أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ۖ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras; sesungguhnya sangat buruk apa yang mereka kerjakan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًاa'adda llaahu lahum 'adzaaban syadiidanAllah menyediakan bagi mereka azab yang keras
  2. إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَinnahum saa'a maa kaanuu ya'maluunasesungguhnya sangat buruk apa yang mereka kerjakan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. أَعَدَّa'addamenyediakan
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. لَهُمْlahumbagi mereka
  4. عَذَابًا'adzaabanazab
  5. شَدِيدًاsyadiidanyang keras
  6. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  7. سَاءَsaa'aseburuk-buruk
  8. مَاmaaapa yang
  9. كَانُواkaanuumereka selalu
  10. يَعْمَلُونَya'maluunamereka kerjakan

Inti bacaan

Konsekuensi tegas atas perilaku bermasalah: 'Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras; sesungguhnya sangat buruk apa yang mereka kerjakan', penilaian langsung yang tidak menyisakan ruang pembenaran, konsekuensi proporsional dengan keseriusan pelanggaran.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (أَعَدَّ, a'adda) berarti menyiapkan sesuatu lebih dahulu supaya tersedia ketika diperlukan, dari akar yang berarti menghitung dan menyusun. Yang dinyatakan bukan azab yang ditimpakan mendadak, melainkan azab yang sudah disiapkan dan menunggu.

Perbedaan itu berarti. Sesuatu yang ditimpakan mendadak bisa dibaca sebagai reaksi; sesuatu yang disiapkan lebih dahulu menyatakan bahwa perkaranya sudah diputuskan sebelum penerimanya menyadarinya. Kata yang sama dipakai di banyak tempat lain untuk balasan yang baik maupun yang buruk.

Rangkaian (عَذَابًا شَدِيدًا, 'adzaaban syadiidan) dipakai juga di 65:10, dan di sana ia didahului rangkaian lain yang membentuk susunan lebih panjang. Bentuknya di sini tak bertakrif dan berdiri sendiri sesudah kata kerja, sehingga yang disebut 'azab yang keras', bukan azab tertentu yang sudah dikenal.

Kalimat keduanya dibuka dengan penegas lalu memakai kata kerja yang menyatakan penilaian: (إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, innahum saa'a maa kaanuu ya'maluuna). Rangkaian (سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, saa'a maa kaanuu ya'maluuna) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:9, 58:15, dan 63:2.

Ketiga tempat itu sama-sama menutup ayat tentang orang yang memakai kata-kata untuk menutupi perbuatannya. Kesamaan letak seperti itu membuat rangkaian tersebut terbaca seperti cap yang dipasang pada satu jenis perkara yang sama.

Yang dinilai disebut dengan susunan yang khas: 'apa yang mereka kerjakan', memakai kata kerja bantu yang menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus. Jadi yang dinilai bukan satu perbuatan melainkan pola yang berulang, dan itu sesuai dengan gambaran di ayat sebelumnya tentang sumpah yang dipakai berkali-kali.

Kata kerja (سَاءَ, saa'a) menyatakan penilaian buruk dalam bentuk yang menyerupai seruan, bukan sekadar keterangan. Terjemahan 'sangat buruk' menahan kadarnya. Yang dinyatakan bukan sekadar bahwa perbuatannya salah, melainkan sebuah penilaian dengan bobot.

Perlu dicatat pula bahwa yang dinilai perbuatannya, bukan keyakinannya. Seluruh dua ayat ini menyebut apa yang mereka kerjakan: berpihak, bersumpah, dan mengetahui. Ketiganya perbuatan, dan penilaian di ujungnya jatuh pada perbuatan itu, bukan pada isi kepala mereka.

Dua ayat ini, yang keempat belas dan yang kelima belas, membentuk satu pasangan yang lengkap: yang pertama menyebut perbuatannya, yang kedua menyebut akibatnya. Tak ada kalimat penghubung di antara keduanya, dan hubungan itu dibiarkan disusun sendiri oleh pembacanya. Pola yang sama dipakai berulang kali di dalam surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan konsekuensi berat bagi kemunafikan dan sumpah palsu mereka.

Kata kerja pembukanya berarti menyiapkan sesuatu lebih dahulu supaya tersedia ketika diperlukan. Yang dinyatakan bukan azab yang ditimpakan mendadak, melainkan azab yang sudah disiapkan dan menunggu. Perbedaan itu berarti: sesuatu yang ditimpakan mendadak bisa dibaca sebagai reaksi, sedangkan sesuatu yang disiapkan lebih dahulu menyatakan bahwa perkaranya sudah diputuskan sebelum penerimanya menyadarinya.

Kalimat keduanya memberi penilaian dengan kadar, bukan sekadar keterangan. Kata kerjanya menyatakan penilaian buruk dalam bentuk yang menyerupai seruan. Yang dinyatakan bukan sekadar bahwa perbuatan mereka salah, melainkan sebuah penilaian yang punya bobot, dan bobot itu disebut dengan kata yang menegaskan.

Yang dinilai pun disebut dengan susunan yang khas: apa yang mereka kerjakan, memakai kata kerja bantu yang menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus. Jadi yang dinilai bukan satu perbuatan melainkan pola yang berulang, dan itu sesuai dengan gambaran di ayat sebelumnya tentang sumpah yang dipakai berkali-kali.

Yang paling perlu dicatat: yang dinilai perbuatannya, bukan keyakinannya. Seluruh dua ayat ini menyebut apa yang mereka kerjakan, yaitu berpihak, bersumpah, dan mengetahui bahwa sumpahnya dusta. Ketiganya perbuatan, dan penilaian di ujungnya jatuh pada perbuatan itu. Dan rangkaian penutupnya muncul juga di dua tempat lain, yang ketiganya sama-sama menutup ayat tentang orang yang memakai kata-kata untuk menutupi apa yang dikerjakannya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut azabnya disediakan. Bukan ditimpakan mendadak. Sudah disiapkan. Kata kerjanya berarti menyiapkan sesuatu lebih dahulu supaya tersedia ketika diperlukan, dari akar yang berarti menghitung dan menyusun. Sesuatu yang ditimpakan mendadak bisa dibaca sebagai reaksi; yang disiapkan lebih dahulu menyatakan perkaranya sudah diputuskan sebelum penerimanya menyadarinya. Perkaranya sudah diputuskan sebelum penerimanya sempat menyadarinya. Kata kerjanya berakar pada menghitung dan menyusun, bukan pada menjatuhkan.
  • Perbuatan mereka disebut sangat buruk. Bukan sekadar salah. Diberi kadar. Kata kerjanya menyatakan penilaian buruk dalam bentuk yang menyerupai seruan, bukan sekadar keterangan yang datar. Yang dinyatakan bukan bahwa perbuatannya keliru, melainkan sebuah penilaian yang punya bobot, dan bobot semacam itu tak bisa ditawar dengan penjelasan tentang keadaan. Bobot semacam itu tak bisa ditawar dengan penjelasan tentang keadaan. Bentuknya menyerupai seruan, bukan keterangan yang datar.
  • Yang dinilai apa yang mereka kerjakan. Allah menyebut perbuatan. Bukan sekadar keyakinannya. Seluruh dua ayat ini memang menyebut apa yang mereka kerjakan: berpihak, bersumpah, dan mengetahui bahwa sumpahnya dusta. Ketiganya perbuatan, dan penilaian di ujungnya jatuh pada perbuatan itu, bukan pada isi kepala yang tak bisa diperiksa siapa pun. Penilaiannya jatuh pada perbuatan, bukan pada isi kepala yang tak bisa diperiksa siapa pun.
  • Yang dinilai disebut dengan kata kerja bantu yang menyatakan kebiasaan yang berlangsung terus. Jadi bukan satu perbuatan melainkan pola yang berulang. Itu sesuai dengan gambaran di ayat sebelumnya tentang sumpah yang dipakai berkali-kali. Satu kekeliruan bisa terjadi pada siapa saja; yang ditimbang di sini bukan kejadian tunggal, melainkan sesuatu yang sudah menjadi cara. Satu kekeliruan bisa terjadi pada siapa saja; yang ditimbang di sini sesuatu yang sudah menjadi cara.
  • Rangkaian penutup ayat ini muncul juga di dua tempat lain, dan ketiganya sama-sama menutup ayat tentang orang yang memakai kata-kata untuk menutupi apa yang dikerjakannya. Bukankah kesamaan letak seperti itu berarti sesuatu? Rangkaian tersebut terbaca seperti cap yang dipasang pada satu jenis perkara, dan pembaca yang mengenalinya tahu jenis apa yang sedang dibicarakan sebelum rinciannya selesai. Pembaca yang mengenalinya tahu jenis apa yang dibicarakan sebelum rinciannya selesai.
  • Yang disebut 'azab yang keras' dalam bentuk tak bertakrif, bukan azab tertentu yang sudah dikenal namanya. Allah tidak merinci bentuknya sama sekali. Ketiadaan rincian itu menahan pembacanya dari sibuk membayangkan wujudnya, dan mengembalikan perhatian ke bagian yang memang bisa dikerjakan sekarang: perbuatan yang menyebabkannya, yang seluruhnya sudah disebut di ayat sebelumnya. Perhatian dikembalikan ke bagian yang memang bisa dikerjakan sekarang.