اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan; ketahuilah, sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang rugi.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُistahwadza 'alayhimu sy-syaythaanusetan telah menguasai mereka
  2. فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِfa-ansaahum dzikra llaahilalu, menjadikan mereka lupa mengingat Allah
  3. أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِulaa'ika hizbu sy-syaythaanimereka itulah golongan setan
  4. أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَalaa inna hizba sy-syaythaani humu l-khaasiruunaketahuilah, sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang rugi

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. اسْتَحْوَذَistahwadzamenguasai
  2. عَلَيْهِمُ'alayhimuatas mereka
  3. الشَّيْطَانُsy-syaythaanusetan
  4. فَأَنْسَاهُمْfa-ansaahummaka Dia menjadikan mereka lupa
  5. ذِكْرَdzikraperingatan
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  8. حِزْبُhizbugolongan
  9. الشَّيْطَانِsy-syaythaanisetan
  10. أَلَاalaaketahuilah
  11. إِنَّinnasesungguhnya
  12. حِزْبَhizbagolongan
  13. الشَّيْطَانِsy-syaythaanisetan
  14. هُمُhumumerekalah
  15. الْخَاسِرُونَl-khaasiruunaorang-orang yang rugi

Inti bacaan

Diagnosis akar masalah spiritual: 'setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah', identifikasi bahwa kelalaian spiritual bukan kondisi netral melainkan hasil dari pengaruh aktif yang perlu diwaspadai dan dilawan secara sadar.

Penjelasan pilihan kata

'Ulaa'ika' (jauh) benar diterjemahkan 'mereka itulah'. Frasa kedua 'itulah' pada 'golongan setan itulah' berasal dari kata ganti pemisah (fasl) 'humu', bukan demonstratif: konsisten dengan 52:42.

Kata kerja (اسْتَحْوَذَ, istahwadza) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:19. Akarnya berarti menguasai sesuatu sampai menghimpunnya seluruhnya, dan bentuk yang dipakai menyatakan pengambilalihan yang menyeluruh, bukan pengaruh yang sebagian.

Yang menyusulnya memakai kata kerja yang sama dengan di 59:19: (فَأَنْسَاهُمْ, fa-ansaahum) 'lalu menjadikan mereka lupa'. Di sana pelakunya Allah dan yang dilupakan diri mereka sendiri; di sini pelakunya setan dan yang dilupakan mengingat Allah. Satu bentuk kata dipakai untuk dua pelaku yang berlawanan.

Yang dilupakan disebut (ذِكْرَ اللَّهِ, dzikra llaahi) 'mengingat Allah', bukan aturan atau kewajiban. Yang pertama hilang bukan perbuatannya, melainkan yang menggerakkan perbuatan itu. Susunan seperti itu menerangkan mengapa kelalaian sering datang tanpa keputusan yang disadari.

Rangkaian (حِزْبُ الشَّيْطَانِ, hizbu sy-syaythaani) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:19. Kata pertamanya berarti kelompok yang terikat oleh satu urusan bersama. Rangkaian sepadannya, (حِزْبُ اللَّهِ, hizbu llaahi), juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:22.

Dua rangkaian itu berdiri tiga ayat berjauhan di dalam surah yang sama, dan masing-masing muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an. Susunan penutup keduanya pun sejajar: dibuka dengan huruf penarik perhatian, lalu kata ganti pemisah, lalu sebutan hasil akhirnya.

Rangkaian (هُمُ الْخَاسِرُونَ, humu l-khaasiruuna) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:27, 7:178, 16:109, 58:19, dan 63:9. Akar katanya berasal dari dunia dagang: rugi sebagai lawan untung, bukan celaka sebagai lawan selamat.

Pemilihan kata dari dunia dagang itu berpasangan dengan penutup 58:22, yang memakai kata untuk beruntung dari akar yang berarti membelah tanah untuk bertani. Dua penutup itu sama-sama memakai bahasa pekerjaan sehari-hari untuk menyebut hasil akhir yang tidak terlihat siapa pun.

Satu hal lagi: susunan penutup ayat ini dan penutup 58:22 sejajar sampai ke huruf-hurufnya. Keduanya dibuka dengan huruf penarik perhatian, lalu menyebut nama golongannya, lalu kata ganti pemisah, lalu sebutan hasil akhirnya. Kesejajaran sepersis itu di dalam satu surah memaksa keduanya dibaca berpasangan, dan pembaca yang sampai di ayat penutup akan mengenali bentuk yang sudah ia lewati tiga ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa kelupaan mengingat Allah adalah tanda dikuasai setan, berujung pada kerugian sejati.

Kata kerja pembukanya tidak dipakai lagi di ayat mana pun dengan bentuk yang persis sama, dan akarnya berarti menguasai sesuatu sampai menghimpunnya seluruhnya. Yang digambarkan bukan pengaruh yang sebagian melainkan pengambilalihan yang menyeluruh. Kelupaan yang disebut sesudahnya karena itu tidak dinyatakan sebagai kelalaian yang muncul sendiri; ia akibat dari sesuatu yang sudah menguasai lebih dahulu.

Kata kerja untuk melupakan itu sama bentuknya dengan yang dipakai di surah sebelumnya, tetapi pelakunya berbeda. Di sana pelakunya Allah dan yang dilupakan diri mereka sendiri; di sini pelakunya setan dan yang dilupakan mengingat Allah. Satu bentuk kata dipakai untuk dua pelaku yang berlawanan, dan dua-duanya menghasilkan kehilangan.

Yang dilupakan pun bukan aturan dan bukan kewajiban, melainkan mengingat Allah. Yang pertama hilang bukan perbuatannya, melainkan yang menggerakkan perbuatan itu. Susunan seperti itu menerangkan mengapa kelalaian sering datang tanpa keputusan yang disadari: tidak ada yang memutuskan berhenti, yang ada cuma sesuatu yang perlahan tidak lagi diingat.

Penutupnya memberi nama kepada mereka, dan nama itu tidak dipakai lagi di ayat mana pun dengan bentuk yang persis sama. Pasangannya, dengan susunan penutup yang sejajar, ada tiga ayat sesudahnya dan juga tidak dipakai di tempat lain. Dua nama itu berhadapan di dalam satu surah. Dan kata yang dipakai untuk hasil akhir mereka berasal dari dunia dagang: rugi sebagai lawan untung, bukan celaka sebagai lawan selamat, sehingga yang dinyatakan sebuah perhitungan yang meleset, bukan sebuah kecelakaan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut kelupaan itu punya sebab: setan menguasai mereka. Bukan kebetulan. Yang tampak sebagai lalai dinyatakan sebagai akibat. Kata kerja pembukanya pun berakar pada menguasai sesuatu sampai menghimpunnya seluruhnya, jadi yang digambarkan bukan pengaruh sebagian melainkan pengambilalihan menyeluruh. Kelalaian sebesar itu memang tak muncul sendiri tanpa ada yang lebih dulu mengambil alih. Kelalaian sebesar itu tak muncul sendiri tanpa ada yang lebih dulu mengambil alih.
  • Yang dilupakan disebut mengingat Allah. Bukan aturan. Yang pertama hilang bukan perbuatannya, melainkan yang menggerakkan perbuatan itu. Susunan seperti itu menerangkan mengapa kelalaian sering datang tanpa keputusan yang disadari: tak ada yang memutuskan berhenti, yang ada cuma sesuatu yang perlahan tak lagi diingat, dan perbuatannya menyusul berhenti dengan sendirinya. Tak ada yang memutuskan berhenti; yang ada cuma sesuatu yang perlahan tak lagi diingat.
  • Allah menutup dengan mereka golongan setan, dan golongan setan itulah yang rugi. Diberi nama. Yang mengira menang diberi label yang menyebut hasil akhirnya. Kata untuk rugi itu pun berasal dari dunia dagang: rugi sebagai lawan untung, bukan celaka sebagai lawan selamat. Yang dinyatakan sebuah perhitungan yang meleset, bukan sebuah kecelakaan yang menimpa. Yang dinyatakan sebuah perhitungan yang meleset, bukan kecelakaan yang menimpa.
  • Sebutan 'golongan setan' tidak dipakai lagi di ayat mana pun dengan bentuk yang persis sama, dan pasangannya, 'golongan Allah', juga hanya berdiri di satu tempat, tiga ayat sesudahnya di surah yang sama. Susunan penutup keduanya pun sejajar: huruf penarik perhatian, kata ganti pemisah, lalu sebutan hasil akhirnya. Dua nama itu sengaja dipasang berhadapan, dan tak ada nama ketiga yang disediakan di antara keduanya. Tak ada nama ketiga yang disediakan di antara keduanya.
  • Kata kerja untuk membuat lupa di ayat ini sama bentuknya dengan yang dipakai di surah sebelumnya, tetapi pelakunya berbeda. Di sana Allah membuat mereka lupa kepada diri sendiri; di sini setan membuat mereka lupa mengingat Allah. Satu bentuk kata untuk dua pelaku yang berlawanan, dan dua-duanya berujung pada kehilangan yang tak disadari orangnya. Dua-duanya berujung pada kehilangan yang tak disadari orangnya sendiri. Bentuk kata kerja yang sama dipakai untuk dua arah kehilangan yang berlawanan menunjukkan betapa tipis jarak antara yang dijauhkan oleh Allah dan yang dijauhkan oleh musuh-Nya, sebab keduanya sama-sama berujung pada satu hal yang sama: lupa.
  • Kata yang dipakai untuk golongan berarti kelompok yang terikat oleh satu urusan bersama, bukan sekadar kumpulan orang yang kebetulan sama. Bukankah itu menuntut sesuatu dari yang termasuk di dalamnya? Menuntut: keterikatan itu tak terjadi tanpa ada yang dipegang bersama, dan yang dipegang bersama selalu menentukan ke mana seluruh kelompok itu bergerak. Yang dipegang bersama selalu menentukan ke mana seluruh kelompok itu bergerak. Golongan setan karena itu bukan sekumpulan orang yang kebetulan sesat sendiri-sendiri, melainkan yang terikat oleh satu pegangan yang sama, sehingga arah geraknya bisa dikenali sebagai satu pola, bukan kejadian-kejadian yang terpisah.