لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Bagi orang-orang fakir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mencari karunia dari Allah dan keridaan, dan menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْli-l-fuqaraa'i l-muhaajiriina lladziina ukhrijuu min diyaarihim wa-amwaalihimbagi orang-orang fakir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka
- يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًاyabtaghuuna fadhlan mina llaahi wa-ridhwaananmencari karunia dari Allah dan keridaan
- وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُwa-yanshuruuna llaaha wa-rasuulahudan menolong Allah dan Rasul-Nya
- أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَulaa'ika humu sh-shaadiquunamereka itulah orang-orang yang benar
Terjemahan per kata (18 kata)
- لِلْفُقَرَاءِli-l-fuqaraa'ibagi orang-orang fakir
- الْمُهَاجِرِينَl-muhaajiriinaorang-orang yang berhijrah
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- أُخْرِجُواukhrijuumereka diusir
- مِنْmindari
- دِيَارِهِمْdiyaarihimrumah-rumah mereka
- وَأَمْوَالِهِمْwa-amwaalihimdan harta mereka
- يَبْتَغُونَyabtaghuunamereka mencari
- فَضْلًاfadhlankarunia
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- وَرِضْوَانًاwa-ridhwaanandan keridaan
- وَيَنْصُرُونَwa-yanshuruunadan mereka menolong
- اللَّهَllaahaAllah
- وَرَسُولَهُwa-rasuulahudan Rasul-Nya
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- هُمُhumumerekalah
- الصَّادِقُونَsh-shaadiquunaorang-orang yang benar
Inti bacaan
Definisi kejujuran melalui tindakan: 'bagi orang-orang fakir yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka, mencari karunia dari Allah dan keridaan, dan menolong Allah dan Rasul-Nya; mereka itulah orang-orang yang benar', pengakuan bahwa kebenaran keimanan dibuktikan melalui kesediaan mengorbankan kenyamanan material demi prinsip, bukan sekadar klaim verbal.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(Juga)' tidak dipakai: ayat ini kelanjutan langsung daftar penerima dari 59:7 tanpa kata pengantar tambahan. 'Ulaa'ika' (jauh) benar diterjemahkan 'mereka itulah'.
Kata (لِلْفُقَرَاءِ, li-l-fuqaraa'i) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:273, 9:60, dan 59:8. Di dua tempat lainnya kata itu juga muncul di dalam kalimat tentang pembagian, sehingga ketiganya sama-sama berdiri di posisi penerima. Kata (الْمُهَاجِرِينَ, al-muhaajiriina) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:100, 9:117, 24:22, 33:6, dan 59:8.
Yang disebut lebih dahulu adalah keadaan mereka, bukan haknya. Kalimatnya menguraikan berturut-turut: fakir, berhijrah, diusir dari kampung halaman dan harta benda. Baru sesudah tiga keterangan itu datang dua kata kerja yang menyebut apa yang mereka kerjakan. Pembacanya karena itu sudah tahu apa yang mereka tinggalkan sebelum tahu apa yang mereka cari.
Rangkaian (وَرِضْوَانًا, wa-ridhwaanan) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:2, 48:29, dan 59:8. Di ayat ini ia berpasangan dengan 'karunia dari Allah', sehingga yang dicari disebut dua: sesuatu yang diberikan, dan perkenan yang memberikannya. Orang yang baru kehilangan seluruh hartanya disebut mencari dua hal itu, dan tak satu pun di antaranya berupa ganti atas yang hilang.
Kata kerja (وَيَنْصُرُونَ, wa-yanshuruuna) 'dan menolong' dipakai dengan objek Allah dan Rasul-Nya. Kata itu di dalam pemakaian biasa berarti membantu pihak yang membutuhkan bantuan. Dipakai untuk manusia terhadap Allah, ia jelas bukan berarti Dia memerlukan bantuan; yang diberikan adalah kedudukan, dan kedudukan itu diberikan oleh yang menyebutnya.
Rangkaian (هُمُ الصَّادِقُونَ, humu sh-shaadiquuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 49:15 dan 59:8. Di 49:15 rangkaian itu juga menutup ayat yang mendaftar perbuatan lebih dahulu, baru menyebut sebutannya. Dua-duanya karena itu memakai susunan yang sama: kebenaran disebut sesudah bukti, bukan sebelumnya.
Kata (الصَّادِقُونَ, ash-shaadiquuna) berasal dari akar yang berarti benar dalam ucapan, dan dari akar yang sama lahir kata untuk sedekah serta untuk mahar. Sebutan itu karena itu tidak dijatuhkan atas keyakinan yang diucapkan, melainkan atas keyakinan yang sudah dibayar. Terjemahan 'orang-orang yang benar' menahan sisi kejujurannya tanpa menyempitkannya menjadi kejujuran lisan saja.
Susunan kalimatnya juga menahan sesuatu sampai ke ujung. Seluruh ayat ini berupa keterangan yang panjang tentang satu golongan, dan baru pada kata terakhirnya sebutan itu jatuh. Pembaca melewati fakir, berhijrah, diusir, mencari, dan menolong, sebelum sampai pada 'mereka itulah orang-orang yang benar'. Kalau sebutannya dipasang di depan, sisa ayatnya akan terbaca sebagai pembelaan atas sebutan tersebut.
Perlu dicatat pula bahwa yang diusir disebut ganda: dari kampung halaman dan dari harta benda. Bahasa Arabnya memakai satu kata kerja untuk dua hal yang berbeda jenis, tempat dan benda. Susunan itu menaruh keduanya sebagai satu kehilangan, bukan dua kehilangan yang dijumlahkan, dan terjemahan mempertahankannya tanpa mengulang kata kerjanya.
Tafsiran
Ayat ini merinci golongan pertama penerima fai: kaum Muhajirin fakir yang kehilangan segalanya demi menolong Allah dan Rasul-Nya.
Susunan kalimatnya menaruh keadaan sebelum hak. Sebelum pembaca diberi tahu bahwa mereka berhak menerima, ia lebih dulu diberi tahu apa yang mereka tinggalkan: fakir, berpindah, diusir dari kampung halaman sekaligus harta benda. Tiga keterangan itu datang berturut-turut tanpa jeda. Pembagian yang datang sesudah uraian seperti itu tidak lagi terbaca sebagai pemberian, melainkan sebagai sesuatu yang mengganti sebagian kecil dari yang hilang.
Yang mereka cari disebut dua, dan dua-duanya bukan pengganti. Karunia dari Allah, dan keridaan-Nya. Orang yang baru kehilangan seluruh miliknya biasanya mencari ganti; yang disebut di sini bukan itu. Perbedaannya penting justru karena ayat ini sedang membicarakan pembagian harta: pihak yang paling berhak menerimanya digambarkan sebagai pihak yang tidak sedang mencarinya.
Kata kerja kedua yang dipakai untuk mereka adalah menolong, dengan objek Allah dan Rasul-Nya. Kata itu dalam pemakaian biasa berarti membantu pihak yang membutuhkan bantuan. Dipakai untuk manusia terhadap Allah, ia jelas bukan berarti Dia memerlukan sesuatu. Yang diberikan adalah kedudukan, dan yang memberikan kedudukan itu adalah yang menyebutnya sendiri di dalam ayat ini. Orang yang tidak punya apa-apa disebut sebagai penolong.
Penutupnya memberi sebutan sesudah semua itu, bukan sebelumnya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Kata yang dipakai berasal dari akar yang berarti benar dalam ucapan, dan dari akar yang sama lahir kata untuk sedekah. Sebutan itu karena itu tidak dijatuhkan atas keyakinan yang diucapkan, melainkan atas keyakinan yang sudah dibayar. Dan susunan yang sama, bukti lebih dulu lalu sebutan, dipakai juga di satu ayat lain yang berakhir dengan rangkaian yang persis sama.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka fakir, berhijrah, diusir dari kampung halaman dan harta. Kehilangan diuraikan lebih dahulu. Yang dibagi kepada mereka disebut sesudah pembacanya tahu apa yang mereka tinggalkan. Tiga keterangan itu datang berturut-turut tanpa jeda, dan sesudahnya pembagian tak lagi terbaca sebagai pemberian melainkan sebagai sesuatu yang mengganti sebagian kecil saja dari yang sudah lepas. Bacaan pun berubah begitu pembacanya sudah tahu berapa besar yang sudah lepas.
- Yang mereka cari karunia dari Allah dan keridaan-Nya. Dua-duanya. Sesudah kehilangan segalanya, yang disebut sebagai tujuan bukan penggantinya. Perbedaan itu penting justru karena ayat ini sedang membicarakan pembagian harta: pihak yang paling berhak menerimanya digambarkan sebagai pihak yang sedang tidak mencarinya. Orang yang tak menuntut biasanya yang paling pantas diberi, dan susunan ayat ini memperlihatkannya tanpa menyebutkannya. Yang tak menuntut biasanya yang paling pantas diberi, dan susunan ayatnya memperlihatkannya tanpa mengatakannya.
- Allah menyebut mereka menolong Dia dan Rasul-Nya. Kata menolong dipakai untuk manusia terhadap-Nya. Yang tak punya apa-apa disebut sebagai penolong, dan itu sebutan yang diberikan-Nya sendiri. Kata itu dalam pemakaian biasa berarti membantu pihak yang memerlukan bantuan, dan jelas bukan itu maksudnya di sini. Yang diberikan sebuah kedudukan, dan kedudukan seperti itu tak mungkin diambil sendiri oleh siapa pun. Kedudukan seperti itu tak mungkin diambil sendiri oleh siapa pun, sekuat apa pun ia berusaha.
- Penutupnya memberi sebutan sesudah semua keterangan, bukan sebelumnya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Susunan yang sama, bukti dulu baru sebutan, dipakai juga di satu ayat lain yang berakhir dengan rangkaian persis sama. Al-Qur'an tak menempelkan gelar di depan lalu mencari pembenarannya; ia menghamparkan perbuatannya lebih dulu, dan gelarnya jatuh sendiri di ujung kalimat. Gelar yang dipasang di depan selalu menuntut pembelaan; yang jatuh di ujung tidak.
- Kata untuk 'orang-orang yang benar' berakar pada benar dalam ucapan, dan dari akar yang sama lahir kata untuk sedekah serta untuk mahar. Bukankah ketiganya jauh berbeda? Justru satu benangnya terlihat: semuanya tentang sesuatu yang dibuktikan dengan penyerahan. Sebutan itu tidak dijatuhkan atas keyakinan yang diucapkan, melainkan atas keyakinan yang sudah dibayar, dan harganya disebut di kalimat sebelumnya.
- Ayat ini menyambung langsung daftar penerima dari ayat sebelumnya tanpa satu kata pengantar pun, dan terjemahan mengikutinya apa adanya. Tambahan seperti 'juga' terasa membantu, tetapi ia menyisipkan jeda yang tak ada di teks Arabnya. Tanpa jeda itu, kedua ayat terbaca sebagai satu daftar yang tak terputus, dan Allah tidak memisahkan golongan yang paling berhak ke dalam kalimat tersendiri.