يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۚ أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Pada hari Allah membangkitkan mereka semua, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan; Allah menghitungnya, sedang mereka melupakannya; dan Allah atas segala sesuatu menjadi saksi.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًاyawma yab'atsuhumu llaahu jamii'anpada hari Allah membangkitkan mereka semua
  2. فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُواfa-yunabbi'uhum bi-maa 'amiluulalu, Dia memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan
  3. أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُahshaahu llaahu wa-nasuuhuAllah menghitungnya, sedang mereka melupakannya
  4. وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌwa-llaahu 'alaa kulli syay'in syahiidundan Allah atas segala sesuatu menjadi saksi

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. يَبْعَثُهُمُyab'atsuhumumembangkitkan mereka
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. جَمِيعًاjamii'ansemuanya
  5. فَيُنَبِّئُهُمْfa-yunabbi'uhummaka Dia memberitakan kepada mereka
  6. بِمَاbi-maaapa yang
  7. عَمِلُوا'amiluumereka beramal
  8. أَحْصَاهُahshaahumenghitungnya
  9. اللَّهُllaahuAllah
  10. وَنَسُوهُwa-nasuuhudan mereka melupakannya
  11. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  12. عَلَىٰ'alaaatas
  13. كُلِّkullisegala
  14. شَيْءٍsyay'insesuatu
  15. شَهِيدٌsyahiidunmenyaksikan

Inti bacaan

Kontras memori antara pencatat dan pelaku: 'Allah menghitungnya, sedang mereka melupakannya', pengingat tajam bahwa lupa terhadap tindakan sendiri tidak menghapus pencatatannya, dorongan untuk hidup dengan kesadaran bahwa setiap tindakan tetap terekam meski ingatan pribadi memudar.

Penjelasan pilihan kata

Dua kata kerja dengan objek yang sama, (أَحْصَاهُ, ahshaahu) dan (وَنَسُوهُ, wa-nasuuhu), dipasang berdampingan tanpa kata penghubung yang menyatakan pertentangan. Yang satu menghitung, yang lain melupakan, dan yang dihitung serta yang dilupakan itu satu barang yang sama.

Kata kerja (أَحْصَاهُ, ahshaahu) berasal dari akar yang berarti menghitung dengan kerikil, cara orang dahulu mencatat jumlah. Maknanya menghitung sampai tuntas tanpa ada yang terlewat. Terjemahan 'menghitungnya' menahan sisi ketuntasannya, bukan sekadar mengetahui.

Kata kerja (وَنَسُوهُ, wa-nasuuhu) memakai akar yang sama dengan kata untuk melupakan di 59:19, yang di sana dipakai untuk orang yang melupakan Allah lalu dibuat lupa kepada dirinya sendiri. Di sini yang dilupakan perbuatan mereka sendiri, dan lupanya tidak disebut sebagai hukuman melainkan sekadar keadaan.

Yang lupa perlu diperhatikan: pelakunya sendiri, bukan saksi. Orang biasanya berharap saksi yang lupa, sebab kesaksian yang hilang meringankan. Di sini yang hilang justru ingatan pelakunya, dan itu tidak meringankan apa pun, sebab catatannya berada di tangan yang lain.

Kalimat pembukanya dibuka dengan (يَوْمَ, yawma), keterangan waktu yang berdiri tanpa kata penghubung ke ayat sebelumnya. Susunan itu menyambungkannya ke azab yang disebut di ujung 58:5: hari yang dimaksud adalah hari ketika azab itu tiba, dan seluruh isi ayat ini menerangkan apa yang terjadi pada hari tersebut.

Kata kerja (فَيُنَبِّئُهُمْ, fa-yunabbi'uhum) berarti memberitakan kabar yang penting dan belum diketahui penerimanya. Pilihan kata itu masuk akal justru karena mereka lupa: yang diberitakan kepada mereka adalah perbuatan mereka sendiri, dan bagi yang sudah lupa, perbuatannya sendiri memang menjadi kabar baru.

Penutupnya, (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ, 'alaa kulli syay'in syahiidun), muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:117, 22:17, 34:47, 41:53, 58:6, dan 85:9. Kata terakhirnya berarti saksi, yaitu yang hadir dan menyaksikan, bukan yang mendengar laporan.

Pemilihan 'saksi' di penutup ayat tentang catatan berarti sesuatu. Catatan yang disusun dari laporan bisa keliru; catatan yang disusun oleh yang hadir sendiri tidak punya perantara yang bisa salah dengar.

Susunan kalimatnya juga menaruh pelaku dengan cermat. Yang membangkitkan disebut namanya, yang memberitakan disebut dengan kata ganti yang menunjuk kepada-Nya, dan yang menghitung disebut namanya lagi. Tiga kali pelakunya ditegaskan di dalam satu ayat pendek, dan di antaranya diselipkan satu kata kerja yang pelakunya manusia: melupakan.

Perbandingan itu jadi terasa dari susunannya sendiri. Di seluruh ayat, satu-satunya perbuatan yang dikerjakan manusia adalah lupa. Segala sisanya dikerjakan pihak lain, dan pihak itu disebut namanya berulang kali supaya tak ada keraguan tentang siapa yang memegang catatannya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa amal manusia dicatat lengkap oleh Allah meski mereka sendiri melupakannya.

Dua kata kerja di tengah ayat ini dipasang berdampingan tanpa kata penghubung yang menyatakan pertentangan. Yang satu menghitung, yang lain melupakan, dan yang dihitung serta yang dilupakan itu satu barang yang sama. Susunan sependek itu menaruh dua ingatan yang berlawanan dalam satu tarikan, dan pembacanya sendiri yang menyusun ketimpangannya.

Yang lupa pun bukan saksi, melainkan pelakunya. Orang biasanya berharap saksi yang lupa, sebab kesaksian yang hilang meringankan. Di sini yang hilang justru ingatan pelakunya sendiri, dan itu tidak meringankan apa pun. Catatannya berada di tangan yang lain, dan lupa tidak pernah menghapus apa pun dari tangan itu.

Kata kerja untuk menghitung berasal dari akar yang berarti menghitung dengan kerikil, cara orang dahulu mencatat jumlah supaya tidak ada yang terlewat. Maknanya ketuntasan, bukan sekadar pengetahuan. Dan kata kerja untuk memberitakan berarti menyampaikan kabar yang belum diketahui penerimanya. Pilihan itu masuk akal justru karena mereka lupa: bagi yang sudah lupa, perbuatannya sendiri memang menjadi kabar baru.

Penutupnya memakai kata 'saksi', bukan kata untuk mengetahui. Perbedaannya menentukan. Catatan yang disusun dari laporan bisa keliru karena perantaranya bisa salah dengar; catatan yang disusun oleh yang hadir sendiri tidak punya perantara sama sekali. Dan seluruh ayat ini menerangkan satu hari yang disebut di kata pertamanya, hari yang menyambung langsung ke azab yang disebut di ujung ayat sebelumnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyandingkan dua ingatan yang berlawanan. Ia menghitung. Mereka lupa. Dua kata kerja itu dipasang berdampingan tanpa satu kata penghubung pun yang menyatakan pertentangan, dan yang dihitung serta yang dilupakan itu satu barang yang sama. Susunan sependek itu menaruh dua ingatan dalam satu tarikan, dan pembacanya sendiri yang menyusun betapa timpangnya. Pembacanya sendiri yang menyusun betapa timpangnya dua ingatan itu. Dua kata kerja itu dipasang tanpa satu penghubung pun yang menyatakan pertentangan.
  • Yang lupa pelakunya sendiri. Bukan saksi. Yang mengerjakan. Orang biasanya berharap saksi yang lupa, sebab kesaksian yang hilang meringankan perkaranya. Di sini yang hilang justru ingatan pelakunya, dan itu tak meringankan apa pun. Catatannya berada di tangan yang lain, dan lupa tak pernah menghapus apa pun dari tangan tersebut. Lupa tak pernah menghapus apa pun dari tangan yang memegang catatannya. Orang biasanya berharap saksi yang lupa, sebab kesaksian yang hilang meringankan.
  • Lupa disebut Allah tidak menghapus. Bukan hilang. Cuma tidak diingat. Kata kerja untuk menghitung pun berakar pada menghitung dengan kerikil, cara orang dahulu mencatat jumlah supaya tak ada yang terlewat. Yang dinyatakan ketuntasan, bukan sekadar pengetahuan, dan ketuntasan itu berdiri di seberang ingatan manusia yang memudar. Ketuntasan itu berdiri di seberang ingatan manusia yang selalu memudar.
  • Kata kerja untuk memberitakan di ayat ini berarti menyampaikan kabar penting yang belum diketahui penerimanya. Pilihan itu masuk akal justru karena mereka lupa. Bagi yang sudah lupa, perbuatannya sendiri memang menjadi kabar baru. Bukankah itu gambaran yang ganjil sekaligus wajar? seseorang diberi tahu tentang apa yang dulu ia kerjakan sendiri, dan ia mendengarnya seperti mendengar berita orang lain. Seseorang diberi tahu tentang apa yang dulu ia kerjakan sendiri, dan mendengarnya seperti berita orang lain.
  • Penutupnya memakai kata saksi, bukan kata untuk mengetahui. Perbedaannya menentukan. Catatan yang disusun dari laporan bisa keliru karena perantaranya bisa salah dengar; catatan yang disusun oleh yang hadir sendiri tak punya perantara sama sekali. Allah menutup ayat tentang catatan dengan menyebut kehadiran, bukan pengetahuan, dan itu menutup satu-satunya celah yang tersisa. Menyebut kehadiran, bukan pengetahuan, menutup satu-satunya celah yang tersisa.
  • Kata pertama ayat ini keterangan waktu yang berdiri tanpa kata penghubung ke ayat sebelumnya. Susunan itu menyambungkannya ke azab yang disebut di ujung ayat sebelumnya: hari yang dimaksud hari ketika azab itu tiba. Seluruh isi ayat ini karena itu menerangkan apa yang terjadi pada satu hari tersebut, dan sambungannya dikerjakan tanpa satu kata pun yang menjelaskannya. Sambungannya dikerjakan tanpa satu kata pun yang menjelaskannya kepada pembaca.