وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri; mereka itulah orang-orang yang fasik.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَwa-laa takuunuu ka-lladziina nasuu llaahadan janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah
  2. فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْfa-ansaahum anfusahumsehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri
  3. أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَulaa'ika humu l-faasiquunamereka itulah orang-orang yang fasik

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَلَاwa-laadan janganlah
  2. تَكُونُواtakuunuukalian menjadi
  3. كَالَّذِينَka-lladziinaseperti orang-orang yang
  4. نَسُواnasuumereka melupakan
  5. اللَّهَllaahaAllah
  6. فَأَنْسَاهُمْfa-ansaahummaka Dia menjadikan mereka lupa
  7. أَنْفُسَهُمْanfusahumdiri mereka sendiri
  8. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  9. هُمُhumumerekalah
  10. الْفَاسِقُونَl-faasiquunaorang-orang fasik

Inti bacaan

Peringatan tentang hilangnya kesadaran diri: 'janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri', pengakuan bahwa mengabaikan dimensi spiritual berdampak pada hilangnya pemahaman diri secara keseluruhan, koneksi antara kesadaran ilahi dan kesadaran diri yang saling terkait.

Penjelasan pilihan kata

'Ulaa'ika' (jauh) benar diterjemahkan 'mereka itulah'.

Rangkaian (نَسُوا اللَّهَ, nasu llaaha) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 9:67 dan 59:19. Di 9:67 rangkaian itu juga disusul keterangan tentang akibat yang menimpa pelakunya. Kata kerjanya berarti melupakan, dan di dalam pemakaian Al-Qur'an ia sering menyimpan sisi meninggalkan dengan sengaja, bukan lupa yang tak disadari.

Rangkaian (فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ, fa-ansaahum anfusahum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:19. Bentuknya bentuk yang membuat pihak lain melakukan sesuatu, jadi harfiahnya 'lalu Dia membuat mereka lupa kepada diri mereka'. Kata kerja yang sama dipakai dua kali dalam satu kalimat dengan dua bentuk yang berbeda: yang pertama dikerjakan mereka, yang kedua dijadikan atas mereka.

Susunan itu menaruh urutan sebab-akibat dengan terang. Yang pertama pilihan, yang kedua akibat yang menyusul. Huruf (فَ, fa) di depan kata kerja kedua menandai sesuatu yang langsung mengikuti, bukan yang datang lama sesudahnya. Jadi jarak antara melupakan Allah dan kehilangan pengenalan diri digambarkan sangat pendek.

Yang hilang pun perlu dicermati. Bukan ingatan tentang nama sendiri, melainkan (أَنْفُسَهُمْ, anfusahum) 'diri mereka sendiri'. Kata itu di dalam Al-Qur'an menunjuk keseluruhan seseorang: kehendaknya, kecenderungannya, dan apa yang sebenarnya ia butuhkan. Yang hilang adalah pengenalan atas semua itu.

Larangannya sendiri berbentuk (وَلَا تَكُونُوا كَ, wa-laa takuunuu ka) 'dan janganlah kalian seperti'. Yang dilarang bukan perbuatan melupakan, melainkan menjadi serupa dengan mereka. Bentuk larangan seperti itu menyasar keadaan, bukan tindakan tunggal, sehingga ia tidak selesai dengan satu kali menghindar.

Penutupnya, (أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ, ulaa'ika humu l-faasiquuna), memakai kata tunjuk jarak jauh untuk menunjuk kembali kepada mereka. Kata (الْفَاسِقُونَ, al-faasiquuna) berasal dari akar yang berarti keluar dari sesuatu, seperti biji yang keluar dari kulitnya. Jadi yang disebut bukan orang yang berbuat jahat secara umum, melainkan orang yang keluar dari tempatnya sendiri.

Makna keluar itu menyambung rapi ke isi ayatnya. Orang yang lupa kepada dirinya sendiri memang orang yang tidak lagi berada di tempatnya. Diagnosis di penutup dan akibat yang disebut di tengah memakai gagasan yang sama tanpa mengulang katanya, persis seperti pasangan yang dipakai di 59:14.

Letak ayat ini juga berbicara. Ia menyusul persis sesudah perintah agar setiap jiwa memperhatikan apa yang sudah dikirimnya, dan dua ayat itu memakai kata yang sama untuk diri: yang satu menyuruh memeriksanya, yang lain memperingatkan kehilangannya. Perintah dan peringatan tentang satu hal yang sama dipasang berdampingan tanpa kata penghubung.

Susunan seperti itu membuat keduanya saling menerangkan. Memeriksa diri baru mungkin dikerjakan selama pengenalan atas diri masih ada. Begitu pengenalan itu hilang, perintah di ayat sebelumnya kehilangan alat untuk dijalankan, dan itulah sebabnya peringatannya diletakkan tepat sesudahnya, bukan di tempat lain.

Tafsiran

Ayat ini memperingatkan bahaya melupakan Allah: berujung pada kehilangan kesadaran diri sendiri.

Bentuk larangannya menyasar keadaan, bukan perbuatan. Kalimatnya tidak berbunyi 'janganlah kalian melupakan Allah', melainkan 'janganlah kalian seperti orang-orang yang melupakan Allah'. Yang dilarang adalah menjadi serupa, dan larangan semacam itu tidak selesai dengan satu kali menghindar. Ia menuntut pemeriksaan yang berulang, dan letaknya persis sesudah ayat yang memerintahkan memeriksa diri.

Akibat yang disebut jauh lebih mengejutkan daripada yang diduga. Orang yang melupakan Allah tidak dinyatakan kehilangan Allah; ia dinyatakan kehilangan dirinya sendiri. Dan kata kerja yang sama dipakai untuk keduanya, cuma bentuknya berbeda: yang pertama dikerjakan mereka, yang kedua dijadikan atas mereka. Bahasa Arabnya menyusun sebab dan akibat memakai satu bahan kata.

Huruf yang menghubungkan keduanya menandai sesuatu yang langsung mengikuti, bukan yang datang lama sesudahnya. Jarak antara melupakan Allah dan kehilangan pengenalan diri karena itu digambarkan sangat pendek. Bukan dua peristiwa yang terpisah bertahun-tahun, melainkan satu yang langsung menyeret yang lain.

Yang hilang pun bukan ingatan tentang nama. Kata yang dipakai menunjuk keseluruhan seseorang: kehendaknya, kecenderungannya, dan apa yang sebenarnya ia butuhkan. Orang yang kehilangan itu masih bisa bekerja, berbicara, dan mengurus banyak perkara, tetapi tidak lagi tahu untuk apa. Dan penutupnya memakai kata yang berakar pada keluar dari sesuatu, seperti biji yang keluar dari kulitnya, sehingga diagnosisnya menyambung rapi: orang yang lupa kepada dirinya memang orang yang tidak lagi berada di tempatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut akibatnya lupa pada diri sendiri. Bukan lupa pada-Nya saja. Yang hilang pengenalan diri. Kata yang dipakai menunjuk keseluruhan seseorang: kehendaknya, kecenderungannya, dan apa yang sebenarnya ia butuhkan. Orang yang kehilangan itu masih bisa bekerja, berbicara, dan mengurus banyak perkara dengan rapi, hanya saja tidak lagi tahu untuk apa semuanya dikerjakan. Masih sanggup mengurus banyak perkara dengan rapi, hanya tak lagi tahu untuk apa. Kata yang dipakai menunjuk keseluruhan seseorang, bukan sekadar ingatan atas namanya.
  • Dua kelupaan disebut berurutan. Yang pertama pilihan. Yang kedua akibat. Kata kerja yang sama dipakai untuk keduanya dengan bentuk yang berbeda: yang pertama dikerjakan mereka, yang kedua dijadikan Allah atas mereka. Dan huruf penghubungnya menandai sesuatu yang langsung mengikuti, jadi jarak antara keduanya digambarkan sangat pendek, bukan terpisah bertahun-tahun. Huruf penghubungnya menandai sesuatu yang langsung mengikuti, bukan yang datang bertahun kemudian. Satu bahan kata dipakai untuk sebab dan akibatnya sekaligus, cuma bentuknya ditukar.
  • Larangannya berbentuk jangan menyerupai. Allah tidak melarang lupa saja. Ia melarang menjadi seperti mereka. Larangan yang menyasar keadaan tak selesai dengan satu kali menghindar; ia menuntut pemeriksaan yang berulang. Dan letaknya persis sesudah ayat yang memerintahkan setiap jiwa memeriksa apa yang sudah dikirimnya ke depan, sehingga keduanya terbaca sebagai satu perintah yang bersambung. Larangan yang menyasar keadaan menuntut pemeriksaan berulang, bukan satu kali menghindar.
  • Kata kerja untuk melupakan di dalam pemakaian Al-Qur'an sering menyimpan sisi meninggalkan dengan sengaja, bukan lupa yang tak disadari. Perbedaan itu mengubah seluruh bacaan. Yang dibicarakan bukan kelalaian yang bisa dimaafkan sebagai kelemahan ingatan, melainkan sesuatu yang dipilih, dan hanya yang dipilih yang pantas dijawab dengan akibat seberat itu. Hanya yang dipilih sendiri yang pantas dijawab dengan akibat seberat itu. Yang dibicarakan bukan kelemahan ingatan yang bisa dimaklumi siapa pun.
  • Kata di penutupnya berakar pada keluar dari sesuatu, seperti biji yang keluar dari kulitnya. Jadi yang disebut bukan orang yang berbuat jahat secara umum, melainkan orang yang keluar dari tempatnya sendiri. Makna itu menyambung rapi ke akibat yang disebut di tengah: orang yang lupa kepada dirinya memang orang yang tak lagi berada di tempatnya, dan diagnosisnya memakai gagasan yang sama tanpa mengulang katanya. Diagnosis dan akibatnya memakai satu gagasan tanpa sekali pun mengulang katanya.
  • Bukankah aneh bahwa akibat melupakan Allah justru berupa lupa kepada diri sendiri, bukan berupa hukuman dari luar? Justru di situ beratnya. Hukuman dari luar terasa dan karena itu bisa disadari; kehilangan pengenalan diri tidak. Orang yang mengalaminya tak punya alat untuk mengetahui bahwa ia sedang mengalaminya, dan itulah sebabnya ayat ini datang sebagai peringatan, bukan sebagai kabar.