يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berbisik-bisik, maka janganlah berbisik untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul; dan berbisiklah untuk kebajikan dan takwa; dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kalian dikumpulkan.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْyaa ayyuhaa lladziina aamanuu idzaa tanaajaytumwahai orang-orang yang beriman, apabila kalian berbisik-bisik
  2. فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِfa-laa tatanaajaw bi-l-itsmi wa-l-'udwaani wa-ma'shiyati r-rasuulimaka, janganlah berbisik untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul
  3. وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰwa-tanaajaw bi-l-birri wa-t-taqwaadan berbisiklah untuk kebajikan dan takwa
  4. وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَwa-ttaquu llaaha lladzii ilayhi tuhsyaruunadan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kalian dikumpulkan

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. إِذَاidzaaapabila
  6. تَنَاجَيْتُمْtanaajaytumkalian berbisik
  7. فَلَاfa-laamaka janganlah
  8. تَتَنَاجَوْاtatanaajawkalian berbisik
  9. بِالْإِثْمِbi-l-itsmidengan dosa
  10. وَالْعُدْوَانِwa-l-'udwaanidan permusuhan
  11. وَمَعْصِيَتِwa-ma'shiyatidan mendurhakai
  12. الرَّسُولِr-rasuuliRasul
  13. وَتَنَاجَوْاwa-tanaajawdan berbisiklah kalian
  14. بِالْبِرِّbi-l-birridengan kebajikan
  15. وَالتَّقْوَىٰwa-t-taqwaadan takwa
  16. وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
  17. اللَّهَllaahaAllah
  18. الَّذِيlladziiyang
  19. إِلَيْهِilayhikepada-Nya
  20. تُحْشَرُونَtuhsyaruunakalian dikumpulkan

Inti bacaan

Arahan konstruktif untuk komunikasi privat: 'apabila kalian berbisik-bisik, maka janganlah berbisik untuk berbuat dosa. dan berbisiklah untuk kebajikan dan takwa', pengakuan bahwa percakapan tertutup itu sendiri netral, nilai moralnya ditentukan oleh isi dan tujuannya, dorongan mengarahkan bahkan komunikasi privat menuju hal-hal konstruktif.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (تَنَاجَيْتُمْ, tanaajaytum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:9. Bentuknya menyatakan kesalingan, dari akar yang sama dengan kata untuk pembicaraan rahasia di 58:7 dan 58:8. Surah ini memakai akar tersebut berkali-kali dalam empat ayat berurutan, dengan bentuk yang berganti-ganti.

Yang paling menentukan di ayat ini adalah apa yang tidak dilarang. Kalimatnya tidak berbunyi 'janganlah kalian berbisik-bisik'. Ia dibuka dengan pengandaian: 'apabila kalian berbisik-bisik', lalu barulah datang larangan atas isinya. Jadi perbuatan berbisiknya sendiri dibiarkan berdiri, dan yang ditimbang muatannya.

Daftar yang dilarang persis sama dengan daftar yang disebut di 58:8: (بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ, bi-l-itsmi wa-l-'udwaani wa-ma'shiyati r-rasuuli) 'untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul'. Tiga hal yang sama, dengan susunan yang sama, dipakai dua kali dalam dua ayat berdekatan.

Pengulangan itu punya kerja tersendiri. Di 58:8 daftar tersebut menggambarkan apa yang dikerjakan pihak lain; di sini ia menjadi larangan bagi yang disapa. Yang tadi laporan berubah menjadi peringatan, dan yang membuatnya berubah cuma siapa yang disapa.

Rangkaian (بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ, bi-l-birri wa-t-taqwaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:9. Kata pertamanya seakar dengan kata untuk berbuat baik yang dipakai di 60:8, dan kata kedua berasal dari akar yang berarti menjaga diri. Dua-duanya ditawarkan sebagai ganti, bukan sekadar sebagai anjuran terpisah.

Yang penting, gantinya disebut di dalam kalimat yang sama dengan larangannya. Kata kerja yang dipakai untuk keduanya pun sama persis, cuma yang satu disangkal dan yang lain diperintahkan. Larangan yang menyediakan gantinya sendiri jauh lebih mudah dijalankan daripada larangan yang meninggalkan ruang kosong.

Penutupnya, (وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ, wa-ttaquu llaaha lladzii ilayhi tuhsyaruuna), memakai kata kerja yang berarti dikumpulkan dari segala arah menjadi satu. Letaknya di ujung ayat tentang bisikan berarti sesuatu: yang dikerjakan berdua-dua di tempat sepi berakhir di tempat yang seluruhnya berkumpul.

Dua kata dari akar takwa muncul di dalam ayat ini, sekali sebagai isi bisikan yang dianjurkan dan sekali sebagai perintah di penutup. Yang dianjurkan dibisikkan ternyata sama dengan yang diperintahkan dijalankan.

Satu hal lagi yang mudah terlewat: sapaan di ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, sedangkan tiga ayat sebelumnya berbicara tentang pihak lain. Pergantian sasaran itu terjadi tanpa kata pengantar. Yang tadi dilaporkan tentang orang lain langsung menjadi peringatan bagi yang disapa, dan susunan seperti itu menutup kemungkinan membaca ayat-ayat sebelumnya sebagai berita tentang pihak seberang saja.

Ada pula perbedaan bentuk yang berarti. Larangan di ayat ini memakai bentuk larangan langsung, sedangkan gambaran di 58:8 memakai bentuk cerita. Yang satu menuntut, yang lain memberitakan, dan keduanya memuat daftar yang persis sama.

Tafsiran

Ayat ini mengarahkan bisikan orang beriman agar digunakan untuk kebajikan, bukan konspirasi jahat.

Yang paling menentukan justru apa yang tidak dilarang. Kalimatnya tidak berbunyi 'janganlah kalian berbisik-bisik'. Ia dibuka dengan pengandaian bahwa hal itu memang terjadi, lalu barulah datang larangan atas isinya. Perbuatan berbisiknya sendiri dibiarkan berdiri. Yang ditimbang muatannya, bukan bentuknya, dan pembedaan itu menyelamatkan banyak hal yang wajar dari terlarang tanpa perlu.

Daftar yang dilarang persis sama dengan daftar yang disebut di ayat sebelumnya, dengan susunan yang sama pula. Tiga hal, dipakai dua kali dalam dua ayat berdekatan. Yang berubah cuma siapa yang disapa: di sana daftar itu menggambarkan apa yang dikerjakan pihak lain, di sini ia menjadi larangan bagi yang disapa. Laporan berubah menjadi peringatan tanpa satu kata pun ditambahkan.

Gantinya disebut di dalam kalimat yang sama dengan larangannya, dan kata kerja untuk keduanya sama persis, cuma yang satu disangkal dan yang lain diperintahkan. Larangan yang menyediakan gantinya sendiri jauh lebih mudah dijalankan daripada larangan yang meninggalkan ruang kosong. Orang yang cuma dilarang akan mencari isian sendiri; orang yang diberi ganti tidak perlu mencari.

Penutupnya memakai kata kerja yang berarti dikumpulkan dari segala arah menjadi satu. Letaknya di ujung ayat tentang bisikan bekerja sebagai perbandingan yang tidak diucapkan: yang dikerjakan berdua-dua di tempat sepi berakhir di tempat yang seluruhnya berkumpul. Dan dua kata dari akar takwa muncul di dalam ayat ini, sekali sebagai isi bisikan yang dianjurkan dan sekali sebagai perintah di penutup, sehingga yang dianjurkan dibisikkan ternyata sama dengan yang diperintahkan dijalankan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah tidak melarang berbisik, melainkan mengatur isinya. Bisikannya boleh. Isinya yang ditimbang. Kalimatnya dibuka dengan pengandaian bahwa hal itu memang terjadi, lalu barulah datang larangan atas muatannya. Pembedaan seperti itu menyelamatkan banyak hal yang wajar dari terlarang tanpa perlu, dan sekaligus menutup jalan bagi siapa pun yang hendak berlindung di balik bentuknya. Pembedaan itu menyelamatkan banyak hal yang wajar dari terlarang tanpa perlu. Kalimatnya dibuka dengan pengandaian bahwa hal itu memang terjadi, bukan dengan larangan.
  • Tiga hal dilarang dibisikkan: dosa, permusuhan, durhaka kepada Rasul. Bukan satu. Daftarnya diberikan. Dan daftar itu persis sama dengan yang disebut di ayat sebelumnya, dengan susunan yang sama pula. Yang berubah cuma siapa yang disapa: di sana ia menggambarkan pihak lain, di sini ia menjadi larangan bagi yang disapa. Laporan berubah menjadi peringatan tanpa satu kata pun ditambahkan. Tiga hal yang sama, dengan susunan yang sama, dipakai dua kali dalam dua ayat berdekatan.
  • Gantinya disebut Allah di kalimat yang sama. Bukan cuma dilarang. Diberi tahu apa yang boleh. Kata kerja untuk keduanya pun sama persis, cuma yang satu disangkal dan yang lain diperintahkan. Larangan yang menyediakan gantinya sendiri jauh lebih mudah dijalankan daripada larangan yang meninggalkan ruang kosong; yang cuma dilarang akan mencari isian sendiri. Yang cuma dilarang akan mencari isian sendiri, dan isian itu belum tentu lebih baik.
  • Penutupnya memakai kata kerja yang berarti dikumpulkan dari segala arah menjadi satu. Letaknya di ujung ayat tentang bisikan bekerja sebagai perbandingan yang tak diucapkan. Yang dikerjakan berdua-dua di tempat sepi berakhir di tempat yang seluruhnya berkumpul. Allah tidak menjelaskan hubungan antara keduanya, dan justru karena tak dijelaskan ia terasa lebih rapat. Hubungan keduanya tak dijelaskan, dan justru karena itu ia terasa lebih rapat.
  • Dua kata dari akar takwa muncul di dalam ayat ini: sekali sebagai isi bisikan yang dianjurkan, sekali lagi sebagai perintah di penutup. Yang dianjurkan dibisikkan ternyata sama dengan yang diperintahkan dijalankan. Bukankah itu ukuran yang praktis? Apa yang layak dibicarakan di ruang tertutup mestinya sama dengan apa yang layak dikerjakan di ruang terbuka. Apa yang layak dibicarakan di ruang tertutup mestinya sama dengan yang layak dikerjakan terbuka.
  • Akar kata untuk berbisik dipakai berkali-kali dalam empat ayat berurutan di surah ini, dengan bentuk yang berganti-ganti: sebagai kata benda, sebagai kata kerja tentang pihak lain, lalu sebagai kata kerja yang ditujukan kepada yang disapa. Pengulangan seperti itu membangun satu pembahasan yang utuh, dan tiap ayat menambahkan satu lapis yang belum ada di ayat sebelumnya. Tiap ayat menambahkan satu lapis yang belum ada di ayat sebelumnya.