai tumpuan yang aman. Kejujuran angka ini juga mengerjakan sesuatu yang lain. Ia membebaskan orang dari kewajiban ikut jumlah. Siapa pun yang mendapati dirinya berada di pihak yang sedikit tidak perlu menyimpulkan bahwa ia pasti keliru, sebab menurut ayat ini yang sedikit memang selalu yang sedikit, bahkan di rumah para nabi.
  • Kalimat penutup ayat ini dipakai tiga kali di dalam surah ini dan tidak dipakai di surah mana pun yang lain. Yang pertama untuk umat yang menerima Kitab lebih dahulu, yang kedua di sini untuk keturunan dua nabi, dan yang ketiga untuk pengikut Isa. Tiga kelompok yang berbeda zaman dan berbeda keadaan, dinilai dengan satu kalimat yang sama persis. Pengulangan itu mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dikerjakan satu kalimat sendirian. Sekali disebut, ia terbaca sebagai keterangan tentang satu kelompok tertentu, dan pembaca bisa mendengarnya sebagai kabar tentang orang lain. Tiga kali disebut, ia berubah menjadi pola. Dan begitu ia menjadi pola, kelompok yang sedang membacanya tidak punya alasan untuk mengira dirinya berada di luar hitungan. Kelompok manakah yang saya kira dikecualikan dari kalimat ini?