وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau penuh iba lagi pengasih.”

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْwa-lladziina jaa'uu min ba'dihimdan orang-orang yang datang sesudah mereka
  2. يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَاyaquuluuna rabbanaa ghfir lanaamereka berdoa, Ya Tuhan kami, ampunilah kami
  3. وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِwa-li-ikhwaaninaa lladziina sabaquunaa bi-l-iimaaniserta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami
  4. وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُواwa-laa taj'al fii quluubinaa ghillan li-lladziina aamanuudan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman
  5. رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌrabbanaa innaka ra'uufun rahiimunYa Tuhan kami, sesungguhnya Engkau penuh iba lagi pengasih

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. جَاءُواjaa'uumereka datang
  3. مِنْmindari
  4. بَعْدِهِمْba'dihimsesudah mereka
  5. يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
  6. رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
  7. اغْفِرْghfirampunilah
  8. لَنَاlanaabagi kami
  9. وَلِإِخْوَانِنَاwa-li-ikhwaaninaadan bagi saudara-saudara kami
  10. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  11. سَبَقُونَاsabaquunaamereka mendahului kami
  12. بِالْإِيمَانِbi-l-iimaanipada keimanan
  13. وَلَاwa-laadan tidak pula
  14. تَجْعَلْtaj'alEngkau jadikan
  15. فِيfiidalam
  16. قُلُوبِنَاquluubinaahati kami
  17. غِلًّاghillandendam
  18. لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
  19. آمَنُواaamanuuberiman
  20. رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
  21. إِنَّكَinnakasesungguhnya Engkau
  22. رَءُوفٌra'uufunpenyantun
  23. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Doa yang menjaga kemurnian hati antar-generasi: 'janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman', pengakuan bahwa iri hati terhadap pendahulu yang lebih dulu beriman adalah godaan nyata yang perlu diwaspadai secara aktif, doa yang menjadi model bagi menjaga solidaritas lintas generasi dalam komunitas keimanan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(Muhajirin dan Ansar)' tidak dipakai: identifikasi historis tidak tertulis eksplisit di teks Arab. Kutipan dibuka oleh 'yaquuluuna' dan ditutup dalam ayat ini sendiri. 'Ra'uufun rahiimun' bertanwin tak-takrif tetap huruf kecil.

Rangkaian (سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ, sabaquunaa bi-l-iimaani) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:10. Kata kerjanya berarti mendahului dalam sebuah perlombaan, dan yang mendahului itu disebut dengan huruf yang menandai alat: mendahului 'dengan keimanan'. Jadi yang dilombakan bukan waktu melainkan keimanan itu sendiri, dan pihak yang tertinggal mengakuinya sendiri di dalam doanya.

Ayat ini melanjutkan susunan tiga lapis yang dimulai dua ayat sebelumnya. Yang pertama golongan yang berhijrah, yang kedua golongan yang menempati kota lebih dahulu, dan yang ketiga disebut 'orang-orang yang datang sesudah mereka', dengan keterangan waktu (مِنْ بَعْدِهِمْ, min ba'dihim) di ujungnya. Ketiganya dibuka dengan bentuk yang sama, sehingga daftarnya terbaca sebagai satu rangkaian yang tidak terputus.

Yang mencolok, golongan ketiga tidak diberi bagian dari harta yang sedang dibagi. Yang direkam dari mereka cuma doa. Tidak ada satu kata pun tentang apa yang mereka terima, padahal ayat-ayat sebelumnya seluruhnya tentang pembagian. Susunan itu membuat mereka masuk ke dalam daftar bukan lewat hak, melainkan lewat sikap.

Kata (غِلًّا, ghillan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:10. Akarnya berarti sesuatu yang masuk lalu menyusup ke dalam, dan dari akar yang sama lahir kata untuk belenggu. Terjemahan 'kedengkian' menahan sisi menyusupnya; yang dimintakan bukan agar mereka tidak berbuat jahat, melainkan agar sesuatu tidak dijadikan ada di dalam hati mereka.

Kata kerja yang dipakai untuk permintaan itu adalah (وَلَا تَجْعَلْ, wa-laa taj'al) 'dan janganlah Engkau jadikan'. Pelakunya Allah, bukan mereka. Mereka tidak meminta kekuatan untuk melawan kedengkian; mereka meminta agar kedengkian itu tidak diadakan. Susunan itu sejalan dengan penutup ayat sebelumnya, yang menyebut orang yang dijaga dari kekikiran dirinya dengan bentuk pasif.

Rangkaian penutupnya, (رَءُوفٌ رَحِيمٌ, ra'uufun rahiimun), muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:143, 9:117, 16:7, 24:20, dan 59:10. Kata pertamanya berasal dari akar yang berarti iba yang halus, dan kata keduanya dari akar yang menurunkan kata rahim. Keduanya berdekatan maknanya, dan dipasang bersama untuk menutup sebuah doa yang isinya tentang hati.

Panggilan (رَبَّنَا, rabbanaa) muncul dua kali di dalam doa ini, sekali di awal dan sekali lagi menjelang penutup. Susunan yang sama dipakai di doa Ibrahim pada 60:5. Dua doa itu berjauhan letaknya dan berbeda isinya, tetapi memakai cara memanggil yang sama.

Tafsiran

Ayat ini mengutip doa generasi beriman berikutnya: memohon ampunan dan hati yang bersih dari kedengkian terhadap pendahulu mereka.

Yang paling mencolok dari ayat ini adalah apa yang tidak ada di dalamnya. Tiga ayat berturut-turut menyusun tiga golongan dengan bentuk kalimat yang sama, dan dua yang pertama diberi bagian dari harta yang sedang dibagi. Golongan ketiga tidak. Yang direkam dari mereka cuma sebuah doa, tanpa satu kata pun tentang apa yang mereka terima. Mereka masuk ke dalam daftar lewat sikap, bukan lewat hak.

Doa itu sendiri dimulai dari yang paling wajar: ampunan untuk diri sendiri. Tetapi kalimatnya tidak berhenti di situ. Ia menyambung dengan menyebut saudara-saudara yang beriman lebih dahulu, memakai kata kerja yang berarti mendahului dalam sebuah perlombaan. Yang datang belakangan mengakui bahwa dirinya tertinggal, dan pengakuan itu diucapkan di dalam doa, bukan di dalam perdebatan.

Permintaan keduanya justru yang paling tajam. Mereka meminta agar tidak ada kedengkian di dalam hati mereka terhadap orang-orang yang beriman. Yang dikhawatirkan bukan perbuatan melainkan penyakit yang menyusup, dengan kata yang akarnya berarti masuk perlahan ke dalam. Doa itu menjaga hubungan sebelum ia rusak, bukan memperbaikinya sesudah pecah.

Yang juga perlu diperhatikan adalah siapa pelakunya. Mereka tidak meminta kekuatan untuk melawan kedengkian; mereka meminta agar kedengkian itu tidak dijadikan ada. Susunan itu sejalan persis dengan penutup ayat sebelumnya, yang menyebut orang yang dijaga dari kekikiran dirinya dengan bentuk pasif. Dua ayat berturut-turut menaruh musuh yang paling dekat di dalam dada, dan dua-duanya menyebut penjagaan sebagai sesuatu yang datang dari luar diri. Dan sesudah beberapa ayat penuh tentang pembagian harta, yang diminta di sini justru hal yang tidak bisa dibagi.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam mereka mendoakan saudara-saudara yang beriman lebih dahulu. Bukan meminta untuk diri sendiri saja. Yang datang belakangan menyebut yang terdahulu di dalam doanya. Kata kerjanya bahkan berarti mendahului dalam sebuah perlombaan, jadi yang tertinggal mengakui sendiri bahwa ia tertinggal. Pengakuan itu diucapkan di dalam doa, bukan di dalam perdebatan, dan tempat mengucapkannya menentukan sifatnya. Tempat mengucapkan sebuah pengakuan menentukan sifatnya, jauh lebih daripada isinya.
  • Mereka meminta agar tidak ada kedengkian dalam hati mereka terhadap yang beriman. Yang dikhawatirkan penyakit di dalam. Doa itu menjaga hubungan sebelum ia rusak. Kata yang dipakai berakar pada sesuatu yang masuk lalu menyusup, seakar dengan kata untuk belenggu. Yang dimintakan bukan agar mereka tak berbuat jahat, melainkan agar sesuatu tidak dijadikan ada di dalam, dan itu permintaan yang jauh lebih dalam. Menjaga sesuatu sebelum retak selalu lebih murah daripada menyambungnya sesudah pecah.
  • Allah merekam doa itu tanpa satu pun permintaan tentang harta atau kedudukan. Padahal ayat-ayat sebelumnya bicara pembagian harta rampasan. Yang diminta justru hal yang tak bisa dibagi. Golongan ini bahkan tidak disebut menerima apa pun dari pembagian tersebut, padahal dua golongan sebelumnya disebut. Mereka masuk ke dalam daftar lewat sikap, bukan lewat hak, dan itulah satu-satunya cara yang masih terbuka bagi yang datang belakangan. Satu-satunya pintu yang masih terbuka bagi yang datang belakangan ternyata bukan pintu pembagian.
  • Kata kerja permintaannya berbunyi janganlah Engkau jadikan, dan pelakunya Allah, bukan mereka. Mereka tak meminta kekuatan untuk melawan kedengkian; mereka meminta agar kedengkian itu tidak diadakan. Susunan itu sejalan persis dengan penutup ayat sebelumnya yang memakai bentuk pasif. Dua ayat berturut-turut menaruh musuh terdekat di dalam dada, dan dua-duanya menyebut penjagaan sebagai sesuatu yang datang dari luar diri.
  • Tiga ayat berturut-turut menyusun tiga golongan dengan bentuk kalimat yang sama, sehingga daftarnya terbaca sebagai satu rangkaian yang tak terputus. Bukankah itu berarti pintunya tak pernah ditutup? Golongan ketiga disebut dengan kalimat 'yang datang sesudah mereka', dan kalimat sependek itu terbuka bagi siapa saja yang datang kapan saja. Pembaca hari ini pun masuk ke dalam sebutan tersebut tanpa perlu keterangan tambahan.
  • Panggilan 'Ya Tuhan kami' muncul dua kali di dalam doa sependek ini, sekali di awal dan sekali menjelang penutup. Susunan yang sama dipakai di sebuah doa lain yang letaknya jauh dan isinya berbeda. Pengulangan itu tak menambah isi permintaannya sedikit pun; yang ditambahkannya nada orang yang sedang benar-benar berbicara, bukan sedang menyusun kalimat yang rapi untuk didengar orang lain. Bedanya doa dan susunan kalimat yang rapi kadang tersimpan di satu kata yang diulang.