فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۖ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ۚ ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka, siapa yang tidak mendapatkan, maka berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan; maka, siapa yang tidak sanggup, maka memberi makan enam puluh orang miskin. Itu agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; dan itulah batas-batas Allah; dan bagi orang-orang kafir azab yang pedih.

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. فَمَنْ لَمْ يَجِدْfa-man lam yajidmaka, siapa yang tidak mendapatkan
  2. فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّاfa-shiyaamu syahrayni mutataabi'ayni min qabli an yatamaassaamaka, berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bersentuhan
  3. فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًاfa-man lam yastathi' fa-ith'aamu sittiina miskiinanmaka, siapa yang tidak sanggup, maka memberi makan enam puluh orang miskin
  4. ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِdzaalika li-tu'minuu bi-llaahi wa-rasuulihiitu agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
  5. وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِwa-tilka huduudu llaahidan itulah batas-batas Allah
  6. وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌwa-li-l-kaafiriina 'adzaabun aliimundan bagi orang-orang kafir azab yang pedih

Terjemahan per kata (26 kata)

  1. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  2. لَمْlamtidak
  3. يَجِدْyajidmendapati
  4. فَصِيَامُfa-shiyaamumaka berpuasa
  5. شَهْرَيْنِsyahraynidua bulan
  6. مُتَتَابِعَيْنِmutataabi'ayniberturut-turut
  7. مِنْmindari
  8. قَبْلِqablisebelum
  9. أَنْanbahwa
  10. يَتَمَاسَّاyatamaassaakeduanya bercampur
  11. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  12. لَمْlamtidak
  13. يَسْتَطِعْyastathi'mampu
  14. فَإِطْعَامُfa-ith'aamumaka memberi makan
  15. سِتِّينَsittiinaenam puluh
  16. مِسْكِينًاmiskiinanorang miskin
  17. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  18. لِتُؤْمِنُواli-tu'minuuagar kalian beriman
  19. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  20. وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
  21. وَتِلْكَwa-tilkadan itulah
  22. حُدُودُhuduuduhukum-hukum
  23. اللَّهِllaahiAllah
  24. وَلِلْكَافِرِينَwa-li-l-kaafiriinadan bagi orang-orang yang kufur
  25. عَذَابٌ'adzaabunazab
  26. أَلِيمٌaliimunyang pedih

Inti bacaan

Sistem alternatif bertingkat berdasarkan kemampuan: 'siapa yang tidak mendapatkan. berpuasa dua bulan berturut-turut. siapa yang tidak sanggup. memberi makan enam puluh orang miskin', struktur hukum yang mengakomodasi keterbatasan finansial dan fisik yang berbeda-beda, keadilan yang mempertimbangkan kapasitas individu bukan standar tunggal yang kaku.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(hamba sahaya)' dan '(wajib)' (dua kali) tidak dipakai: tidak tertulis eksplisit di teks Arab; susunan nominal Arab tidak memerlukan kata 'wajib' terpisah. 'Dzaalika' (jauh) benar diterjemahkan 'itu'. 'Tilka' (jauh, feminin) benar diterjemahkan 'itulah'.

Susunan ayat ini bertingkat dengan dua kali pengandaian yang sama bentuknya: (فَمَنْ لَمْ يَجِدْ, fa-man lam yajid) 'siapa yang tidak mendapatkan' lalu (فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ, fa-man lam yastathi') 'siapa yang tidak sanggup'. Dua kata kerja yang disangkal itu berbeda: yang pertama tentang menemukan sesuatu di luar diri, yang kedua tentang kesanggupan di dalam diri.

Pembedaan itu tidak kecil. Orang bisa saja punya harta tetapi tidak menemukan yang hendak dibebaskan; orang lain bisa saja menemukan cara berpuasa tetapi tubuhnya tidak sanggup. Dua alasan yang berbeda jenis diberi jalan keluar yang berbeda pula, dan urutannya menurun dari yang paling berat.

Rangkaian (شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ, syahrayni mutataabi'ayni) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 4:92 dan 58:4. Ayat 4:92 juga memuat rangkaian tentang memerdekakan yang dipakai di 58:3, sehingga dua ayat berurutan di surah ini bersandar pada satu ayat yang sama di tempat lain.

Kata (مُتَتَابِعَيْنِ, mutataabi'ayni) berasal dari akar yang berarti mengikuti, dan bentuknya menyatakan sesuatu yang saling menyusul tanpa jeda. Terjemahan 'berturut-turut' menahan makna itu. Yang ditetapkan bukan cuma jumlah harinya melainkan juga ketiadaan putus di antaranya.

Rangkaian (سِتِّينَ مِسْكِينًا, sittiina miskiinan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:4. Jumlahnya disebut dengan angka yang pasti, berbeda dari dua tingkat sebelumnya yang tidak menyebut takaran. Tingkat terakhir inilah satu-satunya yang bisa dihitung orang lain dari luar.

Tujuan seluruh susunan itu disebut di kalimat berikutnya: (ذَٰلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ, dzaalika li-tu'minuu bi-llaahi wa-rasuulihi) 'itu agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya'. Bukan agar hukumnya terpenuhi, dan bukan pula agar kesalahannya terhapus. Aturan yang serinci itu ternyata punya sasaran di tempat yang tidak bisa diukur siapa pun.

Rangkaian (حُدُودُ اللَّهِ, huduudu llaahi) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:187, 2:229, 2:230, 4:13, 58:4, dan 65:1. Kata pertamanya berarti batas atau tepi, bukan aturan secara umum. Yang digambarkan garis yang memisahkan, dan yang berada di dalamnya luas sekali.

Susunan tiga tingkat ini juga menyisakan satu hal yang tidak disebut: apa yang terjadi kalau ketiganya tak sanggup dijalankan. Ayat ini berhenti pada tingkat ketiga tanpa menutup dengan ancaman bagi yang gagal seluruhnya. Yang disebut sesudahnya justru tujuan dan batas, bukan sanksi, dan susunan itu menjaga seluruh aturannya tetap terbaca sebagai jalan.

Tafsiran

Ayat ini merinci tingkatan alternatif penebus zihar: puasa jika tidak mampu memerdekakan budak, atau memberi makan jika tidak mampu berpuasa.

Dua pengandaian yang menyusun ayat ini memakai kata kerja yang berbeda, dan perbedaan itu terjaga di dalam terjemahan. Yang pertama tentang tidak menemukan sesuatu di luar diri, yang kedua tentang tidak sanggup dari dalam diri. Orang bisa saja punya harta tetapi tidak menemukan yang hendak dibebaskan; orang lain bisa saja punya niat tetapi tubuhnya tidak menanggung. Dua alasan yang berlainan jenis diberi jalan keluar yang berlainan pula.

Susunannya menurun dari yang paling berat, dan setiap tingkat selalu menyediakan tingkat berikutnya. Aturan yang punya tingkat-tingkat seperti ini tidak dirancang untuk menjebak siapa pun. Yang dituju bukan menemukan orang yang gagal memenuhinya, melainkan memastikan tidak ada yang tertinggal tanpa jalan.

Tingkat terakhirnya mengalihkan arah seluruh kewajiban. Yang tidak sanggup atas dirinya sendiri diarahkan kepada orang lain: memberi makan enam puluh orang miskin. Kewajiban yang tidak terpikul sendirian berubah menjadi manfaat bagi yang membutuhkan, dan hanya tingkat inilah yang jumlahnya disebut dengan angka pasti, sehingga bisa dihitung dari luar.

Kalimat berikutnya menyebutkan tujuan yang tidak terduga dari susunan serinci itu: agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan agar hukumnya terpenuhi, dan bukan pula agar kesalahannya terhapus. Aturan yang menyebut jumlah bulan dan jumlah orang ternyata punya sasaran di tempat yang tidak bisa diukur siapa pun. Dan penutupnya menyebut batas-batas Allah, dengan kata yang berarti tepi, bukan aturan secara umum: yang digambarkan garis yang memisahkan, dan ruang di dalamnya luas sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyusun kewajiban itu bertingkat: kalau tidak mendapatkan, maka berpuasa; kalau tidak sanggup, maka memberi makan. Selalu ada jalan berikutnya. Aturan yang punya tingkat-tingkat begini tidak dirancang untuk menjebak siapa pun. Yang dituju bukan menemukan orang yang gagal memenuhinya, melainkan memastikan tak ada yang tertinggal tanpa jalan, sebanyak apa pun keterbatasan yang dibawanya. Yang dituju bukan menemukan siapa yang gagal, melainkan memastikan tak ada yang tertinggal. Selalu ada tingkat berikutnya, sebanyak apa pun keterbatasan yang dibawa seseorang.
  • Tingkat terakhir memberi makan enam puluh orang miskin. Yang tak sanggup atas dirinya diarahkan kepada orang lain. Kewajiban yang tak terpikul sendirian dialihkan menjadi manfaat bagi yang membutuhkan. Dan hanya tingkat inilah yang jumlahnya disebut dengan angka pasti, berbeda dari dua tingkat sebelumnya, sehingga ia satu-satunya yang bisa dihitung orang lain dari luar. Hanya tingkat terakhir yang jumlahnya bisa dihitung orang lain dari luar.
  • Allah menyebut tujuan seluruh susunan itu agar kalian beriman kepada-Nya dan Rasul-Nya. Bukan agar hukumnya terpenuhi. Aturan yang serinci itu ternyata punya sasaran di tempat yang tidak bisa diukur siapa pun. Yang menyebut jumlah bulan dan jumlah orang berakhir pada sesuatu yang tak berjumlah, dan pernyataan itu menahan seluruh aturannya dari berubah menjadi daftar centangan. Pernyataan itu menahan seluruh aturannya dari berubah menjadi daftar centangan. Yang menyebut jumlah bulan dan jumlah orang berakhir pada sesuatu yang tak berjumlah.
  • Dua pengandaiannya memakai kata kerja yang berbeda: yang pertama tentang tak menemukan sesuatu di luar diri, yang kedua tentang tak sanggup dari dalam diri. Orang bisa punya harta tetapi tak menemukan yang hendak dibebaskan; orang lain bisa punya niat tetapi tubuhnya tak menanggung. Dua alasan berlainan jenis diberi jalan keluar berlainan pula, dan pembedaan itu terjaga di dalam terjemahan. Pembedaan sehalus itu tetap dijaga di dalam terjemahan, bukan diratakan jadi satu kata.
  • Kata untuk berturut-turut berasal dari akar yang berarti mengikuti, dan bentuknya menyatakan sesuatu yang saling menyusul tanpa jeda. Yang ditetapkan bukan cuma jumlah harinya, melainkan juga ketiadaan putus di antaranya. Bukankah dua bulan yang dicicil sama jumlahnya dengan dua bulan yang bersambung? Sama jumlahnya, tetapi tidak sama bebannya, dan yang diminta memang bebannya.
  • Kata untuk batas-batas Allah berarti tepi, bukan aturan secara umum. Yang digambarkan garis yang memisahkan, dan ruang di dalamnya luas sekali. Menyebut sebuah aturan sebagai tepi berarti menyatakan bahwa sebagian besar wilayahnya justru terbuka. Yang ditandai cuma di mana wilayah itu berakhir, dan menandai ujung bukan hal yang sama dengan memagari seluruhnya. Menandai ujung bukan hal yang sama dengan memagari seluruh wilayahnya.