إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya bisikan hanyalah dari setan, agar orang-orang yang beriman bersedih; dan ia tidak dapat memudaratkan mereka sedikit pun kecuali dengan izin Allah; dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِinnamaa n-najwaa mina sy-syaythaanisesungguhnya bisikan hanyalah dari setan
  2. لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُواli-yahzuna lladziina aamanuuagar orang-orang yang beriman bersedih
  3. وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِwa-laysa bi-dhaarrihim syay'an illaa bi-idzni llaahidan ia tidak dapat memudaratkan mereka sedikit pun kecuali dengan izin Allah
  4. وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَwa-'alaa llaahi fa-l-yatawakkali l-mu'minuunadan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  2. النَّجْوَىٰn-najwaabisikan
  3. مِنَminadari
  4. الشَّيْطَانِsy-syaythaanisetan
  5. لِيَحْزُنَli-yahzunaagar menyedihkan
  6. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  7. آمَنُواaamanuuberiman
  8. وَلَيْسَwa-laysadan bukanlah
  9. بِضَارِّهِمْbi-dhaarrihimyang memberi mudarat kepada mereka
  10. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  11. إِلَّاillaakecuali
  12. بِإِذْنِbi-idznidengan izin
  13. اللَّهِllaahiAllah
  14. وَعَلَىwa-'alaadan atas
  15. اللَّهِllaahiAllah
  16. فَلْيَتَوَكَّلِfa-l-yatawakkalimaka hendaklah bertawakal
  17. الْمُؤْمِنُونَl-mu'minuunaorang-orang beriman

Inti bacaan

Sumber gangguan psikologis diidentifikasi: 'bisikan (rahasia) itu hanyalah dari setan, agar orang-orang yang beriman bersedih; dan ia tidak dapat memudaratkan mereka sedikit pun kecuali dengan izin Allah', pemisahan antara sumber gangguan (upaya menimbulkan kecemasan) dan batasan kekuatannya (terbatas tanpa izin Allah), dasar bagi ketenangan menghadapi rumor atau bisikan negatif tanpa dasar nyata.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(rahasia)' dan kata 'itu' tidak dipakai: 'an-najwaa' sudah bermakna leksikal 'pembicaraan rahasia' tanpa kata tambahan, dan tidak ada demonstratif di teks Arab.

Kalimatnya dibuka dengan (إِنَّمَا, innamaa), huruf pembatas yang berarti 'hanyalah' dan berfungsi mengurung. Sama seperti di 60:9, huruf ini membatasi, bukan memperluas. Yang dinyatakan bukan bahwa setiap bisikan berasal dari sana, melainkan bahwa yang sedang dibicarakan itu asalnya dari sana.

Pembacaan itu perlu, sebab ayat sebelumnya justru menganjurkan berbisik untuk kebajikan. Kalau kalimat ini dibaca sebagai pernyataan menyeluruh atas segala bisikan, ia akan bertentangan dengan ayat yang persis mendahuluinya. Kata pembatas di depannya yang menahan pertentangan itu.

Kata kerja (لِيَحْزُنَ, li-yahzuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:10. Huruf di depannya menandai tujuan, dan kata kerjanya berarti membuat sedih. Jadi sasarannya disebut dengan terang, dan sasarannya perasaan, bukan tubuh atau harta.

Penyebutan sasaran itu berarti banyak. Sesuatu yang bertujuan menyedihkan bekerja lewat apa yang dirasakan, bukan lewat apa yang terjadi. Ia tidak perlu berhasil mencelakakan untuk mencapai maksudnya; cukup membuat orang gelisah, dan maksudnya sudah tercapai.

Kata (بِضَارِّهِمْ, bi-dhaarrihim) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:10. Bentuknya kata pelaku dari akar yang berarti memudaratkan, didahului huruf tambahan yang menguatkan penyangkalan. Yang disangkal bukan tindakannya melainkan kesanggupannya: ia bukan pemudarat sama sekali.

Pengecualiannya kemudian menyempitkan lagi: (إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ, illaa bi-idzni llaahi) 'kecuali dengan izin Allah'. Kata untuk izin sama dengan yang dipakai di 59:5 untuk penebangan pohon. Di sana izin menaungi perbuatan manusia; di sini ia menjadi pagar bagi sesuatu yang hendak mencelakakan.

Penutupnya, (وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ, wa-'ala llaahi fa-l-yatawakkali l-mu'minuuna), memakai rangkaian (فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ, fa-l-yatawakkali l-mu'minuuna) yang muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:122, 3:160, 5:11, 9:51, 14:11, 58:10, dan 64:13.

Susunan penutupnya menaruh 'kepada Allah' di depan kata kerjanya, dan susunan seperti itu di dalam bahasa Arab berarti pembatasan: hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain. Terjemahan menahan pembatasan itu dengan kata 'hanya'.

Perlu diperhatikan bahwa ayat ini tidak memerintahkan apa pun sampai ke kalimat terakhirnya. Tiga bagian pertamanya seluruhnya keterangan: sumbernya, tujuannya, dan batasnya. Perintah baru datang di ujung, dan cuma satu. Susunan seperti itu memperlakukan pembacanya sebagai orang yang perlu mengerti lebih dahulu sebelum diminta mengerjakan sesuatu.

Dan yang diperintahkan bukan melawan. Bukan pula menjauh. Yang diperintahkan bersandar, yaitu perbuatan yang seluruhnya berlangsung di dalam diri. Terhadap sesuatu yang menyasar perasaan, jawabannya memang bukan gerakan tubuh.

Tafsiran

Ayat ini menutup penjelasan tentang bisikan jahat: sumbernya dari setan, tetapi kekuatannya terbatas tanpa izin Allah.

Huruf pembuka ayat ini menentukan seluruh bacaannya. Kata yang dipakai berarti 'hanyalah' dan berfungsi mengurung, bukan memperluas. Yang dinyatakan bukan bahwa setiap bisikan berasal dari sana, melainkan bahwa yang sedang dibicarakan asalnya dari sana. Pembacaan itu perlu, sebab ayat yang persis mendahuluinya justru menganjurkan berbisik untuk kebajikan.

Sumbernya ditunjuk dengan nama. Yang mengganggu diberi nama, dan yang bernama bisa dikenali. Selama sesuatu tidak punya nama, ia terasa ada di mana-mana dan tidak bisa dihadapi; begitu dinamai, ia berpindah menjadi satu hal tertentu yang punya batas.

Tujuannya juga disebut dengan terang, dan tujuannya perasaan: agar orang-orang beriman bersedih. Bukan agar mereka celaka. Sesuatu yang bertujuan menyedihkan bekerja lewat apa yang dirasakan, bukan lewat apa yang terjadi. Ia tidak perlu berhasil mencelakakan untuk mencapai maksudnya; cukup membuat orang gelisah, dan maksudnya sudah selesai.

Sesudah sumber dan tujuannya disebut, batasnya menyusul. Yang disangkal bukan tindakannya melainkan kesanggupannya: ia bukan pemudarat sama sekali, kecuali dengan izin. Yang menakutkan ternyata bekerja di dalam pagar yang dipasang pihak lain, dan pihak itulah yang disebut di penutup sebagai satu-satunya tempat bersandar. Susunan penutupnya bahkan menaruh 'kepada Allah' di depan kata kerjanya, yaitu susunan yang di dalam bahasa Arab berarti pembatasan: hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut bisikan itu hanyalah dari setan. Sumbernya ditunjuk. Yang mengganggu diberi nama, dan yang bernama bisa dikenali. Selama sesuatu tak punya nama, ia terasa ada di mana-mana dan tak bisa dihadapi; begitu dinamai, ia berpindah menjadi satu hal tertentu yang punya batas. Menamai sesuatu ternyata langkah pertama untuk berhenti takut kepadanya. Selama sesuatu tak punya nama, ia terasa ada di mana-mana dan tak bisa dihadapi. Ayat ini memberi nama itu di kalimat pertamanya, sebelum menjelaskan apa pun tentang cara kerjanya, seakan menegaskan bahwa mengenali sumbernya adalah langkah yang mendahului segala penjelasan lain.
  • Tujuan yang disebut agar orang-orang yang beriman bersedih. Bukan mencelakakan. Sasarannya perasaan, sebab di situlah ia paling bisa bekerja. Sesuatu yang bertujuan menyedihkan tak perlu berhasil mencelakakan untuk mencapai maksudnya; cukup membuat orang gelisah, dan maksudnya sudah selesai. Mengetahui sasarannya karena itu sudah setengah menggagalkannya. Mengetahui sasarannya sudah setengah menggagalkan pekerjaannya. Ia tak perlu berhasil mencelakakan untuk mencapai maksudnya; cukup membuat gelisah.
  • Allah menyebut ia tidak memudaratkan sedikit pun kecuali dengan izin-Nya. Batasnya jelas. Yang menakutkan ternyata bekerja di dalam pagar yang dipasang pihak lain. Dan yang disangkal bukan tindakannya melainkan kesanggupannya: bentuk katanya menyatakan bahwa ia bukan pemudarat sama sekali, bukan sekadar sedang tidak memudaratkan pada saat ini. Bentuk katanya menyatakan ia bukan pemudarat sama sekali, bukan sedang tidak memudaratkan. Perbedaan itu tampak kecil dalam terjemahan, tapi jauh dari kecil akibatnya: yang dijamin bukan jeda sementara sebelum bahaya datang, melainkan ketiadaan kesanggupan itu sejak awal.
  • Huruf pembuka ayat ini berarti hanyalah, dan tugasnya mengurung, bukan memperluas. Yang dinyatakan bukan bahwa setiap bisikan berasal dari sana. Pembacaan itu perlu, sebab ayat yang persis mendahuluinya justru menganjurkan berbisik untuk kebajikan. Satu huruf di depan kalimat menahan dua ayat berdekatan dari saling bertentangan, dan huruf itu gampang sekali terlewat. Satu huruf di depan kalimat menahan dua ayat berdekatan dari saling bertentangan.
  • Kata untuk izin di ayat ini sama dengan yang dipakai untuk penebangan pohon di surah sebelumnya. Di sana izin menaungi perbuatan manusia; di sini ia menjadi pagar bagi sesuatu yang hendak mencelakakan. Satu kata dipakai untuk membolehkan dan untuk membatasi, dan dua-duanya benar. Yang berada di bawah izin memang selalu punya dua sisi: ia diperkenankan, sekaligus tak bisa melampaui. Yang berada di bawah izin selalu punya dua sisi: diperkenankan, sekaligus tak bisa melampaui.
  • Susunan penutupnya menaruh kepada Allah di depan kata kerjanya, dan di dalam bahasa Arab susunan itu berarti pembatasan: hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lain. Bukankah wajar kalau orang yang sedang gelisah mencari banyak sandaran sekaligus? Wajar, dan justru itu yang ditutup. Yang memasang pagar bagi gangguannya adalah satu-satunya tempat yang masuk akal untuk bersandar. Ayat ini ditutup bukan dengan cara mengalahkan bisikan itu, melainkan dengan menunjuk ke mana perhatian sebaiknya berpindah begitu bisikan itu dikenali.