فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
Maka, akibat keduanya, bahwa keduanya berada dalam api, kekal di dalamnya; dan itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَاfa-kaana 'aaqibatahumaa annahumaa fii n-naari khaalidayni fiihaamaka, akibat keduanya, bahwa keduanya berada dalam api, kekal di dalamnya
- وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَwa-dzaalika jazaa'u zh-zhaalimiinadan itulah balasan bagi orang-orang yang zalim
Terjemahan per kata (10 kata)
- فَكَانَfa-kaanamaka jadilah
- عَاقِبَتَهُمَا'aaqibatahumaakesudahan keduanya
- أَنَّهُمَاannahumaabahwa keduanya
- فِيfiidalam
- النَّارِn-naariapi
- خَالِدَيْنِkhaalidaynikekal berdua
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- وَذَٰلِكَwa-dzaalikadan itulah
- جَزَاءُjazaa'ubalasan
- الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim
Inti bacaan
Nasib bersama penghasut dan yang terhasut: 'akibat keduanya, bahwa keduanya berada dalam neraka, kekal di dalamnya', pengakuan bahwa baik pihak yang menyesatkan maupun yang membiarkan diri disesatkan sama-sama menanggung konsekuensi, tanggung jawab tidak sepenuhnya bisa dilimpahkan kepada penghasut semata.
Penjelasan pilihan kata
'Dzaalika' (jauh) benar diterjemahkan 'itulah'.
Kata (عَاقِبَتَهُمَا, 'aaqibatahumaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:17. Akarnya berarti apa yang datang sesudah, akar yang sama dengan kata untuk hukuman di 59:4 dan 59:7. Akhirannya berbentuk ganda, yaitu bentuk khusus untuk dua pihak, sehingga sejak kata pertamanya ayat ini sudah menyatakan bahwa yang dibicarakan dua-duanya.
Bentuk ganda itu dipakai tiga kali berturut-turut di dalam satu kalimat pendek: pada kata 'akibat keduanya', pada 'bahwa keduanya', dan pada (خَالِدَيْنِ, khaalidayni) 'kekal berdua'. Kata terakhir itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:17. Pengulangan bentuk ganda sebanyak itu di dalam kalimat sependek ini jelas disengaja.
Yang ditegaskan lewat pengulangan tersebut adalah kebersamaan nasib. Ayat sebelumnya menyisakan ketimpangan yang terasa: yang membujuk pergi, yang dibujuk tinggal. Ayat ini meluruskannya bukan dengan bantahan, melainkan dengan bentuk kata yang memaksa keduanya disebut bersama-sama di setiap posisi.
Rangkaian (جَزَاءُ الظَّالِمِينَ, jazaa'u zh-zhaalimiina) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 5:29 dan 59:17. Menariknya, rangkaian di ayat sebelumnya, 'Tuhan seisi alam', juga muncul di 5:28. Jadi dua ayat berurutan di surah ini bersandar pada dua ayat yang juga berurutan di tempat lain.
Kesejajaran itu bukan kebetulan pilihan kata. Di 5:28 dan 5:29 yang berbicara adalah pihak yang menolak mencelakakan saudaranya, dan yang disebut sebagai balasan adalah balasan bagi orang zalim. Di sini susunan yang sama dipakai untuk pembujuk dan yang dibujuk. Dua pasangan ayat itu sama-sama tentang dua orang yang salah satunya menyeret yang lain.
Kata (الظَّالِمِينَ, azh-zhaalimiina) di penutupnya menyebut golongan dengan sifat, bukan dengan nama. Jadi kalimat terakhirnya tidak berhenti pada dua pihak di dalam perumpamaan; ia menaikkan perkaranya menjadi aturan yang berlaku bagi siapa pun yang memenuhi sifat tersebut.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang lebih berat kesalahannya. Tidak ada penimbangan antara yang membujuk dan yang menuruti. Yang disebut cuma bahwa keduanya berada di tempat yang sama, dan ketiadaan penimbangan itu sendiri sudah menjawab pihak yang hendak berlindung di balik alasan bahwa dirinya cuma menuruti.
Ada satu hal lagi yang mudah terlewat: ayat ini tidak menyebut nama kedua pihaknya sama sekali. Yang dipakai seluruhnya kata ganti berbentuk ganda. Pembacanya harus menoleh ke ayat sebelumnya untuk mengetahui siapa yang dimaksud, dan penolehan itu justru mengikat kedua ayat menjadi satu bacaan yang tak terpisah.
Kata (فَكَانَ, fa-kaana) di pembukanya berbentuk lampau, padahal yang diceritakan sesuatu yang belum tiba. Bentuk lampau untuk kejadian yang belum datang dipakai di banyak tempat di dalam Al-Qur'an, dan gunanya menyatakan kepastian: sesuatu disebut seakan sudah terjadi karena memang tak mungkin tidak terjadi.
Tafsiran
Ayat ini menutup perumpamaan setan dan manusia: keduanya berujung pada api sebagai balasan kezaliman.
Yang dikerjakan ayat ini adalah meluruskan ketimpangan yang sengaja dibiarkan menganga di ayat sebelumnya. Di sana yang membujuk pergi dan yang dibujuk tinggal dengan akibatnya, dan pembacanya dibiarkan merasakan betapa tidak adilnya susunan itu. Ayat ini menjawabnya bukan dengan bantahan, melainkan dengan bentuk kata.
Bentuk ganda, yaitu bentuk khusus untuk dua pihak, dipakai tiga kali berturut-turut di dalam satu kalimat pendek: pada kata untuk akibat, pada kata penghubungnya, dan pada kata untuk kekal. Pengulangan sebanyak itu di dalam kalimat sependek ini jelas disengaja. Bahasa Arabnya memaksa keduanya disebut bersama-sama di setiap posisi, sehingga tidak ada satu titik pun di dalam kalimat tempat salah satunya bisa berdiri sendiri.
Yang juga penting adalah apa yang tidak dikerjakan ayat ini. Ia tidak menimbang siapa yang lebih berat kesalahannya. Tidak ada perbandingan antara yang membujuk dan yang menuruti, tidak ada keringanan bagi yang cuma mengikuti. Ketiadaan penimbangan itu sendiri sudah menjawab siapa pun yang hendak berlindung di balik alasan bahwa dirinya sekadar terbawa.
Penutupnya menaikkan perkaranya satu tingkat lagi. Yang disebut bukan nama dua pihak di dalam perumpamaan, melainkan sebuah sifat: orang-orang yang zalim. Dengan begitu kalimat terakhirnya berlaku bagi siapa pun yang memenuhi sifat tersebut, di luar perumpamaan mana pun. Dan rangkaian yang dipakai di penutup ini muncul juga di satu ayat lain yang persis bertetangga dengan ayat tempat rangkaian di ayat sebelumnya muncul, sehingga dua pasangan ayat itu berdiri sejajar: dua-duanya tentang dua orang yang salah satunya menyeret yang lain.
Renungan dan Hikmah
- Allah menaruh penghasut dan yang terhasut di tempat yang sama. Bukan cuma yang menuruti. Yang membujuk ikut. Dan yang meluruskan ketimpangan di ayat sebelumnya bukan sebuah bantahan, melainkan bentuk kata: bahasa Arabnya memakai bentuk khusus untuk dua pihak, sehingga tak ada satu titik pun di dalam kalimat tempat salah satunya bisa berdiri sendirian. Bahasa Arabnya memakai bentuk khusus untuk dua pihak di setiap posisi kalimatnya. Tak ada satu titik pun di dalam kalimat itu tempat salah satunya berdiri sendirian.
- Perumpamaan di ayat sebelumnya selesai di sini. Setan berkata lepas tangan. Ujungnya keduanya di sana. Lepas tangan yang diucapkan di dunia ternyata tak mengubah apa pun tentang tempat berdiri di ujungnya. Ada pernyataan yang sanggup memutus hubungan di hadapan orang banyak dan sama sekali tak sanggup memutusnya di hadapan yang menghitung. Ada pernyataan yang memutus hubungan di hadapan orang banyak dan tak memutus apa pun di hadapan yang menghitung.
- Kata keduanya diulang Allah dalam satu kalimat. Bukan sekali. Penekanannya pada kebersamaan nasib. Bentuk ganda itu dipakai tiga kali berturut-turut di dalam kalimat sependek ini, dan pengulangan sebanyak itu jelas disengaja. Bahasa Arabnya memaksa keduanya disebut bersama di setiap posisi, dari kata pertama sampai kata terakhir. Bentuk ganda itu dipakai tiga kali berturut-turut dalam kalimat sependek ini. Pengulangan sebanyak itu dalam kalimat sependek ini jelas bukan kebetulan susunan.
- Ayat ini tidak menimbang siapa yang lebih berat kesalahannya. Tak ada perbandingan antara yang membujuk dan yang menuruti, tak ada keringanan bagi yang sekadar mengikuti. Bukankah ketiadaan itu justru jawabannya? Siapa pun yang hendak berlindung di balik alasan bahwa dirinya cuma terbawa akan mendapati alasan itu tidak disediakan tempatnya di dalam kalimat ini. Alasan bahwa dirinya cuma terbawa tak disediakan tempatnya di dalam kalimat ini.
- Penutupnya menyebut golongan dengan sifat, bukan dengan nama: orang-orang yang zalim. Perkaranya karena itu naik satu tingkat, dari dua pihak di dalam sebuah perumpamaan menjadi aturan yang berlaku bagi siapa pun yang memenuhi sifat tersebut. Allah menutup perumpamaan bukan dengan mengunci maknanya pada pelakunya, melainkan dengan membuka pintunya bagi pembaca mana pun. Allah menutup sebuah gambaran bukan dengan mengunci maknanya, melainkan dengan membuka pintunya.
- Rangkaian penutup ayat ini muncul juga di satu ayat lain yang bertetangga persis dengan ayat tempat rangkaian di ayat sebelumnya muncul. Dua pasangan ayat itu berdiri sejajar, dan dua-duanya tentang dua orang yang salah satunya menyeret yang lain. Kesamaan sedalam itu bukan kebetulan pilihan kata, dan pembaca yang mengenali pasangannya mendengar dua kisah sekaligus dalam satu bacaan. Pembaca yang mengenali pasangannya mendengar dua kisah sekaligus dalam satu bacaan.