هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah, Sang Pencipta, Sang Pembuat, Sang Pembentuk Rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُhuwa llaahu l-khaaliqu l-baari'u l-mushawwiruDialah Allah, Sang Pencipta, Sang Pembuat, Sang Pembentuk Rupa
  2. لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰlahu l-asmaa'u l-husnaaDia memiliki nama-nama yang indah
  3. يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِyusabbihu lahu maa fii s-samaawaati wa-l-ardhiapa yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya
  4. وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُwa-huwa l-'aziizu l-hakiimudan Dialah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. هُوَhuwaDialah
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. الْخَالِقُl-khaaliquSang Pencipta
  4. الْبَارِئُl-baari'uYang Mengadakan
  5. الْمُصَوِّرُl-mushawwiruYang Membentuk Rupa
  6. لَهُlahubaginya
  7. الْأَسْمَاءُl-asmaa'unama-nama
  8. الْحُسْنَىٰl-husnaayang terbaik
  9. يُسَبِّحُyusabbihubertasbih
  10. لَهُlahubaginya
  11. مَاmaaapa yang
  12. فِيfiidi
  13. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  14. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  15. وَهُوَwa-huwadan Dialah
  16. الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
  17. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah

Inti bacaan

Penutup rangkaian nama-nama agung: 'Dialah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Mewujudkan dari tiada, dan Yang Membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang indah', tiga dimensi penciptaan (mencipta, mewujudkan dari ketiadaan, membentuk rupa spesifik) yang saling melengkapi, penutup surah yang membingkai seluruh peristiwa historis sebelumnya dalam kerangka keagungan ilahi yang menyeluruh.

Penjelasan pilihan kata

Tiga sebutan di pembukanya berurutan dan bertingkat. Kata (الْبَارِئُ, al-baari'u) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 59:24, dan kata (الْمُصَوِّرُ, al-mushawwiru) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Yang pertama berasal dari akar yang berarti memisahkan lalu mengadakan, yang kedua dari akar yang berarti membentuk rupa.

Urutan tiga sebutan itu mengikuti tahapan pekerjaan: merancang, mewujudkan, lalu memberi bentuk. Bahasa Arabnya tidak memakai kata sambung di antara ketiganya, sehingga ketiganya terbaca sebagai satu rangkaian yang tak terputus, bukan tiga pekerjaan terpisah.

Rangkaian (لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, lahu l-asmaa'u l-husnaa) memakai frasa (الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, al-asmaa'u l-husnaa) yang muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 7:180, 17:110, 20:8, dan 59:24. Kata terakhirnya bentuk perempuan dari kata yang berarti paling baik, sehingga harfiahnya 'nama-nama yang terbaik'.

Letaknya sesudah tiga sebutan tadi berarti sesuatu. Baru saja sebelas nama disebutkan di dalam dua ayat, dan sesudah semua itu masih dinyatakan bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah. Jadi daftar yang panjang tadi tidak diletakkan sebagai daftar yang lengkap. Yang disebut cuma sebagian.

Rangkaian (يُسَبِّحُ لَهُ, yusabbihu lahu) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 24:36, 24:41, dan 59:24. Bentuknya sekarang, menyatakan pekerjaan yang sedang berlangsung. Ayat pertama surah ini memakai bentuk lampau dari akar yang sama, sehingga surah ini dibuka dengan tasbih yang sudah terjadi dan ditutup dengan tasbih yang masih berjalan.

Penutupan seperti itu membuat seluruh surah berdiri di antara dua tasbih. Di antara keduanya terletak kisah pengusiran, pembagian harta, janji yang tak ditepati, dan perumpamaan gunung yang retak. Semua itu dibingkai oleh satu perbuatan yang sama, disebut di awal dan di akhir dengan dua bentuk waktu yang berbeda.

Penutupnya, (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-hakiimu), muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain di 14:4, 16:60, 29:42, 57:1, dan 59:24. Rangkaian yang sama juga menutup ayat pertama surah ini, sehingga bingkai tadi bukan cuma soal tasbihnya melainkan juga soal dua gelar penutupnya.

Perlu dicatat bahwa ruang yang disebut di ayat penutup ini sedikit berbeda dari ayat pembukanya: di sini 'apa yang di langit dan bumi' tanpa mengulang penunjuk tempat untuk bumi, sedangkan di 59:1 penunjuk itu diulang. Bentuk yang lebih ringkas dipakai untuk menutup.

Satu hal lagi tentang tiga sebutan di pembukanya: ketiganya bentuk pelaku, bukan kata kerja. Bahasa Arab bisa saja menyatakannya sebagai perbuatan yang dikerjakan, tetapi yang dipilih bentuk yang menyatakan sifat yang melekat. Perbedaannya sama seperti antara 'Dia menciptakan' dan 'Dialah Sang Pencipta': yang pertama menyebut pekerjaan, yang kedua menyebut siapa Dia.

Pilihan itu sejalan dengan seluruh rangkaian tiga ayat penutup ini, yang memang berisi pengenalan, bukan laporan. Tak satu pun dari ketiga ayat itu menceritakan peristiwa. Sesudah dua puluh ayat yang penuh kejadian, surah ini ditutup dengan tiga ayat yang seluruhnya berisi keterangan tentang siapa yang berdiri di belakang seluruh kejadian tersebut.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini merangkum tiga tahap penciptaan (merancang, mewujudkan, dan membentuk rupa), sebagai dasar bagi nama-nama-Nya yang indah, ditutup dengan pujian seluruh alam.

Tiga sebutan di pembukanya disusun mengikuti tahapan pekerjaan, dan bahasa Arabnya tidak memakai kata sambung di antara ketiganya. Ketiganya karena itu terbaca sebagai satu rangkaian yang tak terputus, bukan tiga pekerjaan yang terpisah waktu. Dua di antaranya bahkan tidak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an.

Yang menyusul sesudahnya membalik cara membaca seluruh daftar. Baru saja sebelas nama disebutkan di dalam dua ayat, dan sesudah semua itu masih dinyatakan bahwa Dia memiliki nama-nama yang indah. Jadi deretan panjang tadi tidak pernah dimaksudkan sebagai daftar yang lengkap. Yang disebut cuma sebagian, dan pernyataan itu diletakkan tepat sesudah bagian yang paling padat.

Kalimat berikutnya menutup lingkaran yang dibuka di ayat pertama surah ini. Di sana tasbih disebut dengan bentuk lampau; di sini dengan bentuk sekarang. Surah ini karena itu berdiri di antara dua tasbih: yang sudah terjadi dan yang masih berjalan. Di antara keduanya terletak kisah pengusiran, pembagian harta, janji yang tak ditepati, hati yang terpecah, dan perumpamaan gunung yang retak.

Bingkai itu bukan hiasan. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan di tengah surah semuanya bersifat sementara dan terikat pada tempat serta waktu tertentu. Dipasang di antara dua kalimat yang menyebut seluruh langit dan bumi, semuanya berubah ukuran. Dan penutup yang sama persis dengan penutup ayat pertama, dua gelar tentang kuasa dan pertimbangan, menegaskan bahwa yang membingkai bukan cuma tasbihnya melainkan juga siapa yang bertasbih kepadanya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut tiga sebutan berurutan: Sang Pencipta, Sang Pembuat, Sang Pembentuk Rupa. Bertahap. Merancang, mewujudkan, lalu memberi bentuk. Bahasa Arabnya tidak memakai kata sambung di antara ketiganya, sehingga ketiganya terbaca sebagai satu rangkaian yang tak terputus, bukan tiga pekerjaan yang terpisah waktu. Dua di antaranya bahkan tak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh Al-Qur'an. Ketiganya bentuk pelaku, bukan kata kerja, jadi yang disebut sifat yang melekat. Dua di antaranya tak dipakai di tempat lain mana pun di seluruh mushaf.
  • Sesudah tiga sebutan, disebut Dia memiliki nama-nama yang indah. Masih banyak lagi. Yang tiga tadi cuma sebagian yang disebutkan. Dan yang membuat pernyataan itu tajam adalah letaknya: baru saja sebelas nama dideretkan di dalam dua ayat, dan sesudah semuanya masih dinyatakan begitu. Deretan yang paling padat sekalipun tak pernah dimaksudkan sebagai daftar yang lengkap. Deretan yang paling padat sekalipun tak pernah dimaksudkan sebagai daftar yang tuntas. Pernyataan itu diletakkan tepat sesudah bagian yang paling padat namanya.
  • Allah menutup dengan apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Semuanya. Surah yang berisi kisah pengusiran ditutup dengan pujian seluruh alam. Bentuk kata kerjanya sekarang, sedangkan ayat pertama surah ini memakai bentuk lampau dari akar yang sama. Surah ini karena itu berdiri di antara dua tasbih: yang sudah terjadi dan yang masih berjalan sampai saat ini. Bentuk sekarang di penutup menyambung bentuk lampau di ayat pembukanya.
  • Di antara dua tasbih itu terletak kisah pengusiran, pembagian harta, janji yang tak ditepati, hati yang terpecah, dan perumpamaan gunung yang retak. Semuanya terikat pada tempat dan waktu tertentu. Dipasang di antara dua kalimat yang menyebut seluruh langit dan bumi, semuanya berubah ukuran. Bingkai itu bukan hiasan; ia yang menentukan seberapa besar isi di dalamnya terlihat. Bingkai itu yang menentukan seberapa besar isi di dalamnya terlihat.
  • Dua gelar di penutup ayat ini sama persis dengan dua gelar yang menutup ayat pertama surah. Jadi yang membingkai bukan cuma tasbihnya, melainkan juga sebutan tentang kuasa dan pertimbangan. Bukankah pengulangan itu terasa berlebih di surah sependek ini? Justru ia yang mengikat: pembaca yang sampai di ujung menemukan kalimat yang sama dengan yang ia baca di awal, dan tahu bahwa ia sudah kembali. Pembaca yang sampai di ujung menemukan kalimat yang sama dengan yang dibacanya di awal.
  • Ruang yang disebut di ayat penutup ini sedikit lebih ringkas daripada di ayat pembuka: penunjuk tempat untuk bumi tak diulang. Bentuk yang lebih pendek dipakai untuk menutup. Perbedaan sekecil itu gampang lewat, tetapi ia mengikuti kebiasaan yang wajar dalam bertutur: yang dibentangkan panjang di awal cukup disebut singkat di akhir, sebab pendengarnya sudah tahu apa yang dimaksud. Yang dibentangkan panjang di awal cukup disebut singkat di akhir.