يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka, lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah,” maka, berdirilah. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواyaa ayyuhaa lladziina aamanuuwahai orang-orang yang beriman
  2. إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِidzaa qiila lakum tafassahuu fii l-majaalisiapabila dikatakan kepada kalian, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis
  3. فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْfa-fsahuu yafsahi llaahu lakummaka, lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian
  4. وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُواwa-idzaa qiila nsyuzuu fa-nsyuzuudan apabila dikatakan, berdirilah, maka, berdirilah
  5. يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍyarfa'i llaahu lladziina aamanuu minkum wa-lladziina uutuu l-'ilma darajaatinAllah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat
  6. وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌwa-llaahu bi-maa ta'maluuna khabiirundan Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (31 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. إِذَاidzaaapabila
  6. قِيلَqiiladikatakan
  7. لَكُمْlakumkepada kalian
  8. تَفَسَّحُواtafassahuuberlapanglah kalian
  9. فِيfiidalam
  10. الْمَجَالِسِl-majaalisimajelis
  11. فَافْسَحُواfa-fsahuumaka berlapanglah kalian
  12. يَفْسَحِyafsahimelapangkan
  13. اللَّهُllaahuAllah
  14. لَكُمْlakumkepada kalian
  15. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  16. قِيلَqiiladikatakan
  17. انْشُزُواnsyuzuuberdirilah kalian
  18. فَانْشُزُواfa-nsyuzuumaka berdirilah kalian
  19. يَرْفَعِyarfa'imengangkat
  20. اللَّهُllaahuAllah
  21. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  22. آمَنُواaamanuuberiman
  23. مِنْكُمْminkumdari kalian
  24. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  25. أُوتُواuutuudiberi
  26. الْعِلْمَl-'ilmapengetahuan
  27. دَرَجَاتٍdarajaatinderajat
  28. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  29. بِمَاbi-maapada apa yang
  30. تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
  31. خَبِيرٌkhabiirunmengetahui

Inti bacaan

Etika ruang publik yang konkret: 'apabila dikatakan kepada kalian: berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, lapangkanlah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman. dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat', kesediaan berbagi ruang fisik dikaitkan langsung dengan pengangkatan derajat spiritual, pengingat bahwa kesopanan sosial sederhana memiliki nilai yang lebih dalam dari sekadar formalitas.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(kalian)' tidak dipakai: verba imperatif jamak 'fa-nshuzuu' sudah mengandung subjek tanpa perlu penanda tambahan. Kedua kutipan masing-masing dibuka oleh 'qiila' dan ditutup dalam kalimat yang sama.

Kata kerja (تَفَسَّحُوا, tafassahuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:11, dan kata (الْمَجَالِسِ, al-majaalisi) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akar kata pertamanya berarti luas dan lapang, dan bentuk yang dipakai menyatakan perbuatan yang dikerjakan bersama-sama.

Susunan bagian pertamanya berbentuk tiga langkah: perintah yang dikutip, perintah yang menjawabnya, lalu janji. 'Berilah kelapangan', 'maka lapangkanlah', 'niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian'. Tiga kali akar yang sama dipakai berturut-turut, dan yang ketiga pelakunya berganti.

Pergantian pelaku di langkah ketiga itulah yang menentukan. Dua langkah pertama dikerjakan manusia; yang ketiga dikerjakan Allah, dengan kata kerja dari akar yang sama persis. Balasan yang dijanjikan bukan sesuatu yang lain jenisnya, melainkan hal yang sejenis dengan yang dikerjakan.

Kata kerja (انْشُزُوا, unsyuzuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:11. Akarnya berarti terangkat atau menonjol dari tempatnya, dan dari sana lahir makna bangkit berdiri. Terjemahan 'berdirilah' menahan sisi bangkitnya.

Menariknya, akar yang berarti terangkat itu langsung disusul kalimat tentang Allah yang mengangkat derajat. Dua gagasan yang sama berdekatan tanpa dinyatakan hubungannya: yang bangkit dari tempat duduknya, dan yang diangkat kedudukannya.

Rangkaian (أُوتُوا الْعِلْمَ, uutu l-'ilma) muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 16:27, 17:107, 22:54, 29:49, dan 58:11. Bentuknya pasif: 'yang diberi ilmu', bukan 'yang mencari ilmu'. Susunan itu menaruh ilmu sebagai sesuatu yang diterima, bukan sepenuhnya diraih.

Yang diangkat disebut dua golongan dengan kata sambung di antaranya: yang beriman di antara kalian, dan yang diberi ilmu. Penyebutan terpisah itu menerangkan bahwa keduanya tidak dilebur menjadi satu sifat. Dan kata (دَرَجَاتٍ, darajaatin) 'beberapa derajat' berbentuk jamak tak bertakrif, sehingga jumlahnya tidak ditentukan.

Penutupnya, (وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, wa-llaahu bimaa ta'maluuna khabiirun), memakai kata yang berasal dari akar yang berarti mengetahui sampai ke seluk-beluknya. Letaknya di ujung ayat tentang adab duduk berarti sesuatu: perbuatan sekecil menggeser tempat pun berada di dalam jangkauan yang mengetahui seluk-beluk.

Perlu dicatat pula bahwa kedua perintah di ayat ini dikutip, bukan diucapkan langsung. Bentuknya 'apabila dikatakan kepada kalian', jadi yang menyuruh manusia lain, bukan Allah. Yang diperintahkan Allah adalah menjawab suruhan itu, dan pembedaan tersebut menaruh ketaatan pada tempat yang lebih halus daripada sekadar menuruti perintah.

Tafsiran

Ayat ini mengatur adab bermajelis: memberi kelapangan dan taat pada instruksi berdiri, dengan janji derajat tinggi bagi orang beriman berilmu.

Yang diatur di bagian pertamanya perkara yang paling sehari-hari: memberi ruang duduk. Dan dari perkara sekecil itu kalimatnya melompat ke pengangkatan derajat, tanpa jeda di antaranya. Lompatan itu bukan kelalaian susunan; ia justru isi ayatnya. Yang terlihat sepele di ruang duduk ternyata terhubung ke sesuatu yang tidak terlihat sama sekali.

Bagian pertamanya berbentuk tiga langkah dengan satu akar kata yang diulang tiga kali. Perintah yang dikutip, perintah yang menjawabnya, lalu janji. Yang berganti di langkah ketiga cuma pelakunya. Balasan yang dijanjikan bukan sesuatu yang lain jenisnya, melainkan hal yang sejenis dengan yang dikerjakan: siapa yang melapangkan, dilapangkan.

Bagian keduanya memakai kata kerja yang akarnya berarti terangkat dari tempat. Dan kalimat yang menyusulnya berbicara tentang Allah yang mengangkat derajat. Dua gagasan yang sama diletakkan berdekatan tanpa dinyatakan hubungannya: yang bangkit dari tempat duduknya, dan yang diangkat kedudukannya. Pembacanya dibiarkan menyambungkan sendiri.

Yang diangkat disebut dua golongan, dengan kata sambung yang memisahkan keduanya. Iman dan ilmu tidak dilebur menjadi satu sifat; masing-masing punya tempatnya sendiri. Dan bentuk yang dipakai untuk ilmu adalah bentuk pasif, 'yang diberi ilmu', bukan 'yang mencari ilmu'. Susunan itu menaruh ilmu sebagai sesuatu yang diterima, bukan sepenuhnya diraih, dan itu menahan orang berilmu dari merasa derajatnya adalah hasil kerjanya sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut jika kalian melapangkan, Dia akan melapangkan untuk kalian. Kata yang sama dipakai dua kali. Yang diberikan kembali bukan sekadar pahala, melainkan hal yang persis sejenis dengan yang dikerjakan. Bagian pertama ayat ini bahkan memakai satu akar tiga kali berturut-turut, dan yang berganti di langkah ketiga cuma pelakunya, dari manusia menjadi Allah. Satu akar dipakai tiga kali berturut-turut, dan pelakunya berganti di langkah terakhir. Yang dikembalikan bukan sekadar imbalan, melainkan hal yang persis sejenis.
  • Yang diatur perkara memberi ruang di majelis. Sesuatu yang paling sehari-hari. Dan dari perkara sekecil itu kalimatnya melompat ke pengangkatan derajat, tanpa jeda di antaranya. Lompatan itu bukan kelalaian susunan; ia justru isi ayatnya. Yang terlihat sepele di ruang duduk ternyata tersambung ke sesuatu yang tak terlihat sama sekali oleh yang duduk di sana. Perbuatan sekecil menggeser tempat pun berada di dalam jangkauan yang mengetahui seluk-beluk. Lompatan dari ruang duduk ke pengangkatan derajat terjadi tanpa satu jeda pun.
  • Allah menyebut dua golongan yang diangkat: yang beriman, dan yang diberi ilmu. Keduanya disebut terpisah. Iman dan ilmu tidak dilebur menjadi satu, dan penyebutan terpisah itu menerangkan bahwa masing-masing punya tempatnya sendiri. Ada kata sambung yang memisahkan keduanya di dalam kalimatnya, dan kata sambung sekecil itu menahan orang dari mengira salah satunya cukup mewakili yang lain. Kata sambung sekecil itu menahan orang dari mengira salah satunya cukup mewakili yang lain.
  • Bentuk yang dipakai untuk ilmu adalah bentuk pasif: yang diberi ilmu, bukan yang mencari ilmu. Susunan itu menaruh ilmu sebagai sesuatu yang diterima, bukan sepenuhnya diraih. Bukankah itu mengurangi jasa orang yang bersusah payah menuntutnya? Tidak mengurangi, tetapi menahannya: yang menerima tak bisa merasa derajatnya sepenuhnya hasil kerjanya sendiri. Yang menerima tak bisa merasa derajatnya sepenuhnya hasil kerjanya sendiri.
  • Kata kerja untuk berdiri di ayat ini berakar pada terangkat atau menonjol dari tempatnya. Dan kalimat yang menyusulnya berbicara tentang Allah yang mengangkat derajat. Dua gagasan yang sama diletakkan berdekatan tanpa dinyatakan hubungannya. Yang bangkit dari tempat duduknya, dan yang diangkat kedudukannya, disebut dengan bahasa yang bertetangga, dan pembacanya dibiarkan menyambungkan sendiri. Yang bangkit dari tempat duduknya dan yang diangkat kedudukannya disebut dengan bahasa yang bertetangga.
  • Kata untuk derajat di ayat ini berbentuk jamak tak bertakrif, sehingga jumlahnya tidak ditentukan. Yang dijanjikan 'beberapa derajat', bukan sekian derajat. Ketiadaan angka itu menutup kemungkinan menghitung: tak seorang pun bisa menakar berapa yang ia peroleh dari satu kali melapangkan tempat duduk, dan ketidaktahuan itu justru menjaga perbuatannya tetap bersih dari perhitungan. Ketidaktahuan itu justru menjaga perbuatannya tetap bersih dari perhitungan.