الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ ۖ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ

Orang-orang yang menzihar istri-istri mereka di antara kalian, istri-istri mereka bukanlah ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan-perempuan yang melahirkan mereka. Sesungguhnya mereka benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah benar-benar pemaaf lagi pengampun.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْalladziina yuzhaahiruuna minkum min nisaa'ihimorang-orang yang menzihar istri-istri mereka di antara kalian
  2. مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْmaa hunna ummahaatihimistri-istri mereka bukanlah ibu-ibu mereka
  3. إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْin ummahaatuhum illaa llaa'ii waladnahumibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan-perempuan yang melahirkan mereka
  4. وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًاwa-innahum la-yaquuluuna munkaran mina l-qawli wa-zuuransesungguhnya mereka benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta
  5. وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌwa-inna llaaha la-'afuwwun ghafuurundan sesungguhnya Allah benar-benar pemaaf lagi pengampun

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
  2. يُظَاهِرُونَyuzhaahiruunamereka menzihar
  3. مِنْكُمْminkumdari kalian
  4. مِنْmindari
  5. نِسَائِهِمْnisaa'ihimistri-istri mereka
  6. مَاmaatidaklah
  7. هُنَّhunnamereka
  8. أُمَّهَاتِهِمْummahaatihimibu-ibu mereka
  9. إِنْinjika
  10. أُمَّهَاتُهُمْummahaatuhumibu-ibu mereka
  11. إِلَّاillaakecuali
  12. اللَّائِيllaa'iiperempuan-perempuan yang
  13. وَلَدْنَهُمْwaladnahummelahirkan mereka
  14. وَإِنَّهُمْwa-innahumdan sesungguhnya mereka
  15. لَيَقُولُونَla-yaquuluunabenar-benar berkata
  16. مُنْكَرًاmunkaranyang mungkar
  17. مِنَminadari
  18. الْقَوْلِl-qawliperkataan
  19. وَزُورًاwa-zuurandan dusta
  20. وَإِنَّwa-innadan sungguh
  21. اللَّهَllaahaAllah
  22. لَعَفُوٌّla-'afuwwunbenar-benar Maha Pemaaf
  23. غَفُورٌghafuurunpengampun

Inti bacaan

'istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan yang melahirkannya. mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta', penegasan bahwa ucapan simbolis yang menyamakan istri dengan ibu (zihar) adalah pernyataan yang secara faktual keliru dan berdampak nyata, bahasa yang digunakan dalam hubungan rumah tangga memiliki bobot hukum dan moral yang serius.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(menganggapnya sebagai ibu)' tidak dipakai: penjelasan makna 'zihar' sebaiknya di tafsiran, bukan terjemahan. Kata 'itu' setelah 'istri-istri mereka' dihapus: tidak ada demonstratif di teks Arab, hanya negasi 'maa hunna'. 'La'afuwwun ghafuurun' bertanwin tak-takrif tetap huruf kecil.

Kata kerja (يُظَاهِرُونَ, yuzhaahiruuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:2 dan 58:3. Keduanya berada di surah ini, di dua ayat yang berurutan. Akarnya berarti punggung, dan bentuk yang dipakai menyatakan kesalingan. Proyek ini mempertahankan 'menzihar' karena kata itu sudah masuk bahasa Indonesia, dan penjelasannya diletakkan di tafsiran.

Bantahannya tidak berbentuk larangan. Kalimatnya berbunyi 'istri-istri mereka bukanlah ibu-ibu mereka', lalu disusul kalimat kedua: 'ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan-perempuan yang melahirkan mereka'. Kata kerja penutupnya, (وَلَدْنَهُمْ, waladnahum), berbentuk jamak perempuan dengan akhiran orang ketiga jamak laki-laki, sehingga harfiahnya 'mereka yang melahirkan mereka'.

Susunan kalimat keduanya memakai bentuk yang meniadakan seluruhnya lalu mengecualikan satu. Bahasa Arab menyebutnya susunan pembatas, dan gunanya menutup kemungkinan lain sampai habis. Jadi bukan cuma 'ibu adalah yang melahirkan', melainkan 'tidak ada ibu selain yang melahirkan'.

Yang dipakai membantah karena itu bukan aturan melainkan kenyataan. Ucapan dihadapkan pada fakta biologis yang tak bisa diubah oleh kalimat siapa pun. Sebuah pernyataan yang bertentangan dengan kenyataan tidak perlu dilarang lebih dahulu untuk menjadi tidak berlaku; ia gugur karena isinya sendiri.

Ucapan itu lalu diberi dua sebutan sekaligus: (مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ, munkaran mina l-qawli) 'perkataan yang mungkar' dan (وَزُورًا, wa-zuuran) 'dan dusta'. Kata kedua muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 25:4 dan 58:2. Akar kata pertama berarti sesuatu yang tidak dikenali sebagai pantas, dan akar kata kedua berarti menyimpang dari yang benar.

Dua sebutan itu berbeda jenis cacatnya. Yang satu tentang pantas atau tidaknya, yang lain tentang benar atau tidaknya. Sebuah kalimat bisa saja benar tetapi tidak pantas, atau pantas tetapi tidak benar. Yang keliru pada dua sisi sekaligus jarang bisa diperbaiki hanya dengan meminta maaf.

Penutupnya, (لَعَفُوٌّ غَفُورٌ, la-'afuwwun ghafuurun), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 22:60 dan 58:2. Kata pertamanya berasal dari akar yang berarti menghapus jejak, dan kata kedua dari akar yang berarti menutupi. Keduanya datang tanpa syarat yang dijanjikan lebih dahulu di dalam ayat ini.

Susunan seluruh ayat ini juga bergerak dari keras ke lembut. Ia dibuka dengan menyanggah, dilanjutkan dengan menyebut dua cacat sekaligus, lalu ditutup dengan dua sifat yang keduanya tentang menghapus. Perpindahan nada seperti itu jarang terjadi di dalam satu ayat, dan letak tiap bagiannya menentukan bagaimana keseluruhannya diingat.

Tafsiran

Ayat ini menyanggah praktik zihar jahiliah: ucapan yang menyamakan istri dengan ibu kandung, ditegaskan sebagai kebohongan yang tidak mengubah hakikat hubungan pernikahan.

Cara menyanggahnya yang paling patut diperhatikan. Ayat ini tidak membuka dengan larangan. Ia membuka dengan kenyataan: istri bukan ibu, dan ibu tidak lain hanyalah yang melahirkan. Ucapan dihadapkan pada fakta yang tidak bisa diubah oleh kalimat siapa pun. Sebuah pernyataan yang bertentangan dengan kenyataan memang tidak perlu dilarang lebih dahulu untuk menjadi tidak berlaku; ia gugur karena isinya sendiri.

Susunan kalimat keduanya memakai bentuk pembatas, yaitu bentuk yang meniadakan seluruhnya lalu mengecualikan satu. Yang dinyatakan bukan cuma bahwa ibu adalah yang melahirkan, melainkan bahwa tidak ada ibu selain yang melahirkan. Bentuk itu menutup semua kemungkinan lain sampai habis, dan dengan begitu tidak menyisakan celah bagi tafsiran yang hendak mempertahankan ucapan tersebut.

Ucapan itu lalu diberi dua sebutan yang berbeda jenis cacatnya. Yang satu tentang pantas atau tidaknya, yang lain tentang benar atau tidaknya. Sebuah kalimat bisa saja benar tetapi tidak pantas diucapkan, atau pantas tetapi keliru isinya. Yang keliru pada dua sisi sekaligus berada di tempat yang jauh lebih sulit, dan itu menerangkan mengapa ayat berikutnya menuntut penebusan yang berat.

Namun penutupnya tidak melanjutkan ketegasan itu. Sesudah menyebut ucapan seberat itu, yang disebut justru dua sifat yang keduanya tentang menghapus dan menutupi. Keduanya datang tanpa syarat yang dijanjikan lebih dahulu di dalam ayat ini. Apa yang diletakkan di ujung sebuah teguran menentukan bagaimana teguran itu diingat, dan yang diletakkan di sini bukan ancaman.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dipakai Allah membantah bukan larangan, melainkan kenyataan: ibu adalah yang melahirkan. Ucapan dihadapkan pada fakta. Sebuah pernyataan yang bertentangan dengan kenyataan tidak perlu dilarang lebih dahulu untuk menjadi tidak berlaku. Dan susunan kalimatnya memakai bentuk pembatas, yang meniadakan seluruhnya lalu mengecualikan satu, sehingga tak ada celah tersisa bagi tafsiran yang hendak mempertahankan ucapan itu. Sebuah kalimat yang melawan kenyataan gugur karena isinya sendiri, tanpa perlu dilarang. Bentuk pembatasnya menutup semua kemungkinan lain sampai habis tak bersisa.
  • Ucapan itu disebut mungkar sekaligus dusta. Dua cacat yang berbeda jenis: yang satu tentang pantas atau tidaknya, yang satu tentang benar atau tidaknya. Kalimat yang keliru pada dua sisi sekaligus jarang bisa diperbaiki hanya dengan meminta maaf. Sebuah ucapan bisa saja benar tetapi tak pantas, atau pantas tetapi keliru isinya; yang kena keduanya berada di tempat yang jauh lebih sulit. Itu menerangkan mengapa ayat berikutnya menuntut penebusan yang berat.
  • Sesudah menyebut ucapan seberat itu, Allah menutup dengan menyebut diri-Nya pemaaf lagi pengampun. Dua sebutan itu datang tanpa syarat yang dijanjikan lebih dahulu. Yang diletakkan di ujung sebuah teguran menentukan bagaimana teguran itu diingat. Akar kata pertamanya berarti menghapus jejak, dan yang kedua menutupi, jadi dua-duanya tentang sesuatu yang tak lagi terlihat sesudahnya. Dua-duanya tentang sesuatu yang tak lagi terlihat sesudahnya. Keduanya datang tanpa satu syarat pun yang dijanjikan lebih dahulu di dalam ayat itu.
  • Akar kata untuk perbuatan yang disanggah ini berarti punggung. Bahasa Arab menamai sebuah ucapan dari bagian tubuh yang disebut di dalamnya. Penamaan seperti itu menahan perbuatannya tetap terikat pada kalimat yang diucapkan, bukan pada niat yang tersembunyi. Yang ditimbang di sini memang kata-katanya, dan itulah sebabnya bantahannya juga berupa kata-kata. Yang ditimbang memang kata-katanya, dan karena itu bantahannya juga berupa kata-kata.
  • Kata kerja untuk perbuatan ini dipakai 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:2 dan 58:3, dua ayat yang berurutan di surah ini. Yang pertama membantah ucapannya, yang kedua menetapkan penebusannya. Allah tidak memisahkan bantahan dari jalan keluarnya. Bukankah bantahan tanpa jalan keluar cuma meninggalkan orang di tempat yang sama dengan beban yang bertambah? Bantahan tanpa jalan keluar cuma meninggalkan orang di tempat yang sama dengan beban bertambah.
  • Yang dinyatakan bukan cuma bahwa ibu adalah yang melahirkan, melainkan bahwa tak ada ibu selain yang melahirkan. Bentuk pembatas itu menutup semua kemungkinan lain sampai habis. Allah tidak menyerahkan perkara itu pada penilaian siapa pun, dan tidak pula membiarkannya bergantung pada kesepakatan yang bisa berubah. Yang dipakai fakta yang sama sekali di luar jangkauan ucapan manusia. Yang dipakai fakta yang sama sekali di luar jangkauan ucapan manusia mana pun.