كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
Seperti perumpamaan setan ketika ia berkata kepada manusia, “Kufurlah!” Maka, ketika ia kufur, ia berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri darimu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seisi alam.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْka-matsali sy-syaythaani idz qaala li-l-insaani ukfurseperti perumpamaan setan ketika ia berkata kepada manusia, kufurlah
- فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَfa-lammaa kafara qaala innii barii'un minkamaka, ketika ia kufur, ia berkata, sesungguhnya aku berlepas diri darimu
- إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَinnii akhaafu llaaha rabba l-'aalamiinasesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seisi alam
Terjemahan per kata (17 kata)
- كَمَثَلِka-matsaliseperti perumpamaan
- الشَّيْطَانِsy-syaythaanisetan
- إِذْidzketika
- قَالَqaalaberkata
- لِلْإِنْسَانِli-l-insaanibagi manusia
- اكْفُرْukfurkafirlah
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- كَفَرَkafarakufur
- قَالَqaalaberkata
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- بَرِيءٌbarii'unberlepas diri
- مِنْكَminkadarimu
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- أَخَافُakhaafuaku takut
- اللَّهَllaahaAllah
- رَبَّrabbaTuhan
- الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam
Inti bacaan
Perumpamaan pengkhianatan bertahap: setan berkata 'kufurlah engkau!' lalu setelah dituruti berkata 'aku berlepas diri darimu karena aku takut kepada Allah', gambaran tajam tentang sifat penghasut yang meninggalkan korbannya setelah tujuan tercapai, peringatan untuk tidak mempercayai dorongan yang menjanjikan dukungan namun sesungguhnya hanya mencari keuntungan sesaat tanpa tanggung jawab jangka panjang.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan besar '(Perumpamaan bujukan orang-orang munafik kepada kaum Yahudi)' tidak dipakai: kerangka interpretif ini tidak tertulis di teks Arab; ayat ini kelanjutan langsung perumpamaan kedua dari 59:15. Frasa 'orang itu' juga dihapus: kata ganti 'ia' via konjugasi verba sudah cukup tanpa pengulangan kata benda. Dua kutipan berurutan (bukan bersarang) masing-masing dibuka oleh 'qaala' dan ditutup dalam anak kalimat yang sama.
Ayat ini dibuka dengan huruf dan kata yang sama persis dengan ayat sebelumnya: gabungan huruf penyerupa dengan kata untuk perumpamaan. Dua ayat berurutan karena itu memasang dua pembandingan berturut-turut, dan yang kedua tidak disambung dengan kata penghubung apa pun. Pembacanya dibiarkan menyusun sendiri hubungan antara keduanya.
Perintah yang diucapkan sang pembujuk cuma satu kata: (اكْفُرْ, ukfur) 'kufurlah'. Tidak ada bujukan panjang, tidak ada janji, tidak ada alasan yang ditawarkan. Kependekan itu sendiri sudah menjadi keterangan tentang betapa murahnya harga yang dibayar untuk membujuk, dan betapa murahnya pula yang menuruti.
Kalimat perpisahannya dibuka dengan penegas: (إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ, innii barii'un minka) 'sesungguhnya aku berlepas diri darimu'. Rangkaian (بَرِيءٌ مِنْكَ, barii'un minka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:16. Akar kata pertamanya sama dengan akar kata yang dipakai di 60:4 untuk Ibrahim dan pengikutnya yang berlepas diri dari kaumnya.
Kesamaan akar itu menyisakan perbandingan yang tajam. Kata yang sama dipakai untuk dua perbuatan yang bertolak belakang: di 60:4 untuk memisahkan diri dari kekufuran, di sini untuk memisahkan diri dari orang yang baru saja diseret ke dalam kekufuran. Yang membedakan bukan kata dan bukan bentuknya, melainkan dari apa seseorang berlepas diri.
Alasan yang dipakainya untuk pergi berbunyi 'sesungguhnya aku takut kepada Allah'. Rangkaian (رَبَّ الْعَالَمِينَ, rabba l-'aalamiina) di sini tampil dalam kedudukan i'rab yang sama seperti di 5:28 dan 26:77, sedangkan di tempat lain ia hadir dengan akhiran yang berbeda, misalnya 81:29. Di 5:28 rangkaian itu juga diucapkan di dalam sebuah percakapan antara dua pihak yang salah satunya hendak mencelakakan yang lain.
Perlu diperhatikan pula bahwa perpisahannya terjadi tepat 'ketika ia kufur', bukan sebelum dan bukan lama sesudahnya. Huruf (فَلَمَّا, fa-lammaa) menandai kejadian yang menyusul persis pada saat sesuatu terpenuhi. Hubungan yang seluruhnya dibangun untuk satu tujuan memang berakhir di detik tujuan itu tercapai.
Susunan kutipannya juga patut dicatat: dua ucapan berurutan, bukan bersarang. Yang pertama satu kata perintah, yang kedua dua kalimat penegas. Panjang keduanya sangat timpang, dan ketimpangan itu sendiri sudah menggambarkan hubungan yang diceritakan. Untuk menyeret cukup satu kata; untuk melepaskan tangan diperlukan dua kalimat lengkap dengan alasannya.
Perlu diperhatikan pula bahwa yang disapa di dalam kutipan pertama disebut dengan kata untuk manusia secara umum, bertakrif, bukan nama seseorang. Susunan itu menahan perumpamaan ini dari terkunci pada satu peristiwa, dan membiarkannya berlaku bagi siapa saja yang pernah berada di posisi yang sama.
Tafsiran
Ayat ini melukiskan pola pengkhianatan setan terhadap manusia yang dibujuknya: meninggalkan begitu tujuannya tercapai, sebagai gambaran nasib serupa bagi orang munafik.
Ayat ini dibuka dengan huruf dan kata yang sama persis dengan ayat sebelumnya, tanpa satu kata penghubung pun di antaranya. Jadi dua pembandingan dipasang berturut-turut, dan hubungan di antara keduanya dibiarkan disusun sendiri oleh pembacanya. Yang pertama tentang kaum yang baru saja mengecap akibat urusannya, yang kedua tentang bujukan yang berakhir dengan ditinggalkan.
Bujukan itu sendiri sangat pendek: satu kata. Tidak ada janji, tidak ada alasan, tidak ada tawaran keuntungan. Kependekan itu menjadi keterangan tersendiri tentang harga yang dibayar untuk membujuk, dan sekaligus tentang betapa murahnya perlawanan pihak yang dibujuk. Yang mahal justru akibatnya, dan akibat itu tidak ditanggung yang mengucapkan satu kata tadi.
Bagian yang paling menusuk adalah alasan yang dipakainya untuk pergi. Ia tidak berkata bosan, tidak berkata sudah selesai urusannya. Ia berkata takut kepada Allah. Kalimat yang paling saleh dipakai di tempat yang paling khianat. Bahasa ketakwaan ternyata bisa dipinjam siapa saja, termasuk untuk meninggalkan orang yang baru saja diseret.
Kata yang dipakai untuk berlepas diri seakar dengan kata yang dipakai bagi Ibrahim dan pengikutnya ketika memisahkan diri dari kaumnya. Kata yang sama, perbuatan yang bertolak belakang. Yang membedakan bukan katanya, melainkan dari apa seseorang berlepas diri: yang satu dari kekufuran, yang lain dari orang yang baru dijerumuskan ke dalamnya. Dan perpisahannya terjadi tepat pada saat tujuannya tercapai, sebab hubungan yang seluruhnya dibangun untuk satu tujuan memang berakhir di detik itu juga.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah membujuk sampai berhasil, alasan yang dipakainya untuk pergi: 'sesungguhnya aku takut kepada Allah'. Kalimat paling saleh dipakai di tempat paling khianat. Bahasa ketakwaan ternyata bisa dipinjam siapa saja, termasuk untuk meninggalkan orang yang baru saja diseret. Ia tak berkata bosan dan tak berkata urusannya sudah selesai; yang dipilihnya justru kalimat yang paling sukar dibantah oleh siapa pun yang mendengarnya. Kalimat yang paling sukar dibantah justru yang dipilihnya sebagai pintu keluar.
- Perpisahan itu terjadi persis 'ketika ia kufur', bukan sebelum dan bukan lama sesudah. Tepat pada saat yang dibujuk sudah menuruti. Hubungan yang seluruhnya dibangun untuk satu tujuan memang berakhir di detik tujuan itu tercapai, dan tak ada yang tersisa sesudahnya. Huruf yang dipakai Allah di situ memang menandai kejadian yang menyusul persis pada saat sesuatu terpenuhi, bukan sekadar sesudahnya. Huruf yang dipakai menandai kejadian yang menyusul persis pada saat sesuatu terpenuhi.
- Yang membujuk pergi, dan yang dibujuk tinggal dengan akibatnya. Perumpamaan yang dipilih Allah tidak menjanjikan penghasut ikut menanggung. Siapa pun yang mendorong orang lain melangkah biasanya tidak berdiri di sana ketika langkah itu harus dipertanggungjawabkan. Ayat berikutnya baru meluruskan bagian itu, dan sampai ayat itu datang pembacanya dibiarkan merasakan ketimpangan yang memang nyata. Ayat sesudahnya baru meluruskan bagian itu, dan sampai saat itu ketimpangannya dibiarkan terasa.
- Perintah yang diucapkan sang pembujuk cuma satu kata. Tak ada janji, tak ada alasan, tak ada tawaran keuntungan. Kependekan itu sendiri sudah menjadi keterangan: begitu murah harga yang dibayar untuk membujuk, dan begitu murah pula perlawanan yang diberikan. Yang mahal justru akibatnya, dan akibat itu tidak ditanggung oleh yang mengucapkan satu kata tersebut. Untuk menyeret cukup sepatah kata; untuk melepaskan tangan diperlukan dua kalimat lengkap.
- Kata untuk berlepas diri di sini seakar dengan kata yang dipakai bagi Ibrahim dan pengikutnya ketika memisahkan diri dari kaumnya. Kata yang sama, perbuatan yang bertolak belakang. Lalu apa yang membedakan keduanya? Bukan katanya dan bukan bentuknya, melainkan dari apa seseorang berlepas diri: yang satu dari kekufuran, yang lain dari orang yang baru saja dijerumuskan ke dalamnya.
- Ayat ini dibuka dengan huruf dan kata yang sama persis dengan ayat sebelumnya, tanpa satu kata penghubung pun di antaranya. Dua pembandingan dipasang berurutan, dan Allah membiarkan pembacanya menyusun sendiri hubungan di antara keduanya. Yang pertama tentang kaum yang sudah mengecap akibat urusannya; yang kedua tentang bujukan yang berakhir ditinggalkan. Keduanya menjelaskan satu hal dari dua arah yang berlainan. Keduanya menerangkan satu hal dari dua arah yang berlainan sekaligus.