هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Ar-Rahman, Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَhuwa llaahu lladzii laa ilaaha illaa huwaDialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia
- عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadatiYang Mengetahui yang gaib dan yang nyata
- هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُhuwa r-rahmaanu r-rahiimuDialah Ar-Rahman, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (13 kata)
- هُوَhuwaDia
- اللَّهُllaahuAllah
- الَّذِيlladziiyang
- لَاlaatidak ada
- إِلَٰهَilaahatuhan
- إِلَّاillaakecuali
- هُوَhuwaDia
- عَالِمُ'aalimuyang mengetahui
- الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
- وَالشَّهَادَةِwa-sy-syahaadatidan yang tampak
- هُوَhuwaDia
- الرَّحْمَٰنُr-rahmaanuAr-Rahman
- الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih
Inti bacaan
Deklarasi keesaan dan pengetahuan menyeluruh: 'Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia. (Dialah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata', penegasan cakupan pengetahuan yang meliputi baik yang tersembunyi maupun yang terlihat, dasar bagi kesadaran bahwa tidak ada dimensi kehidupan yang luput dari jangkauan-Nya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(Dialah)' sebelum 'Yang Mengetahui' tidak dipakai: 'aalimu l-ghaybi' adalah lanjutan apositif dari subjek yang sama tanpa pengulangan kata ganti di teks Arab.
Rangkaian pembukanya, (هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ, huwa llaahu lladzii laa ilaaha illaa huwa), muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:22 dan 59:23. Dua ayat berurutan di surah ini membuka dengan kalimat yang sama persis, lalu meneruskannya dengan daftar yang berbeda. Pengulangan sedekat itu bekerja seperti tiang yang dipasang dua kali sebelum atapnya dibentangkan.
Susunan kalimatnya menaruh kata ganti lebih dahulu, baru nama: 'Dialah Allah'. Di dalam bahasa Arab susunan seperti itu memusatkan perhatian pada yang disebut, bukan pada keterangan yang menyusul. Sesudahnya barulah datang penyangkalan atas segala sesembahan selain Dia, dan penyangkalan itu memakai bentuk yang mengecualikan, bukan yang sekadar meniadakan.
Rangkaian (عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, 'aalimu l-ghaybi wa-sy-syahaadati) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 6:73, 13:9, 32:6, 59:22, dan 64:18. Kata pertamanya bentuk pelaku dari akar yang berarti mengetahui, dan dua yang berikutnya sepasang yang berlawanan: yang tersembunyi dan yang disaksikan.
Pasangan berlawanan itu dipakai untuk menyatakan cakupan penuh. Bahasa Arab, seperti bahasa Indonesia, memakai sepasang ujung untuk menyebut seluruh rentang di antaranya. Menyebut yang gaib dan yang nyata karena itu bukan menyebut dua wilayah, melainkan menyatakan bahwa tidak ada wilayah ketiga.
Yang perlu dicatat, sifat yang disebut pertama sesudah pernyataan keesaan adalah pengetahuan, bukan kuasa. Susunan itu tidak lazim. Daftar yang menyebut kekuasaan lebih dahulu akan membangun gambaran yang berbeda sama sekali, dan surah ini memang menyimpan nama-nama kekuasaan untuk ayat berikutnya.
Penutupnya, (هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ, huwa r-rahmaanu r-rahiimu), memakai kata ganti yang sama seperti di pembuka ayat, sehingga kalimatnya berpola: Dialah, lalu keterangan, lalu Dialah lagi. Dua nama di penutup itu berasal dari akar yang sama, dan proyek ini mempertahankan yang pertama sebagai nama diri dan menerjemahkan yang kedua.
Susunan seluruh ayat karena itu berbentuk lingkaran: dibuka dengan keesaan, ditengahi pengetahuan yang mencakup segalanya, dan ditutup dengan dua sebutan kasih. Ayat yang membuka rangkaian keagungan justru berakhir pada sisi yang paling lembut.
Kata (إِلَٰهَ, ilaaha) di dalam penyangkalannya berbentuk tak bertakrif dan dipasang sesudah huruf yang meniadakan jenis, bukan sekadar meniadakan satu benda. Susunan itu di dalam bahasa Arab menyatakan ketiadaan yang menyeluruh: bukan 'tidak ada satu tuhan pun yang hadir sekarang', melainkan 'tidak ada yang berhak disebut begitu sama sekali'.
Pengecualian sesudahnya memakai huruf yang mengeluarkan satu hal dari ketiadaan tadi. Jadi susunannya meniadakan seluruhnya lebih dahulu, baru mengembalikan satu. Cara menyatakan seperti itu jauh lebih kuat daripada langsung menyebut satu, sebab pembacanya melewati kekosongan penuh sebelum sampai pada yang tersisa.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian penegasan keesaan Allah dengan sifat pertama-Nya: mengetahui segala yang tersembunyi maupun yang tampak.
Letaknya sesudah perumpamaan gunung membuat pergantiannya terasa tajam. Ayat sebelumnya berisi gambaran yang dahsyat dan sebuah perintah agar manusia berpikir. Ayat ini tidak melanjutkan gambaran itu; ia berpaling sepenuhnya kepada yang menurunkan bacaan tersebut. Sesudah diminta berpikir, yang disodorkan bukan bahan renungan baru melainkan sebuah pengenalan.
Yang disebut pertama sesudah pernyataan keesaan adalah pengetahuan, bukan kuasa. Susunan itu tidak lazim, dan nama-nama kekuasaan memang disimpan untuk ayat berikutnya. Menaruh pengetahuan di depan mengubah nada seluruh rangkaian: yang diperkenalkan lebih dahulu bukan yang bisa menghancurkan, melainkan yang tidak bisa dibohongi.
Cakupan pengetahuan itu dinyatakan lewat sepasang kata yang berlawanan: yang tersembunyi dan yang disaksikan. Bahasa memakai sepasang ujung untuk menyebut seluruh rentang di antaranya. Jadi yang dinyatakan bukan dua wilayah melainkan ketiadaan wilayah ketiga. Susunan itu punya akibat langsung bagi ayat-ayat sebelumnya di surah ini, yang panjang lebar bicara tentang hati yang terpecah di balik penampilan yang rapi.
Penutupnya membalik arah yang sudah dibangun. Sesudah keesaan dan pengetahuan yang tak terbatas, yang disebut dua nama yang keduanya berasal dari akar kasih sayang. Ayat yang membuka rangkaian keagungan berakhir pada sisi yang paling lembut, dan urutan itu tampaknya disengaja. Yang mengetahui segala yang tersembunyi bisa saja diperkenalkan sebagai yang paling menakutkan; di sini Dia diperkenalkan sebagai yang paling mengasihi.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut sifat pertama-Nya mengetahui yang gaib dan yang nyata. Sesudah keesaan. Yang disebut lebih dahulu bukan kuasa-Nya, melainkan pengetahuan-Nya. Susunan itu tidak lazim, dan nama-nama kekuasaan memang disimpan untuk ayat berikutnya. Menaruh pengetahuan di depan mengubah nada seluruh rangkaian: yang diperkenalkan lebih dulu bukan yang sanggup menghancurkan, melainkan yang tak bisa dibohongi. Daftar yang menyebut kekuasaan lebih dulu akan membangun gambaran yang berbeda sama sekali. Nama-nama kekuasaan memang disimpan untuk ayat berikutnya.
- Dua ranah disebut sekaligus: yang gaib dan yang nyata. Tak ada yang di luar. Pembagian itu tak menyisakan wilayah ketiga. Bahasa memang memakai sepasang ujung untuk menyebut seluruh rentang di antaranya, jadi yang dinyatakan bukan dua wilayah melainkan ketiadaan tempat bersembunyi. Dan itu punya akibat langsung bagi ayat-ayat sebelumnya, yang panjang lebar bicara tentang isi dada yang tak sama dengan penampilannya. Sepasang ujung dipakai untuk menyebut seluruh rentang di antaranya. Akibatnya langsung terasa pada ayat-ayat sebelumnya tentang isi dada yang tak sama dengan penampilannya.
- Allah menutup dengan Ar-Rahman, Sang Pengasih. Dua sebutan kasih berturut-turut. Ayat yang membuka rangkaian keagungan berakhir pada kasih sayang. Urutan itu tampaknya disengaja: yang mengetahui segala yang tersembunyi bisa saja diperkenalkan sebagai yang paling menakutkan, dan di sini justru diperkenalkan sebagai yang paling mengasihi. Kedua nama itu pun berasal dari satu akar yang sama. Kedua nama itu pun lahir dari satu akar yang sama persis.
- Rangkaian pembuka ayat ini dipakai lagi persis di ayat sesudahnya, kata demi kata, lalu diteruskan dengan daftar yang berlainan. Pengulangan sedekat itu bekerja seperti tiang yang dipasang dua kali sebelum atapnya dibentangkan. Yang diulang bukan isinya melainkan dasarnya, dan dua daftar yang berbeda itu sama-sama berdiri di atas dasar yang satu. Dua daftar yang berbeda sama-sama berdiri di atas dasar yang satu.
- Ayat sebelumnya berisi gambaran gunung yang retak dan perintah agar manusia berpikir. Ayat ini tidak melanjutkan gambaran itu; ia berpaling sepenuhnya kepada yang menurunkan bacaan tersebut. Lalu apa yang disodorkan kepada orang yang baru diminta berpikir? Bukan bahan renungan baru, melainkan sebuah pengenalan. Yang paling menolong pikiran ternyata bukan tambahan gambar, melainkan mengenali siapa yang berbicara.
- Susunan kalimatnya menaruh kata ganti lebih dahulu, baru nama: Dialah Allah. Di dalam bahasa Arab susunan seperti itu memusatkan perhatian pada yang disebut, bukan pada keterangan yang menyusul. Dan pola yang sama diulang di penutupnya. Kalimatnya karena itu berbentuk lingkaran: Dialah, lalu keterangan, lalu Dialah lagi, sehingga apa pun yang disebut di tengah selalu kembali kepada yang satu itu. Apa pun yang disebut di tengah selalu kembali kepada yang satu itu.