كَمَثَلِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيبًا ۖ ذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Seperti perumpamaan orang-orang sebelum mereka yang belum lama, mereka telah merasakan akibat buruk urusan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. كَمَثَلِ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيبًاka-matsali lladziina min qablihim qariibanseperti perumpamaan orang-orang sebelum mereka yang belum lama
  2. ذَاقُوا وَبَالَ أَمْرِهِمْdzaaquu wabaala amrihimmereka telah merasakan akibat buruk urusan mereka
  3. وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌwa-lahum 'adzaabun aliimundan bagi mereka azab yang pedih

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. كَمَثَلِka-matsaliseperti perumpamaan
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. مِنْmindari
  4. قَبْلِهِمْqablihimsebelum mereka
  5. قَرِيبًاqariibanyang dekat
  6. ذَاقُواdzaaquumereka merasakan
  7. وَبَالَwabaalaakibat buruk
  8. أَمْرِهِمْamrihimurusan mereka
  9. وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
  10. عَذَابٌ'adzaabunazab
  11. أَلِيمٌaliimunyang pedih

Inti bacaan

Peringatan berbasis contoh serupa dekat: 'seperti perumpamaan orang-orang sebelum mereka yang belum lama, mereka telah merasakan akibat buruk urusan mereka', penggunaan contoh yang masih segar dalam ingatan (bukan sejarah kuno) sebagai pelajaran yang lebih mudah diresapi karena kedekatan waktunya.

Penjelasan pilihan kata

Kalimatnya dibuka dengan (كَمَثَلِ, ka-matsali), gabungan huruf penyerupa dengan kata untuk perumpamaan. Jadi yang dipasang bukan cuma perbandingan, melainkan perbandingan yang menyebut dirinya sendiri sebagai perumpamaan. Terjemahan 'seperti perumpamaan' menahan kedua lapis itu tanpa meringkasnya menjadi satu kata.

Yang diperbandingkan disebut dengan keterangan waktu yang tidak biasa: (مِنْ قَبْلِهِمْ قَرِيبًا, min qablihim qariiban) 'sebelum mereka yang belum lama'. Kata terakhirnya berarti dekat, dan di sini ia menerangkan jarak waktu, bukan jarak tempat. Penyebutan jarak seperti itu jarang dipasang pada perumpamaan; biasanya cukup disebut 'orang-orang sebelum mereka'.

Penambahan itu mengubah kedudukan contohnya. Sebuah contoh yang jauh gampang ditolak dengan alasan zamannya sudah lain. Contoh yang baru saja terjadi tidak menyediakan alasan itu. Yang dipakai bukan kisah kuno, melainkan sesuatu yang masih ada di dalam ingatan orang yang sedang disapa.

Kata kerja (ذَاقُوا, dzaaquu) berarti merasakan dengan lidah, dan dipakai di sini untuk akibat perbuatan. Pemilihan kata itu memindahkan perkaranya dari pengetahuan ke pengalaman. Yang disebut bukan mereka mengetahui akibatnya, melainkan mereka mengecapnya sendiri.

Rangkaian (وَبَالَ أَمْرِهِمْ, wabaala amrihim) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:15 dan 64:5. Kata pertamanya berarti akibat yang berat dan memberatkan, dan yang kedua berarti urusan atau perkara. Susunannya menyandarkan akibat itu kepada urusan mereka sendiri, bukan kepada nasib yang datang dari luar.

Penyandaran itu yang paling menentukan di dalam ayat ini. Apa yang mereka rasakan disebut sebagai buah dari perkara mereka sendiri. Tidak ada pihak ketiga yang disalahkan, dan tidak ada keadaan yang dijadikan sebab. Yang dirasakan adalah miliknya sendiri yang kembali.

Penutupnya menyebut (عَذَابٌ أَلِيمٌ, 'adzaabun aliimun), rangkaian yang tersebar di banyak tempat, antara lain di 2:10, 2:104, 3:77, dan 5:36, dan di ayat-ayat lain ia hadir dengan akhiran i'rab yang berbeda, misalnya 61:10. Bentuknya di sini tak bertakrif, sehingga harfiahnya 'azab yang pedih', bukan azab tertentu yang sudah dikenal.

Susunan dua bagian ayat ini juga patut dicatat. Yang pertama sudah dirasakan, memakai kata kerja lampau; yang kedua masih menunggu, memakai kalimat bernama tanpa kata kerja. Satu ayat pendek memuat dua waktu sekaligus, dan yang sudah terjadi dipakai sebagai jaminan atas yang belum.

Susunan kalimatnya juga tidak menyebut siapa yang diserupakan. Ayat ini dibuka langsung dengan huruf penyerupa, tanpa menyebut lebih dahulu bahwa mereka itulah yang diserupakan. Sambungannya ke ayat sebelumnya dibiarkan dikerjakan pembaca, dan cara menyambung seperti itu membuat kedua ayat terbaca dalam satu tarikan.

Perlu dicatat pula bahwa kalimat kedua di ayat ini tidak memakai kata kerja sama sekali. Ia kalimat bernama: 'bagi mereka azab yang pedih'. Huruf kepunyaan di depannya biasa dipakai untuk sesuatu yang menjadi hak seseorang, dan pemakaian huruf itu untuk azab membuat kalimatnya terbaca ganjil, persis seperti di 59:3.

Tafsiran

Ayat ini membandingkan nasib orang munafik dengan umat terdahulu yang juga merasakan akibat buruk pengkhianatan mereka.

Yang tidak biasa dari perumpamaan ini adalah jarak waktunya disebut. Biasanya sebuah contoh cukup diperkenalkan sebagai 'orang-orang sebelum mereka'. Di sini ditambahkan satu kata yang berarti dekat, dan kata itu menerangkan waktu, bukan tempat. Penambahan sekecil itu mengubah kedudukan contohnya sama sekali.

Sebabnya sederhana. Contoh yang jauh selalu punya jalan keluar bagi yang tidak mau menerimanya: zamannya sudah lain, keadaannya berbeda, orangnya bukan kita. Contoh yang baru saja terjadi tidak menyediakan jalan itu. Yang dipakai bukan kisah kuno melainkan sesuatu yang masih segar di dalam ingatan, dan yang masih segar jauh lebih sulit ditepis.

Kata kerja yang dipakai untuk akibatnya berarti merasakan dengan lidah. Pemilihan itu memindahkan perkaranya dari pengetahuan ke pengalaman. Yang disebut bukan bahwa mereka tahu akibatnya, melainkan bahwa mereka mengecapnya sendiri. Ada perbedaan besar antara mengetahui sesuatu pahit dan pernah merasakannya, dan perumpamaan yang dipakai di sini menuntut jenis yang kedua.

Yang paling menentukan adalah kepada siapa akibat itu disandarkan. Kalimatnya menyebut akibat buruk dari urusan mereka sendiri. Tidak ada pihak ketiga yang disalahkan, tidak ada keadaan yang dijadikan sebab. Apa yang dirasakan adalah miliknya sendiri yang kembali. Dan susunan dua bagian ayat ini memuat dua waktu sekaligus: yang pertama memakai kata kerja lampau untuk sesuatu yang sudah dirasakan, yang kedua kalimat bernama tanpa kata kerja untuk sesuatu yang masih menunggu. Yang sudah terjadi dipakai sebagai jaminan atas yang belum.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai contoh yang belum lama, bukan sejarah jauh. Masih segar. Masih diingat. Contoh yang jauh selalu menyediakan jalan keluar bagi yang tak mau menerimanya: zamannya sudah lain, keadaannya berbeda, orangnya bukan kita. Contoh yang baru saja terjadi tidak menyediakan satu pun dari alasan itu, dan justru karena itu ia jauh lebih sulit ditepis oleh siapa pun yang mendengarnya. Alasan menolak sebuah teladan hampir selalu bersandar pada jaraknya, dan jarak itu di sini dicabut. Yang masih segar jauh lebih sukar ditepis daripada yang sudah lama lewat.
  • Jarak waktunya sengaja disebut. Bukan kaum kuno. Yang baru saja. Biasanya sebuah contoh cukup diperkenalkan sebagai kaum yang mendahului mereka; di sini ditambahkan satu kata yang berarti tak jauh, dan kata itu menerangkan waktu, bukan tempat. Penambahan sekecil itu mengubah kedudukan seluruh pembandingannya, dari cerita yang didengar menjadi kejadian yang disaksikan. Satu kata tambahan mengubah kedudukan seluruh pembandingannya. Dari cerita yang didengar, ia berubah menjadi kejadian yang disaksikan sendiri.
  • Yang dirasakan disebut akibat urusan mereka sendiri. Allah menamai sebabnya. Bukan nasib yang jatuh. Tidak ada pihak ketiga yang disalahkan di dalam kalimat itu, dan tak ada keadaan yang dijadikan alasan. Apa yang mereka rasakan adalah milik mereka sendiri yang kembali kepada mereka. Penyandaran laksana itu menutup seluruh pintu pengaduan sekaligus, tanpa satu kalimat bantahan pun. Penyandaran itu menutup seluruh pintu pengaduan sekaligus, tanpa satu bantahan pun. Apa yang mereka rasakan adalah milik mereka sendiri yang kembali kepada mereka.
  • Kata kerjanya berarti mengecap dengan lidah, dan dipakai untuk akibat perbuatan. Perkaranya berpindah dari pengetahuan ke pengalaman. Yang disebut bukan bahwa mereka tahu akibatnya, melainkan bahwa mereka mengecapnya. Ada jarak yang lebar antara mengetahui sesuatu pahit dan pernah mengecapnya di lidah sendiri, dan pembandingan di ayat ini menuntut jenis yang kedua, bukan yang pertama. Ada jarak lebar antara tahu sesuatu pahit dan pernah mengecapnya di lidah sendiri.
  • Bagian pertamanya memakai kata kerja lampau untuk sesuatu yang sudah dirasakan; bagian keduanya kalimat bernama tanpa kata kerja untuk sesuatu yang masih menunggu. Satu ayat pendek memuat dua waktu sekaligus. Yang sudah terjadi dipakai sebagai jaminan atas yang belum, dan itu cara meyakinkan yang tak memerlukan satu pun argumen tambahan: yang pernah terbukti sekali menaikkan bobot yang belum terjadi. Yang pernah terbukti sekali menaikkan bobot yang belum terjadi, tanpa perlu argumen tambahan.
  • Kalimatnya dibuka dengan gabungan huruf penyerupa dan kata untuk pembandingan, jadi yang dipasang bukan sekadar perbandingan melainkan perbandingan yang menyebut dirinya sendiri sebagai pembandingan. Bukankah itu berlebih? Justru tidak: dengan menamainya, Allah memberi tahu pembacanya bahwa yang penting bukan detail kejadiannya, melainkan bentuknya, dan bentuk itulah yang bisa berulang di mana saja.