إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah termasuk orang-orang yang sangat hina.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُinna lladziina yuhaadduuna llaaha wa-rasuulahusesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya
  2. أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَulaa'ika fii l-adzalliinamereka itulah termasuk orang-orang yang sangat hina

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. يُحَادُّونَyuhaadduunamereka menentang
  4. اللَّهَllaahaAllah
  5. وَرَسُولَهُwa-rasuulahudan Rasul-Nya
  6. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  7. فِيfiitermasuk
  8. الْأَذَلِّينَl-adzalliinaorang-orang yang paling hina

Inti bacaan

Penutup tegas tentang konsekuensi penentangan: 'orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina', pengulangan tema yang sama dari 58:5, penegasan berulang bahwa posisi menentang otoritas kebenaran secara konsisten berujung pada kehinaan, bukan kemuliaan yang mungkin diklaim sepihak oleh pelakunya.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يُحَادُّونَ, yuhaadduuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:5 dan 58:20. Keduanya berada di surah ini, dan keduanya membuka kalimat dengan susunan yang hampir sama: penegas, lalu sebutan golongan, lalu akibatnya.

Kata (الْأَذَلِّينَ, al-adzalliina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 58:20. Bentuknya elatif jamak dari akar yang berarti hina dan rendah, sehingga harfiahnya 'yang paling hina'. Terjemahan 'yang sangat hina' menahan kadarnya tanpa memakai bentuk paling yang terlalu keras dalam bahasa Indonesia.

Perbandingan dengan 58:5 memperlihatkan kenaikan kadar. Di sana yang dipakai kata kerja pasif yang berarti dijatuhkan sampai patah semangatnya; di sini yang dipakai kata sifat dalam bentuk elatif. Yang tadi peristiwa, yang sekarang kedudukan, dan kedudukan lebih menetap daripada peristiwa.

Susunan kalimatnya juga berbeda dari 58:5. Di sana perbuatan mereka disandingkan dengan yang terdahulu; di sini tidak ada perbandingan sama sekali. Yang tersisa cuma pernyataan tentang di mana mereka berada, tanpa dukungan contoh dan tanpa keterangan sebab.

Kata (فِي, fii) 'termasuk' di depan sebutan itu menyatakan keberadaan di dalam sebuah golongan, bukan penyamaan dengan golongan tersebut. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa merekalah yang paling hina, melainkan bahwa mereka termasuk ke dalam yang paling hina.

Pembedaan itu halus dan berarti. Golongan itu sudah ada sebelum mereka masuk ke dalamnya, dan akan tetap ada sesudahnya. Yang dinyatakan penempatan, bukan penciptaan sebuah kedudukan baru khusus untuk mereka.

Letak ayat ini persis sebelum 58:21 juga berbicara. Yang satu menyebut kedudukan penentang, yang lain menyebut ketetapan tentang siapa yang menang. Dua ayat berurutan itu menyusun dua sisi dari satu perkara, dan yang kedua diucapkan sebagai kalimat langsung.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini pendek sekali, jauh lebih pendek daripada ayat-ayat di sekitarnya. Kependekan itu bekerja seperti ketukan: sesudah rangkaian ayat yang panjang tentang sumpah, harta, dan kelupaan, satu kalimat pendek menyimpulkan kedudukannya.

Perlu dicatat pula bahwa kata kerja untuk menentang di sini berbentuk sekarang, sedangkan kedudukan yang disebut sesudahnya bersifat tetap. Perbuatan yang masih berlangsung dipasangkan dengan kedudukan yang sudah ditetapkan. Susunan itu menyatakan bahwa kedudukannya tidak menunggu perbuatannya selesai; ia sudah berlaku selama perbuatannya berjalan.

Perlu diperhatikan pula bahwa ayat ini tak menyebut sebab sama sekali, padahal ayat kelima surah ini menyebutkannya. Ketiadaan sebab di sini bukan kelalaian; ia tanda bahwa yang sedang dikerjakan ayat ini merangkum, bukan menerangkan. Sebuah rangkuman memang tak perlu mengulang bukti yang sudah dihamparkan.

Tafsiran

Ayat ini mengulang penegasan kehinaan bagi penentang Allah dan Rasul-Nya.

Pengulangan itu bukan salinan. Kata kerja untuk menentang memang sama dengan yang dipakai di ayat kelima surah ini, dan susunan pembukanya pun hampir sama. Yang berubah kadar dan bentuk akibatnya. Di sana yang dipakai kata kerja pasif yang berarti dijatuhkan sampai patah semangatnya; di sini kata sifat dalam bentuk yang paling. Yang tadi peristiwa, yang sekarang kedudukan, dan kedudukan lebih menetap daripada peristiwa.

Yang juga hilang di ayat ini adalah dukungannya. Di ayat kelima, perbuatan mereka disandingkan dengan kaum yang terdahulu dan disebutkan pula bahwa tanda-tanda sudah diturunkan. Di sini tidak ada perbandingan, tidak ada keterangan sebab, dan tidak ada apa pun selain pernyataan tentang di mana mereka berada. Ketiadaan itu membuat kalimatnya terdengar seperti kesimpulan, bukan seperti dakwaan.

Kata depan yang dipakai menyatakan keberadaan di dalam sebuah golongan, bukan penyamaan dengan golongan tersebut. Yang dinyatakan bukan bahwa merekalah yang paling hina, melainkan bahwa mereka termasuk ke dalamnya. Golongan itu sudah ada sebelum mereka masuk, dan akan tetap ada sesudahnya. Yang dinyatakan penempatan, bukan penciptaan kedudukan baru khusus untuk mereka.

Kependekan ayat ini juga bekerja. Sesudah rangkaian panjang tentang sumpah yang dijadikan perisai, harta yang tidak mencukupkan, dan kelupaan mengingat Allah, satu kalimat pendek menyimpulkan kedudukan mereka. Dan letaknya persis sebelum ayat berikutnya, yang menyebut ketetapan tentang siapa yang menang, menyusun dua sisi dari satu perkara yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai kata hina, bukan kata kalah. Yang jatuh martabatnya. Bukan kekuatannya. Dan bentuknya kata sifat dalam bentuk yang paling, bukan kata kerja seperti di ayat kelima surah ini. Yang tadi peristiwa, yang sekarang kedudukan, dan kedudukan lebih menetap daripada peristiwa. Sesuatu yang menimpa bisa berlalu; sesuatu yang menjadi kedudukan tidak. Bentuknya kata sifat, bukan kata kerja seperti di ayat kelima surah ini.
  • Kalimat ini mengulang yang sudah disebut di surah yang sama. Bunyinya mirip. Penekanannya bertambah. Pengulangannya bukan salinan: yang berubah kadar dan bentuk akibatnya. Dan yang hilang di sini justru dukungannya, sebab di ayat kelima ada perbandingan dengan yang terdahulu dan penyebutan tanda-tanda yang sudah diturunkan, sedangkan di sini tak ada apa-apa selain pernyataannya. Di ayat kelima ada perbandingan dan penyebutan tanda-tanda; di sini tak ada apa-apa. Pengulangannya bukan salinan: yang berubah kadar dan bentuk akibatnya.
  • Sifatnya disebut sangat hina, bukan sekadar hina. Allah menaikkan kadarnya. Yang berulang dipertegas. Ketiadaan keterangan sebab di ayat ini pun membuat kalimatnya terdengar seperti kesimpulan, bukan seperti dakwaan. Kesimpulan memang tak memerlukan bukti tambahan; buktinya sudah dihamparkan di belasan ayat sebelumnya di surah yang sama. Buktinya sudah dihamparkan di belasan ayat sebelumnya di surah yang sama. Sebuah kesimpulan yang menyusul bukti sepanjang itu tak lagi memerlukan nada memperingatkan; ia cukup dinyatakan, sebab pembaca yang sudah mengikuti seluruh surah ini tak lagi butuh diyakinkan lagi.
  • Kata depan yang dipakai menyatakan keberadaan di dalam sebuah golongan, bukan penyamaan dengan golongan itu. Yang dinyatakan bukan bahwa merekalah yang paling hina, melainkan bahwa mereka termasuk ke dalamnya. Golongan itu sudah ada sebelum mereka masuk dan akan tetap ada sesudahnya. Yang dinyatakan penempatan, bukan penciptaan kedudukan baru khusus untuk mereka. Golongan itu sudah ada sebelum mereka masuk dan akan tetap ada sesudahnya.
  • Ayat ini pendek sekali, jauh lebih pendek daripada ayat-ayat di sekitarnya. Kependekan itu bekerja seperti ketukan. Sesudah rangkaian panjang tentang sumpah yang dijadikan perisai, harta yang tak mencukupkan, dan kelupaan mengingat Allah, satu kalimat pendek menyimpulkan kedudukan mereka. Panjang sebuah kalimat ternyata ikut menentukan bagaimana ia terdengar. Ketukan pendek seperti ini biasanya diletakkan setelah rangkaian yang panjang justru supaya pembaca berhenti sejenak, dan jeda itu sendiri menjadi bagian dari apa yang hendak disampaikan, bukan sekadar jeda kosong di antara dua gagasan.
  • Letak ayat ini persis sebelum ayat berikutnya berbicara. Yang satu menyebut kedudukan penentang, yang lain menyebut ketetapan tentang siapa yang menang. Bukankah keduanya perkara yang sama dilihat dari dua arah? Yang satu menyebut di mana yang melawan berakhir, yang lain menyebut siapa yang memenangkannya, dan keduanya diletakkan berdampingan tanpa kata penghubung. Keduanya diletakkan berdampingan tanpa satu kata penghubung pun. Ketiadaan penghubung itu membuat pembaca sendiri yang harus menyambungkan dua sisinya, dan penyambungan yang dikerjakan sendiri biasanya membekas lebih dalam daripada kesimpulan yang sudah dieja lengkap oleh kalimatnya.