بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadu kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan kalian berdua. Sesungguhnya Allah mendengar lagi melihat.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَاqad sami'a llaahu qawla llatii tujaadiluka fii zawjihaasungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya
  2. وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِwa-tasytakii ilaa llaahidan mengadu kepada Allah
  3. وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَاwa-llaahu yasma'u tahaawurakumaadan Allah mendengar percakapan kalian berdua
  4. إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌinna llaaha samii'un bashiirunsesungguhnya Allah mendengar lagi melihat

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. قَدْqadsungguh
  2. سَمِعَsami'amendengar
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. قَوْلَqawlaperkataan
  5. الَّتِيllatiiyang
  6. تُجَادِلُكَtujaadilukamembantahmu
  7. فِيfiitentang
  8. زَوْجِهَاzawjihaasuaminya
  9. وَتَشْتَكِيwa-tasytakiidan mengadu
  10. إِلَىilaakepada
  11. اللَّهِllaahiAllah
  12. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  13. يَسْمَعُyasma'umendengar
  14. تَحَاوُرَكُمَاtahaawurakumaaperbantahan kalian berdua
  15. إِنَّinnasesungguhnya
  16. اللَّهَllaahaAllah
  17. سَمِيعٌsamii'unmendengar
  18. بَصِيرٌbashiirunmelihat

Inti bacaan

Pengakuan atas keluhan personal: 'Allah telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan kepada Allah', validasi eksplisit bahwa keluhan personal seorang perempuan terhadap masalah rumah tangga didengar dan direspons serius di tingkat wahyu, bukan dianggap terlalu remeh untuk mendapat perhatian.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan nama diri di dalam kurung tidak dipakai: nama tidak disebut eksplisit dalam teks Arab ayat ini, hanya sufiks orang kedua '-ka'. 'Samii'un basiirun' bertanwin tak-takrif tetap huruf kecil, konsisten disiplin larangan superlatif ilahi. Surah Al-Mujadilah tidak dibuka dengan huruf muqatta'aat, melainkan penegasan langsung.

Kata kerja (تُجَادِلُكَ, tujaadiluka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:1. Bentuknya menyatakan kesalingan, dari akar yang berarti berbantah dan bersitegang. Pelakunya perempuan, dan objeknya orang kedua tunggal. Dari akar itulah surah ini mengambil namanya, sehingga nama surahnya diambil dari perbuatan seorang perempuan yang membantah.

Kata kerja (وَتَشْتَكِي, wa-tasytakii) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:1. Akarnya berarti mengeluhkan sesuatu yang menyakitkan, dan bentuk yang dipakai menyatakan perbuatan yang dikerjakan untuk diri sendiri. Dua kata kerja itu berdampingan dengan dua sasaran yang berbeda: yang pertama kepada yang di hadapannya, yang kedua kepada Allah.

Kata (تَحَاوُرَكُمَا, tahaawurakumaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:1. Akarnya berarti berbalas ucapan, dan akhirannya berbentuk ganda, yaitu bentuk khusus untuk dua pihak. Jadi yang disebut didengar bukan keluhannya saja, melainkan percakapan bolak-balik antara keduanya, termasuk jawaban yang diberikan kepadanya.

Perbedaan bentuk waktu di dalam ayat ini juga berbicara. Kata kerja pertama, 'telah mendengar', berbentuk lampau dan didahului huruf penegas. Kata kerja berikutnya, 'mendengar', berbentuk sekarang. Yang pertama menyatakan bahwa pengaduan itu sudah sampai; yang kedua menyatakan bahwa pendengaran itu masih berlangsung.

Penutupnya, (سَمِيعٌ بَصِيرٌ, samii'un bashiirun), muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:61, 22:75, 31:28, dan 58:1. Dua kata itu bertanwin tak bertakrif, sehingga proyek ini menerjemahkannya dengan huruf kecil, 'mendengar lagi melihat', bukan sebagai gelar.

Pemasangan mendengar dengan melihat di penutup punya kerja tersendiri. Seluruh ayat berbicara tentang yang terdengar: ucapan, pengaduan, percakapan. Menambahkan 'melihat' di ujungnya memperluas cakupannya ke apa yang tidak berbunyi, yaitu keadaan yang menyebabkan seseorang datang mengadu.

Perlu dicatat pula bahwa surah ini tidak dibuka dengan huruf terpisah dan tidak pula dengan tasbih seperti beberapa surah tetangganya. Yang dipasang di tempat itu sebuah pernyataan tentang satu peristiwa kecil yang sudah terjadi, dan penegasnya di depan menyatakan kepastian.

Perlu dicatat pula bahwa yang disapa dengan sufiks orang kedua di ayat ini tidak disebut namanya. Teks Arabnya cuma memakai akhiran, dan terjemahan mengikutinya dengan 'kepadamu'. Penambahan nama diri ke dalam kurung memang membantu pembaca yang belum mengenal peristiwanya, tetapi sekaligus mengunci ayat ini pada satu kejadian, padahal susunannya sendiri tidak menguncinya.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan penegasan bahwa Allah mendengar setiap pengaduan, bahkan gugatan pribadi seorang perempuan yang disampaikan langsung kepada-Nya.

Yang dipilih sebagai pembuka surah inilah yang paling patut diperhatikan. Beberapa surah tetangganya dibuka dengan tasbih seluruh langit dan bumi. Surah ini dibuka dengan satu orang yang datang membantah tentang urusan rumah tangganya. Pergantian ukuran itu sangat tajam, dan ia disengaja: yang hendak dinyatakan justru bahwa perkara sekecil itu pun sampai.

Nama surahnya sendiri diambil dari perbuatan orang tersebut. Akar kata untuk membantah yang dipakai di ayat ini menurunkan nama surahnya. Jadi sebuah surah yang isinya memuat aturan hukum, teguran keras kepada penentang, dan janji tentang golongan Allah, dinamai dari perbuatan seorang perempuan yang tidak menerima jawaban yang diberikan kepadanya.

Dua kata kerja di awal ayat berdampingan dengan dua sasaran yang berbeda. Yang pertama ditujukan kepada yang ada di hadapannya, yang kedua kepada Allah. Orang yang belum menemukan jalan pada yang di hadapannya ternyata masih punya satu arah lagi, dan ayat ini merekam keduanya tanpa menyalahkan yang mana pun. Tidak ada celaan atas keberaniannya membantah.

Yang disebut didengar pun bukan keluhannya saja. Kata yang dipakai berarti percakapan bolak-balik, dan akhirannya berbentuk khusus untuk dua pihak. Jadi yang direkam termasuk jawaban yang diberikan kepadanya. Kalimat itu menenangkan sekaligus menuntut: menenangkan bagi yang merasa tidak didengar, menuntut bagi siapa pun yang sedang menjawab keluhan orang lain. Dan penutupnya menambahkan 'melihat' pada 'mendengar', memperluas cakupannya ke apa yang tidak berbunyi, yaitu keadaan yang membuat seseorang sampai perlu datang mengadu.

Renungan dan Hikmah

  • Surah ini dibuka dengan mendengarnya Allah atas ucapan satu orang perempuan. Bukan dengan peristiwa besar. Yang dijadikan pembuka justru perkara rumah tangga yang bagi kebanyakan orang terlalu kecil untuk dicatat. Beberapa surah tetangganya dibuka dengan tasbih seluruh langit dan bumi; pergantian ukuran itu sangat tajam, dan agaknya justru itu yang hendak dinyatakan. Pergantian ukuran sebesar itu agaknya justru bagian dari pesannya. Beberapa surah tetangganya dibuka dengan tasbih seluruh langit dan bumi.
  • Kalimatnya menyebut ia mengajukan gugatan kepadamu dan mengadu kepada Allah. Dua arah sekaligus. Orang yang belum menemukan jalan pada yang di hadapannya tetap punya satu arah lagi, dan ayat ini merekam keduanya tanpa menyalahkan yang mana pun. Tak ada satu kata pun yang mencela keberaniannya membantah, padahal yang dibantahnya bukan orang sembarangan. Tak ada satu kata pun yang mencela keberaniannya, padahal yang dibantahnya bukan orang sembarangan. Dua kata kerjanya berdampingan dengan dua sasaran yang berlainan sama sekali.
  • Yang disebut bukan cuma mendengar keluhannya, melainkan mendengar percakapan mereka berdua, termasuk jawaban yang diberikan kepadanya. Yang direkam bukan sepihak. Itulah yang membuat kalimat penutupnya terasa menenangkan sekaligus menuntut. Menenangkan bagi yang merasa suaranya hilang, menuntut bagi siapa pun yang sedang menjawab aduan orang lain dan mengira jawabannya tak dicatat. Yang mengira jawabannya tak dicatat sedang keliru menghitung siapa yang menyimak.
  • Akar kata untuk membantah di ayat ini menurunkan nama surahnya sendiri. Sebuah surah yang memuat aturan hukum, teguran keras kepada penentang, dan janji tentang golongan Allah, dinamai dari perbuatan satu perempuan yang menolak jawaban yang diberikan kepadanya. Penamaan itu sendiri sudah menjadi keterangan tentang siapa yang dipandang penting di dalamnya. Surah-surah lain kerap dinamai dari peristiwa besar atau kaum tertentu; yang ini dinamai dari kata kerja seorang perempuan tanpa nama, tanpa jabatan, dan tanpa riwayat yang dicatat selain gugatannya sendiri.
  • Kata kerja pertamanya berbentuk lampau dan didahului huruf penegas. Kata kerja berikutnya berbentuk sekarang: mendengar. Yang pertama menyatakan pengaduan itu sudah sampai, yang kedua menyatakan pendengaran itu masih berlangsung. Dua bentuk waktu dalam satu ayat pendek, dan yang kedua itulah yang berlaku bagi siapa pun yang membaca sesudahnya. Bentuk yang kedua itulah yang berlaku bagi siapa pun yang membacanya sesudah peristiwanya lewat. Pengaduan yang disebutkan sudah selesai sebagai kejadian, tapi pendengaran atasnya tidak pernah berhenti menjadi kejadian yang sudah lampau; itu sebabnya ayat ini terasa hadir setiap kali dibaca ulang, bukan sekadar dikisahkan ulang.
  • Seluruh ayat berbicara tentang yang terdengar: ucapan, pengaduan, percakapan. Lalu mengapa penutupnya menambahkan 'melihat'? Karena tak semua yang perlu diketahui berbunyi. Keadaan yang membuat seseorang sampai perlu datang mengadu biasanya tak pernah diucapkan, dan penambahan satu kata di ujung itu memperluas cakupannya ke bagian yang tak bersuara. Tak semua yang perlu diketahui berbunyi, dan satu kata di ujung itu menjangkau bagian yang diam.