يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ ۖ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ ۚ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَ
Pada hari Allah membangkitkan mereka semua, lalu mereka bersumpah kepada-Nya sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian, dan mereka mengira bahwa mereka berada di atas sesuatu. Ketahuilah, sesungguhnya merekalah para pendusta.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَوْمَ يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًاyawma yab'atsuhumu llaahu jamii'anpada hari Allah membangkitkan mereka semua
- فَيَحْلِفُونَ لَهُ كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْfa-yahlifuuna lahu ka-maa yahlifuuna lakumlalu, mereka bersumpah kepada-Nya sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian
- وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍwa-yahsabuuna annahum 'alaa syay'indan mereka mengira bahwa mereka berada di atas sesuatu
- أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُونَalaa innahum humu l-kaadzibuunaketahuilah, sesungguhnya merekalah para pendusta
Terjemahan per kata (17 kata)
- يَوْمَyawmahari
- يَبْعَثُهُمُyab'atsuhumumembangkitkan mereka
- اللَّهُllaahuAllah
- جَمِيعًاjamii'ansemuanya
- فَيَحْلِفُونَfa-yahlifuunamaka mereka bersumpah
- لَهُlahubaginya
- كَمَاka-maasebagaimana
- يَحْلِفُونَyahlifuunamereka bersumpah
- لَكُمْlakumkepada kalian
- وَيَحْسَبُونَwa-yahsabuunadan mereka mengira
- أَنَّهُمْannahumbahwa mereka
- عَلَىٰ'alaaatas
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- أَلَاalaaingatlah
- إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
- هُمُhumumerekalah
- الْكَاذِبُونَl-kaadzibuunapara pendusta
Inti bacaan
Kebiasaan bersumpah palsu yang berlanjut hingga akhirat: 'mereka bersumpah kepada-Nya sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian, dan mereka mengira bahwa mereka berada di atas sesuatu', gambaran mengejutkan bahwa pola kebohongan yang terbiasa dilakukan di dunia terbawa hingga momen paling krusial, peringatan bahwa kebiasaan berdusta bisa mengaburkan bahkan kesadaran diri sendiri tentang realitas.
Penjelasan pilihan kata
Kata pertamanya, (يَوْمَ, yawma), keterangan waktu yang berdiri tanpa kata penghubung, persis seperti pembuka 58:6. Dua ayat di dalam satu surah dibuka dengan cara yang sama, dan keduanya menerangkan apa yang terjadi pada hari yang sama.
Rangkaian (يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ جَمِيعًا, yab'atsuhumu llaahu jamii'an) dipakai juga di 58:6, kata demi kata. Yang berbeda apa yang menyusulnya: di sana pemberitaan tentang perbuatan mereka, di sini sumpah yang mereka ucapkan sendiri.
Yang digambarkan mereka bersumpah kepada Allah (كَمَا يَحْلِفُونَ لَكُمْ, kamaa yahlifuuna lakum) 'sebagaimana mereka bersumpah kepada kalian'. Huruf penyerupa di depannya menyatakan bahwa caranya sama persis. Yang berganti cuma lawan bicaranya.
Susunan itu menyimpan sesuatu yang mengerikan sekaligus masuk akal. Kebiasaan yang sudah mengakar tidak berhenti hanya karena keadaannya berubah. Alat yang dahulu berhasil dipakai lagi di tempat yang sama sekali tidak mengenal alat semacam itu.
Rangkaian (وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ, wa-yahsabuuna annahum) memakai kata kerja yang muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, yaitu di 7:30, 18:104, 43:37, dan 58:18. Di dua tempat lainnya kata itu juga dipakai untuk orang yang menyangka dirinya berada di jalan yang benar padahal tidak.
Objek sangkaannya dibiarkan samar: (عَلَىٰ شَيْءٍ, 'alaa syay'in) 'di atas sesuatu'. Tidak disebut sesuatu apa. Kesamaran itu sendiri sudah menjadi keterangan: yang mereka pijak memang tidak punya nama, dan yang tak bisa dinamai memang tak bisa dipijak.
Penutupnya dibuka dengan (أَلَا, alaa), huruf yang menarik perhatian sebelum sebuah pernyataan penting, dan diterjemahkan 'ketahuilah'. Rangkaian (هُمُ الْكَاذِبُونَ, humu l-kaadzibuuna) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:105, 24:13, dan 58:18.
Susunan penutupnya memakai kata ganti pemisah, sehingga harfiahnya 'merekalah para pendusta itu'. Bentuk seperti itu menyatakan pembatasan: bukan sekadar mereka berdusta, melainkan merekalah yang pantas menyandang sebutan tersebut.
Perlu diperhatikan pula bahwa seluruh ayat ini berbentuk pemberitaan tentang sesuatu yang belum terjadi, tetapi memakai kata kerja bentuk sekarang. Bentuk itu menghadirkan kejadiannya seolah sedang berlangsung di depan mata pembacanya. Yang diceritakan hari yang jauh, dan cara menceritakannya membuatnya terasa dekat.
Susunan penutupnya juga sejajar dengan penutup 58:19 dan 58:22: huruf penarik perhatian, lalu kata ganti pemisah, lalu sebutan. Tiga ayat di dalam satu surah memakai bentuk penutup yang sama, dan ketiganya menjatuhkan sebuah nama pada golongan tertentu. Yang pertama menyebut pendusta, yang kedua menyebut yang rugi, yang ketiga menyebut yang beruntung.
Tafsiran
Ayat ini menyingkap bahwa kebiasaan bersumpah palsu mereka akan berlanjut bahkan di hadapan Allah pada Hari Kiamat, meski sia-sia.
Kata pertamanya keterangan waktu yang berdiri tanpa kata penghubung, persis seperti pembuka salah satu ayat sebelumnya di surah ini, dan rangkaian sesudahnya pun sama kata demi kata. Yang berbeda apa yang menyusul: di sana pemberitaan tentang perbuatan mereka, di sini sumpah yang mereka ucapkan sendiri.
Yang digambarkan mengerikan sekaligus masuk akal. Mereka bersumpah kepada Allah dengan cara yang sama persis seperti kepada sesama manusia, dan huruf penyerupa di depannya menyatakan kesamaan itu. Kebiasaan yang sudah mengakar memang tidak berhenti hanya karena keadaannya berubah. Alat yang dahulu berhasil dipakai lagi di tempat yang sama sekali tidak mengenal alat semacam itu.
Sangkaan mereka lalu direkam, bukan dibenarkan. Kalimatnya menyebut mereka mengira sedang berpijak pada sesuatu, dan objek sangkaannya dibiarkan samar: sesuatu, tanpa disebut apa. Kesamaran itu sendiri sudah menjadi keterangan. Yang mereka pijak memang tidak punya nama, dan yang tak bisa dinamai memang tak bisa dipijak.
Penutupnya membalik dugaan itu dengan huruf yang menarik perhatian lebih dahulu, lalu memakai kata ganti pemisah yang menyatakan pembatasan. Harfiahnya bukan sekadar mereka berdusta, melainkan merekalah yang pantas menyandang sebutan tersebut. Dan sebutan itu jatuh sesudah gambaran tentang sumpah di hadapan Allah, bukan sesudah gambaran sumpah di hadapan manusia, sehingga yang membuat mereka bergelar begitu adalah yang terakhir, bukan yang pertama.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka bersumpah kepada-Nya persis seperti kepada kalian. Caranya tidak berubah. Lawan bicaranya saja yang berganti. Huruf penyerupa di depan kalimatnya menyatakan kesamaan itu dengan terang. Kebiasaan yang sudah mengakar memang tidak berhenti hanya karena keadaannya berubah, dan berubahnya keadaan justru memperlihatkan betapa dalam kebiasaan itu tertanam. Berubahnya keadaan justru memperlihatkan betapa dalam kebiasaan itu tertanam. Huruf penyerupa di depan kalimatnya menyatakan kesamaan itu dengan terang.
- Kebiasaan lama terbawa ke tempat yang tak mengenal kebiasaan. Sumpah yang dahulu berhasil dipakai lagi. Alatnya tidak diperbarui. Alat yang berhasil di satu tempat dipakai di tempat yang sama sekali berbeda aturannya, dan pemakaian itu terjadi tanpa mereka sempat menimbang apakah ia masih berlaku. Begitulah kebiasaan bekerja: ia menggantikan penimbangan, bukan menyertainya. Pemakaian itu terjadi tanpa mereka sempat menimbang apakah alatnya masih berlaku.
- Mereka mengira sedang berpijak pada sesuatu, kata Allah. Sangkaan itu direkam, bukan dibenarkan. Kalimat sesudahnya membalik dugaan mereka. Dan objek sangkaannya dibiarkan samar: sesuatu, tanpa disebut apa. Kesamaran itu sendiri sudah menjadi keterangan, sebab yang mereka pijak memang tak punya nama, dan yang tak bisa dinamai memang tak bisa dipijak. Yang tak bisa dinamai memang tak bisa dipijak oleh siapa pun. Keteguhan yang mereka rasakan justru bertumpu pada sesuatu yang tak punya nama maupun bentuk, dan itulah yang membuatnya runtuh persis pada saat paling dibutuhkan.
- Penutupnya memakai kata ganti pemisah, sehingga harfiahnya 'merekalah para pendusta itu'. Bentuk seperti itu menyatakan pembatasan: bukan sekadar mereka berdusta, melainkan merekalah yang pantas menyandang sebutan tersebut. Dan sebutan itu jatuh sesudah gambaran sumpah di hadapan Allah, bukan sesudah sumpah di hadapan manusia. Sebutan itu jatuh sesudah gambaran sumpah di hadapan Allah, bukan di hadapan manusia. Cara berdusta seperti itu, yang dahulu bisa diselipkan di antara manusia yang saling percaya, kehilangan tempat bersembunyi begitu diucapkan di hadapan yang mengetahui isi hati sebelum kata-katanya keluar.
- Kata pertama ayat ini keterangan waktu yang berdiri tanpa penghubung, persis seperti pembuka ayat lain di surah ini, dan rangkaian sesudahnya sama kata demi kata. Dua ayat menerangkan hari yang sama dari dua sisi: yang satu tentang apa yang diberitakan kepada mereka, yang lain tentang apa yang mereka ucapkan sendiri. Yang mendengar dan yang berbicara, di hari yang satu. Yang mendengar dan yang berbicara, di hari yang satu dan sama.
- Kata kerja untuk mengira di ayat ini dipakai juga di dua tempat lain untuk orang yang menyangka dirinya berada di jalan yang benar padahal tidak. Bukankah itu jenis kekeliruan yang paling sukar diperbaiki? Orang yang tahu dirinya keliru masih bisa berbalik; orang yang mengira dirinya benar tak punya alasan untuk mencari jalan lain sama sekali. Yang mengira dirinya benar tak punya alasan mencari jalan lain sama sekali. Dua tempat lain yang memakai kata kerja serupa sama-sama menggambarkan orang yang merasa yakin berada di jalan yang keliru, seakan ayat ini sengaja menautkan sumpah dusta mereka dengan corak kekeliruan yang sama.