لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak mencukupkan mereka dari Allah. Mereka itulah penghuni api. Mereka kekal di dalamnya.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًاlan tughniya 'anhum amwaaluhum wa-laa awlaaduhum mina llaahi syay'anharta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak mencukupkan mereka dari Allah
- أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِulaa'ika ash-haabu n-naarimereka itulah penghuni api
- هُمْ فِيهَا خَالِدُونَhum fiihaa khaaliduunamereka kekal di dalamnya
Terjemahan per kata (15 kata)
- لَنْlantidak akan
- تُغْنِيَtughniyamencukupkan
- عَنْهُمْ'anhumdari mereka
- أَمْوَالُهُمْamwaaluhumharta mereka
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- أَوْلَادُهُمْawlaaduhumanak-anak mereka
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- أَصْحَابُash-haabupenghuni
- النَّارِn-naariapi
- هُمْhummereka
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- خَالِدُونَkhaaliduunakekal
Inti bacaan
Ketidakberdayaan kekayaan menghadapi konsekuensi ilahi: 'harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak mencukupkan mereka dari (azab) Allah', pengingat bahwa aset material dan keturunan, betapa pun berharga di dunia, tidak memiliki daya tawar terhadap konsekuensi moral yang sudah ditetapkan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(azab)' tidak dipakai: 'mina llaahi shay'an' (dari Allah sedikit pun) sudah lengkap tanpa kata tambahan. 'Ulaa'ika' (jauh) benar diterjemahkan 'mereka itulah'.
Rangkaian (لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ, lan tughniya 'anhum) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:10, 3:116, dan 58:17. Di dua tempat lainnya rangkaian itu juga disusul penyebutan harta dan anak-anak, sehingga ketiganya memasangkan hal yang sama.
Penyangkalannya memakai (لَنْ, lan), huruf yang menyangkal masa depan dengan tegas, sama seperti di 60:3. Dua ayat itu sama-sama berbicara tentang harta atau kerabat yang tidak akan menolong, dan dua-duanya memakai penyangkalan yang paling keras.
Kata kerja (تُغْنِيَ, tughniya) berasal dari akar yang berarti cukup dan tidak berhajat, akar yang sama dengan gelar Allah 'Sang Berkecukupan' di 59:6. Maknanya mencukupkan, bukan menyelamatkan. Yang diukur cukup atau tidaknya sesuatu menutupi kebutuhan, dan jawabannya sedikit pun tidak.
Pemilihan kata itu tepat justru karena yang disebut harta dan anak. Dua-duanya memang barang yang dipakai orang untuk mencukupi diri: harta mencukupi kebutuhan, dan anak mencukupi tenaga serta perlindungan. Ayat ini memakai kata dari wilayah itu sendiri, lalu menyangkalnya.
Keterangan (مِنَ اللَّهِ, mina llaahi) 'dari Allah' menyebut dari siapa kecukupan itu tidak berlaku. Draf yang menambahkan '(azab)' sedang menyempitkan sesuatu yang teks Arabnya biarkan luas. Yang dinyatakan bukan cuma tak mencukupkan dari azab, melainkan tak mencukupkan dari-Nya sama sekali.
Rangkaian (أَصْحَابُ النَّارِ, ash-haabu n-naari) dipakai juga di 2:39, 2:81, 7:36, dan 40:6, dan di ayat lain ia hadir dengan akhiran i'rab yang berbeda, misalnya 74:31. Kata pertamanya berarti orang yang menyertai atau menemani sesuatu, sehingga yang dinyatakan bukan hukumannya melainkan alamatnya.
Susunan seluruh ayat bergerak dari sangkalan ke sebutan. Kalimat pertama menyangkal apa yang mereka andalkan; kalimat kedua menyebut di mana mereka sebenarnya berada. Yang dicabut disebut lebih dahulu, dan tempat yang tersisa disebut sesudahnya.
Perlu dicatat pula bahwa yang disebut cuma dua: harta dan anak. Bukan kedudukan, bukan nama baik, bukan kekuatan. Dua itulah yang paling sering dikumpulkan orang justru untuk merasa cukup, dan dua itu pula yang disangkal di sini. Daftar yang pendek dan tepat sasaran lebih menusuk daripada daftar panjang yang menyebut segala sesuatu.
Susunan yang sama, harta dan anak berdampingan, dipakai juga di beberapa tempat lain di dalam Al-Qur'an, dan hampir selalu untuk menyatakan batas kegunaannya. Pasangan itu agaknya memang pasangan baku untuk menyebut apa yang manusia andalkan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa kekayaan dan keturunan tidak dapat menyelamatkan mereka dari ketetapan Allah.
Kata kerja yang dipakai bukan 'menyelamatkan' melainkan 'mencukupkan', dari akar yang berarti cukup dan tidak berhajat. Pemilihan itu tepat justru karena yang disebut harta dan anak. Dua-duanya memang barang yang dipakai orang untuk mencukupi diri: harta mencukupi kebutuhan, dan anak mencukupi tenaga serta perlindungan. Ayat ini memakai kata dari wilayah itu sendiri, lalu menyangkalnya di tempatnya sendiri.
Penyangkalannya pun memakai huruf yang menolak masa depan dengan tegas. Yang dinyatakan bukan bahwa keduanya belum tentu menolong, melainkan bahwa keduanya tidak akan. Susunan yang sama dipakai di surah sebelumnya untuk kerabat dan anak, dan dua ayat itu sama-sama menyangkal apa yang paling sering dijadikan sandaran.
Yang disangkal cakupannya juga luas. Keterangannya berbunyi 'dari Allah', bukan 'dari azab'. Menambahkan kata azab ke dalam terjemahan menyempitkan sesuatu yang dibiarkan luas oleh teks Arabnya. Yang dinyatakan bukan cuma bahwa keduanya tak menolong pada hari perhitungan, melainkan bahwa keduanya tak mencukupkan apa pun dari-Nya sama sekali.
Kalimat keduanya berganti dari sangkalan ke sebutan tempat. Mereka disebut penghuni api, dengan kata yang berarti orang yang menyertai atau menemani sesuatu, bukan orang yang dimasukkan ke dalamnya. Yang dinyatakan bukan hukumannya melainkan alamatnya, dan alamat menyatakan hubungan yang menetap. Susunan seluruh ayat karena itu bergerak dari mencabut apa yang mereka andalkan ke menyebut di mana mereka sebenarnya berada.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut harta dan anak-anak mereka tak mencukupkan sedikit pun. Dua-duanya. Yang biasa dipakai berlindung disebut tak berguna. Dan penyangkalannya memakai huruf yang menolak masa depan dengan tegas: bukan belum tentu menolong, melainkan tidak akan. Susunan yang sama dipakai di surah sebelumnya untuk kerabat dan anak, sehingga dua ayat itu sama-sama menyangkal apa yang paling sering dijadikan sandaran. Dua itulah yang paling sering dikumpulkan orang justru untuk merasa cukup.
- Kata yang dipakai mencukupkan. Bukan menyelamatkan. Yang diukur cukup atau tidak, dan jawabannya sedikit pun tidak. Pemilihan itu tepat justru karena yang disebut harta dan anak: dua-duanya memang barang yang dipakai orang untuk mencukupi diri. Ayat ini memakai kata dari wilayah itu sendiri, lalu menyangkalnya di tempatnya sendiri, bukan dari luar. Ayat ini memakai kata dari wilayah itu sendiri, lalu menyangkalnya di tempatnya sendiri. Sangkalan yang dipasang dari dalam wilayah kata itu sendiri terasa lebih tegas daripada sangkalan yang datang dari luar, sebab tak ada celah untuk membantah bahwa kata yang dipakai keliru dipahami.
- Allah menyebut mereka penghuni api, bukan yang dimasukkan ke dalamnya. Sebutan tempat tinggal. Yang dinyatakan bukan hukumannya, melainkan alamatnya. Kata yang dipakai berarti orang yang menyertai atau menemani sesuatu, dan hubungan semacam itu bersifat menetap. Alamat tak pernah berubah oleh keadaan sesaat, dan itulah sebabnya sebutan ini terasa lebih berat daripada penyebutan hukuman. Alamat tak pernah berubah oleh keadaan sesaat, dan itulah sebabnya sebutan ini terasa berat.
- Keterangannya berbunyi dari Allah, bukan dari azab. Menambahkan kata azab ke dalam terjemahan menyempitkan sesuatu yang dibiarkan luas oleh teks Arabnya. Yang dinyatakan bukan cuma bahwa keduanya tak menolong pada hari perhitungan, melainkan bahwa keduanya tak mencukupkan apa pun dari-Nya sama sekali, di hari mana pun dan dalam perkara apa pun. Yang dinyatakan berlaku di hari mana pun dan dalam perkara apa pun. Frasa itu membuka kemungkinan bahwa yang tak mencukupkan bukan cuma perhitungan di hari akhir, melainkan setiap keadaan sejak sekarang yang sebenarnya sedang berhadapan dengan-Nya tanpa disadari.
- Kata kerja untuk mencukupkan berakar sama dengan gelar Allah 'Sang Berkecukupan' yang disebut di surah sebelumnya. Bukankah pasangan itu menarik? Yang benar-benar berkecukupan tak memerlukan apa pun, sedangkan manusia mengumpulkan harta dan anak justru untuk merasa berkecukupan. Ayat ini menyatakan bahwa kecukupan yang dikumpulkan itu tak berlaku di hadapan yang kecukupannya melekat. Kecukupan yang dikumpulkan tak berlaku di hadapan yang kecukupannya melekat.
- Susunan seluruh ayat bergerak dari sangkalan ke sebutan. Kalimat pertama mencabut apa yang mereka andalkan; kalimat kedua menyebut di mana mereka sebenarnya berada. Yang dicabut disebut lebih dahulu, dan tempat yang tersisa disebut sesudahnya. Urutan itu tak bisa dibalik: menyebut tempat lebih dulu akan membuat sangkalannya terbaca sebagai tambahan, padahal ia justru pokoknya. Menyebut tempat lebih dulu akan membuat sangkalannya terbaca sebagai tambahan.