بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِsabbaha li-llaahi maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhiapa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah
  2. وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُwa-huwa l-'aziizu l-hakiimudan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. سَبَّحَsabbahabertasbih
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. مَاmaaapa yang
  4. فِيfiidi
  5. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  6. وَمَاwa-maadan apa yang
  7. فِيfiidi
  8. الْأَرْضِl-ardhibumi
  9. وَهُوَwa-huwadan Dialah
  10. الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
  11. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah

Inti bacaan

Pembukaan Al-Hashr dengan ketundukan universal: 'apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah', pengulangan tema pembukaan yang konsisten dengan surah 57 dan 62, menegaskan bahwa ketundukan kosmik adalah kerangka umum bagi banyak surah yang membahas peristiwa historis konkret.

Penjelasan pilihan kata

Surah Al-Hasyr tidak dibuka dengan huruf muqatta'aat, melainkan verba tasbih, konsisten pola pembuka 57:1 dan 61:1.

Rangkaian (سَبَّحَ لِلَّهِ, sabbaha li-llaahi) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 57:1, 59:1, dan 61:1. Ketiganya memakai bentuk lampau. Dua surah lain memakai verba yang sama berbentuk sekarang: (يُسَبِّحُ لِلَّهِ, yusabbihu li-llaahi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 62:1 dan 64:1. Lima surah karena itu dibuka dengan satu perbuatan yang sama, dan yang membedakannya cuma bentuk waktunya.

Kalimat pembukanya secara utuh, (سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, sabbaha li-llaahi maa fi s-samaawaati wa-maa fi l-ardhi), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:1 dan 61:1. Dua ayat itu sama huruf demi huruf sampai ke penutupnya. Pembuka 57:1 berbeda pada satu hal: ruangnya disebut sekali, tanpa mengulang penunjuk tempat untuk bumi.

Kata yang menunjuk pelakunya adalah (مَا, maa), kata untuk yang tidak berakal, bukan (مَنْ, man). Pilihan itu membuat daftarnya terbentang dari segala sesuatu, bukan turun dari manusia ke bawah. Terjemahan 'apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi' mempertahankan pemisahan tersebut.

Penutupnya, (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu), muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 14:4, 16:60, 29:42, 57:1, dan 59:1. Tanpa kata sambung di depannya, pasangan (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, al-'aziizu l-hakiimu) dipakai 29 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:129, 2:209, 3:6, dan ayat ini.

Yang khas pada surah ini adalah apa yang menyusul sesudah pembukaan itu. Ayat kedua langsung masuk ke sebuah peristiwa: satu kaum dikeluarkan dari tempat tinggalnya. Jadi gambaran seluruh alam yang bertasbih dipasang tepat sebelum cerita tentang tembok yang roboh, dan jarak antara keduanya cuma satu pergantian ayat.

Dua gelar di penutupnya juga bekerja sebagai penyiap. Yang pertama tentang kuasa yang tak terkalahkan, yang kedua tentang pertimbangan. Peristiwa yang diceritakan sesudahnya bisa saja dibaca semata sebagai kekuatan yang menang; kehadiran gelar kedua sejak ayat pertama menahan pembacaan itu sebelum sempat terbentuk.

Perlu dicatat bahwa surah ini tidak dibuka dengan huruf-huruf terpisah seperti sejumlah surah lain. Yang dipasang di tempat itu justru sebuah kalimat penuh yang isinya sudah lengkap: pelakunya, pekerjaannya, dan kepada siapa pekerjaan itu ditujukan. Pembaca tidak diminta menunggu ayat berikutnya untuk memahami kalimat pertamanya, dan ketika ayat berikutnya datang, ia membawa sesuatu yang sama sekali lain: sebuah peristiwa dengan tempat, pelaku, dan akibat yang jelas.

Dua bentuk waktu yang dipakai lima surah pembuka itu juga tidak acak. Yang lampau menyatakan pekerjaan yang sudah selesai terjadi, yang sekarang menyatakan pekerjaan yang masih berjalan. Dipakai bersama-sama untuk satu perbuatan yang sama, keduanya membentang waktu dari yang sudah lewat sampai yang sedang berlangsung, tanpa satu kata keterangan waktu pun ditambahkan.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan penegasan bahwa seluruh alam bertasbih kepada Allah, Yang Digdaya dan Penuh Hikmah.

Letak pembukaan ini yang membuatnya menarik. Ayat kedua surah ini langsung masuk ke sebuah kejadian yang sangat khusus: satu kaum dikeluarkan dari tempat tinggalnya, benteng yang mereka andalkan tidak menolong, dan rumah-rumah mereka runtuh oleh tangan mereka sendiri. Sebelum semua itu diceritakan, yang disebut lebih dulu adalah seluruh langit dan bumi yang bertasbih. Jarak antara gambaran seluas itu dan kejadian sesempit itu cuma satu pergantian ayat.

Susunan semacam ini menaruh peristiwa pada tempatnya. Kejadian yang diceritakan sesudahnya tidak berdiri sendiri sebagai berita tentang siapa menang dan siapa kalah. Ia dipasang di dalam bingkai yang jauh lebih besar, dan bingkai itu dipasang lebih dulu supaya pembacanya tidak sempat membaca peristiwanya dengan ukuran yang keliru.

Bentuk lampau pada verbanya menutup ruang tawar-menawar. Tasbih itu sudah berlangsung, tidak sedang diusulkan, dan tidak menunggu persetujuan siapa pun. Empat surah lain memakai pembuka yang sama atau hampir sama, dua di antaranya dengan bentuk sekarang. Yang diulang bukan sekadar kalimat, melainkan cara memulai: sebutkan lebih dulu apa yang sudah berjalan, baru ceritakan apa yang terjadi.

Dua gelar di penutupnya juga bekerja sebagai penyiap. Yang pertama tentang kuasa yang tak terkalahkan, yang kedua tentang pertimbangan. Kalau ayat ini berhenti pada gelar pertama, seluruh kisah yang menyusul akan terbaca sebagai kekuatan yang menghancurkan. Kehadiran gelar kedua sejak kalimat pembuka menahan pembacaan itu sebelum sempat terbentuk, dan menahannya sebelum, bukan sesudah, jauh lebih berhasil.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membuka surah dengan apa yang di langit dan di bumi bertasbih. Semuanya. Kisah pengusiran satu kaum dibuka dengan gambaran seluruh alam. Jarak antara keduanya cuma satu pergantian ayat, dan justru jarak sependek itu yang bekerja. Peristiwa sesempit apa pun berubah ukurannya begitu diletakkan di dalam bingkai seluas itu, dan bingkainya sengaja dipasang lebih dahulu supaya pembacanya tak sempat menakar dengan ukuran yang keliru. Ukuran sebuah kejadian tak pernah ditentukan oleh kejadian itu sendiri, melainkan oleh apa yang dipasang di sekelilingnya.
  • Dua sebutan menutup ayatnya: Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah. Berpasangan. Yang berkuasa disebut bersama yang menimbang. Kalau ayat ini berhenti pada sebutan pertama, seluruh kisah yang menyusul akan terbaca sebagai kekuatan yang menghancurkan begitu saja. Sebutan kedua menahan pembacaan itu sebelum sempat terbentuk, dan menahannya di depan jauh lebih berhasil daripada meluruskannya di belakang. Menahan salah baca di depan selalu lebih murah daripada meluruskannya sesudah terlanjur.
  • Allah memakai pembuka yang sama dengan beberapa surah lain. Berulang. Peristiwa sejarahnya berbeda, kerangkanya sama. Lima surah dibuka dengan satu perbuatan yang sama, dan yang membedakan cuma bentuk waktunya: sebagian memakai bentuk lampau, sebagian bentuk sekarang. Yang diulang karena itu bukan sekadar kalimat, melainkan cara memulai: sebutkan dulu apa yang sudah berjalan, baru ceritakan apa yang terjadi. Yang berulang di sini bukan isinya, melainkan urutannya, dan urutan itu yang menular.
  • Kata yang dipakai untuk pelakunya adalah kata untuk benda, bukan kata untuk yang berakal. Bahasa Arab memisahkan keduanya dengan tegas, dan di sini pilihannya jatuh pada yang pertama. Daftar pelakunya karena itu terbentang dari segala sesuatu, bukan turun dari manusia ke bawah. Yang tak sanggup berkata-kata pun masuk hitungan, dan mereka disebut lebih dahulu daripada siapa pun yang bisa berbicara. Yang paling tak diperhitungkan justru disebut paling dulu di dalam daftarnya.
  • Verbanya berbentuk lampau. Pekerjaan itu sudah berjalan, tidak sedang ditawarkan kepada alam, dan tidak menunggu persetujuan siapa pun. Lalu bagaimana kedudukan orang yang baru menyadarinya sekarang? Ia masuk belakangan ke dalam sesuatu yang sudah lama berlangsung. Tak ada yang perlu dirintis, dan itu melegakan; tetapi juga tak ada yang bisa disalahkan atas keterlambatan, dan itu menciutkan. Datang belakangan ke pekerjaan yang sudah jalan meringankan sekaligus menutup alasan.
  • Ayat kedua surah ini langsung masuk ke kejadian yang sangat khusus: benteng yang tak menolong, rumah yang roboh oleh tangan penghuninya sendiri. Sebelum semua itu, Allah menyebut seluruh langit dan bumi. Urutannya tak pernah dibalik. Peristiwa yang diceritakan sesudahnya tidak berdiri sendiri sebagai berita siapa menang dan siapa kalah; ia dipasang di dalam sesuatu yang jauh lebih besar, dan besarnya disebut lebih dulu.