وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan apa yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari mereka, tidak kalian memacu kuda atau unta untuknya. Akan tetapi, Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْwa-maa afaa'a llaahu 'alaa rasuulihi minhumdan apa yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari mereka
- فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍfa-maa awjaftum 'alayhi min khaylin wa-laa rikaabintidak kalian memacu kuda atau unta untuknya
- وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُwa-laakinna llaaha yusallithu rusulahu 'alaa man yasyaa'uakan tetapi, Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki
- وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌwa-llaahu 'alaa kulli syay'in qadiirundan Allah berkuasa atas segala sesuatu
Terjemahan per kata (25 kata)
- وَمَاwa-maadan apa yang
- أَفَاءَafaa'amenganugerahkan
- اللَّهُllaahuAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- رَسُولِهِrasuulihiRasul-Nya
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- فَمَاfa-maamaka tidaklah
- أَوْجَفْتُمْawjaftumkalian memacu
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- مِنْmindari
- خَيْلٍkhaylinkuda
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- رِكَابٍrikaabintunggangan
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- اللَّهَllaahaAllah
- يُسَلِّطُyusallithumenguasakan
- رُسُلَهُrusulahurasul-rasul-Nya
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَنْmanorang yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- عَلَىٰ'alaaatas
- كُلِّkullisegala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- قَدِيرٌqadiirunberkuasa
Inti bacaan
Sumber rezeki yang tidak selalu memerlukan usaha konvensional: 'apa saja yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari mereka tidak (perlu) kalian memacu kuda atau unta untuk mendapatkannya', pengakuan bahwa hasil terkadang datang bukan dari usaha fisik langsung yang dikeluarkan, dasar bagi rasa syukur atas anugerah yang datang di luar perhitungan usaha konvensional.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(harta yang diperoleh tanpa peperangan)', '(perlu)', dan '(untuk mendapatkannya)' tidak dipakai: penjelasan makna 'afaa'a' sebaiknya di tafsiran, bukan terjemahan.
Kata kerja (أَفَاءَ اللَّهُ, afaa'a llaahu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 33:50, 59:6, dan 59:7. Dua dari tiga kemunculan itu berada di dua ayat berurutan di surah ini. Akarnya berarti kembali atau berbalik, dan dari sana lahir makna sesuatu yang dikembalikan kepada pihak yang berhak. Terjemahan 'dianugerahkan' menahan sisi pemberiannya; sisi 'kembali'-nya tidak dimasukkan ke dalam kalimat karena akan menuntut keterangan yang tidak ada di teks Arabnya.
Kata kerja (أَوْجَفْتُمْ, awjaftum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:6. Akarnya berarti bergerak cepat sampai berdebar, dan yang dipakai bentuk yang membuat sesuatu bergerak begitu. Terjemahan 'memacu' menahan makna itu. Kata (رِكَابٍ, rikaabin) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:6, dan menunjuk hewan tunggangan yang dipakai untuk perjalanan jauh.
Dua tunggangan itu disebut berdampingan bukan sebagai daftar lengkap, melainkan sebagai sepasang yang mewakili seluruh jerih payah bergerak. Menyebut kuda dan unta berarti menyebut cara orang mengerahkan tenaga. Yang dinyatakan karena itu bukan bahwa mereka tidak berperang, melainkan bahwa mereka tidak mengeluarkan apa pun yang bisa dihitung sebagai jasa.
Kata kerja (يُسَلِّطُ, yusallithu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:6. Akarnya berarti berkuasa atas sesuatu, dan bentuk yang dipakai adalah bentuk yang membuat pihak lain berkuasa. Jadi kekuasaan itu tidak disebut sebagai milik yang dipegang, melainkan sebagai sesuatu yang diberikan, dan pemberinya disebut namanya.
Penutupnya, (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, 'alaa kulli syay'in qadiirun), muncul 33 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:20, 2:106, 2:148, 2:284, dan 59:6. Letaknya di sini menyambung kalimat sebelumnya: yang memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya disebut berkuasa atas segala sesuatu, sehingga pemberian itu tidak terbaca sebagai pengalihan yang mengurangi.
Susunan seluruh ayat memisahkan dua hal yang biasanya dicampur. Yang pertama, siapa yang berjerih. Yang kedua, siapa yang berhak. Kalimat pertamanya menutup jalan bagi siapa pun untuk mengaku berjasa, dan kalimat keduanya menyebut dari mana sebenarnya perkara itu datang. Aturan pembagiannya sendiri baru muncul di ayat berikutnya, sesudah dua hal itu ditegakkan lebih dahulu.
Bentuk kalimat pertamanya juga perlu dicatat. Ia dibuka dengan kata sambung lalu sebuah kata penghubung yang menggantung, dan jawabannya baru datang di tengah: 'tidak kalian memacu'. Susunan menggantung seperti itu menahan pembacanya sejenak pada pokok kalimat sebelum menyebut apa yang hendak dinyatakan tentangnya. Yang digantung di depan adalah barangnya, dan yang datang sesudahnya justru penyangkalan atas jasa siapa pun terhadap barang itu.
Ada pula satu hal yang tidak disebut di ayat ini: berapa banyak, dan untuk siapa. Dua pertanyaan itu ditahan sampai ayat berikutnya. Yang dikerjakan ayat ini seluruhnya menyiapkan tanah, dan tanah yang disiapkan adalah kesadaran bahwa tak seorang pun berdiri di posisi menagih.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan status harta yang diperoleh tanpa pertempuran (fai): sepenuhnya wewenang Allah untuk dianugerahkan kepada Rasul-Nya tanpa jerih payah militer.
Yang dikerjakan ayat ini adalah menutup satu jalan sebelum jalan itu sempat ditempuh. Ketika sesuatu yang bernilai jatuh ke tangan sebuah rombongan, pertanyaan pertama yang muncul selalu tentang siapa yang paling berhak karena paling banyak berjerih. Ayat ini mendahului pertanyaan itu dengan menyatakan bahwa tidak ada jerih yang bisa dihitung: tidak ada kuda yang dipacu, tidak ada unta yang dikerahkan.
Dua tunggangan yang disebut bukan daftar lengkap melainkan sepasang yang mewakili seluruh cara orang mengeluarkan tenaga. Menyebut keduanya berarti menyebut segala bentuk pengerahan. Dan yang dinyatakan bukan bahwa perkara itu terjadi tanpa peristiwa, melainkan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mengajukan tagihan atas dasar apa yang telah ia keluarkan.
Sesudah menutup jalan itu, kalimat berikutnya membuka jalan yang lain. Yang disebut adalah Allah yang memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki. Kata kerjanya berbentuk yang membuat pihak lain berkuasa, jadi kekuasaan itu digambarkan sebagai sesuatu yang diberikan, bukan sesuatu yang direbut. Sumbernya disebut, dan penerimanya disebut sebagai penerima.
Penutupnya menahan pembacaan yang keliru atas pemberian tersebut. Yang memberikan kekuasaan disebut berkuasa atas segala sesuatu, sehingga pemberian itu tidak terbaca sebagai pengalihan yang mengurangi pemberinya. Dan aturan pembagiannya sendiri baru muncul di ayat berikutnya. Urutan itu bukan kebetulan: ketetapan yang bisa terasa berat lebih dahulu diberi alasannya, dan alasannya diberikan dengan menerangkan dari mana barangnya berasal.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut kalian tidak memacu kuda atau unta untuk memperolehnya. Tak ada jerih di sana. Pembagiannya diterangkan dengan menunjuk siapa yang sebenarnya bekerja. Dua tunggangan itu disebut bukan sebagai daftar lengkap melainkan sepasang yang mewakili segala cara orang mengeluarkan tenaga. Menyebut keduanya berarti menutup semua pintu tagihan sekaligus, sebab tak ada bentuk pengerahan lain yang tersisa untuk diajukan. Tak ada bentuk pengerahan lain yang tersisa untuk diajukan sebagai tagihan.
- Allah menyebut Dia memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki. Sumbernya disebut. Hasil yang datang tanpa perjuangan diberi keterangan tentang dari mana asalnya. Kata kerjanya pun berbentuk yang membuat pihak lain berkuasa, jadi kekuasaan itu digambarkan sebagai sesuatu yang diberikan, bukan sesuatu yang direbut, dan penerimanya tetap berdiri sebagai penerima. Kedudukan yang diberikan tak pernah bisa diakui sebagai hasil rebutan.
- Allah menerangkan sebabnya lebih dahulu, baru aturan pembagiannya di ayat berikutnya. Urutannya begitu. Ketetapan yang bisa terasa berat lebih dahulu diberi alasannya. Dan alasannya diberikan bukan dengan menyebut kebijaksanaan pembagiannya, melainkan dengan menerangkan dari mana barangnya berasal. Orang yang tahu bahwa sesuatu bukan hasil keringatnya sendiri jauh lebih ringan menerima cara pembagiannya. Orang yang tahu sesuatu bukan hasil keringatnya sendiri jauh lebih ringan menerima cara pembagiannya.
- Ketika sesuatu yang bernilai jatuh ke tangan sebuah rombongan, pertanyaan pertama yang muncul selalu tentang siapa yang paling berjerih. Allah mendahului pertanyaan itu sebelum sempat diucapkan siapa pun. Bukankah lebih mudah menjawab sesudah pertanyaannya datang? Mudah, tetapi jawabannya akan selalu terdengar seperti pembelaan. Yang disebut lebih dahulu terdengar sebagai keterangan, dan dua-duanya bekerja sangat berbeda.
- Ayat ini memisahkan siapa yang berjerih dari siapa yang berhak. Dua hal itu di dalam urusan sehari-hari hampir selalu ditumpuk jadi satu, seolah yang paling banyak mengeluarkan tenaga otomatis paling banyak berhak. Kalimat pertamanya menutup pengakuan jasa, kalimat keduanya menyebut asal-usulnya. Sesudah dua hal itu dipisah, aturan pembagian di ayat berikutnya bisa berdiri tanpa perlu berdebat tentang keringat siapa.
- Penutupnya menyebut Allah berkuasa atas segala sesuatu, tepat sesudah kalimat tentang Dia memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya. Letak itu menahan salah baca: pemberian tersebut tidak mengurangi apa pun pada yang memberi. Rangkaian penutup ini dipakai puluhan kali di dalam Al-Qur'an, dan hampir selalu di tempat pembaca baru saja disodori sesuatu yang terasa melampaui ukurannya sendiri. Yang memberi tanpa berkurang berbeda sama sekali dari yang membagi miliknya yang terbatas.