وَلَوْلَا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاءَ لَعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابُ النَّارِ
Dan sekiranya Allah tidak menetapkan pengusiran atas mereka, niscaya Dia mengazab mereka di dunia; dan bagi mereka di akhirat azab api.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَلَوْلَا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاءَwa-lawlaa an kataba llaahu 'alayhimu l-jalaa'adan sekiranya Allah tidak menetapkan pengusiran atas mereka
- لَعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَاla-'adzdzabahum fii d-dunyaaniscaya Dia mengazab mereka di dunia
- وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابُ النَّارِwa-lahum fii l-aakhirati 'adzaabu n-naaridan bagi mereka di akhirat azab api
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَلَوْلَاwa-lawlaadan sekiranya tidak
- أَنْanbahwa
- كَتَبَkatabamenetapkan
- اللَّهُllaahuAllah
- عَلَيْهِمُ'alayhimuatas mereka
- الْجَلَاءَl-jalaa'apengusiran
- لَعَذَّبَهُمْla-'adzdzabahumsungguh Dia akan mengazab mereka
- فِيfiidi
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
- فِيfiidi
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- عَذَابُ'adzaabuazab
- النَّارِn-naariapi
Inti bacaan
Prinsip proporsionalitas konsekuensi: 'sekiranya Allah tidak menetapkan pengusiran atas mereka, niscaya Dia mengazab mereka di dunia', pengakuan bahwa hukuman yang tampak berat (pengusiran) sesungguhnya merupakan bentuk keringanan dibanding alternatif yang lebih keras, perspektif yang membantu memahami konsekuensi sulit sebagai bagian dari kebijaksanaan yang lebih besar.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْجَلَاءَ, al-jalaa'a) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:3. Akarnya berarti menyingkirkan sesuatu sehingga yang tersisa menjadi terang, dan dari akar yang sama lahir kata untuk 'jelas'. Terjemahan 'pengusiran' menahan sisi berpindahnya, sedangkan sisi menjadi-terangnya tidak dimasukkan ke dalam kalimat karena teks Arabnya tidak memasangnya di situ.
Kalimatnya dibuka dengan (وَلَوْلَا, wa-lawlaa), huruf yang menyatakan pengandaian terbalik: sekiranya sesuatu tidak ada, niscaya yang lain terjadi. Susunan itu menyebutkan sesuatu yang tidak terjadi untuk menerangkan bobot sesuatu yang terjadi. Yang diberitakan karena itu bukan cuma apa yang menimpa mereka, melainkan juga apa yang tidak jadi menimpa mereka.
Kata kerja (كَتَبَ, kataba) di sini berarti menetapkan, bukan menulis dalam arti biasa. Yang ditetapkan disebut 'atas mereka', memakai huruf yang menandai beban. Jadi pengusiran itu digambarkan sebagai ketetapan yang dijatuhkan, bukan sebagai akibat yang kebetulan muncul dari keadaan.
Rangkaian (عَذَابُ النَّارِ, 'adzaabu n-naari) di sini tampil dalam kedudukan i'rab yang berbeda dari pemakaiannya di tempat lain, misalnya 2:201. Bentuknya susunan sandar, harfiahnya 'azab api', dan terjemahan mempertahankan susunan itu tanpa menambahkan kata sambung yang tidak ada di teks Arabnya.
Ayat ini menyusun tiga tingkat dalam satu kalimat pendek. Yang pertama, pengusiran yang benar-benar terjadi. Yang kedua, azab di dunia yang tidak jadi terjadi. Yang ketiga, azab di akhirat yang masih menunggu. Tingkat kedua disisipkan di tengah justru untuk menakar tingkat pertama, dan tingkat ketiga ditaruh di ujung supaya tidak ada yang membaca keringanan itu sebagai pembebasan.
Susunan bertingkat itu juga menerangkan mengapa ayat sebelumnya diceritakan sepanjang itu. Sesudah pembaca melihat benteng yang runtuh dan rumah yang dihancurkan sendiri, wajar kalau ia mengira itulah hukuman yang paling berat. Ayat ini datang untuk berkata bahwa yang baru saja dilihatnya justru yang lebih ringan.
Kata sambung di kalimat terakhirnya, (وَلَهُمْ, wa-lahum) 'dan bagi mereka', memakai huruf kepunyaan yang biasa dipakai untuk sesuatu yang menjadi hak seseorang. Pemakaian huruf itu untuk azab membuat kalimatnya terbaca ganjil dalam bahasa mana pun, dan keganjilan itu memang ada di teks Arabnya, bukan ditambahkan penerjemah.
Ada satu hal lagi yang mudah terlewat. Kalimat pertamanya menyebut azab di dunia sebagai kemungkinan yang tidak jadi, sedangkan kalimat keduanya menyebut azab di akhirat sebagai sesuatu yang ada. Dua kalimat itu memakai kata yang sama untuk azab, tetapi kedudukannya berbeda sama sekali: yang satu berada di dalam pengandaian, yang lain di dalam pernyataan. Bentuk kalimatnya sendiri yang membedakan, bukan kata-katanya.
Susunan seperti itu punya akibat pada cara membacanya. Keringanan yang disebut di kalimat pertama tidak bisa dipindahkan ke kalimat kedua, sebab keduanya berada di dua wilayah yang berlainan. Apa yang ditahan di dunia tidak dengan sendirinya ikut ditahan di tempat lain, dan ayat ini menaruh kedua wilayah itu berdampingan supaya perbedaannya terlihat tanpa perlu diterangkan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa pengusiran itu sendiri sudah merupakan bentuk keringanan, dibanding azab yang lebih berat.
Cara ayat ini bekerja adalah dengan menyebutkan sesuatu yang tidak terjadi. Bentuk pengandaiannya terbalik: sekiranya ketetapan itu tidak ada, niscaya yang lain menimpa mereka. Pembaca karena itu diberi tahu dua hal sekaligus, yaitu apa yang menimpa dan apa yang tidak jadi menimpa. Dan yang kedua itulah yang dipakai untuk menakar yang pertama.
Takaran itu perlu justru karena ayat sebelumnya panjang dan mengerikan. Sesudah melihat benteng yang runtuh, rasa takut yang dilemparkan, dan rumah yang dihancurkan oleh penghuninya sendiri, wajar kalau seseorang mengira itulah puncak hukumannya. Ayat ini datang untuk menyebut bahwa yang baru saja dilihat justru yang lebih ringan. Ukuran manusia tentang berat dan ringan ternyata sering terbalik, dan ia baru ketahuan terbalik ketika ada pembanding yang disebutkan.
Kata kerja yang dipakai untuk ketetapan itu berarti menetapkan, dan yang ditetapkan disebut sebagai beban atas mereka. Pengusiran itu karena itu tidak digambarkan sebagai akibat yang kebetulan muncul dari keadaan perang. Ia disebut sebagai sesuatu yang diputuskan, dan keputusan itu justru yang menahan hal yang lebih berat.
Kalimat terakhirnya menutup pintu yang baru saja terbuka. Keringanan di dunia bukan pembebasan; yang di akhirat tetap disebut. Dan huruf yang dipakai untuk menyandarkan azab itu kepada mereka adalah huruf yang biasa menandai sesuatu yang menjadi hak seseorang. Kalimatnya jadi terbaca ganjil, dan keganjilan itu memang ada di dalam teks Arabnya. Yang menunggu di sana disebut sebagai bagian mereka, bukan sebagai ancaman yang menggantung.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut pengusiran itu sebagai keringanan. Bukan hukuman terberat. Ada yang lebih berat yang ditahan. Cara ayat ini bekerja adalah dengan menyebutkan sesuatu yang tidak terjadi, lewat bentuk pengandaian terbalik: sekiranya ketetapan itu tak ada, niscaya yang lain menimpa. Pembaca diberi tahu dua hal sekaligus, dan yang tidak terjadi itulah yang dipakai menakar yang terjadi. Sesuatu yang tak jadi datang tak pernah dilihat siapa pun, dan karena itu jarang dihitung.
- Yang tampak berat ternyata yang lebih ringan. Ukuran kita sering terbalik. Perbandingannya baru kelihatan di sini. Sesudah membaca benteng yang runtuh dan rumah yang dihancurkan penghuninya sendiri, wajar kalau seseorang mengira itulah puncak hukumannya. Ayat ini menyebut bahwa yang baru saja dilihat justru yang lebih ringan, dan ukuran yang terbalik itu baru ketahuan terbalik ketika ada pembandingnya. Pembanding yang disebutkan mengubah takaran tanpa mengubah apa pun pada barang yang ditakar.
- Akhirat tetap disebut Allah di kalimat penutup. Keringanan di dunia bukan pembebasan. Yang di sana masih menunggu. Huruf yang dipakai untuk menyandarkan azab itu kepada mereka bahkan huruf yang biasa menandai sesuatu yang menjadi hak seseorang, sehingga kalimatnya terbaca ganjil. Keganjilan itu ada di dalam teks Arabnya sendiri: yang menunggu di sana disebut sebagai bagian mereka, bukan sebagai ancaman yang menggantung. Satu kalimat pendek di ujung menutup pintu yang baru saja terbuka lebar.
- Kata kerja yang dipakai Allah berarti menetapkan, dan yang ditetapkan disebut sebagai beban atas mereka. Pengusiran itu tidak digambarkan sebagai akibat yang kebetulan lahir dari keadaan perang. Ia sebuah keputusan. Dan keputusan itulah yang justru menahan hal yang lebih berat, sehingga apa yang terlihat sebagai kemalangan di permukaan ternyata sekaligus sebuah penahanan di lapisan yang tak terlihat siapa pun dari luar. Ada penahanan yang bekerja di lapisan tak terlihat, dan bentuknya justru menyerupai kemalangan.
- Allah menyusun tiga tingkat sekaligus di dalam ayat sependek ini: pengusiran yang terjadi, azab dunia yang tidak jadi terjadi, dan azab akhirat yang masih menunggu. Tingkat kedua disisipkan di tengah untuk menakar yang pertama, tingkat ketiga ditaruh di ujung supaya keringanan tadi tak terbaca sebagai pembebasan. Bukankah susunan serapi itu jarang muncul dalam kalimat yang cuma dua baris? Tiap bagiannya punya pekerjaan, dan tak ada yang bisa dicabut tanpa merusak sisanya.
- Kata untuk pengusiran di sini berakar pada menyingkirkan sesuatu sehingga yang tersisa menjadi terang, seakar dengan kata untuk 'jelas'. Terjemahan menahan sisi berpindahnya saja, sebab sisi menjadi-terangnya tidak dipasang di situ oleh teks Arabnya. Namun akar itu tetap menyimpan sesuatu: ada perpindahan yang justru membuat keadaan menjadi terang, dan yang tersingkir tak selalu berarti yang dirugikan.