هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Sang Raja, Sang Kudus, Sang Keselamatan, Sang Pemberi Keamanan, Sang Pengawas, Sang Digdaya, Sang Pemaksa, Sang Pemilik Kebesaran. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَhuwa llaahu lladzii laa ilaaha illaa huwaDialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia
  2. الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُal-maliku l-qudduusu s-salaamuSang Raja, Sang Kudus, Sang Keselamatan
  3. الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُal-mu'minu l-muhayminuSang Pemberi Keamanan, Sang Pengawas
  4. الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُal-'aziizu l-jabbaaru l-mutakabbiruSang Digdaya, Sang Pemaksa, Sang Pemilik Kebesaran
  5. سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَsubhaana llaahi 'ammaa yusyrikuunaMahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. هُوَhuwaDialah
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. الَّذِيlladziiyang
  4. لَاlaatidak ada
  5. إِلَٰهَilaahatuhan
  6. إِلَّاillaakecuali
  7. هُوَhuwaDia
  8. الْمَلِكُal-malikuSang Raja
  9. الْقُدُّوسُl-qudduusuYang Mahasuci
  10. السَّلَامُs-salaamuYang Maha Sejahtera
  11. الْمُؤْمِنُal-mu'minuYang Maha Memberi Keamanan
  12. الْمُهَيْمِنُl-muhayminuYang Maha Mengawasi
  13. الْعَزِيزُal-'aziizuSang Digdaya
  14. الْجَبَّارُl-jabbaaruYang Mahaperkasa
  15. الْمُتَكَبِّرُl-mutakabbiruYang Mahaagung
  16. سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
  17. اللَّهِllaahiAllah
  18. عَمَّا'ammaadari apa yang
  19. يُشْرِكُونَyusyrikuunamenyekutukan

Inti bacaan

Rangkaian nama-nama agung penutup surah: 'Sang Raja, Sang Kudus, Sang Keselamatan, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Mengawasi, Sang Digdaya, Sang Pemaksa, dan Sang Mahabesar. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan', akumulasi atribut yang membangun gambaran menyeluruh tentang otoritas dan kesempurnaan ilahi, ditutup penolakan eksplisit terhadap segala bentuk penyekutuan, penegasan bahwa keagungan sedemikian rupa tidak sebanding dengan objek sesembahan mana pun yang dipersekutukan manusia.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian pembukanya sama persis dengan pembuka ayat sebelumnya, (هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ, huwa llaahu lladzii laa ilaaha illaa huwa), yang muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:22 dan 59:23. Yang berbeda apa yang dipasang sesudahnya: di sana pengetahuan dan kasih, di sini deretan nama kekuasaan.

Nama-nama yang dideretkan sebagian besar muncul sekali saja dalam bentuk ini. Kata (الْقُدُّوسُ, al-qudduusu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:23; bentuk berakhiran lain dari kata yang sama dipakai di 62:1. Kata (الْمُهَيْمِنُ, al-muhayminu), (الْجَبَّارُ, al-jabbaaru), dan (الْمُتَكَبِّرُ, al-mutakabbiru) masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, ketiganya di 59:23.

Kepadatan itu sendiri sudah menjadi keterangan. Satu ayat memuat beberapa nama yang tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan nama-nama itu diletakkan berderet tanpa kata sambung di antaranya. Susunan tanpa sambungan membuat pembacanya melompat dari satu nama ke nama berikutnya tanpa jeda, dan efeknya bertumpuk.

Urutan deretannya juga tidak acak. Ia dibuka dengan kekuasaan, lalu kesucian, lalu keselamatan dan keamanan di tengah, baru sesudah itu tiga nama yang paling menggetarkan. Nama yang paling menenangkan karena itu duduk persis sebelum yang paling keras, dan letak itu menahan deretan tersebut dari terbaca semata sebagai ancaman.

Kata (الْجَبَّارُ, al-jabbaaru) berasal dari akar yang berarti memaksa sekaligus memperbaiki yang patah, dan proyek ini menerjemahkannya 'Sang Pemaksa' mengikuti sisi pertamanya. Kata (الْمُتَكَبِّرُ, al-mutakabbiru) berasal dari akar yang sama dengan kata untuk menyombongkan diri, dan diterjemahkan 'Sang Pemilik Kebesaran' karena kebesaran yang pada manusia menjadi cacat justru pada-Nya adalah keadaan yang sebenarnya.

Pembedaan itu bukan pelunakan. Akar yang sama menghasilkan cela ketika dipakai untuk yang tidak punya haknya, dan menghasilkan keterangan yang benar ketika dipakai untuk yang memilikinya. Yang membedakan bukan katanya melainkan siapa yang disifati.

Penutupnya, (سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ, subhaana llaahi 'ammaa yusyrikuuna), memakai kata benda yang menyatakan penyucian, bukan kata kerja. Bentuk itu menyatakan sesuatu yang tetap, bukan tindakan yang dikerjakan pada suatu saat. Dan yang disucikan disebut 'dari apa yang mereka persekutukan', memakai kata untuk benda, bukan kata untuk yang berakal.

Perlu diperhatikan bahwa deretan nama ini seluruhnya bertakrif, memakai penanda di depan tiap kata. Bentuk bertakrif di dalam bahasa Arab menyatakan bahwa yang disebut adalah satu-satunya pemilik sifat itu, bukan salah satu di antara yang memilikinya. Jadi bukan 'seorang raja' melainkan 'Sang Raja', dan pembedaan itu dijaga di seluruh terjemahan proyek ini.

Susunan tanpa kata sambung di antara nama-nama itu juga bukan kebiasaan yang berlaku umum. Di banyak tempat lain Al-Qur'an memasang kata sambung di antara dua sebutan. Ketiadaannya di sini membuat deretan tersebut terbaca seperti satu tarikan napas yang tak boleh dipotong, dan siapa pun yang membacanya keras-keras akan merasakannya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini merangkai sembilan nama Allah dalam satu napas: dari kekuasaan mutlak hingga kesucian dari segala kekurangan, menutup dengan penegasan bahwa tiada sekutu bagi-Nya.

Pembukanya mengulang pembuka ayat sebelumnya kata demi kata. Yang berbeda apa yang dipasang sesudahnya: di sana pengetahuan dan kasih, di sini deretan nama kekuasaan. Dua daftar yang berlainan berdiri di atas satu dasar yang sama, dan dasar itu disebut dua kali supaya tidak ada yang membaca daftar keduanya terlepas dari yang pertama.

Yang mencolok adalah kepadatannya. Beberapa nama di dalam ayat ini tidak dipakai di tempat lain mana pun, dan semuanya diletakkan berderet tanpa kata sambung di antaranya. Susunan tanpa sambungan membuat pembacanya melompat dari satu nama ke nama berikutnya tanpa jeda, dan efeknya bertumpuk. Yang tidak bisa dilukiskan satu kata disebutkan dari banyak sisi sekaligus.

Urutannya pun tidak acak. Deretan itu dibuka dengan kekuasaan, lalu kesucian, lalu keselamatan dan keamanan di tengah, baru sesudah itu tiga nama yang paling menggetarkan. Nama yang paling menenangkan duduk persis sebelum yang paling keras. Letak itu menahan seluruh deretan dari terbaca semata sebagai ancaman, dan pembacanya melewati tempat berteduh sebelum sampai ke bagian yang berat.

Dua nama terakhir dalam deretan itu memakai akar yang pada manusia justru menjadi cela. Yang satu berakar pada memaksa, yang lain pada menyombongkan diri. Perbedaannya bukan pelunakan makna, melainkan pergantian yang disifati: akar yang sama menghasilkan cacat ketika dipakai untuk yang tidak punya haknya, dan menghasilkan keterangan yang benar ketika dipakai untuk yang memilikinya. Dan penutupnya menyucikan-Nya dari apa yang dipersekutukan dengan kata untuk benda, bukan kata untuk yang berakal, sehingga yang disandingkan dengan-Nya bahkan tidak diberi kedudukan sebagai pihak.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menderetkan delapan nama dalam satu ayat. Bukan satu atau dua. Yang tak bisa dilukiskan satu kata disebutkan dari delapan sisi sekaligus. Beberapa di antaranya bahkan tak dipakai di tempat lain mana pun, dan semuanya diletakkan berderet tanpa kata sambung. Susunan tanpa sambungan membuat pembacanya melompat dari satu nama ke nama berikutnya tanpa jeda, dan efeknya bertumpuk, bukan berjajar. Efeknya bertumpuk, bukan berjajar, sebab tak ada jeda yang memisahkan satu dari yang lain. Beberapa di antaranya tak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh mushaf.
  • Di tengah deretan itu Dia menyebut Sang Keselamatan dan Sang Pemberi Keamanan. Berdampingan. Nama yang paling menenangkan diletakkan persis sebelum yang paling menggetarkan. Urutan itu menahan seluruh deretan dari terbaca semata sebagai ancaman, dan pembacanya melewati tempat berteduh lebih dahulu sebelum sampai ke bagian yang berat. Letak sebuah nama ternyata ikut menentukan bagaimana nama lain dibaca. Letak sebuah nama ternyata ikut menentukan bagaimana nama di sebelahnya dibaca. Pembacanya melewati tempat berteduh lebih dulu sebelum sampai ke bagian yang berat.
  • Ayat ditutup dengan Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Sesudah delapan nama. Yang disandingkan dengan-Nya tak punya satu pun dari yang baru disebutkan. Dan kata yang dipakai untuk sekutu itu kata untuk benda, bukan kata untuk yang berakal, sehingga yang disandingkan bahkan tidak diberi kedudukan sebagai pihak yang bisa dibandingkan. Yang disandingkan bahkan tak diberi kedudukan sebagai pihak yang bisa dibandingkan.
  • Dua nama terakhir dalam deretan memakai akar yang pada manusia justru menjadi cela: yang satu berakar pada memaksa, yang lain pada menyombongkan diri. Perbedaannya bukan pelunakan makna, melainkan pergantian yang disifati. Akar yang sama menghasilkan cacat ketika dipakai untuk yang tak punya haknya, dan menghasilkan keterangan yang benar ketika dipakai untuk yang memilikinya. Yang membedakan bukan katanya, melainkan siapa yang disifati olehnya.
  • Pembuka ayat ini mengulang pembuka ayat sebelumnya kata demi kata, dan yang berbeda cuma apa yang dipasang sesudahnya. Di sana pengetahuan dan kasih, di sini kekuasaan. Bukankah dua daftar itu terasa berjauhan? Justru karena itu dasarnya disebut dua kali: supaya tak ada yang membaca daftar kedua terlepas dari yang pertama, dan supaya kekuasaan tak pernah berdiri tanpa kasih di sebelahnya. Kekuasaan tak pernah dibiarkan berdiri tanpa kasih di sebelahnya.
  • Penutupnya memakai kata benda yang menyatakan penyucian, bukan kata kerja. Bentuk itu menyatakan sesuatu yang tetap, bukan tindakan yang dikerjakan pada suatu saat tertentu lalu selesai. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa seseorang menyucikan Allah, melainkan bahwa kesucian itu memang keadaan-Nya. Manusia yang mengucapkannya tidak sedang menambahkan apa pun; ia sedang menyebut apa adanya. Yang mengucapkannya tak menambah apa pun; ia cuma menyebut apa adanya.