لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk terpecah karena takut kepada Allah; dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat bagi manusia agar mereka berpikir.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍlaw anzalnaa haadzaa l-qur'aana 'alaa jabalinsekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung
- لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِla-ra'aytahu khaasyi'an mutashaddi'an min khasyyati llaahiniscaya engkau melihatnya tunduk terpecah karena takut kepada Allah
- وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَwa-tilka l-amtsaalu nadhribuhaa li-n-naasi la'allahum yatafakkaruunadan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat bagi manusia agar mereka berpikir
Terjemahan per kata (18 kata)
- لَوْlawsekiranya
- أَنْزَلْنَاanzalnaaKami menurunkan
- هَٰذَاhaadzaaini
- الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
- عَلَىٰ'alaaatas
- جَبَلٍjabalingunung
- لَرَأَيْتَهُla-ra'aytahusungguh engkau akan melihatnya
- خَاشِعًاkhaasyi'antunduk
- مُتَصَدِّعًاmutashaddi'anyang terbelah
- مِنْmindari
- خَشْيَةِkhasyyatirasa takut
- اللَّهِllaahiAllah
- وَتِلْكَwa-tilkadan itulah
- الْأَمْثَالُl-amtsaaluperumpamaan
- نَضْرِبُهَاnadhribuhaaKami membuatnya
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- لَعَلَّهُمْla'allahumagar mereka
- يَتَفَكَّرُونَyatafakkaruunamereka merenungkan
Inti bacaan
Perumpamaan dramatis tentang bobot wahyu: 'sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk terpecah karena takut kepada Allah', penggunaan citra ekstrem (gunung yang hancur) untuk menekankan seberapa besar seharusnya dampak wahyu terhadap hati manusia, kontras dengan hati manusia yang sering tetap keras meski menerima pesan yang sama.
Penjelasan pilihan kata
'Haadzaa' (dekat) benar diterjemahkan 'ini'. 'Tilka' (jauh, feminin) benar diterjemahkan 'itu', dikonfirmasi morfologi.
Kalimatnya dibuka dengan (لَوْ, law), huruf pengandaian untuk sesuatu yang tidak terjadi. Berbeda dari huruf syarat yang dipakai di 60:2 untuk kemungkinan yang belum tentu, huruf ini menyatakan pengandaian yang memang tidak akan terwujud. Jadi sejak kata pertamanya, pembaca sudah tahu bahwa yang digambarkan tidak pernah dan tidak akan terjadi.
Justru karena tidak akan terjadi, gambarannya bebas dibuat sejauh mungkin. Kata kerja (لَرَأَيْتَهُ, la-ra'aytahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:21. Bentuknya orang kedua tunggal: 'niscaya engkau melihatnya'. Yang diandaikan menyaksikan satu orang, dan itu menempatkan pembacanya sebagai saksi, bukan sebagai pendengar cerita.
Keadaan gunung itu digambarkan dengan dua kata berturut-turut. Yang pertama (خَاشِعًا, khaasyi'an) 'tunduk', dari akar yang dipakai juga untuk kekhusyukan dalam salat. Yang kedua (مُتَصَدِّعًا, mutashaddi'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:21, dan berarti terbelah sampai retakannya menganga.
Urutan kedua kata itu penting. Tunduk lebih dahulu, baru terpecah. Yang digambarkan bukan benda yang hancur karena beban, melainkan sesuatu yang lebih dulu merendahkan diri lalu tak sanggup menahan. Kalau urutannya dibalik, gambarannya berubah menjadi kerusakan biasa.
Sebabnya disebut: (مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ, min khasyyati llaahi) 'karena takut kepada Allah'. Rangkaian (خَشْيَةِ اللَّهِ, khasyyati llaahi) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 2:74, 4:77, dan 59:21. Menariknya, 2:74 justru berbicara tentang hati yang lebih keras daripada batu, sedangkan sebagian batu disebut jatuh karena takut kepada Allah.
Pasangan itu membuat ayat ini terbaca sebagai lanjutan pembahasan yang sudah dibuka jauh sebelumnya. Di sana batu dibandingkan dengan hati; di sini gunung yang diandaikan menerima. Dua-duanya memakai akar takut yang sama, dan dua-duanya menyisakan pertanyaan yang sama tentang hati yang tidak bergerak.
Rangkaian (نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ, nadhribuhaa li-n-naasi) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 29:43 dan 59:21. Kata kerjanya harfiah berarti memukul, dan dipakai untuk membuat perumpamaan. Penutupnya menyebut tujuannya: agar mereka berpikir, bukan agar mereka takut.
Perlu dicatat pula bahwa yang diandaikan bukan gunung yang dijatuhi sesuatu yang berat, melainkan gunung yang diberi bacaan. Beratnya bukan berat timbangan. Kalau yang diandaikan sebuah beban, gambarannya akan berhenti sebagai perkara kekuatan bahan, dan seluruh pelajarannya lenyap. Yang dipasang justru sesuatu yang tak punya bobot fisik sama sekali, lalu diperlihatkan sanggup meruntuhkan yang paling padat.
Susunan kalimat keduanya juga berpindah pelaku. Yang pertama memakai bentuk 'Kami turunkan', yang kedua 'Kami buat', dan di antara keduanya diselipkan sapaan kepada satu orang: 'engkau melihatnya'. Tiga suara dalam satu ayat pendek, dan pergantian itu menahan pembacanya tetap terjaga.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan kedahsyatan Al-Qur'an, bahkan gunung yang kukuh akan tunduk pecah karena takut kepada Allah jika menerimanya, sebagai teguran bagi hati manusia yang justru keras.
Yang diandaikan sejak kata pertamanya adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Huruf pembukanya memang huruf pengandaian untuk yang mustahil, bukan untuk kemungkinan yang belum tentu. Dan justru karena mustahil, gambarannya bebas dibuat sejauh mungkin, sampai ke benda yang paling tidak mungkin bergerak.
Gunung dipilih bukan karena besarnya saja, melainkan karena ketidakbergerakannya. Yang dibandingkan bukan ukuran melainkan kekerasan. Dan keadaan yang digambarkan disusun dalam dua kata berurutan: tunduk lebih dahulu, baru terpecah. Urutan itu menentukan. Kalau dibalik, yang tergambar cuma kerusakan biasa; dengan urutan ini, yang tergambar sesuatu yang lebih dulu merendahkan diri lalu tak sanggup menahan.
Sebab yang disebut bukan beratnya bacaan, melainkan takut kepada Allah. Rangkaian yang sama dipakai di satu ayat lain yang justru membandingkan hati manusia dengan batu, dan di sana sebagian batu disebut jatuh karena takut kepada-Nya sementara hati tetap keras. Dua ayat itu membicarakan perkara yang sama dari dua arah, dan dua-duanya menyisakan pertanyaan yang tidak diucapkan tentang hati yang tidak bergerak.
Penutupnya mengalihkan seluruh ayat dari gambaran ke tugas. Perumpamaan itu dibuat agar mereka berpikir, bukan agar mereka takut. Pilihan kata itu menentukan cara memakainya. Yang diminta bukan gemetar sesudah membaca, melainkan menimbang: kalau yang paling keras pun digambarkan begitu, apa yang harus dikatakan tentang sesuatu yang jauh lebih lunak dan tetap tidak bergerak.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengandaikan Al-Qur'an diturunkan kepada sebuah gunung. Bukan kepada manusia. Perbandingannya diambil dari yang paling keras dan paling tak bergerak. Dan huruf pengandaian yang dipakai memang huruf untuk sesuatu yang tak akan terjadi, bukan untuk kemungkinan yang masih terbuka. Justru karena mustahil, gambarannya bebas dibuat sejauh mungkin tanpa seorang pun bisa membantah bahwa kenyataannya tidak begitu. Yang mustahil justru memberi kebebasan menggambarkan sejauh mungkin. Tak seorang pun bisa membantah bahwa kenyataannya tidak begitu.
- Yang digambarkan gunung itu tunduk dan terpecah karena takut kepada-Nya. Dua kata. Yang tak tergoyahkan oleh apa pun digambarkan hancur oleh sesuatu yang dibaca manusia tiap hari. Urutan dua kata itu pun menentukan: tunduk lebih dahulu, baru terpecah. Kalau dibalik, yang tergambar cuma kerusakan biasa; dengan urutan ini, yang tergambar sesuatu yang merendahkan diri lebih dulu lalu tak sanggup menahan. Yang meruntuhkannya bukan bobot, melainkan sesuatu yang tak punya berat sama sekali. Urutan dua kata itu menentukan seluruh gambarannya.
- Allah menutup dengan menyebut perumpamaan itu dibuat agar mereka berpikir. Bukan agar takut. Yang diminta dari pembacanya membandingkan dirinya dengan gunung tadi. Pilihan kata itu menentukan cara memakainya: yang dituntut bukan gemetar sesudah membaca, melainkan menimbang. Kalau yang paling keras pun digambarkan begitu, apa yang harus dikatakan tentang sesuatu yang jauh lebih lunak dan tetap tak bergerak? Yang dituntut menimbang, bukan gemetar sesudah membaca lalu selesai.
- Kata kerja untuk memandang di ayat ini berbentuk orang kedua tunggal, jadi yang diandaikan menyaksikan satu orang, bukan kerumunan. Susunan itu menempatkan pembacanya sebagai saksi, bukan sebagai pendengar cerita. Dan saksi tak bisa berkata bahwa ia cuma menerima kabar dari orang lain; ia harus menanggung sendiri apa yang dilihatnya di dalam pengandaian itu. Saksi tak bisa berkata bahwa ia cuma menerima kabar dari orang lain.
- Rangkaian untuk takut kepada Allah di ayat ini dipakai juga di satu ayat lain yang membandingkan apa yang di dada manusia dengan batu, dan di sana sebagian batu disebut jatuh karena takut kepada-Nya sementara yang di dada terus mengeras. Dua ayat itu membicarakan perkara serupa dari dua arah. Keduanya menyisakan pertanyaan yang tak diucapkan, dan pertanyaannya serupa belaka. Dua ayat itu memakai akar takut yang sama dan menyisakan pertanyaan yang serupa belaka.
- Kata kerja untuk membuat perumpamaan itu harfiahnya berarti memukul. Bahasa Arab memakai kata yang keras untuk pekerjaan yang tampaknya halus. Perumpamaan memang bukan hiasan yang ditempelkan; ia dipukulkan supaya menancap. Dan yang dipukulkan di sini gambaran gunung yang retak, ditujukan kepada sesuatu yang jauh lebih lunak dan justru itu yang tak retak-retak. Bahasa Arab memakai kata yang keras untuk pekerjaan yang tampaknya halus.