يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَyaa ayyuhaa lladziina aamanuu ttaquu llaahawahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
- وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍwa-l-tanzhur nafsun maa qaddamat li-ghadindan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
- وَاتَّقُوا اللَّهَwa-ttaquu llaahabertakwalah kepada Allah
- إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَinna llaaha khabiirun bi-maa ta'maluunasesungguhnya Allah waskita terhadap apa yang kalian kerjakan
Terjemahan per kata (18 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- اتَّقُواttaquubertakwalah kalian
- اللَّهَllaahaAllah
- وَلْتَنْظُرْwa-l-tanzhurdan hendaklah memperhatikan
- نَفْسٌnafsunsatu jiwa
- مَاmaaapa yang
- قَدَّمَتْqaddamatmengirimkan lebih dulu
- لِغَدٍli-ghadinuntuk esok
- وَاتَّقُواwa-ttaquudan jagalah diri dari
- اللَّهَllaahaAllah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- خَبِيرٌkhabiirunmengetahui
- بِمَاbi-maapada apa yang
- تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
Inti bacaan
Seruan introspeksi berorientasi masa depan: 'bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok', ajakan evaluasi diri yang berorientasi konsekuensi jangka panjang, kebiasaan merefleksikan tindakan dengan mempertimbangkan dampaknya di masa depan, bukan hanya kepuasan sesaat.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(akhirat)' tidak dipakai: 'li-ghadin' (untuk hari esok) sudah lengkap tanpa kata tafsir tambahan.
Perintah (اتَّقُوا اللَّهَ, ittaquu llaaha) 'bertakwalah kepada Allah' muncul dua kali di dalam ayat ini, sekali di awal dan sekali lagi sesudah perintah memeriksa diri. Dua perintah yang sama mengapit satu perintah yang berbeda di tengahnya. Susunan mengapit seperti itu jarang dipakai, dan letaknya menerangkan sesuatu: memeriksa diri diletakkan di dalam pagar takwa, bukan berdiri sendiri.
Perintah di tengahnya berbunyi (وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ, wa-l-tanzhur nafsun) 'dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan'. Kata (نَفْسٌ, nafsun) tampil tanpa penanda takrif dan berbentuk tunggal, sehingga harfiahnya 'seorang jiwa', bukan 'jiwa-jiwa'. Bentuk itu memecah rombongan yang disapa di awal ayat menjadi satu per satu.
Perhatikan pergantian sapaannya. Ayat dibuka dengan sapaan jamak kepada orang-orang beriman, lalu di tengah berganti menjadi bentuk orang ketiga tunggal, lalu kembali lagi ke jamak di perintah kedua. Perintah memeriksa diri satu-satunya bagian yang keluar dari sapaan bersama, dan itu masuk akal: memeriksa diri tidak bisa dikerjakan beramai-ramai.
Kata (لِغَدٍ, li-ghadin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:18. Artinya 'untuk besok', kata yang dipakai untuk hari berikutnya dalam percakapan sehari-hari. Draf yang menyisipkan '(akhirat)' sebenarnya sedang mengganti kata yang dekat dengan istilah yang jauh, dan penggantian itu mencabut justru bagian yang paling bekerja.
Kata kerja (مَا قَدَّمَتْ, maa qaddamat) berarti apa yang telah dikirim lebih dahulu, dari akar yang berarti mendahului. Jadi yang diperiksa bukan apa yang dimiliki melainkan apa yang sudah dikirimkan ke depan. Gambarannya seperti orang yang memeriksa berapa banyak bekal yang sudah diberangkatkan ke tempat yang akan ia tuju.
Penutupnya, (خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ, khabiirun bimaa ta'maluuna), muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 3:153, 5:8, 9:16, 24:53, 58:13, 59:18, dan 63:11. Kata pertamanya berasal dari akar yang berarti mengetahui sesuatu sampai ke seluk-beluknya, dan proyek ini menerjemahkannya 'waskita'.
Letak penutup itu menyambung ke perintah di tengah. Yang disuruh memeriksa adalah manusia, dan yang disebut mengetahui sampai ke seluk-beluknya adalah Allah. Pemeriksaan sendiri karena itu tidak pernah menjadi kata terakhir; ia dikerjakan justru karena ada pemeriksaan lain yang jauh lebih teliti.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut apa yang harus dikirimkan. Tidak ada daftar amal, tidak ada ukuran jumlah, tidak ada tenggat. Yang diperintahkan cuma memperhatikan, dan isi perhatian itu diserahkan kepada masing-masing. Perintah yang tidak merinci seperti ini menuntut kejujuran lebih banyak daripada perintah yang menyebutkan daftarnya, sebab tak ada yang bisa dicentang lalu dianggap selesai.
Kata kerja untuk memperhatikan itu berasal dari akar yang berarti memandang dengan sengaja, bukan melihat sepintas. Bentuknya pun bentuk perintah yang dialamatkan lewat orang ketiga, yaitu susunan yang di dalam bahasa Arab dipakai untuk menyuruh tanpa menunjuk siapa pun secara langsung.
Tafsiran
Ayat ini menyerukan introspeksi berkelanjutan: setiap jiwa hendaknya mempersiapkan diri untuk hari yang akan datang.
Susunan ayat ini menyimpan sesuatu yang mudah terlewat: perintah bertakwa disebut dua kali, mengapit perintah memeriksa diri di tengahnya. Susunan mengapit seperti itu jarang dipakai. Letaknya menerangkan sesuatu yang tidak diucapkan: memeriksa diri diletakkan di dalam pagar takwa, bukan berdiri sendiri sebagai latihan yang lepas.
Sebabnya masuk akal. Memeriksa diri tanpa pagar bisa berakhir di dua arah yang sama-sama merusak: menjadi penyiksaan diri yang tak berujung, atau menjadi pembenaran yang menyenangkan hati. Diapit oleh takwa di kedua sisinya, pemeriksaan itu punya ukuran di luar dirinya sendiri.
Yang juga mudah terlewat adalah pergantian sapaannya. Ayat dibuka dengan sapaan jamak kepada orang-orang beriman, lalu di tengah berganti menjadi bentuk tunggal, lalu kembali ke jamak. Satu-satunya bagian yang keluar dari sapaan bersama justru perintah memeriksa diri. Dan itu masuk akal: memeriksa diri tidak bisa dikerjakan beramai-ramai, sebanyak apa pun orang yang hadir.
Kata yang dipakai untuk waktunya juga menahan diri dari melompat jauh. Yang disebut 'untuk besok', kata yang dipakai orang dalam percakapan sehari-hari, bukan istilah yang menunjuk hari akhir. Draf yang menyisipkan keterangan ke dalam terjemahan sebenarnya sedang mengganti kata yang dekat dengan istilah yang jauh, dan penggantian itu mencabut bagian yang paling bekerja. Sesuatu yang disebut 'besok' menuntut diperiksa hari ini juga; sesuatu yang disebut dengan istilah besar selalu bisa ditunda. Dan yang diperiksa pun bukan apa yang dimiliki, melainkan apa yang sudah dikirim lebih dahulu ke tempat yang akan dituju.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya. Satu per satu. Perintahnya tak dialamatkan kepada kelompok. Ayat ini dibuka dengan sapaan jamak, lalu di tengah berganti menjadi bentuk tunggal, lalu kembali ke jamak. Satu-satunya bagian yang keluar dari sapaan bersama justru perintah memeriksa diri, dan itu masuk akal: memeriksa diri tak bisa dikerjakan beramai-ramai. Sapaan bersama gampang membuat setiap orang merasa perintahnya untuk tetangganya. Bentuk tunggal di tengah ayat memecah rombongan itu menjadi satu per satu.
- Yang disebut untuk hari esok. Bukan untuk akhirat. Kata yang dipakai sedekat besok, dan itu membuatnya terasa dekat. Menggantinya dengan istilah yang lebih besar sebenarnya mencabut bagian yang paling bekerja. Sesuatu yang disebut besok menuntut diperiksa hari ini juga, sedangkan sesuatu yang disebut dengan istilah besar selalu menyediakan ruang untuk ditunda sampai entah kapan. Istilah yang besar selalu menyediakan ruang untuk ditunda sampai entah kapan. Sesuatu yang disebut besok menuntut diperiksa hari ini juga, bukan nanti.
- Allah menyebut bertakwalah dua kali dalam satu ayat. Mengapit. Perintah memeriksa diri diapit oleh perintah yang sama di kedua sisinya. Susunan mengapit seperti itu jarang dipakai, dan letaknya menerangkan sesuatu yang tak diucapkan. Memeriksa diri tanpa pagar bisa berakhir sebagai penyiksaan yang tak berujung atau sebagai pembenaran yang menyenangkan hati; diapit takwa, ia punya ukuran di luar dirinya sendiri. Diapit di kedua sisinya, pemeriksaan itu punya ukuran di luar dirinya sendiri.
- Kata kerjanya berarti apa yang telah dikirim lebih dahulu, dari akar yang berarti mendahului. Jadi yang diperiksa bukan apa yang dimiliki, melainkan apa yang sudah diberangkatkan ke depan. Gambarannya seperti orang yang menghitung bekal yang sudah dikirim ke tempat yang akan ia tuju. Yang masih di tangan tak masuk hitungan, sebab ia belum tentu sempat dikirimkan. Yang masih di tangan tak masuk hitungan, sebab belum tentu sempat diberangkatkan. Gambarannya seperti orang yang menghitung bekal yang sudah diberangkatkan mendahuluinya.
- Penutupnya menyebut Allah mengetahui sampai ke seluk-beluknya apa yang dikerjakan. Letaknya menyambung ke perintah memeriksa di tengah. Yang disuruh memeriksa adalah manusia, dan yang mengetahui segalanya adalah Allah. Bukankah itu membuat pemeriksaan sendiri terasa kecil? Justru sebaliknya: ia dikerjakan bukan supaya menjadi keputusan akhir, melainkan karena ada pemeriksaan lain yang jauh lebih teliti.
- Kata untuk jiwa di ayat ini tampil tanpa penanda takrif dan berbentuk tunggal, jadi harfiahnya seorang jiwa. Bentuk itu memecah rombongan yang disapa di awal ayat menjadi satu per satu. Sapaan bersama bisa membuat setiap orang merasa perintahnya ditujukan kepada orang lain di sebelahnya; bentuk tunggal menutup jalan itu tanpa perlu menunjuk siapa pun. Bentuk tunggal menutup jalan itu tanpa perlu menunjuk hidung siapa pun.