أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik? Mereka berkata kepada saudara-saudara mereka yang kufur dari Ahlulkitab, “Sungguh, jika kalian diusir, kami pasti keluar bersama kalian, dan kami tidak akan menaati siapa pun tentang kalian selamanya; dan jika kalian diperangi, kami pasti menolong kalian.” Dan Allah bersaksi bahwa mereka benar-benar para pendusta.
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُواa-lam tara ilaa lladziina naafaquutidakkah engkau memperhatikan orang-orang munafik
- يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِyaquuluuna li-ikhwaanihimu lladziina kafaruu min ahli l-kitaabimereka berkata kepada saudara-saudara mereka yang kufur dari Ahlulkitab
- لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْla-in ukhrijtum la-nakhrujanna ma'akumsungguh, jika kalian diusir, kami pasti keluar bersama kalian
- وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًاwa-laa nuthii'u fiikum ahadan abadandan kami tidak akan menaati siapa pun tentang kalian selamanya
- وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْwa-in quutiltum la-nanshurannakumdan jika kalian diperangi, kami pasti menolong kalian
- وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَwa-llaahu yasyhadu innahum la-kaadzibuunadan Allah bersaksi bahwa mereka benar-benar para pendusta
Terjemahan per kata (28 kata)
- أَلَمْa-lamtidakkah
- تَرَtaraengkau memperhatikan
- إِلَىilaakepada
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- نَافَقُواnaafaquumereka berlaku munafik
- يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
- لِإِخْوَانِهِمُli-ikhwaanihimukepada saudara-saudara mereka
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- مِنْmindari
- أَهْلِahlikalangan
- الْكِتَابِl-kitaabiKitab
- لَئِنْla-insungguh jika
- أُخْرِجْتُمْukhrijtumkalian diusir
- لَنَخْرُجَنَّla-nakhrujannasungguh kami akan keluar
- مَعَكُمْma'akumbersama kalian
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- نُطِيعُnuthii'ukami menaati
- فِيكُمْfiikumdi antara kalian
- أَحَدًاahadanseorang pun
- أَبَدًاabadanselamanya
- وَإِنْwa-indan jika
- قُوتِلْتُمْquutiltumkalian diperangi
- لَنَنْصُرَنَّكُمْla-nanshurannakumsungguh kami akan menolong kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- يَشْهَدُyasyhadumenyaksikan
- إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
- لَكَاذِبُونَla-kaadzibuunabenar-benar para pendusta
Inti bacaan
Pengungkapan janji palsu yang tak terbukti: 'jika kalian diusir, kami pasti keluar bersama kalian. Dan Allah bersaksi bahwa mereka benar-benar para pendusta', peringatan tentang kesenjangan antara janji verbal yang meyakinkan dan komitmen nyata yang akan diuji, kewaspadaan terhadap dukungan yang hanya berupa kata-kata tanpa bukti tindakan.
Penjelasan pilihan kata
Kutipan dibuka oleh 'yaquuluuna' dan ditutup dalam ayat ini sendiri.
Rangkaian pembukanya, (أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ, alam tara ila lladziina), muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 2:243, 3:23, 4:44, 58:8, dan 59:11. Bentuknya pertanyaan yang tidak menunggu jawaban, dan kata kerjanya berarti melihat. Yang diajak melihat satu orang, bukan rombongan, sehingga kalimatnya berpaling sejenak dari sapaan jamak yang dipakai ayat-ayat sebelumnya.
Kata kerja (نَافَقُوا, naafaquu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:167 dan 59:11. Akarnya berhubungan dengan lubang tembusan yang punya dua mulut, yaitu liang yang bisa dimasuki dari satu sisi dan ditinggalkan dari sisi lain. Sifat dua mulut itulah yang dipakai untuk menamai kelakuan yang dibicarakan ayat ini.
Yang mereka sebut sebagai pihak seberang adalah 'saudara-saudara mereka'. Kata itu dipakai untuk hubungan yang paling erat, dan dipasang di depan keterangan 'yang kufur dari Ahlulkitab'. Jadi kekerabatan yang diakui itu justru diucapkan bersama keterangan yang menunjukkan jarak keyakinan, dan dua hal yang bertolak belakang itu berdampingan di dalam satu frasa.
Janji mereka disusun dengan penegasan yang berlapis. Huruf (لَ, la) di depan dan akhiran (نَّ, nna) di belakang kata kerja dipakai dua kali: (لَنَخْرُجَنَّ, la-nakhrujanna) 'kami pasti keluar' dan (لَنَنْصُرَنَّكُمْ, la-nanshurannakum) 'kami pasti menolong kalian'. Ditambah kata (أَبَدًا, abadan) 'selamanya' di tengah, janji itu diucapkan dengan seluruh alat penegas yang tersedia.
Susunan itu punya akibat yang tidak disengaja pengucapnya. Semakin banyak penegas dipasang pada sebuah janji, semakin telanjang kekosongannya ketika janji itu tidak ditepati. Ayat ini mengutipnya lengkap justru supaya kekosongan itu terlihat, dan ayat berikutnya membongkarnya butir demi butir.
Penutupnya, (وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ, wa-llaahu yasyhadu innahum la-kaadzibuuna), memakai kata (لَكَاذِبُونَ, la-kaadzibuuna) yang muncul 9 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 6:28, 9:42, 23:90, 59:11, dan 63:1. Kata kerja 'bersaksi' dipakai untuk Allah, dan kesaksian itu diberikan sebelum satu peristiwa pun terjadi.
Bentuk 'bersaksi' juga perlu dicatat: ia bentuk sekarang, bukan lampau. Yang dinyatakan bukan bahwa Dia pernah bersaksi, melainkan bahwa kesaksian itu sedang berlangsung, bersamaan dengan janji yang baru saja diucapkan.
Satu hal lagi yang mudah terlewat: yang dijanjikan seluruhnya berupa perbuatan yang belum tiba waktunya. Keluar bersama, tidak menaati siapa pun, dan menolong. Ketiganya bergantung pada keadaan yang belum ada, dan itulah jenis janji yang paling murah diucapkan. Tidak ada satu pun butir yang bisa ditagih pada hari janji itu diucapkan, sehingga pengucapnya menikmati seluruh kesan setianya tanpa membayar apa pun.
Kata (أَحَدًا, ahadan) 'siapa pun' di tengah janji itu juga dipasang dalam bentuk tak bertakrif, sehingga cakupannya menyeluruh tanpa kecuali. Ditambah 'selamanya' sesudahnya, satu kalimat pendek itu menutup ruang dan waktu sekaligus. Janji yang menutup dua-duanya sekaligus jarang keluar dari orang yang benar-benar berniat menepatinya.
Tafsiran
Ayat ini mengungkap janji palsu orang munafik kepada sekutu Ahlulkitab mereka: kesetiaan yang hanya di mulut.
Cara ayat ini bekerja adalah dengan mengutip lengkap, bukan meringkas. Janji itu disalin dengan seluruh penegasnya: huruf penegas di depan kata kerja, akhiran penegas di belakangnya, dipakai dua kali, ditambah kata 'selamanya' di tengah. Kalau tujuannya sekadar menyebut bahwa mereka berjanji, satu kalimat pendek sudah cukup. Yang dikerjakan justru sebaliknya, dan alasannya masuk akal: semakin banyak penegas dipasang, semakin telanjang kekosongannya ketika janji itu tak ditepati.
Yang berjanji menyebut pihak seberang sebagai saudara. Kata itu dipakai untuk hubungan yang paling erat, dan dipasang tepat di depan keterangan yang menunjukkan jarak keyakinan di antara keduanya. Dua hal yang bertolak belakang berdiri berdampingan di dalam satu frasa. Kesetiaan yang ditawarkan dibungkus kekerabatan, dan bungkus itu memang rapi.
Nama kelakuan mereka sendiri sudah menerangkan bentuknya. Akar katanya berhubungan dengan liang yang punya dua mulut: bisa dimasuki dari satu sisi lalu ditinggalkan dari sisi yang lain. Sifat dua mulut itulah yang dipakai untuk menamai apa yang mereka kerjakan, dan gambaran itu jauh lebih tepat daripada sekadar menyebut mereka tidak jujur.
Penutupnya tidak menunggu. Allah bersaksi bahwa mereka pendusta, di ayat yang sama, sebelum satu peristiwa pun membuktikannya. Dan bentuk kata kerjanya bentuk sekarang, bukan lampau: kesaksian itu sedang berlangsung, bersamaan dengan janji yang baru saja diucapkan. Ada janji yang sudah gugur pada saat ia diucapkan, dan yang membuatnya gugur bukan kejadian sesudahnya melainkan isi hati pengucapnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengutip janji mereka lengkap dengan sumpahnya. Sungguh, jika kalian diusir. Kalimatnya terdengar meyakinkan. Kutipan itu tidak diringkas, padahal meringkasnya jauh lebih mudah. Seluruh alat penegas yang tersedia dipasang: huruf di depan kata kerja, akhiran di belakangnya, dua kali, ditambah kata selamanya di tengah. Dan justru kelengkapan itu yang membuat kekosongannya terlihat begitu telanjang ketika ayat berikutnya membongkarnya. Allah membiarkan kalimat itu berdiri utuh supaya kekosongannya terdengar sendiri.
- Yang berjanji menyebut diri saudara. Kesetiaan itu dibungkus kekerabatan. Bungkusnya rapi, isinya kosong. Kata untuk saudara dipakai bagi hubungan yang paling erat, dan dipasang tepat di depan keterangan yang justru menunjukkan jarak keyakinan di antara keduanya. Dua hal yang bertolak belakang berdiri berdampingan dalam satu frasa, dan tak seorang pun di dalam ayat ini merasa perlu menjelaskan kejanggalannya. Sebutan kekerabatan dipakai justru di tempat yang paling jauh dari kekerabatan.
- Allah bersaksi bahwa mereka pendusta, di ayat yang sama. Tidak menunggu peristiwa membuktikannya. Vonisnya diberikan lebih dahulu. Bentuk kata kerjanya pun bentuk sekarang, bukan lampau, jadi kesaksian itu sedang berlangsung bersamaan dengan janji yang baru diucapkan. Ada janji yang sudah gugur pada saat ia keluar dari mulut, dan yang menggugurkannya bukan kejadian sesudahnya melainkan isi hati pengucapnya. Kesaksian yang datang lebih dulu menutup ruang bagi pembelaan yang disusun sesudahnya.
- Akar kata untuk kelakuan mereka berhubungan dengan liang yang punya dua mulut: bisa dimasuki dari satu sisi lalu ditinggalkan dari sisi yang lain. Sifat dua mulut itulah yang dipakai untuk menamainya. Gambaran itu jauh lebih tepat daripada sekadar menyebut seseorang tidak jujur, sebab yang disorot bukan isi ucapannya melainkan tersedianya jalan keluar yang sudah disiapkan sejak awal. Yang disorot bukan isi ucapannya, melainkan jalan keluar yang sudah disiapkan sejak semula.
- Kalimatnya berbunyi 'tidakkah engkau memperhatikan', dan yang disapa satu orang, bukan rombongan. Ayat-ayat sebelumnya memakai sapaan jamak. Lalu mengapa berpaling sejenak seperti ini? Melihat sesuatu selalu dikerjakan sepasang mata, bukan oleh kerumunan. Yang diminta bukan kesepakatan bersama tentang siapa mereka, melainkan pengamatan yang dikerjakan sendiri oleh siapa pun yang membaca. Allah meminta pengamatan, bukan kesepakatan bersama tentang siapa mereka.
- Rangkaian pembuka ayat ini dipakai belasan kali di dalam Al-Qur'an, dan selalu untuk menunjuk sesuatu yang sedang berlangsung di depan mata. Yang ditunjuk kali ini sebuah janji, bukan sebuah perbuatan. Bukankah janji tak bisa dilihat? Bisa, kalau yang diperhatikan bukan isinya melainkan cara mengucapkannya. Penegas yang berlebihan justru sesuatu yang kelihatan, dan itulah yang disodorkan untuk diperhatikan.