مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang berkecukupan di antara kalian. Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah keras hukuman-Nya.
Terjemahan bertahap (7 jeda)
- مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰmaa afaa'a llaahu 'alaa rasuulihi min ahli l-quraaapa yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri
- فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِfa-li-llaahi wa-li-r-rasuuli wa-li-dzii l-qurbaa wa-l-yataamaa wa-l-masaakiini wa-bni s-sabiiliadalah untuk Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan
- كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْkay laa yakuuna duulatan bayna l-aghniyaa'i minkumagar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang berkecukupan di antara kalian
- وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُwa-maa aataakumu r-rasuulu fa-khudzuuhuapa yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah
- وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُواwa-maa nahaakum 'anhu fa-ntahuudan apa yang dilarangnya bagi kalian, tinggalkanlah
- وَاتَّقُوا اللَّهَwa-ttaquu llaahabertakwalah kepada Allah
- إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِinna llaaha syadiidu l-'iqaabisesungguhnya Allah keras hukuman-Nya
Terjemahan per kata (37 kata)
- مَاmaaapa yang
- أَفَاءَafaa'amenganugerahkan
- اللَّهُllaahuAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- رَسُولِهِrasuulihiRasul-Nya
- مِنْmindari
- أَهْلِahlikalangan
- الْقُرَىٰl-quraanegeri-negeri
- فَلِلَّهِfa-li-llaahimaka milik Allah
- وَلِلرَّسُولِwa-li-r-rasuulidan bagi Rasul
- وَلِذِيwa-li-dziidan bagi pemilik
- الْقُرْبَىٰl-qurbaakekerabatan
- وَالْيَتَامَىٰwa-l-yataamaadan anak-anak yatim
- وَالْمَسَاكِينِwa-l-masaakiinidan orang-orang miskin
- وَابْنِwa-bnidan anak
- السَّبِيلِs-sabiilijalan
- كَيْkayagar
- لَاlaatidak
- يَكُونَyakuunaada
- دُولَةًduulatanberedar
- بَيْنَbaynadi antara
- الْأَغْنِيَاءِl-aghniyaa'iorang-orang kaya
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- وَمَاwa-maadan apa yang
- آتَاكُمُaataakumumemberi kalian
- الرَّسُولُr-rasuuluRasul
- فَخُذُوهُfa-khudzuuhumaka ambillah dia
- وَمَاwa-maadan apa yang
- نَهَاكُمْnahaakummelarang kalian
- عَنْهُ'anhudarinya
- فَانْتَهُواfa-ntahuumaka berhentilah kalian
- وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
- اللَّهَllaahaAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- شَدِيدُsyadiidukeras
- الْعِقَابِl-'iqaabihukuman
Inti bacaan
Prinsip distribusi ekonomi yang eksplisit: 'agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang berkecukupan saja di antara kalian', pernyataan kebijakan ekonomi yang secara langsung menentang konsentrasi kekayaan, dasar bagi sistem distribusi yang memperhatikan kelompok rentan (kerabat, yatim, miskin, musafir) sebagai prioritas eksplisit, bukan sekadar sisa setelah kepentingan yang berkecukupan terpenuhi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(harta yang diperoleh tanpa peperangan)', '(Rasul)' setelah 'kerabat', dan '(Demikian)' tidak dipakai: tidak tertulis eksplisit di teks Arab.
Frasa (أَهْلِ الْقُرَىٰ, ahli l-quraa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 12:109 dan 59:7. Bentuknya jamak, jadi bukan satu negeri melainkan beberapa. Terjemahan 'penduduk beberapa negeri' menahan kejamakannya tanpa menyebut nama tempat mana pun, sebab teks Arabnya juga tidak menyebutnya.
Daftar penerimanya terdiri dari enam sebutan berturut-turut. Dua yang pertama, Allah dan Rasul, disebut dengan huruf kepemilikan yang sama seperti empat berikutnya. Empat yang terakhir seluruhnya golongan yang membutuhkan: kerabat, anak yatim, orang miskin, dan (ابْنِ السَّبِيلِ, ibni s-sabiili) 'orang yang dalam perjalanan'. Rangkaian terakhir itu muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:215, 4:36, 8:41, 9:60, dan 59:7. Harfiahnya 'anak jalan', sebutan bagi orang yang jauh dari tempatnya sendiri.
Kata (دُولَةً, duulatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:7. Akarnya berarti berganti-ganti tangan atau berputar. Terjemahan 'beredar' menahan gambaran perputaran itu. Kata (الْأَغْنِيَاءِ, al-aghniyaa'i) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:7, dan berasal dari akar yang berarti cukup dan tidak berhajat, akar yang sama dengan gelar Allah 'Sang Berkecukupan' di 60:6.
Kalimat tujuannya dibuka dengan (كَيْ لَا, kay laa), huruf yang menyatakan maksud negatif: agar tidak terjadi. Jadi aturan pembagian itu diberi keterangan tentang penyakit yang hendak dicegahnya, bukan sekadar tentang siapa yang berhak. Yang disebut sebagai penyakit adalah harta yang berputar hanya di satu lingkaran.
Bagian kedua ayat ini beralih dari pembagian ke ketaatan: 'apa yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; dan apa yang dilarangnya bagi kalian, tinggalkanlah'. Dua kalimat itu berpasangan sempurna, sama panjang dan sama bentuknya, dengan kata kerja perintah di ujung masing-masing.
Penutupnya, (شَدِيدُ الْعِقَابِ, syadiidu l-'iqaabi), muncul 13 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:196, 2:211, 3:11, 8:13, dan 59:7. Rangkaian yang sama sudah dipakai tiga ayat sebelumnya, di 59:4. Surah ini memakainya dua kali: sekali untuk penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, sekali lagi untuk aturan pembagian harta.
Pemakaian yang kedua itu yang perlu diperhatikan. Rangkaian yang sama beratnya dipasang pada perkara yang di mata orang tampak sebagai urusan teknis. Penempatan itu sendiri sudah menjadi keterangan tentang bobot perkaranya.
Tafsiran
Ayat ini menetapkan distribusi harta fai kepada golongan yang berhak, mencegah penumpukan kekayaan hanya pada segelintir orang kaya.
Daftar penerimanya menyusun sesuatu yang jarang disusun begitu. Enam sebutan berturut-turut, dan empat di antaranya golongan yang membutuhkan. Pembagiannya condong ke arah yang tidak punya, dan kecondongan itu bukan disimpulkan pembaca melainkan terbaca dari susunan daftarnya sendiri. Yang paling terakhir disebut bahkan orang yang sedang jauh dari tempatnya, yaitu pihak yang paling mudah terlupakan karena tidak menetap di mana pun.
Yang lebih jarang lagi adalah disebutkannya alasan. Aturan pembagian biasanya berhenti pada siapa mendapat berapa. Ayat ini menambahkan satu kalimat tujuan: agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang berkecukupan. Kata yang dipakai untuk beredar berakar pada berganti-ganti tangan, sehingga yang digambarkan bukan harta yang menumpuk diam, melainkan harta yang bergerak tetapi selalu di dalam lingkaran yang sama.
Penyakit yang disebut karena itu bukan kekayaan itu sendiri, melainkan lingkaran yang tertutup. Harta boleh berputar; yang tidak boleh adalah putarannya tidak pernah keluar. Perbedaan itu halus dan penting, dan ia terbaca dari satu kata yang dipilih untuk menggambarkan gerakannya.
Bagian keduanya beralih dari pembagian ke ketaatan, dan letak peralihan itu tidak sembarangan. Perintah menerima apa yang diberikan dan meninggalkan apa yang dilarang datang sesudah alasan pembagiannya diterangkan, bukan sebelumnya. Ketaatan diminta atas aturan yang sudah dijelaskan maksudnya. Dan penutupnya memakai rangkaian yang sama dengan yang dipakai tiga ayat sebelumnya untuk penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, sehingga urusan pembagian harta ditaruh pada bobot yang sama beratnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut Allah, Rasul, kerabat, anak yatim, orang miskin, dan orang dalam perjalanan. Empat dari enam adalah yang membutuhkan. Pembagiannya condong ke arah yang tidak punya. Kecondongan itu tidak perlu disimpulkan pembaca; ia terbaca dari susunan daftarnya sendiri. Yang terakhir disebut bahkan orang yang sedang jauh dari tempatnya, yaitu pihak yang paling gampang terlupakan justru karena ia tak menetap di mana pun. Daftar yang menaruh yang paling gampang terlupakan di urutan terakhir justru memastikan ia tak terlewat.
- Allah menyebut alasannya agar harta tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya. Sebabnya disebutkan. Aturan pembagian diberi keterangan tentang penyakit yang hendak dicegahnya. Kata untuk beredar berakar pada berganti-ganti tangan, jadi yang digambarkan bukan harta yang menumpuk diam melainkan harta yang bergerak tetapi selalu di lingkaran yang sama. Penyakitnya bukan kekayaannya, melainkan lingkaran yang tertutup. Yang dilarang bukan gerakannya, melainkan lingkarannya yang tak pernah terbuka.
- Allah menyusulkan perintah mengambil apa yang diberikan Rasul dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Sesudah alasan tadi. Ketaatan diminta pada aturan yang sudah diterangkan maksudnya. Dua kalimat perintah itu berpasangan sempurna, sama panjang dan sama bentuknya, dengan kata kerja perintah di ujung masing-masing. Bentuk yang seimbang seperti itu membuat keduanya sukar dipisah dan dipakai sendiri-sendiri. Bentuk yang seimbang seperti itu membuat keduanya sukar dipisah lalu dipakai sendiri-sendiri.
- Penutup ayat ini memakai rangkaian yang sama persis dengan penutup ayat tentang penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya, tiga ayat sebelumnya. Perkara yang di mata orang tampak sebagai urusan teknis pembagian ternyata ditaruh pada bobot yang sama beratnya. Penempatan itu sendiri sudah menjadi keterangan, dan ia bekerja tanpa satu kalimat penjelas pun ditambahkan untuk menyamakan keduanya. Penempatan bekerja tanpa satu kalimat penjelas pun ditambahkan untuk menyamakan keduanya.
- Frasa yang dipakai untuk asal hartanya berbentuk jamak dan tidak menyebut nama tempat mana pun. Terjemahan mengikutinya apa adanya. Bukankah menyebut namanya akan membuat ayat ini lebih hidup? Mungkin, tetapi sekaligus menguncinya pada satu peristiwa yang sudah lewat. Tanpa nama, aturannya tetap bisa dipakai di tempat dan waktu mana pun, dan itu tampaknya memang yang dikehendaki susunannya.
- Kata untuk orang-orang berkecukupan di ayat ini berasal dari akar yang sama dengan gelar Allah 'Sang Berkecukupan'. Satu akar dipakai untuk dua kedudukan yang berjauhan: Yang tidak berhajat sama sekali, dan manusia yang kebetulan sedang tidak berkekurangan. Perbandingan itu tak diucapkan, tetapi ada di dalam kata. Yang benar-benar berkecukupan tak pernah perlu menahan apa pun, dan justru itu yang membuat penahanan oleh manusia terasa ganjil.