وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang yang telah menempati kota dan beriman sebelum mereka, mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan tidak mendapatkan keinginan di dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan, dan mengutamakan atas diri mereka sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْwa-lladziina tabawwa'uu d-daara wa-l-iimaana min qablihimdan orang-orang yang telah menempati kota dan beriman sebelum mereka
- يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْyuhibbuuna man haajara ilayhimmencintai orang yang berhijrah kepada mereka
- وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُواwa-laa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuudan tidak mendapatkan keinginan di dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan
- وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌwa-yu'tsiruuna 'alaa anfusihim wa-law kaana bihim khashaashatundan mengutamakan atas diri mereka sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak
- وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَwa-man yuuqa syuhha nafsihi fa-ulaa'ika humu l-muflihuunadan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung
Terjemahan per kata (31 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- تَبَوَّءُواtabawwa'uumereka menempati
- الدَّارَd-daaranegeri
- وَالْإِيمَانَwa-l-iimaanadan keimanan
- مِنْmindari
- قَبْلِهِمْqablihimsebelum mereka
- يُحِبُّونَyuhibbuunamereka mencintai
- مَنْmanorang yang
- هَاجَرَhaajaraberhijrah
- إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَجِدُونَyajiduunamereka mendapati
- فِيfiidalam
- صُدُورِهِمْshuduurihimdada mereka
- حَاجَةًhaajatankeperluan
- مِمَّاmimmaaterhadap apa yang
- أُوتُواuutuudiberi
- وَيُؤْثِرُونَwa-yu'tsiruunadan mereka mengutamakan
- عَلَىٰ'alaaatas
- أَنْفُسِهِمْanfusihimdiri mereka sendiri
- وَلَوْwa-lawdan sekiranya
- كَانَkaanaada
- بِهِمْbihimpada mereka
- خَصَاصَةٌkhashaashatunkesulitan
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يُوقَyuuqadipelihara
- شُحَّsyuhhakekikiran
- نَفْسِهِnafsihidirinya
- فَأُولَٰئِكَfa-ulaa'ikamaka mereka itu
- هُمُhumumerekalah
- الْمُفْلِحُونَl-muflihuunaorang-orang yang beruntung
Inti bacaan
Standar altruisme yang tinggi: 'mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung', pengakuan bahwa kedermawanan sejati diuji justru ketika sumber daya sendiri terbatas, bukan hanya ketika berlebih, kekikiran diidentifikasi sebagai penghalang utama menuju keberuntungan sejati.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja pembukanya berasal dari akar yang berarti menempati suatu tempat dan menjadikannya tempat tinggal. Yang tidak lazim adalah objeknya: kata itu diberi dua objek sekaligus, (الدَّارَ, ad-daara) 'kota' dan (وَالْإِيمَانَ, wa-l-iimaana) 'dan keimanan'. Menempati sebuah kota bisa dibayangkan; menempati keimanan tidak. Susunan itu menaruh keduanya sebagai satu tempat tinggal, dan terjemahan mempertahankannya tanpa menyisipkan kata kerja kedua.
Kalimat berikutnya menyebut apa yang tidak ada di dalam diri mereka: (وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً, wa-laa yajiduuna fii shuduurihim haajatan) 'dan tidak mendapatkan keinginan di dalam hati mereka'. Kata kerjanya berarti menemukan, jadi yang dinyatakan bukan bahwa mereka menahan keinginan, melainkan bahwa mereka tidak menemukannya ketika mencari ke dalam. Perbedaan itu tidak kecil.
Kata kerja (وَيُؤْثِرُونَ, wa-yu'tsiruuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:9. Akarnya berarti memilih atau mendahulukan, dan dari akar yang sama lahir kata untuk bekas serta jejak. Terjemahan 'mengutamakan' menahan sisi mendahulukannya. Objek yang didahulukan tidak disebut, cuma pihak yang dilampauinya: 'atas diri mereka sendiri'.
Kata (خَصَاصَةٌ, khashaashatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:9. Akarnya berarti celah atau lubang, dan dari sana lahir makna kekurangan yang menganga. Terjemahan 'keperluan yang mendesak' menahan sisi mendesaknya. Kata itu dipasang di dalam pengandaian: 'meskipun mempunyai', sehingga yang digambarkan bukan kedermawanan orang berlebih.
Rangkaian (شُحَّ نَفْسِهِ, syuhha nafsihi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:9 dan 64:16. Kata pertamanya berarti kikir yang disertai ketamakan, lebih keras daripada sekadar enggan memberi. Yang disandarkan kepadanya adalah 'dirinya sendiri', sehingga yang disebut bukan kekikiran sebagai sifat umum, melainkan kekikiran yang tumbuh di dalam diri masing-masing orang.
Kata kerja (يُوقَ, yuuqa) berbentuk pasif: dijaga, bukan menjaga. Pelakunya tidak disebut, dan justru ketiadaan pelaku itu yang berarti. Yang disebut bukan orang yang berhasil menahan dirinya, melainkan orang yang dijaga dari dirinya. Terjemahan mempertahankan bentuk pasifnya.
Rangkaian penutupnya, (هُمُ الْمُفْلِحُونَ, humu l-muflihuuna), muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:5, 3:104, 23:102, 59:9, dan 64:16. Akar katanya berarti membelah tanah untuk bertani, dan dari sana lahir makna berhasil. Yang beruntung digambarkan sebagai yang membelah, bukan yang menerima.
Tafsiran
Ayat ini memuji kaum Ansar yang menyambut Muhajirin dengan mengutamakan kebutuhan saudara seiman di atas kebutuhan diri sendiri.
Kalimat pembukanya memasang sesuatu yang tidak lazim. Kata kerjanya berarti menempati suatu tempat sebagai tempat tinggal, dan objeknya dua sekaligus: kota dan keimanan. Menempati sebuah kota bisa dibayangkan siapa pun; menempati keimanan tidak. Dengan menaruh keduanya sebagai satu objek, keimanan digambarkan sebagai tempat yang didiami, bukan sebagai sesuatu yang cuma disebut di bibir.
Yang dipuji berikutnya justru sesuatu yang tidak ada. Mereka disebut tidak menemukan keinginan di dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada pihak lain. Kata kerjanya berarti menemukan, bukan menahan. Jadi yang bersih bukan tangannya melainkan dadanya, dan itu tingkat yang berbeda sama sekali. Menahan diri masih mengandaikan ada yang ditahan; tidak menemukan berarti tidak ada yang perlu ditahan.
Sesudah itu barulah perbuatannya disebut: mengutamakan orang lain atas diri sendiri. Dan keterangan yang menyertainya membalik seluruh gambaran. Mereka melakukannya meskipun sedang punya keperluan yang mendesak, dengan kata yang berakar pada celah yang menganga. Yang diuji karena itu bukan kelebihannya, melainkan kekurangannya. Kedermawanan orang berlebih tidak membuktikan apa pun; yang membuktikan adalah kedermawanan orang yang sendirinya sedang berlubang.
Penutupnya memindahkan seluruh perkara ke tempat yang tidak terduga. Yang disebut beruntung bukan orang yang berhasil menahan kekikirannya, melainkan orang yang dijaga dari kekikiran dirinya. Kata kerjanya pasif dan pelakunya tidak disebut. Musuh yang paling sulit dikalahkan ternyata berada di dalam, dan kemenangan atasnya tidak dinyatakan sebagai prestasi melainkan sebagai penjagaan yang datang dari luar diri.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut mereka mengutamakan orang lain meski punya keperluan mendesak. Sedang kekurangan. Yang diuji bukan kelebihannya, melainkan kekurangannya. Kata yang dipakai untuk keperluan itu berakar pada celah yang menganga, jadi yang digambarkan bukan sekadar sedang pas-pasan. Kedermawanan orang berlebih tak membuktikan apa pun tentang dirinya; yang membuktikan adalah kedermawanan orang yang sendirinya sedang berlubang. Yang membuktikan sesuatu bukan pemberian di saat lapang, melainkan pemberian di saat sempit.
- Yang disebut mereka tak mendapati keinginan di dalam hati terhadap apa yang diberikan. Bukan menahan diri. Yang bersih bukan tangannya, melainkan dadanya. Kata kerjanya memang berarti menemukan, bukan menahan, dan bedanya satu tingkat penuh. Menahan diri masih mengandaikan ada sesuatu yang ditahan dan bisa lepas sewaktu-waktu; tidak menemukan berarti memang tak ada yang perlu ditahan sejak awal. Yang ditahan bisa lepas sewaktu-waktu; yang memang tak ada tak punya pintu untuk lepas.
- Allah menutup dengan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, itulah yang beruntung. Dijaga, bukan menahan. Yang paling sulit dikalahkan sesuatu yang ada di dalam. Kata kerjanya berbentuk pasif dan pelakunya tak disebut, sehingga kemenangan atas musuh yang paling dekat itu tidak dinyatakan sebagai prestasi melainkan sebagai penjagaan yang datang dari luar diri orang yang bersangkutan. Bentuk pasifnya menutup jalan bagi siapa pun untuk mengaku telah menaklukkan lawan itu.
- Kata kerja pembukanya berarti menempati suatu tempat sebagai tempat tinggal, dan objeknya dua sekaligus: kota dan keimanan. Menempati sebuah kota bisa dibayangkan siapa pun; menempati keimanan tidak. Dengan menaruh keduanya sebagai satu objek, Allah menggambarkan keimanan sebagai tempat yang didiami, bukan sebagai sesuatu yang cuma disebut di bibir. Sebutan bisa ditanggalkan kapan saja tanpa seorang pun berpindah tempat; tempat tinggal tak begitu. Sebutan bisa ditanggalkan kapan saja tanpa seorang pun berpindah tempat, dan tempat tinggal tak pernah begitu.
- Kata kerja untuk mengutamakan itu tak menyebut apa yang didahulukan, cuma pihak yang dilampauinya: atas diri mereka sendiri. Lalu apa sebenarnya yang mereka berikan? Ayat ini tidak merincinya. Ketiadaan rincian itu membuat perbuatannya berlaku untuk apa saja, dari makanan sampai giliran, dan yang tinggal cuma bentuk dasarnya: menaruh diri sendiri di urutan yang belakang.
- Akar kata untuk 'beruntung' di penutup ayat ini berarti membelah tanah untuk bertani, dan dari sana lahir makna berhasil. Yang beruntung digambarkan sebagai yang membelah, bukan yang menerima. Gambaran itu menaruh keberuntungan pada pihak yang bekerja lebih dahulu, bukan pada pihak yang kejatuhan nasib baik. Dan yang dibelah di ayat ini bukan tanah, melainkan sesuatu yang jauh lebih keras di dalam dada.