اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu menghalangi dari jalan Allah; maka, bagi mereka azab yang menghinakan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةًittakhadzuu aymaanahum junnatanmereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai
  2. فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِfa-shadduu 'an sabiili llaahilalu, menghalangi dari jalan Allah
  3. فَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌfa-lahum 'adzaabun muhiinunmaka, bagi mereka azab yang menghinakan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. اتَّخَذُواittakhadzuumereka mengambil
  2. أَيْمَانَهُمْaymaanahumsumpah mereka
  3. جُنَّةًjunnatanperisai
  4. فَصَدُّواfa-shadduumaka mereka menghalangi
  5. عَنْ'andari
  6. سَبِيلِsabiilijalan
  7. اللَّهِllaahiAllah
  8. فَلَهُمْfa-lahummaka bagi mereka
  9. عَذَابٌ'adzaabunazab
  10. مُهِينٌmuhiinunyang menghinakan

Inti bacaan

Penyalahgunaan sumpah sebagai perlindungan: 'mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu menghalangi dari jalan Allah', kritik terhadap manipulasi bahasa formal (sumpah) untuk menutupi niat buruk, peringatan bahwa formalitas verbal tidak bisa menjadi tameng bagi tindakan yang sebenarnya merugikan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً, ittakhadzuu aymaanahum junnatan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:16 dan 63:2. Kata kerjanya sama dengan yang dipakai di 60:1 untuk larangan menjadikan seseorang teman setia: mengambil sesuatu untuk dijadikan sesuatu yang lain.

Kata (جُنَّةً, junnatan) berasal dari akar yang berarti menutupi dan menyembunyikan, akar yang sama dengan kata untuk taman yang rimbun serta kata untuk sesuatu yang tak terlihat. Di sini ia berarti perisai, yaitu benda yang dipasang di antara diri dan bahaya. Terjemahan mempertahankan gambaran alatnya.

Pilihan kata itu menentukan cara membaca seluruh ayat. Sumpah pada dasarnya ikatan yang menahan pengucapnya; dijadikan perisai, ia berbalik fungsi menjadi alat yang melindungi pengucapnya. Yang seharusnya mengikat ke dalam dipakai untuk menahan dari luar.

Rangkaian (فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ, fa-shadduu 'an sabiili llaahi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:16 dan 63:2. Dua rangkaian di ayat ini karena itu sama-sama bertemu di satu ayat yang sama di tempat lain, dan susunannya pun sejajar: perisainya lebih dahulu, penghalangannya menyusul.

Huruf (فَ, fa) di depan kata kerja kedua menandai sesuatu yang langsung mengikuti. Jadi menghalangi bukan perbuatan terpisah yang kebetulan mereka kerjakan juga; ia akibat langsung dari perisai tadi. Yang terlindung oleh sumpah menjadi bebas bergerak menghalangi.

Kata kerja (صَدُّوا, shadduu) bisa berarti berpaling sendiri maupun memalingkan orang lain. Susunan di sini, dengan huruf yang menyatakan 'dari', menempatkannya pada makna kedua: menghalangi orang lain dari jalan. Terjemahan memilih makna itu.

Penutupnya, (عَذَابٌ مُهِينٌ, 'adzaabun muhiinun), muncul 8 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:90, 3:178, 4:14, 22:57, 31:6, 45:9, 58:5, dan 58:16. Dua dari delapan kemunculan itu berada di surah ini, dan keduanya menutup ayat tentang pihak yang sama.

Sifat yang dipilih untuk azabnya sepadan dengan perbuatannya. Yang memakai perisai untuk menyembunyikan diri dijawab dengan azab yang menghinakan, bukan yang membakar. Menghinakan berarti membuka, dan yang paling ditakuti oleh yang bersembunyi memang dibukanya penutup.

Susunan seluruh ayat ini bergerak dari alat ke akibat ke balasan, tiga langkah tanpa satu jeda pun. Perisainya, lalu penghalangannya, lalu azabnya. Tak ada keterangan tambahan di antara ketiganya, dan ketiadaan keterangan itu membuat hubungannya terasa langsung. Pembacanya tak diberi kesempatan mempertimbangkan kemungkinan lain di antara satu langkah dan langkah berikutnya.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan sumpah palsu sebagai tameng untuk menutupi permusuhan mereka terhadap jalan Allah.

Kata yang dipilih untuk sumpah mereka berasal dari akar yang berarti menutupi dan menyembunyikan, dan di sini ia berarti perisai. Pilihan itu menentukan cara membaca seluruh ayat. Sumpah pada dasarnya ikatan yang menahan pengucapnya; dijadikan perisai, ia berbalik fungsi menjadi alat yang melindungi pengucapnya. Yang seharusnya mengikat ke dalam dipakai untuk menahan dari luar.

Kata kerja yang dipakai untuk mengambilnya sama dengan yang dipakai di surah sebelumnya untuk larangan menjadikan seseorang teman setia: mengambil sesuatu untuk dijadikan sesuatu yang lain. Jadi yang digambarkan bukan orang yang kebetulan bersumpah, melainkan orang yang memasang sumpah pada kedudukan tertentu, yaitu kedudukan alat.

Huruf yang menghubungkan ke kalimat berikutnya menandai sesuatu yang langsung mengikuti. Menghalangi bukan perbuatan terpisah yang kebetulan mereka kerjakan juga; ia akibat langsung dari perisai tadi. Yang terlindung oleh sumpah menjadi bebas bergerak menghalangi, sebab tidak ada yang berani menuduh orang yang sudah bersumpah.

Penutupnya memilih sifat yang sepadan dengan perbuatannya. Azabnya disebut menghinakan, bukan membakar. Menghinakan berarti membuka, dan yang paling ditakuti oleh yang bersembunyi memang dibukanya penutup. Rangkaian yang sama sudah dipakai di ayat kelima surah ini, sehingga dua kali dalam satu surah azab yang disebut untuk pihak ini adalah azab yang membuka, bukan yang menyakitkan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut sumpahnya dipakai sebagai alat, bukan sebagai ikatan. Bukan untuk mengikat diri. Untuk berlindung. Sumpah pada dasarnya menahan pengucapnya; dijadikan perisai, ia berbalik fungsi menjadi yang melindunginya. Yang seharusnya mengikat ke dalam dipakai untuk menahan dari luar, dan pembalikan itu sepenuhnya terbaca dari satu kata yang dipilih untuk menamainya. Pembalikan fungsi itu sepenuhnya terbaca dari satu kata yang dipilih untuk menamainya.
  • Kata perisai dipakai. Bahasanya bahasa perang. Yang dipegang alat bertahan. Akarnya berarti menutupi dan menyembunyikan, seakar dengan kata untuk taman yang rimbun dan untuk sesuatu yang tak terlihat. Alat bertahan memang selalu bekerja dengan menutupi, dan yang menutupi diri di tengah orang banyak biasanya sedang menyiapkan sesuatu yang tak ingin dilihat. Yang menutupi diri di tengah orang banyak biasanya sedang menyiapkan sesuatu. Kata yang sama untuk taman yang rimbun menandai betapa rapatnya penutup itu dipasang, seakan tak ada celah sedikit pun yang disisakan untuk terlihat.
  • Azabnya disebut menghinakan, bukan membakar. Allah memilih sifat yang sepadan. Yang menyembunyikan dibuka. Menghinakan memang berarti membuka, dan yang paling ditakuti oleh yang bersembunyi adalah dibukanya penutup. Rangkaian yang sama sudah dipakai di awal surah ini, sehingga dua kali azab yang disebut untuk pihak ini adalah azab yang membuka, bukan yang menyakitkan. Dua kali di dalam satu surah, azab untuk pihak ini adalah azab yang membuka. Pengulangan itu tampak seperti kebetulan susunan kata, tapi lebih terasa seperti penekanan yang sengaja diletakkan dua kali agar tak mudah terlewat oleh pembaca yang tergesa.
  • Huruf yang menghubungkan ke kalimat berikutnya menandai sesuatu yang langsung mengikuti. Menghalangi bukan perbuatan terpisah yang kebetulan mereka kerjakan juga; ia akibat langsung dari perisai tadi. Yang terlindung oleh sumpah menjadi bebas bergerak, sebab tak ada yang berani menuduh orang yang sudah bersumpah, dan kebebasan itulah yang dipakai. Tak ada yang berani menuduh orang yang sudah bersumpah, dan kebebasan itulah yang dipakai. Perisai yang semestinya melindungi dari tuduhan yang keliru di sini justru dipakai untuk melindungi tindakan yang sungguh keliru, dan pembalikan fungsi itulah yang membuatnya disebut secara khusus.
  • Kata kerja yang dipakai berarti mengambil sesuatu untuk dijadikan sesuatu yang lain, sama dengan yang dipakai di surah sebelumnya untuk larangan menjadikan seseorang teman setia. Yang digambarkan bukan orang yang kebetulan bersumpah, melainkan orang yang memasang sumpah pada satu kedudukan tertentu. Bukankah itu jenis kesalahan yang berbeda sama sekali dari sekadar berdusta? Memasang sumpah pada satu kedudukan berbeda sama sekali dari sekadar berdusta.
  • Dua rangkaian di ayat ini sama-sama bertemu di satu ayat yang sama di tempat lain, dan susunannya pun sejajar: perisainya lebih dahulu, penghalangannya menyusul. Allah memasang pasangan yang sama di dua surah yang berdekatan. Yang diulang bukan kalimatnya semata, melainkan urutan sebab dan akibatnya, dan pengulangan urutan itulah yang menjadikannya pola. Yang diulang bukan kalimatnya semata, melainkan urutan sebab dan akibatnya.