وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Orang-orang yang menzihar istri-istri mereka, kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bersentuhan. Itulah yang dengannya kalian dinasihati. Dan Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواwa-lladziina yuzhaahiruuna min nisaa'ihim tsumma ya'uuduuna li-maa qaaluuorang-orang yang menzihar istri-istri mereka kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan
- فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّاfa-tahriiru raqabatin min qabli an yatamaassaamaka, memerdekakan seorang budak sebelum keduanya bersentuhan
- ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِdzaalikum tuu'azhuuna bihiitulah yang dengannya kalian dinasihati
- وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌwa-llaahu bi-maa ta'maluuna khabiirundan Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan
Terjemahan per kata (21 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- يُظَاهِرُونَyuzhaahiruunamereka menzihar
- مِنْmindari
- نِسَائِهِمْnisaa'ihimistri-istri mereka
- ثُمَّtsummakemudian
- يَعُودُونَya'uuduunamereka kembali
- لِمَاli-maabagi apa yang
- قَالُواqaaluumereka berkata
- فَتَحْرِيرُfa-tahriirumaka memerdekakan
- رَقَبَةٍraqabatinbudak
- مِنْmindari
- قَبْلِqablisebelum
- أَنْanbahwa
- يَتَمَاسَّاyatamaassaakeduanya bercampur
- ذَٰلِكُمْdzaalikumdemikian itu
- تُوعَظُونَtuu'azhuunakalian dinasihati
- بِهِbihidengannya
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- بِمَاbi-maapada apa yang
- تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
- خَبِيرٌkhabiirunmengetahui
Inti bacaan
Konsekuensi konkret bagi ucapan yang ditarik kembali: 'wajib memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu berhubungan badan', sistem tanggung jawab yang menuntut tindakan korektif nyata sebelum melanjutkan hubungan, bukan sekadar penyesalan verbal tanpa konsekuensi praktis.
Penjelasan pilihan kata
'Dzaalikum' (jauh) diterjemahkan 'itulah', konsisten disiplin demonstratif jauh, bukan 'demikianlah' yang khusus untuk bentuk berprefiks 'ka-' ('kadzaalika').
Yang dikenai kewajiban bukan setiap orang yang mengucapkannya, melainkan (ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا, tsumma ya'uuduuna limaa qaaluu) 'kemudian menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan'. Huruf (ثُمَّ, tsumma) di depannya menandai urutan yang berjarak, sehingga penarikan itu digambarkan datang belakangan, bukan seketika.
Rangkaian (فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ, fa-tahriiru raqabatin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:92 dan 58:3. Kata pertamanya berasal dari akar yang berarti membebaskan, dan kata kedua harfiahnya berarti leher, dipakai untuk menyebut seorang manusia secara keseluruhan. Terjemahan 'memerdekakan seorang budak' menahan sisi pembebasannya.
Kata kerja (يَتَمَاسَّا, yatamaassaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:3 dan 58:4. Bentuknya menyatakan kesalingan dan berakhiran ganda, yaitu bentuk khusus untuk dua pihak. Jadi yang disebut bukan salah satunya menyentuh yang lain, melainkan keduanya bersentuhan, dan keduanya sama-sama terikat oleh urutan yang ditetapkan.
Frasa (مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا, min qabli an yatamaassaa) 'sebelum keduanya bersentuhan' menetapkan urutan, bukan sekadar besarnya penebusan. Kewajiban itu tidak bisa dicicil sesudahnya. Penebusan diletakkan mendahului pemulihan hubungan, dan letak itulah yang membuatnya terasa.
Kata kerja (تُوعَظُونَ, tuu'azhuuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:3. Bentuknya pasif: 'kalian dinasihati'. Akarnya berarti mengingatkan dengan cara yang melembutkan hati, bukan menghardik. Jadi seluruh kewajiban tadi disebut sebagai nasihat, bukan sebagai hukuman.
Penyebutan itu mengubah cara membacanya. Sebuah beban yang dinamai hukuman menuntut kepatuhan; beban yang dinamai nasihat menuntut pemahaman. Yang pertama selesai begitu dijalankan, yang kedua baru selesai kalau yang menjalankannya mengerti mengapa.
Penutupnya, (وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, wa-llaahu bimaa ta'maluuna khabiirun), memakai kata yang berasal dari akar yang berarti mengetahui sampai ke seluk-beluknya. Letaknya di ujung ayat tentang penebusan berarti sesuatu: yang menghitung bukan orang yang menyaksikan pembebasan itu, melainkan yang mengetahui apakah penarikan ucapan tadi sungguh-sungguh.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut sanksi bagi yang tidak menarik ucapannya. Yang diatur cuma jalan bagi yang hendak kembali. Ketiadaan itu membuat seluruh ayat terbaca sebagai pintu, bukan sebagai jerat: yang disediakan cara pulang, bukan daftar hukuman bagi yang memilih tetap di luar.
Tafsiran
Ayat ini menetapkan konsekuensi hukum bagi yang menzihar lalu menarik ucapannya: pembebasan budak sebagai penebus sebelum hubungan suami istri dilanjutkan.
Yang dikenai kewajiban perlu diperhatikan dengan teliti. Bukan setiap orang yang mengucapkannya, melainkan yang kemudian menarik kembali ucapannya. Huruf di depan kalimat itu menandai urutan yang berjarak, jadi penarikan tersebut digambarkan datang belakangan. Yang hendak memperbaiki justru yang diberi beban, dan itu terasa terbalik sampai disadari bahwa bebannya adalah bagian dari perbaikan itu sendiri.
Penebusan yang ditetapkan bukan denda yang dibayarkan kepada pihak yang dirugikan. Yang diperintahkan membebaskan seorang manusia dari perbudakan. Kesalahan yang terjadi di dalam rumah dijawab dengan kebaikan yang jatuh kepada orang di luar rumah itu, dan orang tersebut sama sekali tidak terlibat dalam perkaranya.
Urutannya pun ditetapkan, bukan cuma besarnya. Penebusan diletakkan mendahului pemulihan hubungan, dan kata kerja untuk bersentuhan itu berbentuk kesalingan dengan akhiran khusus untuk dua pihak. Jadi keduanya sama-sama terikat oleh urutan tersebut. Kewajiban itu tidak bisa dicicil sesudahnya, dan letak itulah yang membuatnya terasa.
Penutup ayatnya menamai seluruh susunan tadi dengan sebutan yang tidak diduga: itulah yang dengannya kalian dinasihati. Bukan dihukum. Akar katanya berarti mengingatkan dengan cara yang melembutkan hati. Sebuah beban yang dinamai hukuman menuntut kepatuhan dan selesai begitu dijalankan; beban yang dinamai nasihat menuntut pemahaman, dan baru selesai kalau yang menjalankannya mengerti mengapa. Dan kalimat terakhirnya menyebut yang mengetahui sampai ke seluk-beluknya, sebab yang menghitung bukan orang yang menyaksikan pembebasan itu.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut memerdekakan budak sebelum keduanya bersentuhan. Urutannya ditentukan. Penebusan diletakkan mendahului pemulihan hubungan. Yang ditetapkan bukan cuma besarnya melainkan letaknya, dan kewajiban itu tak bisa dicicil sesudahnya. Kata kerja untuk bersentuhan pun berbentuk kesalingan dengan akhiran khusus untuk dua pihak, jadi keduanya sama-sama terikat oleh urutan tersebut. Yang ditetapkan bukan cuma besarnya, melainkan letaknya di dalam urutan. Kewajiban itu tak bisa dicicil sesudahnya, dan letaknya yang membuatnya terasa.
- Yang dikenai kewajiban mereka yang menarik kembali ucapannya. Bukan yang mengucapkan saja. Yang hendak memperbaiki justru yang diberi beban, dan itu bagian dari perbaikannya. Huruf di depan kalimatnya menandai urutan yang berjarak, jadi penarikan itu digambarkan datang belakangan, sesudah jeda. Perbaikan yang tak berbiaya apa pun jarang mengubah orang yang menjalankannya. Kewajiban ini justru dijatuhkan tepat pada titik saat niat baik saja sudah cukup untuk dianggap selesai oleh kebanyakan orang, dan di situlah bedanya diletakkan.
- Allah menyebut itulah yang dengannya kalian dinasihati. Bukan dihukum. Kewajiban itu disebut sebagai nasihat, dan itu mengubah cara membacanya. Akar katanya berarti mengingatkan dengan cara yang melembutkan hati, bukan menghardik. Beban yang dinamai hukuman selesai begitu dijalankan; beban yang dinamai nasihat baru selesai kalau yang menjalankannya mengerti mengapa ia menjalankannya. Yang satu selesai begitu dijalankan; yang lain baru selesai kalau dimengerti.
- Yang diperintahkan bukan denda yang dibayarkan kepada pihak yang dirugikan, melainkan membebaskan seorang manusia dari perbudakan. Kesalahan yang terjadi di dalam rumah dijawab dengan kebaikan yang jatuh kepada orang di luar rumah itu, dan orang tersebut sama sekali tak terlibat dalam perkaranya. Ada cara memperbaiki yang justru mengalirkan manfaat ke arah yang tak diduga siapa pun. Ada cara memperbaiki yang mengalirkan manfaat ke arah yang tak diduga siapa pun. Orang yang menerima manfaatnya sama sekali tak terlibat dalam perkara yang menyebabkannya.
- Kata yang dipakai untuk budak harfiahnya berarti leher, dan bahasa Arab memakainya untuk menyebut seorang manusia secara keseluruhan. Bukankah ganjil menyebut manusia lewat satu bagian tubuhnya? Justru bagian itu yang dipilih: leher adalah tempat belenggu dipasang. Menyebutnya berarti menyebut sekaligus apa yang dibebaskan dan dari mana ia dibebaskan. Kata itu juga dipakai untuk menyebut pemimpin atau orang yang paling dipercaya dalam suatu kaum, sehingga pilihan katanya membawa gema penghormatan pada sosok yang justru sedang dibebaskan dari perbudakan.
- Penutupnya menyebut Allah mengetahui sampai ke seluk-beluknya apa yang dikerjakan. Letaknya di ujung ayat tentang penebusan berarti sesuatu. Yang menghitung bukan orang yang menyaksikan pembebasan itu berlangsung, melainkan yang mengetahui apakah penarikan ucapan tadi sungguh-sungguh. Perbuatan lahiriah bisa disaksikan siapa saja; niat yang mendahuluinya tidak, dan justru itu yang ditimbang. Perbuatan lahiriah bisa disaksikan siapa saja; niat yang mendahuluinya tidak.